Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Penyusup.


__ADS_3

Love you all... aduh aku sempetin up nih yaaaa. hehehe


##


" Ada penyusup." Bisik lirih Annelyn hampir tidak terdengar.


" Kaya di film Hollywood saja." Jawaban Bimo seperti santai, dia sangat mengantuk, bahkan tidak sempat menyadari ada yang mengintai keberadaan mereka.


" Bee, aku serius, perasaanku tidak enak.."


Annelyn celingak-celinguk.


" Hah Love, ini sudah malam lagian siapa juga yang mau menyusup? Emang kamu pikir kita pejabat?" Bimo masih enggan membuka mata.


" Tauk ah. Aku mau keluar dulu." Annelyn memilih mengabaikan suaminya, ia berjalan mengendap-endap menuju pintu.


Bimo sedikit kesal, tapi ia tetap menyibak selimut, melangkahkan kakinya mengikuti istrinya. Mengendap-endap di kamar sendiri. Lucu memang, di kamar sendiri tapi sudah seperti singa mengintai rusa.


Hoooaaammmmm. Bimo menguap. Seketika Annelyn langsung berjinjit membekap mulut suaminya.


Menyebalkan, disaat dia bersusah payah mengendap-endap tanpa mengeluarkan suara, suaminya malah seenaknya menguap.


" Berisik!" Bisik Annelyn menatap tajam suaminya.


Baru saja Annelyn mau memegang gagang pintu, suara dobrakan terdengar dari luar. Kedua anak Adam itu saling pandang, Bimo akhirnya mengerti, kakaknya atau lebih tepatnya mertuanya bergerak cepat. Lebih cepat dari dugaannya.


Ia menyeret Annelyn menuju loteng, menaiki anak tangga yang tidak seberapa tinggi, membuka gembok pintu, lantas keduanya mendapat sambutan dari dinginnya angin malam. Mereka melihat langit yang masih gelap gulita. Tidak ada bintang maupun rembulan si Dewi malam.


Annelyn menatap pekatnya malam, sedangkan Bimo mengunci pintu loteng dari luar. Ia tahu ini akan terjadi, mereka tidak bisa menghindar.


" Mereka sedikit bodoh. Hihihi. Padahal pintunya tidak ku kunci. Tapi mereka asyik mendobrak pintu jati yang tebal itu. Hihi." Annelyn menahan cekikikan.

__ADS_1


" Mungkin mereka memberi ancang-ancang menginginkan kita untuk berpakaian. Nggak lucu kan kita masih telanjang saat mereka masuk. Namanya juga pengantin baru." Celetuk Bimo tak kalah gesrek.


" Apa sih Bee, kita kan nggak ngapa-ngapain. Tuh bunyinya mereka masih sibuk mendobrak. Anak buah siapa coba?? O'on" Annelyn berbisik lirih.


Keduanya terdiam, meresapi pikiran masing-masing, sambil mendengarkan orang bodoh yang terus mencoba mendobrak pintu tebal itu.


" Maaf Love.. maaf.. dari kemarin aku hanya bisa minta maaf, bahkan sejak kamu setuju menikah denganku pun, sudah selayaknya aku minta maaf.."


Bimo menunduk, mengusap lembut rambut istrinya. Ia sangat menyesal, sangat merasa tidak berguna.


" Bee, ini bukan salahmu.. aku juga minta maaf.. aku.. aku takut Daddy memisahkan kita. Tapi, Tuhan Maha Adil, Dia memberi anugerah untuk kita, untuk mempertahankan hubungan kita juga."


Annelyn membawa tangan Bimo untuk mengelus perutnya yang masih rata.


Bimo hanya mengangguk, sebisa mungkin menahan lelehan air mata. Dia tidak takut dihukum, tidak takut bahkan jika nyawanya melayang. Dia hanya merasa gagal memenuhi syarat pernikahan istrinya, dia gagal mewujudkan impian sederhana istrinya.


Impian sederhana, yang nyatanya tidak sesederhana itu untuk mewujudkannya.


Kedua tangannya yang besar dan kokoh menangkup kedua pipi istrinya.


" Iya Bee.." Annelyn lirih menjawab.


" Percayalah padaku, apapun yang ku lakukan nantinya aku tetap mencintaimu, berjuang untukmu dan bayi kita."


" Jangan takut. Saat ini kamu bukan hanya Nona muda Bagaskoro, sekarang tunjukkan bahwa dirimu adalah Nyonya Bagaskoro." Bimo melanjutkan nasihatnya.


Sebenarnya, hal yang ingin diungkapkan oleh Bimo terus menerus adalah kala i love you. Tapi, melebihi itu, ada banyak nasihat yang harus disampaikan dirinya.


" Iya Bee.."


Annelyn berjalan menuju pintu. Seperti halnya breafing, dia akan maju, menunjukkan kualitas dirinya di depan orang suruhan Daddy nya.

__ADS_1


Dibukanya pintu loteng, ia berjalan masuk lantas menutupnya lagi, membiarkan Bimo di luar sendirian.


" Nona Muda." Kedua pria tinggi besar itu telah berhasil mendobrak pintu. Keduanya membungkuk lantas membawa tali untuk mengikat.


" Kalian ingin membawaku? Dengan cara tidak layak seperti ini?" Annelyn bukannya mundur melainkan maju.


" Maaf Nona ini perintah Tuan." Keduanya menunduk hormat, tapi masih bersikukuh mengikat Annelyn. Terlebih ada banyak pria di belakang mereka.


" Daddyku bukan orang yang tidak tahu etika, dia memahami arti status lebih dari siapapun." Annelyn protes mendesis.


"Siapa kalian? Kalian hanya orang yang dipekerjakan oleh keluargaku, kalian tidak berhak mengikatku yang seorang Nona di keluarga yang memberi kalian uang." Annelyn terus saja mengomel


" Maaf Nona ini perin.."


" Kalian mulai lancang? Mengatasnamakan perintah sebagai pembenaran? Aku adalah Nona muda kalian. Bahkan jika kalian tetap bersikukuh aku tidak bisa apa-apa. Tapi nanti, ada saatnya keluarga kalian membayar semuanya." Annelyn balik mengancam


" Maaf Nona.. maaf.."


" Aku punya kaki dan mata, terlebih aku punya otak aku bisa jalan sendiri." Annelyn menyenggol salah satu orang suruhan Daddy nya.


" Jangan lupa kemasi barang berharga milikku di lemari!" Annelyn berseru pada banyak pria yang melongo melihat Annelyn berjalan santai.


***


Annelyn POV.


Entah di mana Om Bimo Suamiku bersembunyi, saat seluruh rumah digeledah ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaannya. Bahkan saat mobil yang ku naiki ini melaju memecah keheningan malam, tidak ada tanda-tanda ia akan datang.


Mungkinkah memang sampai di sini pelarian kami? Aku ingin lebih lama lagi, aku belum siap dan tidak tahu entah kapan akan siap. Rumah Daddy seperti padang pasir yang tandus, apalagi setelah aku mengetahui rahasia besar, rasanya melihat bangunan rumah itu saja seperti melihat neraka.


Takut, kecewa, tidak berdaya dan seolah menjadi pembawa sial. Itu yang selalu ku rasakan ketika bertemu dengan keluargaku.

__ADS_1


Terlalu banyak berfikir, membuat otakku lelah, setelah kejadian tadi siang, malam harinya aku terkurung di kereta besi ini. Rasanya sangat lelah, perlahan mataku mulai mengantuk.


__ADS_2