Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Kota Santri.


__ADS_3

Bimo POV.


Ternyata selama ini, wanita super cerewet dan manja di depanku adalah wanita paling mengenaskan. Tidak sadar terjebak dalam toxic relationship. Penghianatan dan perceraian cukup mengguncang batinnya. Apalagi keguguran itu, sedikit banyak pasti menyisakan trauma.


Terbukti dia tidak bisa mempercayai siapapun, secuil saja aku melakukan kesalahan, rasa percayanya padaku bisa hilang dalam satu tepukan tangan. Aku sendiri masih bingung, mengapa dia tidak mempercayai Daddy dan Mama. Aku tidak lagi memanggil mereka kakak dan kakak ipar. Sekarang mereka adalah ayah dan ibu mertuaku.


" Lyn, kartu kredit atas nama Meylan tinggal saja di apartemen" Aku bersiap pergi melancarkan rencana rahasiaku.


" Mana bisa begitu, isinya full uangku" Sudah ku duga, anak ini pasti protes. Kita lihat seberapa lama aksi protesnya. Ia menghentakkan kakinya, dress merah maroon selutut yang dikenakannya berayun melambai.


" Dapat uang darimana kamu?" Aku menyemir sepatu baruku. Hanya sepatu biasa yang ku beli dua minggu lalu, harganya sangat terjangkau cuma 250 ribu. Entah apa merk-nya aku tidak familiar.


" Kerja lah" Tubuh rampingnya berjalan melewatiku. Dapat ku tangkap aroma mawar yang menenangkan menguar dari tubuh mungilnya.


" Jangan bohong, uang kerjamu tidak akan cukup untuk memenuhi gaya hidup Dimas, lagipula sejak menikah kamu tidak bekerja. Aku bukan Dimas yang bisa kamu kibuli" Aku terus memancing kejujurannya.


" Setelah cerai kan aku kerja" Dia berdiri di samping dispenser, bersandar pada dinding, tangan kanannya yang ramping memegang gelas berisi air putih.


Dari jarak yang pas, dia terlihat sangat woow.


" Kamu tahu maksutku, jangan ngeles sama suami" Aku tersenyum miring, menunduk memakai sepatu baruku yang baru tiba kali pakai. Annelyn Bimo Bagaskoro


" Hehe, emmm itu emm itu uaa..ang hasil jual berlian darimu Om . Hehe maaf" Dia masih sempat terkekeh disela kegugupan yang menguasai raut wajahnya. Tangannya tidak lagi memegang gelas, malah saling bertautan memainkan kuku jarinya yang berwarna peach dengan gambar Krisan.


" Sudah kuduga" Geramku lirih, mencoba menahan kecewa dan rasa tidak suka yang merambat menyergap hatiku. Aku memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam menikmati rasa terluka.


Sebenarnya aku tidak masalah mau diapakan hadiahku, yang aku tidak suka, dia mengesampingkan hadiahku demi pria brengsek seperti Dimas.


" Ya tapi kan berlian itu sudah jadi milikku, ya terserah mau aku apain".Dia bersungut-sungut melangkah hendak meninggalkanku. Apa-apaan ini? Seharusnya aku yang marah? Mengapa dia yang merajuk?


" Termasuk menjual barang pemberian orang lain demi memenuhi cinta buta"


Maka tercetuslah kalimat biasa tapi sangat menyakitkan bagi Annelyn. Seketika langkahnya terhenti, berbalik menatapku dengan matanya yang memancarkan kesedihan, lebih dari itu dia merasa bersalah dan merasa kerdil dengan kisah masa lalunya. Mungkin dia juga mengingat bayinya.


" Maaf" Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya.


Hening sesaat, aku terluka, lebih dari itu dia sama terlukanya. Trauma dan segala lara dia sembunyikan dibalik sifatnya yang semakin manja padaku.

__ADS_1


" Sebagai suamimu aku tidak ingin kamu mengulanginya lagi. Tolong belajarlah menghargai ku. Aku mencintaimu Lyn."


Annelyn masih berdiri membisu.


" Kalau perlu aku akan mengungkapkan perasaan cintaku padamu setiap hari. Agar kamu tahu betapa hatiku hanya untukmu." Aku berjalan mendekati Annelyn, ku buka satu persatu kancing kemejaku.


" Apa yang Om lakukan? Cepat kancingkan bajumu!" Raut wajah sendunya berubah seketika. Antara malu dan kesal. Kombinasi yang menggemaskan.


" Kenapa Lyn? Bukankah kamu harus melihat hatiku? Bedah saja" Aku tersenyum miring melihat kegugupannya. Bukankah dia seharusnya sudah berpengalaman? Kenapa malah terlihat lebih polos dibanding perawan. Lucu sekali ekspresi wajahnya yang semakin ku mendekat semakin ketakutan. Dikiranya aku genderuwo apa.


Hahaha. Aku tertawa terbahak-bahak. Wajahnya yang tadi bersungut-sungut marah, berubah sedih, secepat kilat berubah lagi menjadi begini menggemaskan.


" Nanti pukul satu siang kamu harus sudah ada di Bandara, jangan telat. Tunggu aku!" Aku mengancingkan beberapa kancing bajuku yang tadi ku lepas. Membelai lembut pipi mulus yang selalu menjadi objek cubitan gemas.


" Memangnya Om mau kemana?" Annelyn bertanya tanpa menatap mataku.


" Tunggu saja aku di Bandara, ingat jam satu harus sudah siap di sana! Oke?"


Cup cup cup cup. Ku kecup dahi, kedua pipi dan bibir, tanpa menunggu jawaban darinya.


***


12.30 Aku menunggu Om Bimo di Bandara. Menyebalkan, dia menyuruhku menunggu tanpa memberi tiket. Kalau menaksir dari jam penerbangan, mungkin tujuan Om Bimo adalah Jayapura. What? Ngapain kabur jauh kesana?


Banyak orang berlalu lalang, ada cctv diberbagai lokasi. Bukankah kemungkinan kabur di bandara sangat minim. Aku mulai was-was, bagaimana jika Daddy menemukan kami? Dengan kesalahan yang berlipat-lipat hukumanku tidaklah ringan.


Aduh mana si Om lama sekali. Apa sih yang dikerjakannya? Duh aku pingin pipis, tapi nanti saja lah nungguin Om. Aku beberapa kali merapikan rambutku. Entah karena waspada atau apa, aku merubah gaya rambutku dengan memotongnya sedikit, mewarnainya dengan warna abu-abu violet.


Aku memakai kacamata bulat, juga mengenakan atasan kaos oblong putih, bawahan jeans pendek diatas lutut.


Style yang belum pernah ku minati sebelumnya.


Lima belas menit berlalu, aku merasakan tepukan tangan ringan di punggungku. Om Bimo datang. Eh tunggu, dia memakai celana pendek bermotif ikan warna warni. Kaos oblong BTS. Emang si Om beneran Kpopers? Kok aku baru sadar ya.


Mana rambutnya disemir coklat lagi. Pakai poni yang menutupi dahi. Kacamata sok jenius miliknya bertengger manis di atas hidung kelebihan tulang itu.


Fiks, aku yakin, itu rambut palsu, Om kan rambutnya cepak, mana bisa tumbuh dalam sekejap.

__ADS_1


" Hey Cantik, siap meluncur?" Dia duduk di sampingku, berbicara dengan pandangan lurus ke depan. Aku langsung mengerti, lantas mengalihkan pandangan terkejutku dari Om Bimo.


" Cepatlah pergi ke toilet, setelah itu temui aku di samping Indomaret." Om Bimo pura-pura menerima telepon dari seseorang.


" Ayo, kita sudah ditunggu supir taksi" Serunya lagi padaku, dengan ponsel yang masih bertengger di telinganya.


" Sudah nanti aku jelaskan" Sepertinya dia mengerti kebingunganku.


" Kita jangan terlihat berdekatan di bandara. Bye" Om Bimo berjalan meninggalkanku keluar.


Aku menuruti perintah Om Bimo, setelah menunggu paling tidak lima menit.


Masuk sebentar ke toilet lalu keluar, kalau bisa jangan sampai tersorot cctv saat keluar. Aku berfikir bagaimana caranya supaya terlihat berbeda lagi. Akhirnya ku keluarkan blazer merah, mengikatnya di pinggangku. Rambutku ku kuncir kuda, dan memakai topi warna putih. Perfect.


Aku berpikir untuk sebisa mungkin berjalan disebelah seseorang, ketika melihat seorang ibu-ibu hendak keluar, aku menghampirinya pura-pura bertanya. Dan alangkah senangnya, Dewi Fortuna mendukungku.


Ibu yang memperkenalkan dirinya dengan nama Murni itu sangat ramah, sedikit cerewet sih sebenarnya. Tapi nilai plusnya adalah kami berbicara panjang lebar sampai pintu keluar. Syukur.


" Mau kemana kita?" Aku menghampiri Om Bimo yang berdiri melihat tangan di samping mobil taxi.


" Sementara waktu kita ke Yogyakarta" Sebuah senyum manis meluncur dari bibir Om Bimo yang agak kecoklatan. Mungkin karena keseringan merokok. Tangan kanannya membelai rambutku, sedangkan tangan kirinya membukakan pintu mobil di kursi penumpang.


" What?" Aku memekik heran. Tapi tetap masuk ke dalam taxi. Lama-lama di luar juga tidak bagus, bisa ketahuan nanti.


" Hari ini aku memesan tiket pesawat ke Jayapura"


" Besok tiket pesawat ke Bali"


" Nanti kita ke Yogyakarta naik kereta"


Om Bimo membuka pembicaraan saat mobil taxi mulai melaju. Tangannya tidak lepas menggenggam tanganku. Terkadang tanganku juga harus merasakan betapa kenyal dan lembut bibirnya.


" Oohhh aku paham. Kita tidak akan keluar pulau. Kita juga tidak akan menetap di Yogyakarta. Lalu tujuan kita sebenarnya kemana?" Aku mulai paham arah pembicaraan Om Bimo, sedikit mengerti mengenai cara kabur yang lebih berseni.


" Tempat dimana Daddy tidak akan berfikir kita di sana. Tempat dimana kita bisa menikmati indahnya alam pedesaan. Tempat dimana kita tidak akan kekurangan meskipun aku baru memulai bisnisku di sana." Om Bimo menjelaskan dengan penuh misteri, pandangan matanya menatap mataku begitu dalam. Seperti mengutarakan bahwa dia akan menjagaku sepenuh jiwa.


" Nggak usah pakai teka-teki, kaya lomba LCC aja sih Om" Aku menyembunyikan debaran jantungku dengan gerutuan.

__ADS_1


" Kota Santri" Om Bimo menjawab singkat, pandangan matanya sama sekali tidak terpengaruh dengan gerutuanku. Ia tetap memandangku penuh cinta, support dan entahlah.


" Haaa???" Aku masih bingung dengan jawaban penuh misteri.


__ADS_2