Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Pria tampan.


__ADS_3

" Puspa artinya bunga lho, dan aku benar-benar secantik bunga, kan?"


Hehehe. Roland terkekeh, wanita yang duduk di pangkuannya adalah bunga, dan dialah lebah penghisap nektar, pencecap manisnya rasa bunga cantik bernama Puspa.


" Kamu ingin melakukannya di depan istriku? Mengapa tidak di depan suamimu?". Roland bertanya main-main. Bukankah hidup harus adil? Akan seimbang jika pasangan mereka bisa sama-sama melihat.


Hahahahaha Puspa tertawa terpingkal-pingkal. Betapa bodoh si Roland, apa mungkin dia rela melepas tameng seperti Dimas, yang bucinnya minta ampun.


" Apa kamu siap menikahi wanita tidak setia sepertiku, jika aku diceraikan Dimas? Tidak kan?". Puspa berjalan melenggak lenggokkan tubuhnya.


Roland mendengus, wanita di depannya sangat cerdik, tapi bukankah itu daya tariknya. Tidak ada masalah bagi pria seperti Roland untuk menikah lagi, hanya saja bukan Puspa orangnya, wanita nakal itu tidak cocok dijadikan istri, ia lebih cocok dijadikan partner iya-iyes.


" Oke. Bulan depan, saat suamimu ku tugaskan ke luar pulau, kamu harus siap babe ". Roland memberi keputusan dengan senyuman licik menghiasi bibirnya yang kehitaman.


**


" Om tidak bisa terus-terusan seperti ini!! Annelyn sudah satu minggu koma, setidaknya ijinkan tanteku tahu keadaan putrinya!" Meylan berkacak pinggang memandang pria arogan yang sedang membaca laporan keuangan restoran.


Bimo masih diam, enggan menanggapi perkataan bocah seperti Meylan. Dipikirnya dia tidak tahu apa yang dilakukan anak ingusan nakal itu.


'Huh dia tidak mendengarkanku'. Dengan wajah memberengut, Meylan memukul keras lengan kokoh Bimo.


Oh God, anak ini.


" Om aku punya obat pembersih telinga, siapa tahu telingamu banyak upilnya" Meylan berjalan melewati Bimo yang masih setia memunggunginya.


" Sepertinya aku juga punya karet khusus". Bimo melontarkan kalimat ambigu, sepasang matanya masih fokus pada pekerjaan.


" Hah? Dasar Om tua gak jelas." Meylan duduk di sofa menyilangkan kakinya.


" Biasanya benih pacarmu dibuang di mana? Karet kan? Atau jangan-jangan di.."


Mata sipit Meylan membola seketika.


"Stop!" Belum sempat Bimo menyelesaikan ucapannya, Meylan mengacungkan jari tengah menyuruhnya berhenti bicara.


"Dasar bocah, sok-sokan mau buat bocah." Melihat wajah Meylan yang tadinya angkuh berubah pucat, Bimo mencibir sinis.


'Benar kata Alyn, Om Bimo mulutnya seperti emak-emak komplek'. Meylan hanya mencibir dalam hati. Tidak mungkin juga membantah terang-terangan.


Hening..

__ADS_1


Meylan yang tidak bisa duduk diam tanpa melakukan aksi, memilih bermain game di ponselnya. Ia yang tidak suka keheningan, biasanya akan cenderung cerewet, hanya saja bicara dengan Om Bimo adalah pekerjaan yang benar-benar menguras kesabaran.


Hm hmm hm hmm hmmmmm.


Meylan bersenandung tidak jelas saat jari lincahnya memulai permainan.


" Bisa tidak kamu hentikan suara sumbangmu itu, Mey??" Bimo menatap tajam ponakan dari kakak iparnya, suaranya pelan tapi penuh dengan penekanan disetiap kata-katanya.


" Telingaku sakit mendengar nyanyianmu, seperti suara bebek disembelih saja!" Setelah Bimo melanjutkan sesi omelan, dengan santainya ia memulai lagi pekerjaannya.


" Om Bimo mau ku dibawa ke THT? Sepertinya upil di telinga Om semakin membesar, ". Suara cempreng itu terdengar sangat menjengkelkan di telinga Bimo, kupingnya terasa gatal.


Tidak mungkin juga kan telinga Bimo penuh upil? Tampan kok upilan.


" Huh, suaraku lebih merdu dari Adele Laurie Blue Adkins, tau!!!" Meylan sesumbar dengan penuh percaya diri.


" Merdunya suara Adele menenangkan dunia. Kalau suaramu itu merusak dunia, bahkan alam ghaib. Dedemit saja takut mendengar suaramu." Rasakan pembalasanku bocah tengil. Batin Bimo.


Huuhhhh, pantas saja Om tua masih jomblo. Omelannya rasa bon cabe level 10. Bibir Meylan komat-kamit tidak jelas.


Dasar bujang lapuk, tampang saja yang good looking, mulutnya good sinting. Cibiran Meylan semakin menjadi.


Ceklek.


" Permisi, Pak, Bu, Perkenalkan, saya mahasiswa intership yang ditugaskan Dokter Santo untuk mengecek kondisi Nyonya Annelyn." Dokter magang tampan itu menyapa Bimo dan Meylan, ia memeriksa kondisi Annelyn bersama seorang suster.


Setiap tiga jam sekali di siang hari, biasanya ada dokter dan suster yang mengecek kondisi Annelyn.


" Silahkan Mas, emmm Pak Jay". Meylan tersenyum ramah mempersilahkan dokter muda tampan menawan itu, matanya yang memang tercipta jelalatan, spontan menyebut nama yang tertera di Id card milik dokter tersebut.


" Kalau boleh saya tahu, dimana dokter Santo?". Bimo bertanya, sepasang tanganya masuk ke dalam saku celana, semakin mempertegas akan sosoknya yang arogan.


" Hari ini dokter Santo ada banyak pasien, beliau meminta dokter Jay untuk mengecek beberapa pasiennya". Bukan dokter Jay yang menjawab, melainkan suster yang mendampinginya.


Mata Meylan tidak lepas dari pergerakan dokter tampan yang memeriksa kondisi sepupunya. Setelah dirasa dokter tampan rupawan selesai memeriksa, Meylan segera melontarkan banyak pertanyaan.


" Emmm Mas dokter, berasal dari kampus mana?"


Bimo melotot, mendengar panggilan Meylan kepada dokter muda tersebut.


" Saya dari XXX,"

__ADS_1


" Mas dokter rumahnya dimana?" Lagi-lagi Meylan bertanya.


" Jangan dikasih tahu dok, nanti ada tamu yang lebih memalukan dari jailangkung" . Bimo menyela sebelum dokter tampan itu menjawab.


" Haa??" Ketiga orang ( Dokter tampan, Meylan dan suster) sontak bingung dengan perkataan Bimo.


" Iya kan? Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Bedanya jailangkung datang karena diundang, lha situ???" Bimo menjelaskan, dagunya terangkat ke arah Meylan, lengkap dengan senyum cibirannya yang khas.


Dokter dan suster pun pamit, meninggalkan Bimo dan Meylan yang wajahnya memerah malu.


" Om Bimo apa-apaan sih. Aku kan cuma.."


" Cuma mencari pengganti partner iya-iya kan?"


Bimo menyela ucapan Meylan dengan tatapan tajam.


"ha" Wajah Meylan berubah bloon, dia belum pernah mendengar iya-iya, dan iya-iya itu apa?


" Aku tahu, Tuhan sudah menciptakan bentuk mata jelalatan dan mukamu dengan takaran mesum. Nggak jauh beda sama isi kepalamu."


Bimo mengejek puas bocah yang sok cantik, meskipun cantik.


"Om jangan keterlaluan ya!" Suara Meylan naik beberapa oktaf.


" Kalau saja aku aku masih muda, sudah pasti aku juga kamu goda." Bimo tersenyum meremehkan.


" Oh jadi Om sadar kalau sudah tua? Gak usah sok ganteng deh Om, Om sudah tua tapi belum nikah juga, apa mungkin Om nggak bisa berdiri? atau jangan-jangan malah gay?".


'Rasain kamu Om nyebelin.' Batin Meylan saat sudah berhasil memberondong Bimo dengan kalimat ejekan.


"Kau.." Jari telunjuk Bimo mengacung menunjuk ke arah Meylan, matanya yang tajam menyimpan kemarahan dan rahangnya mengeras dipenuhi emosi.


Ceklek..


Pintu terbuka, menyudahi adu mulut diantara keduanya. Sosok tampan masuk menyapa, tampannya benar-benar tiada takarannya. Jiwa Meylan seakan melayang-layang menghampiri pria itu, memberinya kecupan.


Halo gaesss maaf ya kemaren aku gagal Up, Oh ya setelah menimbang beberapa saran, sampulnya aku ganti yea,


Ada yang penasaran sosok tampan itu? lanjutkan besok yaa.. hehe


Btw ini alurnya santai ya, author tidak menggebu-gebu untuk mencapai ******* cerita. Karena author ingin mengupas sedikit demi sedikit watak tokoh dan rahasianya. Seperti halnya kita, setiap tokoh juga punya rahasia masing-masing.

__ADS_1


love you all. jempol mana jempol


__ADS_2