Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Awal Mula Tragedi Sup Iga


__ADS_3

Seperti halnya rumah tangga pada umumnya, pertikaian semalam berakhir dengan pergulatan sengit dua insan di pulau Dewatanya orang Jawa. Hehe


Annelyn dan Bimo belajar banyak hal dari pertengkaran mereka. Bimo menyadari usianya yang sudah matang, harus bisa lebih mengerti dan peka terhadap perasaan istrinya. Annelyn pun belajar untuk tidak terlalu cemas perihal kehamilan, serta memupuk rasa percaya pada suaminya.


Pukul 04.00, adzan subuh belum berkumandang, Bimo sudah berkutat dengan peralatan tempurnya. Ia memasak pesanan catering lebih awal, agar punya banyak waktu untuk mempersiapkan pesanan pak Hartopo besok.


Sedangkan Risya sedang mengaduk kukusan nasi. Sebenarnya Risya sangat berbakat dalam hal memasak, masakannya banyak dipuji pelanggan catering. Selain karena dia adiknya Riska, hal tersebut juga menjadi salah satu alasan Bimo mempertahankan Risya meskipun kelakuan dan cara berpakaiannya kurang sopan.


" Semalam hot sekali, Lyn." Bimo menghampiri Annelyn yang baru masuk area dapur. Tubuhnya yang masih berbalut apron, memeluk Annelyn yang harum menyegarkan.


" Ish Om kan semalam aku sudah bilang jangan panggil Lyn. Lan Lyn Lan Lyn emang aku lilin." Annelyn menepuk tangan Bimo sedikit keras.


Tidak habis pikir, dulu dia yang manjanya kelewat batas, sekarang setelah menikah Om Bimonya ini manjanya minta ampun. Sibuk masak saja masih sempat curi-curi peluk cium.


" Lho kok Om?" Bimo protes, setelah menikah ia paling tidak suka dipanggil Om. Bisa menimbulkan persepsi yang tidak baik.


" Ya lah, siapa suruh lupa." Annelyn pura-pura cemberut, semalam sudah mengingatkan tidak mau dipanggil Lyn, eh matahari belum terbit saja sudah lupa.


" Iya iya Love ku sayang." Mmuuuach. Lagi, Bimo melabuhkan kecupan di pipi istrinya, saat tangannya dengan lincah mengolah tumis brokoli yang memenuhi wajan besar.


" Gitu dong Bee." Annelyn tersenyum sumringah sambil memasang apron di tubuhnya. Ia berniat membantu suaminya, tidak mungkin kan dia hanya duduk manis selamanya.


" Apa yang harus aku bantu hari ini Bee?" Annelyn mulai mengumpulkan peralatan dapur yang berserakan, lekas mencucinya.


" Untuk catering sih bisa dihandle sama Risya, kamu nanti bantu kupas bawang saja buat acaranya Pak Hartopo." Bimo menuang tumis brokoli, wortel dan buncis ke dalam wadah.


Annelyn mengangguk paham.


" Hanif ada acara, jadi nanti kamu ikut mengantar catering ya?"


Ini akan menjadi pengalaman pertama Annelyn mengantar catering, sekalian jalan-jalan.


" Siiaaap Big Bos." Annelyn memberi hormat kepada suaminya.


Hahahaha. Mereka berdua tertawa bersama, melupakan sosok wanita yang menatap mereka dengan mata penuh iri.


Sejak awal, dia tahu menggoda Bimo adalah hal yang sulit tapi sangat menantang. Wajah tampannya, tubuh gagahnya, cintanya kepada Annelyn, dia ingin memilikinya.

__ADS_1


Awalnya Risya menargetkan Hanif yang seagama, tapi Hanif adalah pria yang menakutkan. Dia lebih dulu memperingatkan Risya bahkan sebelum Risya bertindak apa-apa. Dalam benak Risya, Hanif lebih seperti malaikat pencabut nyawa bagi wanita seperti Risya.


**


Pagi sekali, Annelyn berjalan menuju rumah Bu Dah, ia membawa plastik berisi bawang merah dan bawang putih. Annelyn terlihat lebih cantik dari biasa, suasana hatinya pun lebih baik dari hari-hari sebelumnya.



" Ihhh ketemu istrinya Pak Bimo." Bu Usli yang baru saja membeli minyak goreng di warung Pak Ahmad menyapa Annelyn. Lebih tepatnya sedang mencari masalah.


Annelyn hanya tersenyum simpul, baginya tidak perlu menyapa orang seperti Bu Usli. Buang-buang umur saja.


" Haduuhh gimana? Enak yo serumah sama madunya?" Bu Usli sengaja mengompori Annelyn.


Berita tinggalnya Risya yang hamil tanpa suami di rumah Annelyn sudah merebak kemana-mana. Menciptakan berbagai persepsi masyarakat.


" Makane jadi wong wadon kuwi sing serba biso. Wong lanang ben ora golek liyo." Bu Usli masih saja menumpahkan minyak dalam bara api di hati Annelyn.


" Sebaiknya ya Bu, jangan suka ngurusin rumah tangga orang, apalagi kalau tidak tahu apa-apa! Emangnya rumah tangga ibu sudah baik? Ibu saja nggak tahu pak Joko suami ibu pernah tidur sama solidnya njenengan, siapa itu namanya aku kok lupa."


Cetus Annelyn santai, seolah apa yang baru saja diucapkannya sama sekali tidak berdampak apa-apa. Ia lekas melenggang pergi, meninggalkan Bu Usli yang ternganga karena syok berat. Bisa strok juga.


Sebenarnya disebelah rumah Annelyn ada beberapa rumah, hanya saja kebanyakan dari mereka adalah pendatang, sama seperti dirinya. Bedanya mereka pasangan suami istri yang sama-sama berkarir di perusahaan, jadi sulit untuk berbaur dengan masyarakat sekitar karena keterbatasan waktu.


" Waaahhh ini bawang Lyn?" Tanya Bu Dah saat Annelyn menaruh plastik berisi bawang di teras.


" Iyalah Bu masa Bakso." Jawab Annelyn sedikit bergurau.


" Wah Lyn, rumahku juga dong masa cuma Bu Dah yang dikasih bawang." Kata Bu Tejo yang pagi-pagi sudah ngerumpi di rumah Bu Dah. Maklumlah rumah Bu Dah tempatnya adem, belum lagi anak gadisnya rajin berbenah rumah.


" Bu Tejo mau?" Annelyn bertanya heran. Sudah di rumah Bu Dah ngapain dibawa ke rumah Bu Tejo?


" Iya dong." Jawab Bu Tejo sok cool.


" Ya udah ambil separuh, kupasin, nanti sore kalau sudah selesai bawa ke rumahku." Jelas Annelyn.


" Yah yah yah.. jebule penggawean. Lha tak kira gratisan." Protes Bu Tejo kena mental.

__ADS_1


Hahaha. Annelyn dan Bu Dah tertawa, Bu Tejo ini orang mampu, masuk kategori kaya, tapi kalau ada gratisan, dia alih profesi jadi orang tidak mampu. Apalagi kalau ada bansos, gelang kalungnya yang sudah seperti toko perhiasan, seolah raib ditelan bumi.


***


Annelyn mematut dirinya di depan cermin, pasalnya hari ini dia akan menjual sup iga di paresmanan pernikahan putrinya Pak Hartopo.


Berdiri disampingnya Bimo tak kalah rempong, hidup di keluarga konglomerat sejak kecil, dia selalu memakai tuksedo disetiap acara formal yang dihadirinya.


Kali ini dia hanya perlu tampil dengan celana jeans casual, dan kemeja lengan pendek. Berkali-kali memperhatikan penampilannya, seperti ada yang kurang.


Bimo ternganga melihat pemandangan di depannya, Annelyn memakai dress selutut bercorak bunga Krisan kecil-kecilan. Menampilkan kesan polos dan menggoda, ia seolah lapisan es tipis yang rapuh dalam sekali sentuh. Menimbulkan efek ingin melindungi bagi siapapun yang melihatnya.


Siapa sangka wanita yang terlihat masih seperti gadis polos di depannya, adalah wanita berbahaya kala mengeluarkan taringnya. Tampilan yang dia perlihatkan di depan publik hanya kamuflase, watak aslinya yang sebenarnya bisa mendominasi disegala situasi sering kali memancar terang dalam sorot matanya.




" Love?" Bimo menatap tajam tubuh indah istrinya seperti hendak menelannya.


" Iya Bee." Annelyn menjawab dengan manja, melihat tatapan mata Bimo, ia tersenyum menggoda sambil mengedipkan satu matanya. Ia sangat menikmati ekspresi wajah suaminya itu.


" Kamu serius pakai baju ini? Belahan dadanya rendah Love!" Suara Bimo sudah serak, terdengar parau dengan hembusan nafas yang memanas.


" Biasa saja kok Bee." Annelyn masih berpura-pura tidak mengerti. Padahal dia sengaja memilih berpakaian seperti ini. Agar si Risya tahu, dia tidak akan menang melawan Annelyn Bagaskoro.


" Ini kalau kamu jongkok, bisa kelihatan itu buah melon kesukaanku." Om Bimo merajuk, suaranya semakin serak seiring tumbuhnya yang berjalan mendekati Annelyn.


" Isshh lebay!" Annelyn menepuk tangan suaminya, biar sadar si suami, ia juga takut kalau-kalau beneran di terkam.


" Aku serius Love, aku nggak mau berbagi sama siapapun! Meskipun itu cuma sedekah mata." Suara Protes Bimo semakin lirih, teredam oleh ciumannya di ceruk leher istrinya.


Plak. Sebuah pukulan yang agak terasa mengenai lengan kekarnya.


" Sudah ah, kita harus sampai lebih awal, mana belum tahu gedung yang disewa." Annelyn berlalu meninggalkan wajah melas suaminya.


.....

__ADS_1


hallo gaesss semangatin terus author dengan jempol kalian yaaa, like, vote dan komen.. terimakasih sudah membaca...


__ADS_2