
Author POV.
Annelyn keluar dari ruang kerja Daddy-nya dengan dada kembang kempis, ketegangan itu berakhir setelah ia menghirup udara di luar ruangan yang penuh emosi. Perutnya mulai terasa kram, sejak kejadian kemaren, dimana dia mengusir Risya, perutnya memang terasa kram, yang berujung pada ia yang tahu bahwa ternyata dia hamil.
Ia tersenyum sumbang, kehidupan singkat yang dilaluinya bersama Om Bimo suaminya terasa bagaikan mimpi saja, padahal baru semalam mereka tidur saling memeluk. Ia hanya berharap, suaminya cepat datang menjemputnya atau sekedar membelanya.
Ia berjalan menuruni anak tangga menuju dapur, setidaknya meminum es manis mampu mencairkan emosi yang menggumpal di dadanya.
Baru saja ia mengaduk es sirup, suara familiar menginterupsi kegiatannya.
" Love.." Bimo, merentangkan kedua tangannya, piyama yang dikenakannya semalam telah berganti jas mewah.
" Bee??" Annelyn lekas menghambur dalam pelukan suaminya.
Air matanya tidak berhenti mengalir, sok kuat di depan Daddy, ia menantang ayahnya tanpa sedikitpun air mata yang mengintip dari balik kelopak matanya. Kini, ia bebas menangis di pelukan suaminya, masih sama seperti dulu saat ia mengadukan Daddy-nya pada Om Bimo kesayangannya.
" Bee aku merindukanmu.. kenapa lama sekali Bee??" Annelyn semakin membenamkan wajahnya, sampai suaranem hanya terdengar seperti cicitan kecil.
" Lama?? Ini jam berapa sayang?? Bahkan hari belum berganti malam dan aku sudah menyusulmu kan? Belum ada dua puluh empat jam." Bimo tersenyum mendengar kerinduan istrinya. Ditengah ujian pernikahan, istrinya masih menggumamkan kerinduan.
" Tetap saja aku terbangun tanpa menemukan dirimu." Annelyn mengeluh, seperti biasa ia memberengut, berubah manja saat bersama Bimo, seperti halnya anak kecil.
" Kamu baru bangun? Masih bau bantal." Bimo menggoda setelah pura-pura mengendus rambut istrinya.
" Hehe iya, aku bangun jam dua siang." Bukannya sebal digoda, Annelyn justru tersenyum mendongak, memperlihatkan deretan giginya yang putih rapi. Tanpa menyadari arah tatapan suaminya yang menegang.
" Love??" Bimo mendesis, tangannya yang membelai rambut istrinya gemetar menahan ledakan amarah.
__ADS_1
"Hmm"
" Ada apa dengan pipimu? Ini juga hidungmu, bibirmu." Suara Bimo semakin serak.
" Ini pasti kerjaan pria tua itu kan? Keterlaluan dia." Kali ini suaranya naik beberapa oktaf. Hampir seperti bentakan.
Annelyn syok bukan main, bukannya dia tidak tahu tempramen suaminya, tapi antara Daddy dan suaminya sama kerasnya, jika keduanya diadu, entah akan seperti apa bentuk rumah ini.
Bimo meninggalkan istrinya, ia menuju ruang kerja ayah mertuanya. Baru saja menapaki anak tangga, sebuah suara menggelegar menghentikan langkahnya.
" Baguslah aku tidak perlu membayar orang untuk mencarimu." Suara Pram menggelegar dari atas tangga.
Langkahnya tegap berwibawa. Dengan pandangan matanya yang tajam ia mengintimidasi Bimo, anak ingusan di depannya. Baginya, Bimo hanya seorang anak, meskipun banyak prestasi dan kemampuan bisnisnya patut dikagumi, tapi Bimo tidak mampu mengendalikan diri demi keluarganya.
" Istriku hamil. Tentu saja aku harus datang menjaganya dari ayah tidak berperasaan sepertimu!" Bimo berkata menantang.
Bukan hanya syok, urat syaraf di leher dan wajah Pram juga menonjol keluar. Tanda, pria itu semakin geram menahan emosi.
Alih-alih marah, diluar dugaan, Pram justru berbalik meninggalkan sepasang suami istri yang terbengong dengan apa yang dilakukannya.
Dari balik pintu ruang kerjanya, pria tua itu menangis. Entah apa yang diratapi olehnya.
Di lain sisi. Annelyn dan Bimo sudah berada di dalam kamar. Namun, bukannya mengobati luka di wajah Annelyn, Bimo semakin dibuat emosi oleh istrinya itu.
" Apa salahku Bee?? Mengapa mendiamkan ku?" Annelyn memprotes Bimo yang sedari tadi hanya diam.
Sedangkan Bimo, berpura-pura marah, acuh tak acuh. Meskipun tidak tega melihat wajah bengkak istrinya. Tapi, sesekali tidak masalah bersikap sedikit keras agar istrinya jujur.
__ADS_1
" Kamu pikir sendiri! Mana ada rahasia antara suami istri!" Bimo menegaskan kalimatnya. Ia duduk berselonjor, bersandar pada kepala ranjang.
" Rahasia apa?" Sedangkan Annelyn masih pura-pura tidak mengerti. Tangannya bersedekap dada, berdiri di depan Bimo. Layaknya anak kecil menuntut mainan.
" Ada banyak hal Love! Ada banyak hal yang kamu sembunyikan dariku. Dari suamimu sendiri!" Tegas Bimo, dengan nada bicara yang masih datar.
Bola mata Annelyn mengkilap. Dia mulai merasa bersalah. Bimo dapat melihat perang batin yang dirasakan istrinya.
" Alasanmu kabur? Alasanmu bersikap asing terhadap Mama? Bahkan alasan dibalik kalung berlian itu!" Bimo membubuhkan bumbu agar istrinya terprovokasi untuk jujur.
" Apa perlu??" Setetes air mata mengalir membasahi pipi Annelyn.
" Tentu saja perlu. Andai aku bisa menyelidikinya, aku tidak perlu bertanya padamu, tidak perlu harap-harap cemas menunggu kejujuranmu." Bimo menarik Annelyn, membiarkan istrinya duduk dipangkuannya. Mengelus lembut punggung istri tercintanya.
" Hubungan kita menjadi rumit karena Siska sialan itu memberi tahu Daddy. Aku harus tahu semua rahasiamu untuk mengambil langkah demi mempertahankan hubungan kita Love."
Melihat kilat bersalah di mata istrinya, Bimo berbicara lembut, menciptakan permainan perasaan yang mengguncang hati Annelyn. Membuat ia yang awalnya merasa bersalah semakin merasa berdosa pada suaminya.
" Bee maaf.." Annelyn memeluk suaminya berurai air mata.
" No. Bukan itu yang ingin ku dengar dari mulutmu." Bimo tersenyum miring. Rencananya berhasil.
Ia berusaha terlihat tegar, padahal dalam hati tidak tega. Apa boleh buat, dia memang harus tahu segalanya.
###
ayo gaasssss. semangatin author dengan jempol kalian.. jangan lupa komen yaaaa.. love love love love dek pokoknya.. biar semangat author nya.. biar ggx males up
__ADS_1