Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Bunuh Diri


__ADS_3

***


Bimo POV.


Melihat istriku berjalan ke luar rumah bersama duo julid, aku hanya bisa pasrah menggelengkan kepala, mau bagaimana lagi, biasanya setelah ini akan ada adu mulut antara duo julid kubu pembela istriku dan kubu ibu-ibu tukang nyinyir. Ya, meskipun kubu istriku tidak kalah nyinyir juga.


Setelah menjemur piaraanku si Marchel dan si marcha, aku iseng membuka story aplikasi berlogo hijau, hanya ada beberapa kontak nomor di ponsel baruku.


Mataku tertuju pada story Risya, meski tidak membukanya aku bisa melihat status curahan hatinya.


Reflek tanganku membuka, dan betapa terkejutnya aku, sebelum story yang terlihat di halaman status, ada story foto seorang pria dan wanita. Entah siapa pria itu aku tidak peduli, tapi wanita cantik yang memakai gaun pengantin berwarna peach, aku yakin dia Siska. Dia yang pertama, segalanya yang pertama.


Degh . Siska? Apa hubungannya Siska dengan Risya?


Aku membaca caption yang tertulis di bawah foto ' Semoga kakak bahagia '.


Jadi, Risya adalah adiknya Siska? Pantas saja mereka mempunyai senyuman yang sama.


Aku beranjak dari kursi, panas di hatiku tiba-tiba muncul setelah sekian lama menghilang. Tidak! Aku dan Siska hanya sebuah obsesi. Aku dan Siska hanya ketertarikan yang berlebihan.


Tak berapa lama, ponselku terus berdering.


Annelyn menelfon.


Klik.


' Hallo Bee! Kamu lagi apa? Cepat kesini.'


Suara nyaring Annelyn terdengar panik. Pasti mereka berulah.


' Heh Lyn, bilang dong kita dimana, emang suamimu dukun, tahu kita di rumah Risya!!'


Terdengar suara Bu Tejo mengomel di seberang sana. Ngapain mereka di rumah Risya?


'' Lyn? Bicara yang jelas sayang!" Aku berusaha meminta kejelasan pada istriku. Tapi dia hanya diam.


' Ehm ehm, mas Bimo. Risya bunuh diri, tolong kamu kesini kita bawa dia ke rumah sakit mumpung masih bernyawa!'


Bu Dah sudah menginterupsi panggilan. Barbar sekali mereka berdua. Apa tadi?? Risya bunuh diri? Lho kok bisa?

__ADS_1


' Heh mas kagetnya jangan kelamaan! Ini keburu mati beneran! Sudah ditunggu sama mas bojo saya.' Lho lah ponselnya berganti diinterupsi Bu Tejo. Memang ajaib mereka berdua. Main serobot jalur panggilan.


Tut.


Panggilan dimatikan sepihak, entah oleh Bu Tejo atau Bu Dah.


**


Annelyn POV.


Kemaren adalah weekend paling mengerikan yang pernah ku alami. Bagaimana tidak? Ketika kami berjalan menuju warung es Gempol, Bu Tejo dan Bu Saudah mengusulkan mengajak Risya ikut serta.


aku mengeluarkan ponsel pintar ku untuk mengirim pesan pada Risya.


Kami menunggu jawaban sekaligus kedatangan Risya, tapi setelah hampir satu jam menunggu, gadis manis itu tidak menampakkan tanda-tanda kehidupan. Huh, menyebalkan. Akhirnya kami memutuskan menjemput dia. Sesampainya kami di kontrakannya, Risya sedang menangis tersedu-sedu.


Flashback on.


" Risya!" Panggil kami bertiga kompak.


" Hallo Ris. Yok kita beli es Gempol!" Bu Tejo memanggil dengan suara khasnya yang bisa tembus langit ketujuh. Mentang-mentang kontrakan miliknya. Huh.


" Bukannya mommy kontrakan, ya? Tapi kan mommy kontrakannya Bu Tejo." Aku bingung dengan bahasa Bu Dah. Bukankah ini kontrakan bukan kamar kost??


" Ha-ha-ha, b*d*h dipelihara." Bu Dah tertawa sumbang. Mengejek sekali dia.


" Kurang ajar kamu Lyn sama orang tua! Aku ayu ngene lha kok mbok samain mommy kost." Omel Bu Tejo, kepalanya celingak-celinguk memandang kontrakan yang dihuni Risya.


" Dia kurang pintar Bu Tejoooo. Dia nggak tahu mommy kost itu nama penanya kuntilanak. Hahaha." Lagi, Bu Dah menertawakan diriku.


Apa tadi dia bilang? Mana ada kuntilanak punya nama pena.


" Isshh Bu Dah, apaan sih. Mana ada kuntilanak siang hari. Juga mana ada kuntilanak punya nama pena, emangnya author?" Aku menyerocos mengkritik gaya bicara Bu Dah yang asal. Ku rapikan rambutku yang sengaja tidak ku kuncir.


" Apaan tuh Lyn author?" Bu Tejo kepo juga ternyata. Sekarang mereka nih yang kurang pintar. Hehe just kidd.


" Uwes stop. Iki suarane nyata lho." Bu Dah menghentikan keributan yang dimulai dirinya sendiri.


" Ini mah suaranya Risya. Pantesan chatku tidak dibalas." Aku bergumam lirih

__ADS_1


Ceklek.


pDasar duo julid barbar. Mereka main nyelonong masuk tanpa ijin. Aku juga sih.


" Gusti Allah sijiiiiii!!!!" Teriak kedua sahabat sekaligus orang tuaku, tatkala melihat Risya penuh derai air mata mencoba menyilet nadinya.


"Ameh Lapo sampean Nduk?" Tanya Bu Dah secara spontan.


" Saya hamil Bu! Saya dipe*k*s* kakak ipar saya. Huu huu huu huu huu" Risya semakin terisak. Jujur ini pertama kalinya aku melihat orang sedang melakukan percobaan bunuh diri, dan tubuhku rasanya langsung lemas tidak bisa bergerak padahal belum apa-apa.


" Apa gunanya saya hidup dengan cemoohan orang. Saya mau mati saja." Setelah mengatakannya, tanpa basa-basi Risya menggores pergelangan tangannya, bahkan salah satu dari kami belum sempat menghentikannya.


Cress


Kulihat darah menetes membasahi pergelangan tangan Risya.


Aaaaaaa


Flashback off.


Aku menatap pasien yang tengah berbaring lemah di Rumah Sakit Islam. Dia baru sadar dan tertidur lagi saat aku mengunjunginya, sekaligus membawakan makanan untuk suamiku dan suami Bu Tejo.


Untung saja goresan implusif yang dilakukannya sebagai upaya bunuh diri tidak terlalu dalam, sehingga nyawanya dapat diselamatkan.


Hidup sebatang kara di kota yang masih kental akan norma masyarakat yang berlaku, membuat Risya semakin tertekan dengan kehamilannya.


Satu kata untuk yang terjadi pada Risya. Kasian. Tapi bukankah hukum alam memang begitu? Siapa menanam pasti menuai. Itulah semboyan hidup yang membuat Mama selalu berbuat baik, bahkan bisa sekuat saat ini, dan itu juga petuah bijak yang telah melahirkan sejuta sabar dan maaf dari hatiku.


Apa yang terjadi pada Risya, aku yakin bukan kasus pemerkosaan, karena apa? Kasus pemerkosaan pasti membuat korbannya trauma terhadap segala sesuatu yang menjerumus pada pelecehan.


Seperti laki-laki, seharusnya ada pandangan dan jaga jarak yang diterapkan dia secara reflek untuk membentengi diri dari terulangnya kasus serupa. Sedangkan dia? Dia terlampau ramah terhadap semua laki-laki.


Dan pakaian, dia berpakaian sangat seksi dengan santainya seolah tanpa beban. Aku memang TIDAK membenarkan pelaku pelecehan, ataupun pandangan masyarakat yang berasumsi bahwa pakaian seksi mewajarkan tindak pelecehan terhadap wanita.


Tapi aku juga TIDAK membenarkan perilaku Risya yang kelewat seksi melebihi pekerja se*, padahal dia hanya seorang juru masak. Apa iya dia nyaman memasak dengan pakaian seperti itu? Jawabannya pasti tidak.


Lagipula jika benar dia pernah menjadi korban pelecehan, 100% dia tidak akan nyaman dengan gaya berpakaiannya, apalagi gaya bicaranya terhadap pria.


Jadi, fiks aku yakin dia sedang menuai apa yang ditanam.

__ADS_1


__ADS_2