Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Istriku


__ADS_3

Annelyn POV.


Tidak, aku tidak bisa seperti ini. Hidup ku sudah penuh tekanan. Bertemu Dimas dan Meylan membuatku terus terbayang kisah Daddy dan Mama, aku tidak ingin hidup dalam rasa bersalah pada suatu hal yang bukan salahku.


Mau tidak mau, siap tidak siap aku harus mengambil keputusan menikah dengan Om Bimo. Ku harap dia tidak mengingkari janjinya membawaku pergi, tanpa adanya bayang-bayang ketakutan akan bertemu Daddy.


Banyak orang-orang di luar sana yang menginginkan hidup seperti ku, tanpa tahu seberapa tertekannya aku. Hidup di bawah tekanan Daddy dengan aturan kedisiplinan tinggi.


Harus menjadi wanita berbakat, masuk rangking 5 besar, menguasai 5 bahasa, bisa bermain piano, biola, menyulam baju, bermain catur, menari dan segudang etika turun temurun. Belum lagi belajar bisnis, hal yang tidak ku sukai.


Otakku yang pas-pasan, tidak jarang membuat Daddy memukul kakiku dengan rotan. Aku yang hanya mampu menguasai 3 bahasa membuat Daddy sangat murka. Apalagi kemampuanku memainkan biola dan belajar bisnis bisa dibilang Nol besar.


Kalian boleh memanggil Daddy ku dengan sebutan killer, karena memang seperti itulah adanya. Mama, selain pandai mengurus rumah tangga, juga wanita karir yang sukses, kecerdasan dan bakatnya tidak perlu diragukan lagi. Begitu pula Oma, beserta para wanita keluarga Bagaskoro lainnya dari adik Opa. Kelebihan mereka semakin membuat diriku tertekan untuk paling tidak bisa sebanding.


Berbeda dengan keluarga Daddy, keluarga mama meskipun banyak wanita berbakat, tapi tidak konservatif tentang etika, semuanya bebas.


Dan, disinilah aku, berdiri menuju altar pernikahan. Pangeran ku sudah menunggu di sana, ya aku berjalan sendirian sama seperti dulu saat menikah dengan Dimas. Bedanya, setelah melihatku berjalan, Om Bimo dengan gagah menuruni altar. Sepasang alisku bertaut melihat apa yang dilakukannya.

__ADS_1


" Tidak ada yang protes, sayang. Pernikahan kita berbeda, lagipula siapa yang berani protes saat para saksinya adalah tamu bayaran. Hehe" Dia dengan ringan membimbing langkahku menuju altar, dimana pak Pendeta siap menikahkan kami.


Tidak ada rasa malu, ataupun deg-deg serrr seperti pernikahanku dulu. Pernikahan ku ini, hanya diisi rasa saling tergantung, nyaman dan berharap tidak terpisahkan.


***


Bimo POV.


" Untuk malam ini kita pulang ke apartemen dulu, Lyn." Aku berbicara pada wanita cantik yang duduk di kursi penumpang di sampingku. Pakaiannya masih sama seperti yang dipakai kerumah Meylan.


Wanita yang saat ini telah menjadi istriku, aku berjanji akan membawa kereta rumah tanggaku dengan amanah, sehingga bisa membahagiakan dia.


" Oouuuuhhh akhirnya ada yang menemani tidurku lagi" Aku memancing reaksinya.


" Lagi??" Kan dia bertanya, yes berhasil.


" Hmm, dulu ada seorang anak kecil yang selalu merengek minta tidur denganku Lyn." Yap, anak itu adalah dirinya saat masih kecil.

__ADS_1


" Kau tahu, setiap malam dia akan tidur di pelukanku. Tidak mau tidur jika tidak ku nyanyikan Nina Bobo. Padahal setiap malam dia selalu ngompol dan ngiler" Ku lirik ekspresi sebalnya.


" Cckk, jangan menggodaku Om, aku sedang tidak minat" Annelyn mencebik, pandangan matanya mengarah ke luar jendela.


" Siapa yang menggodamu? Aku kan cuma cerita" Aku masih sok polos.


" Tapi anak kecil itu aku Om" Mata indah itu mendelik.


" Baguslah kalau begitu, kamu pasti sudah sangat merindukan pelukanku" Aku masih setia menggodanya. Ekspresi wajahnya itu lhooo, so cute.


" Sekarang beda" Dia membantah.


" Apa bedanya?"


" Emang Om yakin bisa tidur denganku tanpa emm itu emm tanpa iya-iya??"


" Emang kamu mau Lyn?" Mataku berbinar, menatapnya.

__ADS_1


" Apaan sih Om. Tambah bete aku tuh" Kan, dia bete. Padahal dia yang mulai.


__ADS_2