Annelyn Dan Om Bimo

Annelyn Dan Om Bimo
Ternyata oh ternyata


__ADS_3

Bali.


Meylan berjalan tergesa-gesa keluar dari hotel mencari taksi menuju bandara. Andai tanpa koper dan tas branded serta pakaian bermerk yang dipakainya, ia pasti sudah seperti gembel hilang. Dengan kancing baju tidak lengkap, sandal jepit biru, dan rambut berantakan ia berkomat-kamit sepanjang jalan.


Om Bimo mengabari tentang keadaan Annelyn, ia yakin hanya dirinya yang dikabari Om-Om arogan itu. Meylan tahu tidak ada saudara lain yang bisa dipercaya selain dirinya. Dan untuk itu dia cukup berbangga diri.


Tapi pria arogan bagi Meylan itu, mengabari disaat yang tidak tepat. Pasalnya dia dan kekasihnya baru saja memulai permainan menuju puncak nirwana. Huuhhh liburannya berakhir kacau. Setiap langkah kakinya, pikiran Meylan dipenuhi wajah tampan berkeringat kekasihnya, juga bayangan wajah pucat Annelyn.


Eiiittsss, seharusnya saat ini, Meylan masih kuliah di luar negeri ya. Tapi karena kenakalannya dia justru berada di Bali untuk memadu kasih dengan pacar barunya. Pemuda asal Itali itu memiliki pesona tampan rupawan dan luar biasa yang selalu membawanya ke awang-awang. Mereka sebenarnya teman kuliah, ia pria paling cool dan hangat secara bersamaan. Hangatnya bukan di sikap lho ya, tapi di iya-iya.


Sayangnya, telepon dari Bimo membuat mereka putus dan dia jomblo lagi. Kekasihnya adalah pria hyper, mereka bertengkar karena Meylan tidak konsentrasi saat dibawa mendaki ke puncak nirwana. Separuh hatinya memikirkan Annelyn, dia tidak fokus dan mengakhiri pendakian menuju puncak itu sepihak.


" Om Bimo keterlaluan, bagaimana bisa lalai menjaga Alyn. Huuhh"


" Jomblo lagi jomblo lagi, si om tidak tau apa kalau aku sedang .." Omelan Meylan terhenti saat otaknya yang kacau mulai waras, kalau dia datang ke jakarta sekarang, bukankah Bimo bisa curiga. Tidak ada yang tahu tentang kenakalannya termasuk Annelyn.


Meylan menghentikan langkahnya, berpikir sejenak, menimbang untung rugi.


" Bodo amat lah, Om Bimo sedang bingung, dia nggak akan curiga"


**


Operasi yang dilakukan dokter berjalan lancar, tapi Annelyn masih belum melewati masa kritis. Bimo duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangan kecil Annelyn. Lagi-lagi air matanya menetes, dia begitu lemah terhadap cintanya, melihat keadaan Annelyn, pikiran dan hatinya benar-benar kacau. Dia takut Annelyn lelah berjuang dan menyerah pada kematian. Apalagi jika dia tahu bayinya tidak selamat, Annelyn pasti sangat terpukul.


Ting.


Ting


Ting


Ada beberapa chat masuk di ponselnya, Bimo bergegas membukanya. Pesan dari kakak angkatnya, Pram.

__ADS_1


Bim, kapan kamu pulang? Kakak berencana mempercepat pertunanganmu dengan Calista.


Hubungan kalian jangan terus-terusan digantung.


Dia sudah cukup mendatangimu terus di Jakarta, jangan kamu pikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan, kalian sering tidur di hotel, itu anak orang, jangan sampai hamil di luar nikah,Bim.


Huh. Pria tua itu sangat cerewet, dia tidak memikirkan putrinya, malah asik memikirkan anak orang lain.


Tunggu!!


Calista sering ke Jakarta? Mendatanginya?. Sepertinya hanya sekali saja ia menemui Bimo. Dan apa tadi? Menginap di hotel? Dia bahkan tidak pernah menyentuh gadis sok tangguh itu.


Calista adalah salah satu wanita idaman keluarga Bagaskoro, cantik, piawai, cerdas dan berprestasi dalam bisnis. Bibit, bebet, bobot. Turun temurun, semua wanita yang menjadi menantu Bagaskoro adalah wanita dengan segudang kemampuan, tidak hanya mengurus rumah tangga tapi juga perusahaan. Mereka, menantu keluarga Bagaskoro adalah wanita yang mampu bersikap elegan layaknya putri mahkota terhormat yang selalu menjaga reputasi.


Dan itulah alasan ia sama sekali tidak tertarik memimpin Bagaskoro Group yang diwarisi mendiang ayahnya. Ia menginginkan istri manja yang selalu bergantung padanya. Dia ingin selalu direpotkan istrinya, dan dicereweti istrinya yang manja. Hidup akan terasa lebih bewarna bukan?.


Haahhh, sekarang cintanya, gadis impiannya terbaring tak berdaya di depannya, dan dia tidak bisa apa-apa.


" Aku mencintaimu, Lyn. Ku harap kamu mendengarnya. Aku sangat mencintaimu. Jangan protes aku Lyn, perasaan ini wajar, bukan kelainan, kita tidak terikat hubungan darah. Aku dan kamu adalah orang asing tanpa nama Bagaskoro di belakang nama kita." Bimo berkata lirih di samping telinga Annelyn, satu tanganya mengelus lembut rambut Annelyn.


" Aku tahu kamu kabur dari rumah, aku tahu semuanya, aku hanya tidak tahu apa alasanmu kabur. Dan apapun alasanmu, aku janji Lyn, aku janji akan membawamu pergi seutuhnya dari keluarga Bagaskoro. Akupun tidak ingin berada di antara mereka." Tenggorokan Bimo seperti tercekik.


"Ku mohon bangunlah Lyn, kita wujudkan bersama." Air mata Bimo semakin luruh.


**


Di sisi lain, seorang wanita tengah merayu pria berusia 40 tahun seperti biasanya. Pria itu menjanjikan banyak hal pada wanita matang itu asal ia mau diajak pergi ke puncak nirwana. Promosi jabatan, uang, perhiasan, dan barang- branded, semua bisa di dapat dengan mudah.


Sama seperti sebelum-sebelumnya, wanita cantik itu menuruti apapun perintah pria tua bernama Roland itu. Selagi kekasihnya berada di luar kota, tidak terhitung berapa kali ia mencuri keluar untuk bisa menuntaskan hawa panas yang selalu menjalar di tubuhnya.


" Kamu berani sekali malam-malam begini menemuiku?" Pria tua duduk di sofa, menghisap rokok sambil memerhatikan wanita yang bergelung di dalam selimut.

__ADS_1


" Sedang tidak ada orang, bahkan aku berani membawamu ke rumahku" Wanita itu tersenyum nakal.


" Aku penasaran bagaimana reaksi kekasihmu saat tahu kita bersama?" Roland menghembuskan rokonya.


" Aku lebih penasaran bagaimana reaksi istrimu"


" Dia terlalu lemah untuk menentangku" Roland tersenyum mengejek, membayangkan istri penurutnya yang bahkan tidak pandai berdandan, dan sedikit kampungan. Lihat saja wanita di depannya, dia dari kampung tapi tidak sedikitpun kampungan.


" Wohoooo... Sepertinya menyenangkan jika kita memberinya sedikit pertunjukan." Rencana licik tersusun indah dalam otak gesrek wanita jahat itu.


" Maksutmu? "


" Aku akan menurutimu gratis, tapi harus di depan istrimu."


" Gila!!" Pria tua itu menggebrak meja.


Sedangkan si wanita tertawa terbahak-bahak. Entah mengapa dia menginginkan sensasi baru, dia begitu tidak sabar ingin membuat istri Roland menangis tersedu-sedu.


" Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Tapi bukankah sensasinya akan lebih menakjubkan? Wanita tua yang kamu benci tersiksa, dan kamu pasti terpuaskan" Si wanita berjalan mendekat, duduk di pangkuan pria itu.


Entah setan dari mana yang merasuki pikiran wanita matang berambut panjang itu. Juga demit apa yang membuat Roland tertawa sinis. Yang pasti akan ada hati yang terluka.


" Kamu tahu? Aku bersyukur bawahanku memiliki istri secantik dirimu. Hahaha" Roland tertawa keras.


" Namamu tidak semanis perilakumu sayang" Roland menoel dagu Puspa.


Spesial malam tahun baru aku up dua kali sehari. Doain besok bisa up lagi ya..


Jangan lupa like, vote dan komen untuk menyemangati author amatiran ini ..


love youuu

__ADS_1


__ADS_2