
Pram termenung memandang foto ayu Karina yang terpampang indah di dinding ruang kerjanya. Foto berukuran empat puluh dua inch itu membuat sosok Karina seperti nyata.
Cantik, anggun dan sopan. Wanita berkelas, yang sangat bijaksana, impian setiap pria untuk dapat bersanding dengan wanita seperti Karina. Ia seolah menjadi wanita yang sangat sempurna. Pram pun mengakui semua itu benar. Andai bukan Karina istrinya, ia ragu masihkah keluarganya memiliki muka.

Foto Karina diambil saat mereka bulan madu ke Bali. Pram terus memandangi foto itu, ia lantas mengambilnya, dan membaliknya, tampaklah wajah lain yang teramat sangat ia rindukan.
Foto kecil berukuran sepuluh kali enam, mencetak seorang wanita yang tidak kalah cantik. Wanita yang begitu mirip dengan Annelyn putrinya.
Vin. Pram sendiri yang mengambil fotonya. Mereka baru lulus kuliah waktu itu. Pram meminta Vin mengenakan cheongsam dan memang hanya cheongsam saja tidak ada yang lain. Ia juga meminta Vin berdandan ala wanita dewasa yang menantang.
Pram tidak mengerti, mengapa fantasinya terlalu panas dan liar saat melihat Vin, berbeda saat bersama istrinya ataupun saat melihat wanita lain, ia seperti tidak minat.
Apa karena ia bebas melakukan apapun pada tubuh Vin, menjadikannya seperti apapun yang ada dalam bayangan panas miliknya, tanpa takut wanita itu protes atas mengeluh. Sedangkan Karina adalah istrinya, wanita yang hanya bisa disentuhnya dengan kelembutan dan harus dijaganya dengan penuh hormat.
Seperti ada kebanggaan tersendiri, tatkala ia mampu melukis warna pada kepribadian Vin yang awalnya polos. Apalagi siswi cerdas itu cinta mati bahkan takluk di bawah kendalinya.
Vin berbeda dengan Karina yang terkesan anggun dan kaku. Vin, lebih ekspresif serta humoris. Berbicara dengan Vin membuat Pram merasa terhibur, semua penat beban tanggung jawab seolah hilang setiap kali Vin mulai berceloteh.
Tingkah polosnya yang lucu berbanding terbalik dengan pelayanannya yang double memuaskan. Ia yang awalnya polos, cepat tanggap dalam belajar, ia menurut pada semua request yang Pram ajukan.
__ADS_1
Berbeda dengan Karina, meskipun dia sedikit lebih keras kepala dan mampu mengendalikan banyak hal, Karina terlalu pasif saat mereka bermesraan. Itu semua karena didikan mutlak keluarga Karina yang menjunjung tinggi posisi suami, ia sebagai istri wajib menghormati suami dalam keadaan apapun.
Semua salahnya, serakah ingin memiliki keduanya. Memaksa Vin untuk bertahan meskipun wanita itu sudah lama tidak sanggup lagi bertahan sebagai simpanannya. Sampai akhirnya, ketika Pram memilih mengakhiri semuanya sudah terlambat. Vin hamil.
Tes
Tes
Tes
Ia mengorbankan nyawa wanita yang paling dicintainya. Untuk mempertahankan harga diri keluarganya. Apa kata orang-orang jika media tahu perselingkuhannya? Lelaki keluarga Bagaskoro tidak bisa dipegang janjinya?
Bertahun-tahun lamanya, ia berusaha menumbuhkan cinta yang baru, namun tetap tidak berhasil, wajah Vin selalu menari-nari dalam mimpinya.
Dia sadar, dia berdosa telah membandingkan istrinya yang baik dan setia, dengan wanita simpanan yang telah lama tiada.
" Bagaimana kelanjutannya?" Pram menyulut rokok. Pandangannya lurus ke depan.
" Entahlah, mungkin kita bisa membiarkan media tahu tentang asal usul mu, Kak eh Dad." Bimo tersenyum mengejek. Ia sebal dengan kakaknya.
" Dan mencoreng nama baik orang tua kita?" Pram masih santai.
Pengalamannya jauh lebih dalam dari adiknya, gambaran luas dari suatu permasalahan. Pram tahu semuanya.
" Lalu? Membiarkan orang-orang tertawa melihat pernikahan Om dan keponakannya?" Bimo menantang kakaknya, setelah ia selesai menghisap rokok dari mulutnya.
__ADS_1
" Klarifikasi saja siapa istrimu!" Pram berkata enteng, seolah dia sedang mengomentari cuaca saja.
" Dad!! Dia putrimu!!" Bimo terpancing emosinya.
" Dia belajar menerima kenyataan siapa dirinya, kalau sampai orang lain tahu, akan seperti apa mentalnya??" Bimo menatap Pram tidak percaya.
" Kamu tega pada istri yang telah setia menutupi aibmu?" Bimo lanjut bertanya.
" Orang-orang akan mengecapnya sebagai pembohong, dia bisa saja dikatai mandul." Tidak ada jawaban dari Pram membuat Bimo semakin gencar bicara.
" Aku tidak ingin menyeret mereka yang sudah tenang di alam baka." Pram lagi-lagi mengutamakan orang tua angkatnya.
" Justru karena mereka sudah tiada, media tidak akan terlalu lama menggoreng gosip." Bimo memberikan pencerahan.
" Sebenarnya mudah saja, biarkan aku dan Annelyn hidup jauh dari keluarga ini. Tidak akan ada yang tahu siapa kami sebenarnya." Bimo memang berniat kabur lagi, setelah berhasil mengeruk tabungannya sebagai modal pelarian lagi.
" Aku sudah membocorkan pada media semua wajah keluarga Bagaskoro, bahkan seluruh pelayannya pun media sudah tahu. Agar kalian tidak gegabah dalam bertindak dan berbuat kesalahan."
Pram tersenyum misterius, raut mukanya sama sekali tidak memperhatikan belas asih.
" Keterlaluan!!"
" Kamu kira aku di sini untuk apa?? Aku bertahan di sini, mengorbankan kebahagiaan ku dan cintaku, mengorbankan segalanya yang ku impikan, demi menjaga tahta mu di perusahaan. Itu amanat Daddy!" Pram berkata tegas.
" Setelah semua pengorbanan yang ku lakukan kamu ingin pergi? Jangan bermimpi!" Pram berbisik di telinga Bimo.
__ADS_1
" Ingat satu hal! Keluarga kita berbeda dengan keluarga kelas atas lainnya. Turun temurun kesalahan keluarga kita tidak terendus media. Itu sudah tradisi, bahkan Daddy adalah orang yang gila hormat dan citra nama baik. Ku harap kamu tidak melempar kotoran pada muka orang yang sudah tidak ada!" Pram berjalan melewati Bimo yang terpaku pada semua hal yang tidak banyak diketahuinya.
Ia sadar, keluarganya berbeda, terlampau sulit dijelaskan. Jika media tahunya Annelyn adalah anak angkat, maka yang akan disorot sebagai penipu adalah Pram dan Karina. Sekali lagi kakaknya mengorbankan nama baiknya beserta istrinya demi menjaga nama baik orang tua.