
" Bagaimana kalau Meylan hamil?" Annelyn tidak puas dengan sikap cuek yang ditunjukkan asisten Om Bimo.
" Belum tentu juga anakku" Lim membela diri.
" Dia sudah sering melakukannya dengan pria manapun. Mungkin dengan Pak Bimo juga pernah" Jawaban asal yang dilontarkan Lim membuat tiga orang lainnya melotot.
" Jangan fitnah kamu Lim, dasar asisten kurang ajar!" Bimo menendang ranjang tempat tidur. Dia tidak pernah dan tidak akan pernah menyentuh wanita seperti Meylan. Jangan sampai Annelyn salah paham.
" Sudah-sudah, cukup, selesaikan urusan kalian, aku mau pulang" Annelyn yang semakin dibuat pusing pun memutuskan untuk pulang, lupa dengan nasib sepupunya, Meylan.
" Ya pulang aja lah Non, ngapain juga ngganggu ritual iya-iya. Kalo Non pingin ya minta sama Pak Bimo dong" Lim menimpali ucapan Annelyn.
Bruk.
" Kurang ajar" Annelyn lagi-lagi memukul kepala Lim dengan tasnya. Biar apa? Ya biar otaknya yang gesrek kembali ke tempat semula.
" Dan kamu Mey! Aku kecewa sama kamu!" Pandangan mata Annelyn menyiratkan kekecewaan.
Iapun melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan pasangan tidak tahu malu itu.
"Lim. Urusan kita belum selesai" Setelah mengatakannya, Bimo berlalu meninggalkan mereka.
Keheningan malam setelah digeropyok, membuat dua insan yang tadinya merasakan sensasi hot jeletot itu sama-sama dingin hatinya.
" Cih, aku tahu akal bulusmu. Dasar wanita licik, masih bau kencur saja sudah berani menjebakku. Sekarang bagaimana rasanya digrebek? Enak kan?"
Lim menyunggingkan senyuman, dia bukan pria alim yang setia pada satu wanita. Tapi dia juga tidak berniat meniduri Meylan, semua terjadi karena Meylan merengek minta bertemu di restoran, yang pada kenyataannya dia justru menjebak Lim agar bisa tidur dengannya.
Karena Lim bukan pria bodoh, jadi dia sengaja membawa Meylan melambung ke langit tujuh, sampai tidak sadar kegiatan mereka sudah divideokan dirinya dan dikirim ke Annelyn. Heboh? Jelas. Itu memang tujuannya.
__ADS_1
" Awas ya kamu Lim! Br*ngs*k!" Meylan mengumpat. Sedangkan Lim dengan tidak peduli, turun dari ranjang memakai penutup tubuhnya.
Lim merogoh saku celana, mengeluarkan segenggam uang seratus ribuan dari dompet, lantas melemparkan uang tersebut ke wajah Meylan. Dua juta.
" Ku rasa uang itu lebih dari cukup untuk membeli pil KB, dan setelah ini meskipun kamu hamil, itu bukan anakku." Melipat kedua tangannya di dada, Lim memandangi Meylan yang enggan beranjak dari kasur, air mata wanita itu tidak hentinya mengucur.
" Hmmm haahhhh, apalagi aku sudah merasakannya dan memang masih menggigit istriku, meskipun dia sudah melahirkan. Itu cukup membuktikan seberapa luas jaringanmu di dunia pergaulan bebas" Lim tersenyum mengejek sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan tubuh ringkih yang bergetar karena tangis.
Meylan jatuh cinta, perasaannya terhadap Lim bukan hanya sekedar teman satu malam. Salahnya dia tidak sabar, dia gegabah ingin memiliki Lim. Tanpa tahu pria tampan rupawan tiada takarannya itu sudah beristri.
**
" Lihat pertunjukan ini sampai selesai sayang, setelah itu terima gugatan cerai ku tanpa harta gono-gini. Atau kamu ingin melihat adegan panasku setiap saat?" Ujar lelaki bernama Roland kepada istrinya.
Wanita berusia 40 tahun, bertubuh agak gemuk itu terus menangis tanpa bisa mengumpat dua pasangan yang mulai bergumul di depannya. Ia didudukkan di kursi, kedua tangannya diikat, mulutnya dilakban.
Desah demi ******* terdengar seperti ribuan panah yang ditancapkan lalu ditarik kembali. Tida ada yang tahu seberapa hancur batin, jiwa dan harga dirinya sebagai seorang istri sah.
Degh, surat cerai?
" Sudah lihat sendiri kan? Betapa lincahnya wanitaku, dia membuatku merasa kembali muda, kau tahu??dia sedang hamil anak suaminya, tapi masih cukup luar biasa pelayanannya" Ungkap Roland tanpa perasaan.
" Tanda tangan di sini Nyonya Ronald terhormat, ups sorry ya sebentar lagi jadi mantan Nyonya" Puspa terkekeh geli, melihat tangan pucat itu membubuhkan tandatangan di surat cerai.
Alamat ATM nya menggendut. Pak bosnya Dimas itu pasti memberinya upah banyak.
" Sekali lagi yuk, sayang" Puspa merengek, tenaganya seperti tiada habisnya. Pantas saja suaminya yang b*d*h itu kuwalahan.
" Jangan sayang, lihat wajahnya pucat begitu, kalau kenapa-kenapa kita yang repot, aku lepaskan saja ikatannya, biarkan dia pulang ke rumah mengemasi barang-barangnya" Roland melepas ikatan yang membuat istrinya tidak bisa bergerak.
__ADS_1
Plak plak.
" Dasar wanita s*nd*l!!" Setelah terlepas dari ikatan tali, mantan istri Roland menampar Puspa.
" Sayang wajahku bengkak" Puspa pura-pura merengek.
Plak
" Pergi kamu dari sini! Dasar wanita tua menjijikkan!" Roland menampar mantan istrinya sampai tubuh tua tersebut terhuyung mengenai lemari hotel.
" Manusia kelakuannya seperti hewan, kenapa tidak kamu daftarkan saja wanita s*ndal itu jadi bintang film p*rn*?? " Hina wanita mantan istri Roland.
"Pasti banyak yang minat menjadi partnernya, dia juga tidak perlu bermain dengan suami orang, dia juga tidak perlu kegatelan setiap hari." Ia masih melanjutkan hinaanya.
" Oh ya malang sekali nasib anak dalam kandunganmu, harus dijenguk berbagai macam produk. Dan, suamimu sungguh kasihan, istrinya tidak lebih dari wanita penjajah perilaku setan" Setelah mengatakannya, sebelum Roland bahkan Puspa bertindak, dia cepat-cepat pergi meninggalkan tempat maksiat itu.
Bimo POV.
Di parkiran apartemen.
Aku terus mengejar langkah Annelyn, aku yakin setelah melihat kejadian tadi, bayang-bayang penghianatan Dimas menari di otaknya. Kesal? Cemburu? Sudah pasti, tapi aku bisa apa? Aku tahu dia masih mencintai Dimas, dan aku sendiri yang memaksakan diri untuk masuk ke dalam hatinya. Wajar jika untuk merebut takhta hatinya, aku harus sabar bersinggungan dengan perasaan Annelyn terhadap Dimas.
Tiba-tiba dia berbalik memelukku, aku tidak siap, jangan ditanya seperti apa jantungku sekarang, detaknya kok seperti hilang ya? Duh baru juga dipeluk, belum lainnya.
" Bawa aku pergi Om, aku siap menikah, bawa aku pergi dari sini, aku tidak ingin bertemu dengan mereka-mereka"
Annelyn memohon sambil berurai air mata. Tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang menyaksikan adegan mereka, untung banyaknya mobil yang berjejer di dekat posisi mereka tanpa ada yang menyetir, sehingga masih aman lah.
" Kamu yakin?" Bimo bertanya meyakinkan.
__ADS_1
"Hmm" Annelyn hanya mengangguk.
" Kita cari Gereja, kita menikah malam ini" Putus Bimo.