
Gila kamu Pram!. Aku datang kesini ingin memastikan keponakanku tidak mencoreng nama baik keluarga dengan kabur meninggalkan tunangannya" Pria tua yang sangat disegani itu sama sekali tidak meninggalkan jejak kebijaksanaan. Terlalu otoriter mencampuri urusan rumah tangga orang lain.
" Kamu pikir aku bodoh? Kecelakaan itu hanya kamuflase. Lebih darimu, asam garam kehidupan sudah pernah ku rasakan." Ia berdiri menghentakkan tongkatnya penuh penekanan, mata tajamnya memandang rendah pasangan paruh baya di depannya. Sepasang suami istri yang masih terlihat muda dan berkelas.
" Temukan dia. Atau Calysta akan membuat onar, ku dengar mereka sering menginap bersama. Jangan biarkan anak orang hamil diluar nikah karena adikmu" Dan entah dari mana lagi tua b*ngk* itu mendengar gosip murahan yang sengaja digoreng dan dibumbui oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Sayangnya semua orang percaya gosip itu, kecuali Karina. Dia tahu betul selera Bimo Bagaskoro. Dan Calysta bukanlah orangnya, ya meskipun dia sangat cantik berbakat.
" Dan kamu! Belajarlah menjadi ibu yang baik untuk putrimu. Kuliah di luar negeri tidak membuat dia melupakan rumahnya, sampai belum pernah pulang mengunjungi kakeknya" Karina yang duduk kalem pun ikut terkena semprotan.
Mereka berdua hanya bisa meng-iyakan perintah tetua keluarga, membantah juga tidak ada gunanya. Kecuali saat Paman dan Bibinya menghina orang tuanya, Pram tidak bisa tinggal diam.
***
Annelyn POV.
Sudah dua minggu aku dan Om Bimo tinggal di kota kecil yang indah ini. Kudus, kota santri, kota kretek. Om Bimo membangun rumah di kaki gunung Muria. Bukan sebuah komplek perumahan mewah, melainkan rumah sederhana yang menyatu dengan masyarakat sekitar. Masyarakat yang hampir semuanya ibu rumah tangga, berusia 30 tahunan. Desa yang masih kental adat istiadat, berikut dengan tradisi nggosipnya yang setiap hari membuatku ingin menyumpal telinga.
Pertama kali berbaur dengan masyarakat, mereka berbondong-bondong melontar pertanyaan, mungkin mereka kepo dengan pemilik rumah baru yang selama ini tidak kunjung datang. Ya, rumah ini dibangun saat aku resmi bercerai dari mantan suamiku. Wajar jika mereka sudah menanti kedatanganku, pemilik rumah baru yang selalu gelap tanpa penghuni.
" Lyn, sini bantuin!" Suara Om Bimo menginterupsi lamunanku. Udara kota ini masih bersih, membuatku betah bermanja-manja di ayunan kayu jati, di bawah pohon mangga.
Ku hampiri Om yang sedang menjemur pakaian, rajin sekali Om ku ini. Setiap pagi selalu mencuci.
__ADS_1
Sebelumnya aku pernah melarangnya mencuci, tapi dia pandai mengelak, katanya bisa mati kebosanan. Ya sudahlah, malah aku bisa ongkang-ongkang kaki, paling pekerjaanku cuma menyetrika sama belanja harian.
" Mulai sekarang kamu yang menjemur baju Lyn, aku sudah mulai buka usaha"
Cup. Satu kecupan mengawali kegiatanku menjemur baju. Suatu pekerjaan yang belum pernah ku lakukan selama dua minggu menjadi istrinya.
" Usaha apa" Tanyaku, tatkala tanganku meraih dalaman bajuku yang akan dijemur Om.
Biasanya juga Om yang mencuci dan menjemur dalamanku, tapi kok ini rasanya malu ya saat melihat langsung. Hehe. Biasanya kan aku cuma duduk memerhatikan dia melakukan pekerjaan rumah, sambil menikmati kue buatannya. Kalian boleh manggil aku keset.
" Catering, besok sudah mulai ada pesanan, lumayan lah 120 porsi setiap hari" Om Bimo menjelaskan, matanya tidak lepas dari menatap pergerakanku.
" Karyawan pabrik yang memasarkan usahaku, tidak sia-sia juga promosi dengan berbagi masakan" Dia tersenyum. Uh manisnya.
" Sip, kamu yang jadi bendahara dan bagian pengemasan saja" Om Bimo menata ember di dekat rak kebersihan.
" Siap bos Bimo" Kataku, tangan kananku memberi hormat layaknya adik kepada kakak pembina Pramuka.
" Suamiku adalah bosku. Hahaha" Dia tertawa mengejek. Tuh kan kumat lagi jahilnya. Tahu saja dia kalau istrinya suka baca novel Suamiku adalah Bosku.
***
" Eh Neng Alyn, beli ayam sama gurame terus neng, ndak doyan tempe tahu tah? Aduh anak kota" Suara nyinyiran ibu-ibu yang ku ketahui namanya Bu Tini.
__ADS_1
" Hehe, iya Bu, mau bagaimana lagi, uang suami saya turah-turah". M*mp*us rasain kamu Bu, siapa suruh mulutnya lumer.
" Dih sombong" Bu Usli menimpali. Namanya saja Muslimah, tapi kelakuannya. Beeuuhhh melebihi netizen medsos.
" Kerja apaan Neng? Kelihatannya di rumah wae, masa iya suami situ ngepet" Kan?? Mulutnya nggak pernah makan bangku sekolah.
" Oh No, jaman gini ngepet? Kaya nggak laku kerja." Kataku menimpali Bu Muslimah, aku memasang wajah mengejek sambil memilah sayur, tanganku yang mulus dengan kuku mengkilap menimbulkan rasa iri, lihat saja mata ibu-ibu tukang gosip di sampingku. Sedari tadi matanya melotot melihat tanganku. Mungkin juga cincinku.
" Eh Neng jangan sombong, suami situ kan emang pengangguran, setiap hari di rumah." Bu Tini membela temannya. Sedari tadi memilih daging, tapi aku yakin pilihannya jatuh pada ikan asin seperti biasanya.
" Heh ibu-ibu tukang rumpi, bisa nggak sih kalo ngomong difilter." Aku sudah muak, setiap belanja selalu kena nyinyiran. Nggak mempan tau!
" Suami saya baru buka usaha catering, emang sih belum laris manis seperti jualannya Kang sayur. Tapi, kami masih punya cukup uang kok, buktinya tiap hari saya kasih kalian jatah makanan juga." Jelasku. Rasain kalian, kalau di kasih nasi kotak sama suamiku saja mulutnya muanis, madu T* saja kalah.
" Aku ra due ayam. Jadi Yo mau Ndak mau tak pangan. Andai aku punya yo wes tak pakake" Hih mulutnya Bu Tini, apa kebanyakan makan cabe ya, kok omongannya kaya bon cabe level 30.
" Aku si pancen tak sumbangke nang morotuoku, lha piye maneh, wong hasil ngepet ya gak layak pake to yu. " Nah, ini lagi Bu Muslimah mendukung teman maksiatnya.
Ciri-ciri menantu tidak patut ditiru. Mertua dikasih barang yang dia tidak suka. Masa ibu mertuanya disamakan tempat pembuangan. Sabar Lyn, sabar. Jangan sampai ketularan julid. Muslimah anaknya Bibi di rumah Bagaskoro saja baiknya seperti malaikat. Lha nemu disini kok julidnya melebihi malaikat pencabut nyawa.
Dikira aku nggak paham bahasa Jawa, aku arek Surabaya gaes, ya paham lah saat mereka julid pakai bahasa daerah.
**
__ADS_1
Hi gaess aku lama ya up nya, sorry masih belum bersemangat, kontraknya belum diterima, masih review awal, tapi tenang saja. novel ini pasti tamat, love you all