
Hallo readers, karya author sudah mencapai 20 bab, sambil nunggu dikontrak NT, author bagi visual yaa.
Kalo nggak cocok boleh lah membayangkan sesuai imajinasi kalian.
Ini Annelyn ,ingat ya, Annelyn itu bukan sosok wanita sederhana dan bersahaja, dia putri konglomerat yang biasa dimanja, selama ini dia bersikap dewasa karena cintanya pada Dimas. Pada kenyataannya dia tetaplah keponakan manjanya Om Bimo. Otaknya cerdik, memang sedikit licik orangnya. Tapi tetap baik kok.

Yang ini, Puspa. Untuk masalah kesederhanaan, penampilannya lebih sederhana daripada Annelyn. Tapi, dia rubah berbulu domba, sangat licik dan sadis lho gaes, dia hanya ingin hidup bebas dan bergelimang harta.
__ADS_1
Ini Calysta. Di novelku ini, dia adalah primadonanya, dia tokoh paling cantik wajahnya, bukan bodynya lho, itu cuma Annelyn punya, hehe. Calysta ini paling bisa bermain cantik, dia sangat terpelajar lho gaes, Disini dia bukan pelakor yaa.
Ini Meylan, sesuai yang dikatakan Bimo, dia adalah penjajahan keperkasaan kaum Adam. Dia sosok yang friendly, dan otak jahil bin usilnya luar biasas
Ini Nyonya Karina. Wanita karir yang sangat kuat di luar lembut di dalam. Awet muda kan? Itulah yang dinamakan the power of money.
**
__ADS_1
Trailer.
" Lim? Kamu gila!" Bimo meninju tembok di sampingnya.
Annelyn? Dia sudah lebih dulu memukul asisten tampan itu menggunakan tasnya.
Pandangan mata nanar Annelyn beralih pada seorang wanita yang menutupi tubuhnya dengan selimut. Oh God, dipikirkannya dia juga akan lolos dari amukan Annelyn.
" Maaf pak, saya tidak tahu apa yang terjadi, saya dijebak." Lim menunduk membela diri.
" Bulshit, laki-laki otak mesum sepertimu dijebak? Kalau dijebak, kenapa kamu sadar? Kenapa tadi di atas? " Annelyn menyerocos.
**
__ADS_1
Oh ya gaes, kalau aku lihat, yang baca karyaku tuh lumayan lah, nggak dikit-dikit sekali, tapi kok ya yang like, komen cuma beberapa dan itupun orang yang sama, masa sih kalian nggak ada rasa pingin ngasih jempol satu saja. Biar apa? Ya biar author semangat up nya.
Bukan masalah gaji ya, viewers 1000 orang saja gajiku paling cuma cukup buat beli permen 1 biji. Apalagi viewers ku yang cuma puluhan kadang kesebelasan kaya sepak bola. Yang aku harapkan bukan gaji, cukup apresiasi dengan jempol kalian. Itu seperti suplemen penambah stamina untuk terus menulis.