
Author POV.
Annelyn dengan wajah ditekuk duduk di kursi ruang tamu apartemen Om Bimo. Dia masih malu menjadi pusat perhatian semua orang saat Bimo membopong tubuhnya ala bridal style.
Untung saja, keluarganya anti disorot media, jadi tidak ada media yang tahu rupa keluarga Bagaskoro, meskipun gurita bisnisnya dimana-mana.
" Lyn, kamu tidur di kamarku saja".
Bimo berkata ringan sambil membaca email yang masuk ke ponselnya, saat kaki panjangnya berjalan melewati Annelyn.
Bola mata Annelyn melotot.
" Mana bisa begitu Om, aku sudah dewasa, aku punya privasi, aku bukan bocah 5 tahun yang takut tidur sendirian" Bibir mungil itu masih ingin nyerocos, melempar protes pada Bimol yang berdiri di sampingnya, seketika Bimo dengan gemas menjapit bibir keponakanya dengan kedua jari tangannya.
" Cerewetmu nggak berubah. Aku tidur di kamar sebelah, karena kamarku lebih luas jadi kamu saja yang menempati". Tutur Bimo lembut, mengelus rambut Annelyn.
Bagi Bimo, Annelyn tetaplah anak kecil nakal yang dulu selalu minta digendong dan ditemani tidur oleh Bimo. Sifat dingin kakak angkatnya membuat Annelyn lebih manja pada Bimo. Hanya kakak iparnya yaitu Mama Annelyn yang sangat menyayangi putri semata wayangnya itu.
***
Sidang perceraian Annelyn dan Dimas berjalan lancar, kini Annelyn sudah memulai hidup barunya dengan penuh semangat. Dia yang awalnya mengurung diri di dalam apartemen, kini sudah mulai melakukan aktivitas, bahkan Bimo membolehkan Annelyn bekerja di restoran Chinese food miliknya.
Beberapa hari setelah sidang perceraian, Annelyn lebih irit bicara, susah makan dan hanya tiduran, apalagi mual-mual setiap pagi memperburuk keadaannya. Bimo khawatir dengan janin yang baru dikandungnya.
Bimo dengan telaten merawat Annelyn, pagi, siang dan sore tidak absen menyuapi makanan, juga selalu dibuat geleng kepala saat Annelyn menolak minum obat.
__ADS_1
Sekarang dia melihat gadis kesayangannya sedang memainkan piano di restoran miliknya, membuat beban pikiran beberapa waktu lalu terangkat.
Aku tahu kamu masih sangat mencintainya bahkan sering memimpikannya. Batin Bimo saat menatap Annelyn penuh makna.
Bimo yang terlalu terserap dalam lamunan, tidak menyadari musik telah selesai, Annelyn pun bergelayut manja di lengannya.
" Om, aku menerima tawaranmu, aku akan datang ke pesta bersamamu". Suara manja Annelyn membuyarkan lamunan Bimo.
Bimo mengernyit heran, dua alisnya bersatu, menunduk memandang mata Annelyn penuh selidik. Beberapa waktu lalu gadis nakal ini bersikeras tidak mau ikut.
Alasannya tidak masuk akal, karena kehamilannya menginjak usia 3 bulan perutnya sedikit membesar. Padahal perutnya masih rata. Kenapa sekarang dengan suara mendayu manja setuju untuk ikut?
Menyadari tatapan Bimo, Annelyn salah tingkah sendiri, " Aku sudah lama tidak menghadiri pesta Om. Please" . Pinta Annelyn dengan wajah memelas terus bergelayut manja di lengan kiri Bimo
Bimo gemas sendiri melihat wajah mengiba yang dibuat-buat ponakannya, bagaimana bisa anak nakal yang begitu menggemaskan ini sudah mau menjadi ibu. Bagaimana pula satu tahun pernikahannya dengan Dimas berjalan? Gadis manja ini dituntut dewasa lalu dikhianati begitu saja.
Hmmmhhhh Bimo menghela nafas,
" oke".
Cup. Satu kecupan mendarat di pipi Bimo, membuat pria matang ia itu hampir kehilangan detak jantungnya. Annelyn terkekeh berjalan cepat meninggalkan Bimo bersama rasa terkejutnya.
Keesokan harinya, Bimo membawa Annelyn fitting baju, di butik milik salah satu temannya. Annelyn hampir tidak percaya butik yang didatanginya begitu terkenal. Pasalnya dia tidak melihat pelayan yang wira-wiri ataupun pembeli.
Menyadari perubahan raut wajah Annelyn, Bimo berbisik. " Mereka punya 10 ruang privat untuk melayani pembeli. Mereka hanya menerima 50 pembeli dalam sehari, dengan jadwal waktu pembelian yang berbeda"
__ADS_1
" Huh. Seperti dokter spesialis saja. Hihihi". Cibir Annelyn, diam-diam mengulum senyum, Om kesayangannya benar-benar limited edition, royal tanpa batas.
Ngomong-ngomong masalah royal, Om Bimo juga pernah membelikan Annelyn kalung berlian seharga 1M. Kalungnya sudah dijual untuk biaya hidupnya selama di pelarian. Annelyn tidak bisa membayangkan bagaimana jika Omnya tahu.
Seorang wanita cantik berkulit eksotis menyambut mereka berdua, wanita berambut panjang kuncir kuda itu memakai rok span satu jengkal di atas lutut, kakinya yang mulus dibalut high heels dengan tinggi 12 cm
Wanita yang tingginya 170cm itu membuat Annelyn harus mendongak saat bicara dengannya, apalagi Annelyn hanya memakai sepatu kets.
Wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai alissya itu membawa Annelyn dan Bimo menuju ruang privat. Annelyn dengan sumringah memilih desain gaun pesta dengan kerah Sabrina, belahan dada agak rendah dengan bawahan berbentuk duyung.
" Kuning aja warnanya". Putus Bimo dengan tangan bersedekap dada, memandang Annelyn dan Alissya yang tengah menentukan warna gaun.
" Ah Om, cantikkan hijau". Memandang Bimo dengan tatapan memelas.
Bimo hanya mengendikkan bahu sebagai jawaban, sedikit malas menanggapi protes Annelyn yang kalau berlanjut bisa seperti kereta panjangnya.
" Om, baby ku juga minta Om pakai baju senada dengan gaunku. Aku ngidam, Om" Celetuk Annelyn tanpa memerhatikan raut wajah Alissya.
Wajah Bimo merah padam mendengar ucapan Annelyn dan tatapan heran Alissya,
" Sugar baby" Ucap Allusyo tanpa suara, tapi masih bisa diketahui Bimo.
jangan lupa jempolnya, vote dan komen sebaaaaaanyaaaak banyaknyuuuaa gaeeesss,
sorry kemaren nggak bisa up, kesibukan dunia nyata menyita waktuku.. Ini aku sempetin up disela kesibukanku.. sempetin juga jempolnya yaaa
__ADS_1
love you all..