
Bimo POV.
Wanita yang satu bulan lalu pingsan karena ulahku, sempat terpuruk, sangat terpukul oleh kenyataan tentang bayinya, kini sedang serius menonton drama kolosal di sampingku. Satu bulan ini, dia berubah, tidak ada lagi Annelyn yang manja dan suka merengek padaku, ya hanya padaku, dengan mantan suaminya saja dia tidak pernah manja gila.
Bicara masalah mantan suami. Ternyata Dimas si kacung pelakor itu yang sengaja membuat Annelyn keguguran. Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin ada ayah yang tega membunuh darah dagingnya sendiri. Dan buktinya ada, tuh Dimas contohnya.
Diamnya Annelyn, bukan sekedar ngambek, sebulan ini dia terlihat sangat merasa bersalah. Tubuhnya lebih kurus, hanya bagian tertentu saja yang masih menggelembung, wajahnya kusam dan kantung matanya menghitam. Aku tentunya sudah meminta maaf, berkali-kali, sampai aku juga pernah hampir sujud di kakinya.
" Serius amat sih Lyn nontonnya" aku menggeser dudukku, merapat pada tubuh mungil yang saking seriusnya seolah aku tidak ada. Tuh kan, dia cuma diam lalu mengangguk.
" Emang kamu nggak risih gitu lihat orang berdarah-darah?" Aku masih ingin bertanya, sepi lho satu bulan dicuekin, ibarat ada dan tiada. Ada orangnya tapi tidak ada aksi reaksinya.
" Setidaknya aku bisa membayangkan orang itu Dimas". Ia menjawab simpel, tanpa menoleh.
Oh God. Anak ini. Aku juga sudah melaporkan Dimas pada pihak berwajib, tapi tidak ada bukti kuat jika pelakunya Dimas. Cctv restoran tidak menyorot sampai tempat duduknya Annelyn dan Dimas. Dan lagi, jus jeruk yang diminum Annelyn juga sudah tidak berbekas. Ya jelas lah, aku terlalu lambat menyelidiki. Seharusnya Annelyn menyalahkan Om tidak berguna sepertiku.
Hari libur seperti ini, dulu Annelyn selalu minta ditemani jalan-jalan. Sekarang? Bosan lah cuma disuruh jadi obat nyamuk.
" Lyn?" Aku ingin sekali dia cerewet seperti dulu. Aku sudah tidak tahan.
" Hm" Dia hanya berdehem.
" Kamu nggak ada keinginan pulang ke Rumah?" Aku mencoba membuat pertanyaan yang serius, biar apa? Biar dijawab lah.
Hening. Oh tidak mempan ternyata, dan mata indahnya justru berkaca-kaca. Sepertinya aku salah mengambil langkah.
" Oke fine, gapapa. Aku cuma heran saja, apa alasan kenapa kamu kabur, Aku tahu semuanya, kecuali alasanmu Lyn" Aku mencoba menenangkan dia, sejak hari itu dia menjadi sosok yang sensitif, salah langkah dalam berucap, dikira aku tidak menyukai keberadaannya.
Hening. Tes, setetes air mata membasahi tanganku yang menggenggam tangannya.
" Iya oke sorry, Om banyak nanya" Aku mengalah. Mungkin belum saatnya.
Masih saja hening, tangan kananku mengusap punggungnya. Entah pada menit ke berapa, tiba-tiba Annelyn bersuara. Suaranya terdengar lemah, isyarat akan rasa lelah berjuang, keletihan yang mendalam.
" Om pernah tidak merasa tertekan tinggal di rumah itu?"
" Om tahu tidak? Daddy tidak pernah mengharapkan diriku. Mama, aku tidak tahu apakah mama benar menyayangiku atau.. huu huuu huu" Dia tidak melanjutkan perkataannya saat tangisannya tidak lagi bisa dibendung.
" Cup cup cup, Lyn, sorry nggak seharusnya Om bertanya, kamu belum siap cerita? Oke gapapa, jangan dipaksakan, Om akan menjagamu sampai kapanpun, kita tidak perlu pulang ke rumah."
Aku memeluk tubuh ringkih Annelyn, membujuknya untuk tidak menangis, aku tidak sanggup melihat tetes demi tetes air mata keluar dari mata indahnya, yang semakin cekung menghitam.
Setelah tangisnya reda, mata indah itu memandangku.
" Om, janji nggak akan ninggalin Alyn ya."
Pintanya.
Jelas aku tidak akan meninggalkan dirinya. Because i love her.
" Om, nanti kalau Om menikah bagaimana? Istri Om bisa menerima Alyn?" Pertanyaan Annelyn begitu tiba-tiba.
Spontan jawabanku juga sangat tiba-tiba meluncur dari mulutku.
" Bagaimana kalau kita menikah saja, aku akan membawamu pergi dari dunia Bagaskoro. Kita bisa bahagia bersama selamanya tanpa takut ada yang mengusik"
__ADS_1
" Haaa!!" Annelyn syok, kaget lah masa enggak.
Plak, pukulan ringan mendarat di pahaku, untung tangan rampingnya tidak meleset ke daerah rawan.
" Cckk, Mana bisa begitu, Om kan adiknya Daddy" Bibir ranumnya cemberut mendengar usulanku. Dalam hati aku terkekeh, setelah sekian lama akhirnya anak ini bisa sedikit kembali sukmanya. Hehe
" Emmm sebenarnya ada sedikit cerita, kamu mau mendengarkan?". Sepertinya sudah saatnya aku jujur, bukan hanya jujur tentang perasaanku, tapi juga sebuah kisah.
" Apa Om?" Masih cemberut, wajahnya terlihat ogah-ogahan.
" Dulu Oma, mamanya Om, bertahun-tahun menikah belum juga diberi keturunan. Sudah berobat, sampai ke luar negeri hasilnya sia-sia. Jika dibiarkan, entah sampai kapan tidak ada yang tahu, reputasi keluarga terancam. Apalagi adiknya Opa sudah mempunyai anak, laki-laki pula."
Kan, kan, tadi kelihatan males, sekarang wajahnya antusias poll.
" Opa tidak bisa menikah lagi, bukan karena begitu mencintai Oma, kamu tahu sendirilah pernikahan keluarga kita seperti apa." Yap, Annelyn sudah sangat tahu tentang pernikahan tanpa cinta, hanya pernikahan bisnis dan reputasi.
"Alasan Opa tidak menikah lagi, selain karena agama melarang, reputasi keluarga juga jadi pertimbangan. Untuk itu Opa membuat drama kehamilan Oma, lalu meminta orang suruhannya untuk mengadopsi anak dari panti asuhan, sebagai anak yang seolah dilahirkan Oma, yaitu Kak Pram. Daddymu."
" Jadi??"
" Ya, kamu benar. Kita tidak ada hubungan darah. Seperti halnya tidak ada yang tahu kenyataan ini, kecuali aku Oma, Opa dan Daddy, mungkin juga Mamamu kalau Daddymu cerita." Aku menatap intens wajahnya yang sembab.
" Karena, semua orang yang terlibat, pasti sudah dimusnahkan dalam satu tepukan tangan". Annelyn meneruskan perkataanku. Good girl.
' Sebegitu banyak rahasia di rumah itu, fiks aku tidak akan kembali ke sana'.
Aku dapat membaca pikiran anak ini.
" Kita bukan Om dan keponakan kandung Lyn" Aku melanjutkan langkah, bukan langkah kaki, tapi langkah rencana. Tekatku sudah bulat. Aku harus menikahi Annelyn. Tidak bisa diganggu gugat. Kalau tidak jodoh, akan ku musnahkan jodohnya. Aku tersenyum devil.
" I love you, aku sangat mencintaimu" Aku memeluknya, mengecup puncak kepalanya.
" Hhshuuut. Jangan katakan, aku tahu Lyn, aku paham dengan perasaanmu padaku, aku mengerti cintamu bukan untukku, tapi percayalah cintaku saja cukup untuk membahagiakanmu Lyn. Aku janji, tidak akan memaksakan perasaanmu padaku. Kita hanya perlu menjalani pernikahan, berperan sebagai suami istri yang saling menyayangi, saling memahami dan melengkapi. Itu saja, aku tidak menuntut apapun darimu"
" Tapi Om .."
" Aku tahu, ini sulit. Ku mohon berjuanglah bersamaku, terimalah aku Lyn, aku janji akan menjagamu. Di dunia ini, tidak ada orang yang bisa kamu percayai melebihi aku Lyn, Om mu, pria tua yang merawatmu seperti anaknya sendiri" Aku terus mempersuasi Annelyn, dia memang dewasa, kuat dan tegar dalam urusan rumah tangga, tapi dia tidak lebih dari wanita polos yang sangat lembut hatinya.
" Aku.. aku tidak tahu, aku.."
" Cukup anggukkan kepalamu jika kamu menerimaku, aku janji akan mewujudkan kehidupan impianmu" Pintaku dengan wajah memelas, Aku hanya berharap Tuhan membuka pintu hati Annelyn untuk menerima lamaranku. Ya lamaran absud versi nyata, yang kemaren hanya kaleng2 khayalan.
" Aku takut. Aku tidak .."
Tes, air matanya menetes lagi.
Degh. Melihat sorot mata Annelyn yang dipenuhi ketakutan dan trauma. Aku dengan sigap merengkuh tubuhnya, memeluk erat menyalurkan betapa aku sangat mencintainya,
" Percayalah, namaku Bimo, percaya padaku Lyn, aku Bimo, bukan Dimas, aku tidak akan melukaimu"
Kini air mataku menetes, aku tidak sanggup melihat dia ketakutan, luka batin yang ditorehkan Dimas brengsek terlalu dalam.
Tangisan Annelyn bukanya reda, malah semakin menjadi, aku memang tidak cocok menjadi psikiater. Bisa-bisa semua pasienku kapok.
" Lyn? are you okay?"
__ADS_1
" Udah tau aku nangis, ngapain nanya sih Om!".
Lah, anak ini menggerutu. Jadi sebenarnya lamaranku diterima atau tidak? Batinku.
" Om yakin mau menikah dengan janda?" Annelyn bertanya memastikan.
Secepat kilat aku mengangguk semangat.
" Om tidak ingin punya anak?"
Keningku berkerut, pertanyaan apa lagi ini.
" Ya pingin lah, makannya ayo kit menikah" Aku menjawab asal. Yang penting mantap.
" Kalau nikah sama aku, aku nggak bisa memberi anak lho Om"
" Kok bisa?" Aku bertanya heran.
" Iyalah Om, masa aku iya-iya sama Om sih, nggak lucu tau Om. Aku kan nggak cinta sama Om. Kalaupun iya, setelah keguguran kan aku susah hamil."
Duh, hancur hatiku. Anak ini apa tidak pernah merasakan cintanya bertepuk sebelah tangan ya? Lancar sekali bicaranya, seperti bayi tidak berdosa, terlalu Ceto dan Medok sekali.
Sebenarnya aku diterima atau tidak? Batinku.
" Om kan punya calon tunangan"
Degh.
Cobaan apa lagi ini Tuhan.
" Calysta namanya, aku tahu dari Meylan, katanya Om juga sudah pernah tidur dengannya."
Hah, ternyata anak ingusan nakal itu yang ember. Bocah bau kencur yang sok dewasa. Bisanya cuma senang-senang, menjajah keperkasaan kaum Adam. Cocok sekali dia masuk film dunia terbalik.
" Fitnah itu Lyn. Aku saja tidak nafsu melihat dia" Aku membela diri,
" Ah masa, Carla saja diembat sama Om, masa Calysta yang cantik aduhai seperti model internasional Om bisa nggak nafsu". Annelyn masih tidak percaya.
" Om nggak suka wanita karir yang sombong dan sok tangguh" Aku menjelaskan.
" Om sukanya sama kamu Lyn"
Cup.
Ku cium pipi mulusnya. Aku harus mulai berani, anak ini susah sekali ditaklukkan.
Plak, Lagi-lagi pahaku kena pukul.
" Jangan bercanda deh Om" Gerutunya.
What? dari tadi aku dikira bercanda. Gila. Batinku.
Hai gaess, please lah tinggalin jejaknya, vote, komen like. Aku butuh amunisi semangat.
Terutama komen, karena apa? aku ingin ada yang bersedia ngasih masukan, kritik+ saran.
__ADS_1
Doain lulus kontak ya, biar tambah semangat authornya. oke??
Love you all