
ELSI
Aduhhh pusing banget kepala ku. Padahal sudah seharian kemarin aku tidur. Tetap gak merubah apapun.
Apa hari ini ijin sekolah lagi ya? Ah tapi jangan deh entar Mama malah curiga kenapa sehabis aku dari acara kemarin itu malah gak mau masuk sekolah lagi.
Tapi sumpaaah aku males banget. Apa lagi kalo ketemu dengan dia.
Aku mual lagi memikirkan nya. Semakin dipikirkan semakin perasaan aneh ini menjadi jadi.
Kenapa aku gak bisa santai aja sih jadi orang? Kan banyak yang sudah pernah begini, Tapi kenapa rasa nya seperti kehilangan separuh semangat hidup.
Aku tau ini cuma dampak dari shock, tapi aku gak mau berlarut larut begini, aku gak tahan.
Dan seharusnya aku gak usah juga menghindari dia.
Tapi kenapa setiap kali terpikir dia, aku kembali mual dan pusing. Ini yang aku gak suka.
Kalau aku ijin lagi pasti yang curiga juga bukan mama, Purna dan Sharma juga pasti mikir aku kenapa kenapa.
Sedangkan ketika kemarin mereka kesini, aku berusaha sesantai mungkin.
Seperti nya aku memang harus sekolah.
Aku mengumpulkan niat ku untuk pergi sekolah, tiba tiba HP ku berdering.
Nomor baru.
Siapa lagi sih pagi pagi begini sudah ganggu.
Ku abaikan saja telpon nya berdering. aku bergegas mengambil handuk dan segera mandi. Sebelum aku berubah pikiran.
Sehabis mandi dan bersiap, aku turun kebawah. Tapi begitu meraih HP dari atas kasur dan melihat layar nya aku ter- "notice"
El, ini Nanda.
DANG!!!! Ada apa ini? Kenapa dia bisa sampai tau whatsapp ku.
Aku mencoba tenang dan menarik nafas panjang. Disaat mual dan gugup datang lagi.
Kulihat dia masih mengetik. Aku mengurungkan niat untuk membalas.
El, Abang minta maaf ya. El kenapa kemarin gak masuk sekolah? Abang sampai cariin El di kelas. Abang tau nomer dari Purna.
Hahhhh?! Tau dari Purna???
Aku terkejut bukan main. Pikiran ku sudah kemana mana.
Gimana kalo Bang Nanda cerita yang sebenarnya dengan mereka tentang kejadian malam itu?!
Sekarang aku mules, mual, gugup + lemas.
El... Kok di read aja?
Masuk lagi whatsapp nya.
Tenang El, tenang. Elo jangan panik. Anggap ini biasa saja.
Baru saja ingin ku balas, ada telpon masuk.
Aku mengangkat dengan ragu. Aku hening sejenak sambil kututup kembali pintu kamar ku. Biar mama gak bisa dengar.
"El..." Sapa orang di seberang sana.
Aku terdiam.
__ADS_1
"El... Ini abang..." Kata nya lirih. Aku masih terdiam.
"Abang gak akan basa basi. Abang mau ngomong sama El kalo El berkenan. Sebenar nya abang mau ketemu El dari kemarin kemarin. Tapi abang menghargai kalo emang El masih butuh waktu."
Aku masih diam dan mencerna setiap kalimat nya.
Aku memberanikan diri untuk bertanya.
"El juga gak basa basi..." Kata ku. Bang Nanda terdiam. Hanya suara nafas nya yang terdengar. Kulanjutkan lagi kalimat ku.
"Abang ada cerita apa aja sama teman ku? Tentang kita berdua?"
"Gak ada El. Abang datangin kelas El cuma mau ketemu Elsi. Tapi ternyata El gak masuk. Sebelum nya Abang juga ada di kontak sama teman Elsi, Purna. Dia yang awal nya minta nomer abang pagi itu waktu habis acara."
Loh kok aku gak tau?
"Terus dia nanya apa?" Lanjut ku lagi.
"El, kalo El mau, ayo kita berangkat sekolah sama sama. Jadi kita bisa ngobrol di perjalanan. Nanti abang jemput El." Jelas Bang Nanda.
Aku terdiam lagi. Tapi kali ini gak ada mual yang kurasa. Bahkan setelah pertama kali aku mendengar dia memanggil ku di telpon tadi.
"Jam 4 sore, Di Cafe dekat sekolah. Tau kan?"
Ku rasa bukan ide yang bagus aku mesti berangkat sekolah sama sama dengan nya sekarang ini.
Apa lagi di tambah kemarin Bang Nanda nyari aku. Pasti Sharma dan Purna curiga.
"Oke boleh. Nanti kita ketemu disana ya." Kata bang Nanda.
"El... Maafin abang ya." Lanjut nya lagi sebelum menutup telpon.
Aku hanya mengangguk walaupun ku tau bang Nanda gak mungkin melihat nya.
******
Aku segera duduk disamping nya. Aku melirik kanan kiri mencari Purna.
Seakan tau siapa yang kucari, Sharma berkata,
"Dia belom turun. Gak tau noh kenapa. Tumben juga telat."
"Empur?" Tanya ku bego.
"Ya iya lah, emang siapa lagi yang lo cari."
"EH TAPI!" Teriak Sharma tiba tiba. Aku mengacak tangan nya karna terkejut sambil melotot.
Dia menutup mulut nya, sadar tadi sudah heboh sendiri.
"Kemarin Bang Nandaa cariin eloooo tau gaaaak?"
Aku mencoba terlihat kaget. Padahal aku memang sudah tau.
"Iyaaa gue sampe kaget sendiri kok tiba tiba dia bisa tau elo dan nyamperin elo."
"Terus terusss???"
Kali ini aku gak berpura pura. Aku memang penasaran apa yang bang Nanda lakukan ketika mencari ku.
"Gue pikir apaan, ternyata dia mau balikin barang elo yang ketinggalan di club katanya."
Aku terbingung. Barang?
"Katanya ada barang lo ketinggalan dan kaya nya elo gak sadar. Gue bilang titip aja ke gue eh dia nya gak mau. Kata nya mau langsung kasih ke elo aja. Gue pikir apaan..." Katanya lemas. Emang ni anak mengharap apaan?
__ADS_1
"Eh tapi, Kok dia bisa tau itu barang lo ya? emang kalian ada kumpul bareng?" Tanya nya lagi.
"Ohhh itu... anu, kan lo tau ituuu... apa sih...." Aku panik dan mulai ngelantur.
Aku sadar ini cuma akting bang Nanda aja seakan akan ingin mengembalikan barang ku.
Dan ini saat nya aku menyambut "drama" yang di tulis bang Nanda. Biar satu suara.
Sharma menunggu jawaban ku dengan serius.
"Ituuu, Buku gue! IYA! buku notes gue! yang kecil itu Shar, yang gue sering bawa kemana kamanaa, kan ada nama dan kelas gue tertulis disitu..."
Aku langsung panik dan mengambil tas ku, ku masukan tangan ku mencari notes yang sering ku bawa itu. ku sembunyikan sampai ke dasar tas.
"Lo bawa notes ke pesta???" Tanya Sharma bingung.
Begoooooo. Kenapa harus notes sihh El... banyak kan benda yang lainnn....
"i... Iyaaa. Kenapa? Emang gak boleh?" Tanya ku balik. Hati kembali berdebar gak karuan. Tapi berusaha sok galak aja depan Sharma.
"Hmm.. gak sih.. cuma aneh aja..." Kata nya acuh setelah mendengar jawaban ku.
Ah.. Syukurlah dia gak memperpanjang. Aku udah gak kuat Handle nya. Gak suka boong soalnya. Tapi kalo kepepet, Ya boleh laah...
******
Abang sudah di TKP El...
Gak usah buru buru. Take your time.
Chat bang Nanda membangunkan ku. Aku yang sedang menyandarkan kepala ku di atas meja kantin.
Sedari tadi aku belum ada pulang kerumah karna memang menunggu waktu untuk ketemu bang Nanda.
Tapi di depan Sharma dan Purna tadi aku akting seolah olah mau pulang. Setelah mereka pergi aku malah kembali kesekolah dan menunggu disini.
Aku terlalu lelah jika mesti pulang dan balik lagi ke cafe. Karna jarak nya benar benar dekat dari sekolah. Hanya berselang satu ruko saja.
Kulihat jam, masih jam 4 kurang 15 menit.
Kenapa dia cepat sekali?
"Neng tumben gak pulang?" Tegur pak Teguh. Pak Teguh satpam sekolah kami.
"Iya pak masih nunggu jemputan." Aku menjawab ngasal. Kalo aku bilang nunggu orang yang ada nanti aku tambah di tanya tanya.
Pak Teguh mengangguk dan pergi meninggal kan ku...
Aaahh... Aku menarik nafas panjang.
Aku pergi sekarang aja apa nanti ya. Aku mulai gugup lagi. Mulai mual lagi mengingat ingin bertemu bang Nanda.
Tapi kecepatan gak sih? Gimana nanti malah awkward? malessss banget berlama lama saat canggung.
Kamu aneh sekali sih El, seharus nya saat saat begini kamu senang dong karna bisa bertemu cowok impian mu.
Tapi gimanaaa? Perasaan ku aneh sekaraaang. Seperti ada yang kosong. Gak menggebu gebu lagi seperti kemarin.
Tapi kamu gak bisa menghindar lagi El, kalian satu sekolah, cepat apa lambat kalian pasti akan bertemu.
Mau sampai kapan kamu berdiam diri di kelas seperti hari ini tadi. Demi gak bertemu dia.
Aku meraih HP ku dimeja, dan membalas pesan bang Nanda.
On the way.
__ADS_1
Tulis ku singkat, dan aku bergegas berangkat.