
ELSI
"Gue dipanggil sama Sharma El. Tunggu bentar ya." Ucap Purna setelah menerima telpon dari Sharma tadi.
"Ngapain?" Tanya ku heran.
"Gak tau, katanya penting. Pas gue tanya, eh dia tutup telpon nya. Emang gak sopan. Tau aja lagi gue gak bisa di bikin penasaran. Duluan aja entar ke kelas ya."
Purna pergi meninggal kan ku.
Aku melanjut kan makan ku sendirian. Sambil ku buka HP ku dan meng-scroll Instagramku.
Baru sempat buka sekarang, selama ini aku memang gak fokus buka sosmed.
Beranda ku penuh dengan foto foto pesta bang Nanda kemarin. Ternyata banyak juga yang datang dan foto bareng.
Tapi kenapa waktu disana aku cuma fokus sama dia ya?
Hati ku kembali berdebar ketika melihat foto foto di akun Kak Septyan. Teman bang Nanda satu tongkrongan.
Diantara yang lain, emang Bang Nanda orang yang paling manis. Paling rapi. Dan paling wangi.
Seketika aku teringat wangi tubuh nya malam itu. Dan....
Aku menutup wajah ku dan menepuk nepuk nya.
Sadar hei! Kau baru saja menolak nya Elsi! Sekarang kau berdebar lagi mengingat nya.
Apa yang sebenar nya kau mau?
Aku mengambil gelas ku dan menyeruput habis semua es teh ku. Kenapa tiba aku merasa gerah.
"Mau air mineral, Coca cola, apa buavita?" Tawar seseorang kepada ku.
Aku berteriak terkejut.
Nanda!
Aku menoleh sekeliling ku. Gugup.
Kenapa dia selalu hadir saat baru saja ku pikirkan sih...
"Mau yang mana? Kamu kagetan ya El..." Katanya sambil tertawa dan duduk di hadapan ku.
Menurut nya? Kenapa aku bisa selalu terkejut?
__ADS_1
Dia menyorongkan 3 minuman yang di sebut kan nya tadi.
"Nih... Pilih aja. Atau mau apa? Es teh? Entar abang pesan kan." Jawab nya cuek. Cuek melihat aku yang kebingungan dan panik.
"Apaan sih bang?" Tanya ku ketus.
"Minuman El kan habis. Ya jadi abang bawain. El kayanya haus banget sampe sekali teguk habis."
"Kok bisa tau? Ngintilin aku ya?"
"Kalau abang bilang gak sengaja melihat, percaya gak?" Tanya nya balik. Ia tak berhenti tersenyum.
Aku menggeleng. Tiba tiba rasa lapar ku hilang. Tapi dia benar, aku haus sekali.
Seakan punya telepati, dia membukakan tutup air mineral dingin dan memberi nya kepadaku.
Aku terdiam tak menyambut nya.
Sial... Tapi aku haus. Di tambah di depan nya, kenapa aku seperti orang puasa.
Melihat ku terbengong, dia menaruh paksa botol itu di tangan ku. Sama seperti dulu aku memperlakukan nya.
Dengan ragu aku meminum nya. Meminum nya terus sampai tidak terasa sudah setengah botol.
"Kan haus kan?" Ucap nya sehabis aku minum.
Aku berdiri dari duduk ku bersiap siap pergi.
"Eh mau kemana?" Tanya nya kaget melihat ku hendak pergi.
"Ya balik ke kelas lah." Aku masih gugup.
"Buru buru banget. Ini makanan nya gak di habisin?"
"Gak. Kalo mau makan aja. Hitung hitung bayar air minum ini." Kata ku sambil pergi meninggalkan nya.
Aku tak tahan jika terus terusan bersama nya. Aku salah tingkah. Aku berlari kecil secepat nya meninggal kan kantin.
Entah kenapa aku tersenyum melihat botol minuman yang ada di tangan ku.
******
Aku melihat Sharma memasuki kelas dengan menggandeng manja Purna. Aku bergidik ngeri. Apaan sih mereka?
"Apaan sih? Jadian lo berdua?" Tuduh ku ketika mereka sudah dekat.
__ADS_1
"Lebih parah dari itu." Jawab Purna malas.
Sharma tiba tiba melepaskan gandengan nya dan memeluk ku.
"Eeeelll, Tebak dong."
Aku kebingungan.
"Gue disuruh mba Fatma pergi ke Australia buat mewakili klub tari gue. Gila gak?"
Aku terperanjak kaget.
"Teruuuss lo tau? Si Empur juga ikut gueeee." Lanjut nya lagi.
"Eh sembarangan gue belum deal ya." Potong Purna.
"Kok bisa Pur?" Tanya ku heran.
"Gue di suruh mewakili bagian dokumentasi El. Bukan gue nemenin dia." Jelas Purna.
"Daaaaan lo tauuu lagi gaaak? Nyaris aja gue berangkat nya sama Bang Nandaaaaa." Kata Sharma lagi.
"Hah?! Kok bisa?"
"Ya bisaaaa laaah kan dia anak jurnalis, Emang biasa nya kan dia yang berangkat sama teman teman jurnalis nya. Tapi ternyata gak bisa lagi karna dia sudah mau ujian. Jadi harus fokus."
"Wahh kalo gue berangkat sama bang Nanda pasti elo iri banget." Lanjut Sharma menggoda ku.
Aku tersenyum kaku. Bingung harus merespon apa.
"Jadi elo ikut Pur?" Tanya ku ke Purna.
"Emm... Mau gak yaaaaa?" Purna mengejek Sharma.
"Kalo elo ikut gue pertimbangin deh buat jadi istri elo nanti Pur... Yayaya?"
"Apaan sih kalian? Geli tau! Mual!" Omel ku melihat kelakuan kedua anak ini.
Purna dan Sharma hanya tertawa.
"Yahhh, maaf ya sayaang, kamu akan ku tinggal untuk seminggu ini. Jangan selingkuh yaaa." Sharma berkata sambil memeluk ku lagi.
"Serius seminggu? Lama juga ya?" Tanya ku. Sharma mengangguk.
Kenapa aku gugup sekali. Seminggu. Selama seminggu aku harus survive dari goadaan bang Nanda.
__ADS_1
AKUUU MUAAAALLLLLLLLL......