
ELSI
Jam menunjukan pukul 10 malam. Aku merenggangkan badan ku di depan meja belajar. Sebelum mengerjakan tugas tadi aku memang video call dengan Sharma dan Purna.
Mereka banyak sekali cerita tentang keseruan mereka disana. Asik juga ya ke luar negeri, apa lagi bukan pakai duit sendiri. Seandai nya aku bisa ikut. Seperti apa yang di katakan bang Nanda kemarin.
Bang Nanda.
Ngomong ngomong soal dia, kenapa hening sekali setelah pertemuan kami di halte tadi siang.
Bahkan chat kami hanya terhenti saat siang di kantin kemarin.
Kenapa dia gak ada menghubungi ku sama sekali? Yaaah walaupun biasa nya juga kami gak intens, tapi entah kenapa dia gak ada membahas pertemuan kami di halte.
Kenapa aku berharap?
Aku membuka WA ku dan melihat isi chat kami. Ternyata dia online. Hmm...
Lagi Chattingan sama siapa ya dia?
Ah sebodo amat! Aku mematikan lampu belajar dan menghempaskan badan ku ke kasur.
Berasa pacar El? Ingat ya jangan baper, Nanda itu baik ke semua manusia di muka bumi ini.
Kamu gak spesial El...
Aku menutup kepala ku dengan selimut dan bergegas tidur.
Sampai pagi menjelang pun yang pertama ku lihat adalah HP ku.
Wa bang Nanda lebih tepat nya.
Terakhir di lihat pukul 23.01
Wow malam juga dia tidur. Dan wow, sama siapa dia berhubungan sampai jam segitu.
Wow Elsi, kamu masih repot memikir kan nya. Apa banget sih?
Mama mengetuk pintu ku membuyarkan lamunan ku.
"Gak mandi?" katanya.
"Ini bentar lagi."
"Tumben, biasa jam segini sudah siap." Kata mama sambil berlalu. Seperti nya dia bingung kenapa belum ada suara air dari dalam WC ku.
Karna biasa jam segini aku memang sudah bersiap. Minimal sudah mandi. Entah kenapa aku banyak melamun nya pagi ini.
"Mama jemput ya pulang hari ini. Soal nya mama gak lama di kampus." Kata mama sambil menyetir.
"Boleh banget dong. Enak lagi El gak kepanasan." Kata ku semangat.
Dari pada aku kepanasan harus menunggu ojol, berdesak desakan dengan anak lain di halte. Daripada melihat Bang Nanda bersama orang lain dan tidak menyapa ku.
******
Hari ini makan siang ku, ku putuskan aku mau makan soto. Ya walaupun sudah ku bilang di sekolah kami gak ada yang enak selain batagor dan mie instan.
Tapi aku sudah muak makan makanan itu dari dulu. Berharap soto nya sudah berubah cita rasa nya.
Hari ini lagi lagi aku sendiri.
Dan tebak apa? Dari awal masuk sekolah sampai detik ini aku gak ada melihat bang Nanda sekalipun. Tidak seperti kemarin kemarin.
Begitu di cari malah menghilang. WA nya pun gak ada sekedar menawarkan makan bersama. Padahal kan dia tau aku lagi sendirian.
Kan kan, Kenapa aku jadi sibuk kesal dengan nya.
Bagus lagi dia gak pernah menganggu ku lagi. Jadi aku gak perlu salting.
Aku duduk di meja pojok, seperti biasa. Aku memang kurang suka keramaian.
Sebenar nya bisa saja aku makan dengan teman ku yang lain, Tapi entahlah, sendiri lebih baik.
Karna jika harus bersama sama yang lain, mereka lebih senang nangkring di kantin sampai bel masuk. Sedangkan aku gak suka.
Lebih enak nunggu di kelas sambil menonton Youtube.
__ADS_1
Introvert gak sih?
Beneran deh, bang Nanda gak ada.
Gumam ku sambil memerhatikan sekitar. Apa dia gak masuk sekolah ya?
Ih bodo! lebih baik aku segera makan dan kembali ke kelas. Kenapa hidup ku sehampa ini ya jika gak ada mereka berdua.
"Au!" teriak ku ketika aku menyuapkan kuah soto itu kemulut ku tanpa ku tiup tiup dulu sebelum nya.
Wah panas banget sih ini, Mendidih langsung di tuang ke mangkok seperti nya.
Aku menggosok gosok kan mulut ku yang kepanasan. Aku menyurup segera es teh ku.
Ku ambil sesendok lagi, ternyata emang berasap banget. Kenapa bisa aku main suap suap aja ya tadi.
Aku sibuk mengibas ngibaskan tangan ku di mangkok sambil meniup nya dengan mulut ku. Aku mengaduk ngaduk isi nya agar bisa cepat dingin.
BRAK!
Aku terkejut mendengar suara sesuatu di taruh di meja ku.
"Sebentar, sebentar."
Bang Nanda datang sambil menaruh kipas angin di mejaku. Dan menarik kabel mencolok kan nya di saklar di dinding dekat aku duduk.
Membuat ku terdiam kebingungan sambil menatap kelakuan nya.
"Permisi sebentar ya." Dia minta jalan kepadaku. Aku memajukan badan ku memberinya jalan dangan wajah yang penuh kebingungan.
Apa lagi ini?
Begitu kipas itu nyala, dia mengarahkan nya ke aku. Ke mangkok soto ku yang membara.
Aku masih diam sambil memegang sendok berisi 1 suapan.
"Ditunggu sebentar ya, bentar lagi dingin." Ucapnya sambil duduk di samping ku dan meminum kaleng cocal cola dingin yang dia masukan di saku baju nya sedari tadi.
Beberapa saat, dia mendekat kan badan nya kepadaku, dan menutup mulut mangkok dengan telapak tangan nya.
"Kaya nya udah mulai dingin." Katanya lagi.
"Eh sebentar,"
Dia mengambil sendok dari karanjang dan menyendok kan sesuap soto dari mangkok ku. Dia meniup dengan pelan.
Dari jarak sedekat ini, dengan jelas aku melihat bibir nya yang mungil sedang meniup sesuap soto itu, memasukan kedalam mulut, dan menelan nya.
Aku melihat bibir nya yang mungil kemerahan itu berminyak terkena kuah soto.
Kalau di tanya tingkat kesadaran ku berapa sekarang, mungkin hanya sekitar 40%.
Maka dari itu yang bisa ku lakukan hanya memerhatikan nya dalam diam. Detik perdetik setiap apa yang dia lakukan sekarang ini.
"Udah dingin, silahkan di makan. Entar kalo kedinginan malah gak enak." Jawabnya santai sambil menjilat bibir nya yang terkena kuah soto.
Glekk... aku menelan liur ku.
Seketika teringat malam itu, ciuman malam itu. Rasa bibir nya yang lembut dan manis.
"El? Ayo makan. Apa mau abang suapin?" Dia menghentikan pikiran ngawur ku. Aku tersentak dan membalikan wajah ku yang sedari tadi hanya menatap nya.
Aku menyuap kan soto itu kemulut ku dengan tergesa gesa.
Sial...
Aku kena lagi.
Aku salting lagi.
Dia emang paling jago muncul tiba tiba kaya jin. Eh salah, malaikat deh.
"Pelan pelan. entar kesedek, ini sambil minum." Kata nya lagi sambil menyorongkan es teh yang ku pesan tadi.
Aku hanya berusaha fokus ke mangkok makanan ku. Berpikir untuk segera menghabiskan kan nya.
Aku gak tahan, aku sangat salah tingkah.
__ADS_1
"Kalau El suka soto, Entar abang ajak ke soto enak di perempatan jalan Manggis."
Seakan mengacuhkan ke "Salting-an" ku dia terus mengajak ku berbicara.
Lagi lagi aku hanya bisa diam sambil makan. Selesai semua nasi yang ku suap, aku menyurup Es teh ku sampai habis. Sumpah aku seperti orang kerakus-an sekarang.
Aku menoleh kepada nya, Rasa nya tidak enak jika hanya berdiam dan pergi semenjak dia datang tadi.
"Abang gak makan?" Kata ku basa basi.
"Udah kenyang." Jawab nya sambil menaruh kaleng coca cola yang kosong ke atas meja.
"Ngeliatin El makan udah kenyang." Lanjut nya lagi.
Wajah ku memanas. Seperti nya dari tadi sih, dari saat ku lihat bibir nya menyuap kan sesendok soto tadi.
"Mungkin kenyang karna El makan nya rakus kali." kata ku ketus sambil berdiri. Dia tertawa dan berdiri juga.
"Mau kemana?" Tanya ku melihat nya ikut berdiri.
"Mau antar El kekelas?" Dia menjawab sambil merapikan rambut nya yang terkena kipas angin tadi.
"Ngapain? Emang El gak tau jalan pulang?"
Dia pura pura gak mendengar ku. Dan malah mencabut kabel kipas angin dan menggulung nya.
"Sebentar ya, abang balikin ini dulu." Kata nya sambil mengangkat dan pergi menjauhi ku.
Dan dengan bego nya aku malah menurut, dan tetap diam mematung menunggu nya kembali.
"Ayuk." Ajak nya sambil mengulurkan telapak tangan nya. Mengajak bergandengan. Sekarang sekujur tubuh ku yang memanas.
"Apaan sih bang." Kata ku sambil meninggalkan dan mengabaikan uluran tangan nya.
Dia berjalan menyusul ku. Kami berjalan beiringan bersama. Aku tetap terdiam karna masih belum pulih kesadaran ku.
Tapi ku lirik dia, sepertinya dia santai santai saja.
Ya Tuhaaan, kenapa aku gak bisa sesantai dia sih...
"Suka soto?" Katanya di sela sela "terdiam" nya kami.
"Eh... suka suka aja sih." Jawab ku dengan terbata bata.
"Mau abang bawa ke Jalan Manggis?"
"Hmm...." Aku berpikir. Aku bingung mau jawab apa.
Aku mau tapi aku malu...
Dia menatap ku menunggu jawaban.
"Hmm.. liat entar deh." Jawab ku acuh tak acuh. Dia mengangguk sambil tersenyum.
Aku kembali berjalan sambil membuang pandangan ku kelain. Aku gak mau lama lama berkontak mata dengan nya. Takut khilaf.
Tapi kenapa di bibir ini ingin bertanya soal halte kemarin ya?
Astagaa, tapi untuk apa Elsi?
Sepanjang perjalanan ke kelas dia banyak ngobrol tentang basket dan kehidupan nya di sekolah, bahkan bercerita tentang soal Sharma dan Purna yang berangkat kemarin.
Tapi tetap saja, otak ku gak bisa mencerna apa yang dia kata kan. Seperti yang ku bilang aku belum sadar.
Tak terasa sampai di pintu kelas ku. Aku menghentikan langkah ku.
Mencoba memberanikan diri menatap wajahnya.
"Ma... makasih ya." Kata ku dengan gugup. Dia hanya tersenyum.
"Mau pulang bareng?" Tawar nya kepada ku.
Aku menggeleng panik, "Gak usah bang. Entar mama mau jemput El." Tolak ku.
"Oke deh next time. Abang balik ya." Katanya Sambil memegang pundak ku dan berlalu begitu saja.
Meninggalkan aku yang terdiam di ambang pintu sambil mentap nya pergi.
__ADS_1
Orang nya sudah tak ada disini, tapi wangi nya masih ada.