Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
DIMULAI DARI HARI INI


__ADS_3

NANDA


"Bang belum tidur?"


Elsi menyadarkan ku dari lamunan ku. Aku menoleh kearah nya yang sedang berbaring di atas ranjang.


"Belum El. Abang belum ngantuk."


"Besok kita berangkat pagi loh bang..."


"Iya sebentar lagi abang tidur."


Dia terdiam sejenak dan kembali menarik selimut nya.


Entah lah, aku merasa sama sekali tidak mengantuk, berbeda dengan Elsi. Yang sebentar sebentar dia mengantuk dan tertidur.


Katanya, jika dia merasa stres, dia lebih banyak tertidur. Sedangkan aku, jika banyak masalah cenderung tidak bisa tertidur dan hanya termenung melamun.


Ya seperti yang kulakukan malam ini. Aku selesai dengan semua urusan ku. Semua sosial media ku sudah ku hapus, aku membuat akun Whatsapp yang baru dan semua nya serba baru.


Itu ku lakukan agar tidak ada yang mencari cari ku, terutama keluarga ku. Itupun jikalau memang mereka mencari ku. Tidak marah dengan ku.


Apa yang dilakukan mereka sekarang?


Ayah? Dan ibu? Marah besar kah mereka kepada ku?


Kecewa kah mereka pada ku?


Aku anak yang sudah membuat dosa. Dan membuat malu keluarga.


Bagaimana mereka bicara ke orang orang terdekat kami tentang kepergian ku? Apa kah mereka mengatakan yang sebenar nya? Atau berbohong menutupi aib ku?


Aku menangis lagi. Ternyata memang aku belum sanggup berpisah dengan mereka. Hati ku masih sakit sekali mengingat sekarang aku sudah tak punya siapa siapa lagi selain Elsi.


Aku akan kehilangan mereka untuk sementara waktu. Berjuang sendiri. Atas hidup ku, dan hidup wanita yang sekarang berada di depan ku.

__ADS_1


Aku sudah tak bisa lagi memeluk ibu jika aku merasa rapuh dan hancur. Tak ada lagi teman ku bercerita keluh kesah ku.


Jika aku kembali pun, akan kah dia mau menerima ku sebagai anak nya lagi? Dengan apa yang sudah ku lakukan?


Aku bisa merasakan kekecewaan nya dari sini. Aku bisa merasakan sakit hati nya ketika dia membaca isi surat ku. Pengakuan dosa ku.


Tapi aku lenih tidak sanggup jika harus menyaksikan kekecewaan mereka terhadap ku. Aku anak yang sangat di bangga bangga kan oleh mereka.


Aku mematikan HP ku dan menaruh di atas meja. Aku bersandar di atas sofa yang sedari tadi ku duduki.


Masih ada 4 jam lagi sebelum penerbangan. Sebelum semua nya benar benar ku tinggal kan. Sebelum aku benar benar membuka lembaran baru dalam hidup ku.


******


Aku duduk di samping Elsi yang sedang menunggu di ruang tunggu. Pesawat kami akan berangkat sekitar 30 menit lagi.


"Minum dulu. Elsi mau nyemil?" Aku menyerahkan sebotol teh kemasan dan menawar kan nya sekantung berisi cemilan.


Sedari tadi pagi dia tak ingin makan. Padahal aku sudah memaksa nya. Padahal yang ku baca baca, biasa nya ibu hamil akan sering lapar. Karna dia berbagi makanan dengan janin nya.


Dia mengambil botol minuman itu. Dan menolak cemilan nya.


"Makan dulu. Paling tidak biskuit. Tadi kan sudah gak mau sarapan, masa sekarang gak mau juga?"


Dia tetap menggeleng tidak mau.


"Makan dulu. Ini perintah, bukan permintaan." Aku menyuruh nya lagi dengan suara yang datar. Dia mengambil bungkusan itu dengan terpaksa.


Semenjak dia sudah di usir dari rumah nya, dia sekarang jauh lebih menurut kepada ku. Mungkin dia berpikir, aku adalah satu satu nya orang yang dia punya sekarang. Dia pun juga bilang begitu kepada ku.


"Nih?" Dia menawarkan satu potong biskuit ke mulut ku. Aku menggeleng tidak mau. Aku sudah kenyang. Karna aku tadi sudah sarapan sedangkan dia tidak.


"Ini perintah." Dia membalas ku dengan wajah datar. Rupa nya dia ingin mengerjai ku.


"Iya iya okeeee." Aku membuka mulut ku dan dia menyuapi ku dengan biskuit yang di makan nya.

__ADS_1


"Elsi percaya abang kan?" Aku bertanya di sela sela kunyahan ku.


"Iya bang... Bang, tapi beneran, keluarga abang yang bakal kita datangin ini gak akan lapor ke orang rumah abang kalo kita kabur kesana?"


Aku memang akan membawanya ke rumah anak dari saudara sepupu ibu. Saudara sepupu ibu yang "terbuang".


Kenapa terbuang? Karna dia sama dengan ku. Dia sudah melakukan hal yang tidak biasa di lakukan orang orang terdekat kami.


Dia seorang penyuka sesama jenis. dan semua keluarga sudah tau. Semenjak dia mengakui nya secara terang terangan, bahkan di usir oleh orang tua nya sendiri, dia sekarang hanya sebatang kara dan tidak pernah lagi berkontak dengan keluarga besar kami. Dia menjauhi diri nya, menarik diri dari kami.


Tetapi hanya dengan ku lah dia masih sering berkontak kontakan. Walaupun hanya dengan sosial media.


Karna bagiku itu masalah nya, masalah diri nya dengan orang tua nya. Aku tak berhak menghakimi nya sedikit pun. Tak ada yang berhak menghakimi jalan hidup yang mereka pilih selain Tuhan nya.


Aku sudah menelpon nya ketika malam itu sebelum aku kabur dari rumah. Aku bertanya bisa kah aku hidup disana, satu kota dengan nya.


Karna aku sudah tak tau ingin lari kemana. Banyak memang tempat di dunia ini, tapi aku masih merasa butuh dukungan orang yang bisa mengerti keadaan ku.


Dia dengan senang hati mempersilahkan ku untuk datang kerumah nya. Bahkan ingin membayarkan biaya perjalanan kami. Yang sudah jelas ku tolak, tidak mungkin aku merepoti sampai segitu nya.


Kalau sudah sampai di sana pun, aku akan tinggal dirumah sendiri. Terserah akan mengontrak atau ngekos, yang jelas aku tidak akan bergantung dan menyusah kan nya.


Aku masih punya tabungan ku untuk biaya hidup sementara, aku akan mencari kerja di sana. Apapun itu aku akan bersedia melakukan nya.


Dia bilang aku tak perlu risau dengan semua nya, dia akan membantu ku sepenuh nya.


Aku terharu, dia masih bisa berbuat baik walaupun sudah di buang oleh keluarga nya. Padahal bisa saja dia membalas ku, tidak perduli dengan ku dan kesulitan ku.


"Insya Allah gak El. Dia orang baik dan bisa di percaya kok."


Elsi mengulurkan tangan nya kepada ku. Aku menyambut genggaman nya.


"Kita pasti bisa hadapin ini bang. Pasti. Elsi percaya sama diri Elsi sendiri. Dan sangat percaya sama abang. Terima kasih ya bang sudah tidak lari dari ini. Gak banyak laki laki yang mau merelakan seluruh hidup nya untuk bertanggung jawab dengan apa yang telah mereka perbuat. Elsi beruntung orang itu abang. Walaupun cara kita di pertemukan seperti ini, Elsi ikhlas. Gak ada yang Elsi sesali. Soal bagaimana kita dengan keluarga kita nanti, kita akan menghadapi nya bersama."


Aku tersenyum mendengar nya. Seketika semangat ku terisi kembali. Benar kata Elsi, kami pasti bisa melalui nya. Kami tidak sendiri. Kami bersama sama mengisi kekosongan satu sama lain.

__ADS_1


Aku berjanji dalam hati ku sendiri aku akan mengembalikan hidup kami seperti sedia kala saat semua nya sudah siap.


__ADS_2