Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
KELUAR NEGERI


__ADS_3

SHARMA


"Ayuk ah..." Kata Purna sambil membalik kan badan nya.


"Bentar napaa? Nunggu El dulu."


Ku lihat El terbirit birit lari ke arah kami. Padahal kami dari tadi disini aja nungguin dia.


"Sudah di balikin Nanda notes elo?" Kata ku saat dia sudah berada di dekat ku.


Dia terlihat bingung.


"Notes? Oh iya! Notes. Iya iya, udah balik nih." Ucap nya sambil terengah engah.


"Pasti lo nervous abis kan di samperin dia?" Ejek ku sambil menyikut nyikut Elsi.


Pasti lah, dia kan naksir berat. Apa lagi tau barang nya ketinggalan dan di pegang sama cowok taksiran nya, apa gak nervous.


"Pantesan aja lo lari terbirit birit, gak siap kan di samperin dia." Lanjut ku lagi.


"Hehehe... iya nih hehehe..."


Hm... Kok respon nya biasa aja ya? Oh mungkin karna syok jadi gak bisa berkata kata.


Sampai kelas kami berdua duduk di kursi masing masing.


Berbeda dengan Purna, sampai kelas dia malah ngomel ngomel merusak suasana pagi ku.


Padahal seharus nya aku sudah terbiasa, ini kerjaan nya tiap pagi jika masuk kelas ternyata kelas nya kotor.


Yang artinya kemarin yang piket gak beres.


Papan tulis belum di hapus, lantai masih kotor. Kursi di angkat belum di kembalikan.


Terjadilah Purna sebagai Pak RT a.k.a Ketua kelas disini selalu ngomel ngomel kalo ada yang gak beres kerja.


"Ah empur berisik amat." Gumam Elsi sambil menundukan kepala nya di meja.


Teman teman lain yang sudah datang mendengar Purna mengomel, mereka satu persatu keluar kelas. Seperti biasa. Kabur.


Purna walaupun ngomel ngomel tapi tangan nya sambil kerja. Jadi dia ngomel sekalian ngerapihin kerjaan anak anak yang gak beres.


Dan selalu begitu. Lucu juga sih. Mirip Bunda dirumah.


"Lo ngantuk El?" Tanya ku.


"Ho oh..." Jawab nya singkat.


"Gue pikir lo seger liat Nanda datang tadi."


Dia terdiam.


"Gua gugup Shar makanya lemes."


"Eeelaaah, Udah kaya ketemu artis." Ejek ku.


"Duhhh males banget jam pertama hari ini pak Slamet." Aku berkata sambil tersandar di kursi.


Males banget deh kalo sudah pelajaran pertama itu kimia, di tambah yang ngajar Pak Slamet.

__ADS_1


Bukan, dia bukan guru killer. Tapi entah karna pak Slamet itu guru senior, jadi bawaan nya ngantuk banget.


Sangking berumur nya aku dan anak anak sering gak paham apa yang dia omongkan. Suara dan bicaranya sudah mulai gak jelas.


Aku heran kenapa di umur segini beliau gak pensiun aja. Apa belum waktu nya?


Aku tebak, pasti Elsi tertidur saat pelajaran dia. Karna belum apa apa saja dia sudah terlihat mengantuk.


Tiba tiba HP ku berbunyi. Aku melihat notifikasi, Mba Fatma.


Mba Fatma Guru kesenian kami. Dan yang megang klub tari di sekolah ini. Dan aku salah satu anggota nya.


Selama Mba Fatma yang ngajar, Klub tari kami sudah sering menghadiri perlombaan dan acara acara besar.


Bahkan sekarang ini kami sedang mempersiap kan lomba lagi. Maka dari itu sudah jarang aku keluar di akhir minggu bersama Purna dan Elsi.


Karna aku harus membagi waktu untuk klub dan membantu bakery nya Bunda.


Sharma istirahat pertama temuin mba di Studio ya.


Baik mba...


Balas ku ke mba Fatma.


******


"Hah? Ke Australia mbaaakkk?" Teriak ku dalam studio kami. Setelah aku tau mba Fatma menawari ku mewakili sekolah untuk perform di salah satu acara kedutaan di Australia.


"Sssttt!" Tegur nya. Takut terdengar oleh orang lain.


"Gak lama Shar, kemungkinan kita disana cuma 4 hari. Kamu bisa tinggalin kerjaan rumah mu?"


"Belum tau sih mba. Bunda ada pesanan besar atau gak nanti."


Tapi jujur aja aku pengen sekali berangkat. Even bunda gak bolehin.


"Mau Mba telponin bunda tah?" Tawar nya.


Ide bagus sih, bunda pasti "iya" saja jika mba yang ijin. Apa lagi aku akan membawa nama bangsa hehehehe...


"Coba aja mba, kayanya kalo mba yang ngomong bunda lebih percaya."


"Coba sebentar tak telpon yaa." Ucap mba Fatma sambil berdiri menjauhi ku.


Aku berdoa dalam hati semoga bunda setuju. Pasti kaget sih karna pergi nya jauh sekali. Karna biasa nya aku cuma pergi dari pulau ke pulau.


"Iya bund, saya juga pikir acaranya akhir tahun, ternyata di majukan. Nanti barengan sama sekolah lain, Tapi untuk disini, Perwakilan nya ya cuma Sharma."


Sayup sayup aku mendengar suara Mba Fatma menjelaskan ke bunda.


Ahh... Semoga Bunda setuju. Amiiiinnn...


Mungkin sekitar 10 menit aku menunggu mereka berbincang. Jika selama ini, seperti nya harapan ku kecil.


Mungkin lama karna bunda bingung mau menolak nya seperti apa.


Ku dengar Mba Fatma mengakhiri telpon nya. Dia kembali masuk ke dalam studio.


"Gak boleh ya?" Tanya ku sambil mengerutkan dahi. Mba Fatma mendekati ku. Tiba tiba pintu dibuka seseorang.

__ADS_1


Terkejut nya aku ketika yang masuk itu Bang Nanda. Ngapain dia ke sini?


"Masuk Nan." Suruh mba Fatma. Nanda mengangguk dan mendekati kami berdua. Dia melihat ke arah ku dan tersenyum


Oh pantas Elsi naksir. Batin ku.


"Jadi ndak bisa tah?" Tanya nya ke bang Nanda.


Gak bisa apa nih? Aku kebingungan.


"Maaf mbaa. Saya gak bisa eh. Sama walikelas juga gak di bolehin. Katanya karna saya udah mau dekat ujian. Takut gak fokus. Kalau bisa saja saya pasti pergi."


Aku semakin kebingungan mendengar penjelasan bang Nanda.


"Yaah.. jadi piye? Siapa yaa yang bisa gantiin kamu?" Tanya mba fatma lemas.


Aku tolah toleh saja mendengar mereka berbicara. Ini ngomongin apaan ya?


Nanda mengalihkan pandangan nya kepada ku. Aku terdiam.


"Gimana kalo ambil anak anak fotografi?" Tanya nya ke mba Fatma.


"Ini teman nya Sharma, anak fotografi kan Shar?" Dia bertanya lagi ke aku. Aku cengo kebingungan.


"Itu si Purna Gunawan Shar. Temen kamu dengan Elsi." Jelas nya sambil menyenggol tangan ku.


"Yang mana to Nan?" Mba Fatma bertanya.


"Yang satu kelas sama Sharma mba, yang pake kacamata."


Aku tetap cengo.


"Oh yang sering jemput kamu itu Shar? Pacar kamu itu?" Tuduh mba Fatma.


"Iiiihhh bukan pacar saya mbaa." Tegas ku. Bisa bisa nya aku di bilang pacaran sama Purna. Ini gara gara dia suka ngintilin aku nih.


Dia yang ngintilin aku, apa aku ya yang ngintilin dia? Ah Mboh ah!


"Coba di panggil dulu Shar. Suruh kesini." Kata mba Fatma menyuruh ku memanggil nya.


"Mau di suruh apa mba?"


Aku harus tanya. Dari tadi aku bingung sendirian melihat mereka berunding.


"Si Nanda tadi nya mau mba suruh ikut kita. buat bagian dokumentasi. Buat bahan website kita juga. Kan Nanda orang jurnalis. Biasa juga dia yang di bawa kemana mana. Tapi kali ini udah gak bisa banyak ikut kegiatan. Karna sudah mau ujian. Iya kan Nan?"


Bang Nanda mengangguk sambil tersenyum kecut.


"Jadi coba di tanya temen mu bisa apa gak. Soal nya Mba mau cepat booking tiket kalian. Jadi mba butuh kepastian."


Oooalaah. Aku baru paham.


Iya juga selama ini selalu bang Nanda yang selalu sibuk kesana kemari buat bantu bantu acara sekolah. Berhubung dia sudah siswa tingkat akhir, dia udah gak bisa lagi.


"Bentar mba saya coba telpon." Kata ku sambil berlalu.


"Apa?" Jawab Purna ketika mengangkat telpon ku.


"Cepat ke studio gue sekarang. Penting." Belum lagi dia banyak bertanya aku segera menutup telpon ku.

__ADS_1


__ADS_2