Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
MALAM INI


__ADS_3

ELSI


Begitu kami sampai dirumah, kami di sambut dengan bu Rasmi dan tetangga tetangga di sebelah kami.


Mereka memang tau jika hari ini kami pulang dari rumah sakit setelah seminggu aku dirawat inap di sana.


Sebenarnya badan ku belum pulih betul, tetapi dari kemarin kemarin aku sudah meronta ronta dengan abang ingin pulang kerumah.


Dari dulu, dari ku kecil, aku memang tidak suka suasana rumah sakit. Entah kenapa. Maka dari itu, ketika dokter bilang kami boleh pulang hari ini, aku senang sekali.


"Bang... Besok turun aja kerja bang. El gak papa..." Kata ku saat kami di kamar, sudah selesai berbincang bincang dengan para tetangga.


Abang yang dari tadi belum ada istirahat sejak kami datang, karna dia harus berberes beres rumah yang sudah kami tinggal selama seminggu dan baju baju kami bekas dari rumah sakit kemarin.


Sebenarnya aku kasian, pasti dia capek sekali, tetapi aku takut dia kenapa kenapa di tempat kerja nya jika ijin terlalu lama.


Menunggu ku di rumah sakit saja sudah seminggu, masa mau tambah ijin lagi?


"Nanti El sendirian. Kondisi El kan masih lemah. Abang gak mau Elsi pingsan lagi kaya kemarin." Jelas nya sambil masih tetap bersimpun simpun barang.


"Kan ada bu Rasmi abang? Tetangga kita banyak dan baik. Kalau ada apa apa El bisa minta bantuan dengan mereka. Seperti biasa nya. Denger kan tadi, bahkan bu Rasmi nawarin untuk istirahat dirumah nya aja selama abang kerja?"


"Emang kamu bisa istirahat dirumah orang?" Tanya nya.


"Hmm..." Aku berpikir sejenak.


"Gak bisa sih..." Lanjut ku lagi.


"Nah kan..."


"Ya tapi gak papa abang. Besok kerja aja, toh Elsi kan sudah bisa makan sekarang, Insya Allah gak kenapa kenapa."


"Ya di liat nanti deh." Jawab nya cuek.


"Udah aja beres beres nya, istirahat dulu bang. Udah di bantuin gak mau. Entar malah abang yang sakit."


"Gak papa dikit aja kok, sebentar habis rendam cucian ini abang istirahat."


"Mau dibikinin kopi gak?" Tawar ku.


"Gak usah macam macam, rebahan aja sana." Tegas nya.


Aku hanya bisa menarik nafas panjang dan merebahkan tubuh ku kembali ke ranjang.


******


"Gak papa El, yang penting bayi mu sehat sehat saja. Makanya penting untuk ibu jaga kesehatan supaya bayi di dalam perut juga sehat." Teh Yasmin berkata di sela sela santapan gorengan kami.


Siang ini kami berkumpul dirumah bu Rasmi untuk masak dan makan bersama. Menu hari ini rawon andalan bu Rasmi. Betul saja di bilang andalan, karna ternyata memang se enak itu.


Aku memang bercerita kepada nya soal kemarin baru saja kepuskesmas untuk periksa kandungan. Mereka bersyukur kondisi bayi ku sehat sehat saja.


Kondisi ku sudah mulai membaik setelah sebulan lalu di rawat di rumah sakit. Sekarang aku sudah bisa makan banyak, tidak banyak juga sih, cuma kembali pada saat nafsu makan ku sebelum hamil.


Yang jelas sudah tidak ada lagi mual mual berlebihan, mungkin karna usia kandungan ku juga sudah 6 bulan.


Perut ku sudah tidak bisa di sembunyikan, sudah lebih membesar, dan akan terus membesar.


Setiap malam aku mulai tak nyenyak tidur, karna aku sering sakit di tulang belakang, kata bu Rasmi itu wajar selama kehamilan. Bahkan semakin besar perut ku nanti biasa nya nyeri nya akan semakin bertambah.


Tetapi mereka meyakini ku untuk nikmati saja proses nya, karna semua itu pahala buat ku.

__ADS_1


Kata bu Rasmi, kenapa jika kita hamil bayaran nya Surga? Karna yang kita lalui memang tidak mudah.


Baru begini saja aku sudah merasa kesakitan, apa kabar melahirkan nanti?


Seketika aku jadi rindu mama...


Walaupun mama tak ada, syukur nya aku di pertemukan dengan tetangga yang seperti saudara dan orang tua ku sendiri.


Mereka benar benar membimbingku untuk menjadi istri dan calon orang tua yang baik.


Terlebih bu Rasmi, aku merasakan kehangatan seorang ibu dari nya. Bahkan beliau sendiri merasa aku seperti anak nya sendiri yang sedang mengandung. Karna ia benar benar memperhatikan ku segitu nya.


Banyak ilmu yang kudapat dari berbincang bincang dengan mereka, memberi ku ilmu berumah tangga yang baik. Walaupun aku menikah dengan cara begini, tetapi mereka tidak pernah menghakimi ku.


Seperti sekarang ini, kami sedang membahas bagaimana kita harus pengertian dengan suami.


Tetapi, namanya obrolan, suka ngalor ngidul kemana mana, sampai lah di topik yang membuat wajah ku memerah dengan sendiri nya.


"Kalau saya, entah kenapa maleees banget waktu itu ngelayanin suami, apa lagi waktu hamil Azzam. Aduh entah lah, tapi untung di ingat kan sama ibu, gak boleh begitu. Yang ada kita nya dosa. Jadi saya rubah kebiasaan buruk itu. Entah kenapa ya, kalau hamil ada ada aja kelakuan. Padahal kalau gak hamil, bisa bisa saya yang ajak duluan." Jelas teh Yasmin dan di soraki oleh ibu ibu yang lain. Aku hanya terdiam kaku mendengar penjelasan "frontal" teh Yasmin.


Ibu ibu yang lain menimpali topik itu dengan semangat sambil sesekali tertawa geli. Seperti nya mereka lebih semangat jika ngobrol soal ini.


Aku hanya terdiam mendengar dan menyimak mereka berbicara sambil menahan malu. Kenapa aku malu ya?


Karna aku tak punya pengalaman apa apa soal ini, jadi aku hanya bisa mendengarkan mereka saja.


Aku mau cerita apa? Memang pada kenyataan nya aku tak pernah lagi "begitu" dengan abang selain malam pesta itu.


Ya... Walaupun aku jujur aku sering menggoda nya, tetapi itu cuma sebatas menggoda. Kalaupun ternyata di sambut abang pun, aku rasa aku juga tidak siap.


Aku cuma senang saja menjahili nya yang suka gugup sendiri jika berada di dekat istri nya. Aku hanya senang melihat dia panik.


Keasyikan dengan pikiran ku sendiri aku sampai tak sadar jika ternyata ibu ibu sedang memandang serius kepada ku.


"Kamu gimana sama suami mu?" Tanya teh Yasmin.


"Gimana apa nya ya?"


"Oalaah ndak nyimak dia." Ejek bu Lilik. Tetangga kami juga.


"Tadi teteh nanya kamu sama suami mu gimana? Kamu masih sering kasih jatah gak selama hamil?" Jelas bu Rasmi kepada ku.


Aku langsung terdiam kaget, tiba tiba saja aku di hujani dengan pertanyaan yang aku sendiri tidak bisa jawab.


"Oh... Itu..." Aku mencoba menjawab dengan tergagu gagu.


"Masih nafsu ndak selama hamil?" Aku di tusuk lagi oleh pertanyaan bu Lilik. Wajah ku semakin memerah.


"Anu... Sebenar nya...." Aku mengantung kalimat ku.Aku bingung menjelaskan nya bagaimana. Ibu ibu itu tetap menatap ku dengan wajah penasaran.


"Sebenarnya... Saya... Belum ada berhubungan lagi selama hamil." Jelas ku pada akhirnya. Disambut dengan wajah kaget mereka semua.


"Beneran?" Tanya bu Lilik lagi. Aku mengangguk.


"Selama hamil El? Benar benar selama kamu hamil?" Teh Yasmin menegas kan lagi pertanyaan itu.


"Iya teh..."


"Lah suami mu ndak minta tah?" Tanya bu Lilik lagi.


"Hmmm.... Gak pernah sih seingat saya." Aku mencoba menjawab jujur.

__ADS_1


"Kok iso ya? Kalau suami ku mana bisa seminggu nganggur. Kalau dalam seminggu ndak minta aku malahan curiga. Hahahaha..." Bu Lilik tertawa dan di sambut ibu ibu lain nya.


"Iya bener, suami ku juga. Dalam seminggu paling tidak sekali lah. Kalau kita kan masih bisa tahan ya, kalau mereka kan gak bisa. Bisa bertahan seminggu aja itu sudah ajaib."


Aku makin terdiam mendengar pengakuan mereka masing masing. Seminggu? Aku bahkan sampai detik itu gak pernah ngapa ngapain lagi sama abang.


Sedangkan ibu ibu ini bilang laki laki mana bisa tahan. Tapi abang selama ini? Astaga... Selama itu...


Tetapi memang dia tak pernah menunjukan gelagat untuk menggoda ku, seperti yang ku bilang, malah aku yang sering menggoda nya. Walaupun tujuan asli nya hanya sekedar usil kepadanya.


Kami kalau malam ya langsung tidur masing masing saja, walaupun sebelum nya ada obrolan lama, tapi tidak pernah sampai kepikiran untuk begitu.


Atau...


Hanya aku yang gak kepikiran?


Hanya aku yang tidak peka?


Gimana kalau ternyata abang butuh selama ini?


Dan aku malah tak tau tau.


"Terus ngajak nya gimana dong?" Aku memotong obrolan mereka meminta pendapat.


"Soal nya abang gak pernah minta..." Lanjut ku lagi.


Mereka tertawa mendengar pertanyaan polos ku.


"Nanda hebat ya bisa tahan, selama itu loh..." Ucap teh Yasmin sambil tekekeh.


"Kemungkinan gak enak sama istri. Lagi hamil muda kan. Jadi ya gak enak atau takut minta." Jelas bu Rasmi.


"Dulu aku anak pertama gitu, Bapak nya adem adem juga, tak pikir kenapa, sekali nya gak enak mau minta. Apa lagi ini anak pertama, takut kenapa kenapa katanya." Lanjut bu Rasmi lagi.


"Jadi kalo pengen gimana ya? Masa di pendem sendiri?" Tanya bu Lilik.


"Yo mungkin kerja sendiri di WC." Bu Rasmi berkata sambil tertawa. Mereka semua tertawa. Hanya aku yang "roaming".


"Maksud nya di WC?" Tanya ku, lagi lagi dengan kepolosan ku.


"Loh itu loh El... Keluarin sendiri." Teh Yasmin menjawab kebingungan ku.


Aku terkejut lagi sambil menutup mulut ku.


Waduh! Jangan jangan selama ini abang seperti itu? Karna aku tidak peka.


"Jadi... gimana dong?" Tanya ku kemereka.


"Ya tawarin aja, mau apa endak." Ucap bu Lilik.


"Kalau gak, kamu pakai baju baju menggoda lah, kalau suami ngerti, dia sudah pasti paham maksud nya. Apa lagi kalau di pakai pas malam jumat."


Aku terdiam dan berpikir, baju? Mana punya aku baju baju seksi. Baju seksi kan yang di maksud teh Yasmin? Aku mana punya.


Eh... Sebentar. Ada sih baju tidur yang aku dan abang beli kemarin. Tapi ya bukan baju menggoda juga.


Setelah mendapat kuliah dadakan dari ibu ibu bar bar ini, aku sudah paham dengan apa yang akan ku lakukan.


Malam ini kah?


Ya! Seperti nya malam ini aku akan melaksanakan nya. Aku tak mau abang kerja sendiri di kamar mandi! Gak mau!

__ADS_1


Tetapi... Belum apa apa aja aku sudah panas dingin memikirkan nya.


__ADS_2