Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
BUKAN TANGGUNG JAWAB


__ADS_3

NANDA


Aku bingung. Seperti nya dia benar benar marah padaku. Dimata nya pasti aku seperti cowok bajingan di luar sana.


Sehabis kejadian kemarin, prilaku nya benar berubah 100%.


Gak mau menatap ku, gak mau banyak bicara. Dan sepertinya gak mau bertemu dengan ku. Karna kemarin pun dia gak masuk sekolah.


Untung saja teman nya Purna menghubungi ku. Jadi aku bisa minta nomer HP nya.


Walaupun saat aku nyamperin ke kelas, dia dan teman nya yang cewek terlihat kebingungan melihat ku datang.


Apa lagi saat ku bilang aku ingin mengembalikan barang nya Elsi. Yang sudah jelas itu hanya kebohongan semata.


Karna aku panik, dan gugup begitu aku datang ternyata Elsi gak ada. Jadi aku terpaksa bohong ketika di tanya ada perlu apa.


Semenjak kejadian itu, tidur ku gak karuan. Aku terus kepikiran Elsi dan semua tindakan bodoh ku waktu itu.


Aku menyesali nya, jika saja aku gak begitu, aku pasti bisa lebih dekat dengan nya sekarang ini. Tanpa ada kecanggungan diantara kami.


Tapi aku sadar itu bukan suatu kesalahan. Aku memang suka padanya...


Rasa nya hampir juga aku gak masuk sekolah kemarin, tapi ingat ada yang harus ku selesaikan dengan Elsi, dan mengingat teman teman ku sudah rame di grub karna aku berhasil "bungkus", If you know what i mean.


Padahal sedikit pun aku gak ada kepikiran begitu. Lagian kamar itu pun pada awal nya memang kami mau pakai buat kami beristirahat setelah kami party.


Jika aku gak masuk sekolah pasti aku makin di ejek ejek sama mereka, karna belum apa apa aja mereka sudah bilang, "Nanda gak akan masuk sekolah cuy, karna pasti kecapek-an habis kerja rodi."


Melihat mereka ribut tentang ku di grub aku hanya bisa diam dan mengabaikan mereka. Aku malas meladeni usil nya mereka. Menambah pikiran ku saja.


Aku memberanikan mengirimi nya pesan di whatsapp pagi ini. Menawarkan menjemput nya sekolah agar kami bisa berbicara di perjalanan.


"Jam 4 sore, Di Cafe dekat sekolah. Tau kan?" Kata nya waktu ku tawarkan untuk berangkat sekolah bersama sama.


Oh berarti dia gak mau berangkat sekolah bersama ku.


Tanpa banyak tanya aku meng-iya kan tawaran nya. Seperti nya dia memang butuh waktu untuk ku. Seperti nya.


******


Aku sudah mengirimi nya pesan dengan bilang jika aku sudah sampai. Memang masih belum waktu nya.


Tapi lebih baik dari pada aku terlambat. Masih ada 15 menit dan aku meminta nya untuk gak usah terburu buru datang.


Seharian pun aku rela menunggu nya.


Tapi tak lama dari itu HP ku berbunyi.


On the way.


ternyata dia sudah siap juga. Aku membalas pesan nya lagi,


El mau minum apa? Biar abang pesan kan duluan. Mau makan juga boleh..


Tawar ku. Tapi hening saja tidak di balas dan juga tidak di baca.


Sehabis pulang sekolah tadi aku memang buru buru pulang. Aku ingin segera pulang, mandi, dan bersiap untuk kesini.


Seharian tadi ku perhatikan Elsi di kelas saja gak keluar kemana mana. Aku mencoba untuk mendatangi nya, tapi ku urungkan karna kami sudah komitmen untuk bertemu setelah pulang sekolah nanti.


Waktu pulang pun aku melihat nya pulang bersama teman teman nya. Tapi aku hanya bisa memerhatikan nya dari jauh tanpa dia ketahui. Aku gak mau membuat dia semakin gak nyaman.


Tak lama, Aku mendengar suara pintu terbuka. Aku santai saja ku pikir gak mungkin Elsi datang secepat ini.


Tapi ternyata aku salah, ternyata itu benar benar dia. Dia melihat sekeliling. Aku berdiri dan mengangkat tangan ku melambaikan ke arah nya.

__ADS_1


Dia melihat ku dan berjalan mendekati ku.


Dia masih memakai baju sekolah, sama seperti tadi. Apakah dia gak pulang?


"El gak pulang dari tadi?" Tanya ku ketika aku mempersilahkan nya duduk. Aku membantu menaruh tas ransel nya ke kursi di sebelah ku.


Dia menggeleng sambil mengulum senyum. Dan kami terdiam. Dia mengambil Hp di kantong nya dan membuka nya.


"Bang maaf El gak baca." Katanya setelah sadar aku ada mengirimkan pesan.


"Gak papa El, jadi El mau minum apa? Makan mau? pasti belum makan kan?"


Dia bergumam dan melihat sekeliling. Aku memberi HP ku ke dia.


"Nih liat disini aja menu nya, Tadi abang sudah scan." Tawarku. Dengan ragu ragu dia mengambil HP ku.


"Elsi minum boba brown sugar aja." Katanya sambil mengembalikan HP ku.


"Makan?" Tanya ku.


"Gak bang."


Aku mengangguk. Aku memasukan orderan dari HP ku. Tak lama dari itu pelayan datang.


"Pesanan nya 1 boba brown sugar, 1 caramel macchiato ya? Makan nya kentang goreng 1. Sudah benar?" Kata pelayan mengomfirmasi orderan ku.


"Iya bener mba. Makasih yaa..." Balas ku, Dia berlalu.


"El beneran gak mau makan?" Tanya ku lagi memastikan.


"Beneran bang..."


"Oh ya udah, entar kalau lapar bilang aja ya, atau kalau mau makan di tempat lain bilang aja. Entar kita kesana." Sambungku lagi. Dia hanya terdiam dan tersenyum.


Aku sadar, aku yang harus ekstra aktif untuk membuka obrolan. Karna sekarang dia bukan seperti waktu awal kami kenal di malam itu.


"Belum bang. Tadi di kantin aja."


Baru saja aku mau menjawab bahwa tadi aku melihat nya pulang, tapi aku ingat dan ku urungkan niat ku. Dari pada aku nanti dianggap penguntit. Lebih baik aku diam.


"Oh... Kalo abang tadi sempat pulang dulu. Hehehe..." Kata ku sambil tertawa garing. Padahal aku tau dia gak bertanya info tak penting ini. Dan di lihat pakai biji mata pun orang pasti tau aku habis dari rumah.


"Kalo tau El tadi langsung dari sekolah, kemungkinan abang juga. Biar bisa cepat ketemu nya."


Elsi membetulkan duduk nya. Kali ini wajah nya terlihat serius. Lebih serius dari tadi.


"Purna ada kontak abang?" Tanya nya.


"Iya ada El, Waktu pagi habis acara itu. Kemungkinan pas kita di jalan kerumah Elsi." Jelas ku.


"Terus dia ngomong apa?"


"Dia cuma minta nomer WA abang. Yaudah abang kasih aja. Karna dia bilang kalo dia teman Elsi."


Elsi masih menyimak serius cerita ku. Aku melanjutkan nya.


"Terus dia WA abang. Katanya ada liat El gak. Dia minta maaf karna sudah lancang bertanya. Karna dia bilang belum tentu abang kenal Elsi. Tapi kata nya dia gak tau mau hubungin siapa lagi."


"Terus abang bilang kalo Elsi sama abang?"


"Gak sempat El, Telpon keburu di tutup sama dia. Terus gak lama dari itu dia chat lagi minta maaf, Karna ternyata Kamu udah bisa di hubungin."


Elsi menghembus kan nafas nya. Terlihat dia sangat lega mendengar cerita ku. Aku paham, pasti dia takut ketahuan sama teman teman nya.


"El.... Abang benar benar minta maaf ya.." Kata ku. Kali ini aku benar benar serius.

__ADS_1


Elsi menundukan pandangan nya.


"Elsi kalo mau tampar abang, atau mau siram abang pake minuman nanti juga abang terima. Abang tau abang memang salah. Abang siap menerima konsekuensi."


"Bukan kesalahan..." Kata nya lirih. Masih menundukan pandangan. Aku terdiam.


"Bukan kesalahan Abang aja. Salah Elsi juga." sambung nya lagi.


"Abang minta maaf sebelum nya, tapi apa yang abang lakukan waktu itu, bukan karna iseng, bukan karna kesalahan. Bagi abang karna abang memang...." Aku menggantung kalimat ku. Rasa nya "buaya" sekali jika ku bilang aku memang ada rasa padanya.


Tapi mau gimana, memang itu yang aku rasakan.


Dia menatap ku, menunggu ku meneruskan kalimat nya.


"Maaf ya El jika terdengar sok manis. Tapi ya begitulah kenyataan nya." Aku masih tak sanggup mengutarakan perasaan ku. Karna gak mau dianggap cowok brengsek bermulut manis.


"Semenjak hari itu abang gak bisa tidur memikirkan ini." Kata ku. Kali ini aku yang tertunduk lemas.


"Abang kepikiran Elsi. Jujur abang takut kalo Elsi gak mau ketemu abang lagi."


Dia masih terdiam mendengarkan ku.


Pelayan datang membawakan minuman pesanan kami. Memecah keheningan kami berdua.


Aku mempersilahkan Elsi untuk meminum nya dulu. Aku pun sama.


Aku menaruh gelasku kembali ke atas meja setelah meneguk nya.


"El..." Panggil ku pelan. Aku menatap wajahnya.


"Abang gak mau basa basi..." Kata ku lagi.


Elsi menaruh gelas nya.


Aku melanjutkan kalimat ku.


"Elsi... Mau ya jadi pacar abang?" Kataku pada akhirnya.


Dia terdiam mendengar perkataan ku. Aku pun juga. Tapi aku lega, Ternyata memang ini yang membuat aku gelisah dari kemarin.


Elsi Tertunduk lagi sambil terdiam. Dia memainkan jari jemari nya sambil berpikir.


"Abang suka sama Elsi. Abang kepengen kita jadian..." Lanjut ku lagi.


"Gak perlu merasa bertanggung jawab bang." Putus nya. Aku terkejut.


"Gak perlu merasa bersalah karna kita berdua sudah tidur bersama. Gak perlu merasa harus tanggung jawab untuk itu. Aku gak papa."


Aku terdiam.


Respon nya ternyata gak sebagus harapan ku.


"Aku cuma minta abang untuk gak cerita apa apa ke orang lain. Cukup kita saja yang tahu. Kita tinggal melanjutkan hidup masing seperti dahulu." Katanya lagi. Cukup tegas. Dan cukup membuat hatiku sakit.


Baru saja aku hendak membuka mulut, dia menghentikan ku.


"Kurasa udah gak ada yang perlu di bicarakan bang. Cukup jelas. Kita tinggal kembali seperti dulu. Dan sekali lagi jangan merasa harus bertanggung jawab dengan memacari ku..." Katanya sambil mengambil tas ransel nya dan bersiap pergi.


"El abang bukan mau..." kataku sambil menatap nya penuh harap. Tapi keburu di potong nya lagi.


"Aku pamit bang. Terima kasih minum nya."


Dia berdiri dan pergi meninggal kan ku.


Sekali lagi, aku di buat terbingung bingung oleh nya.

__ADS_1


Tapi kali ini hati ku sakit.


__ADS_2