Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
AKU TAK SANGGUP


__ADS_3

ELSI


"El..." Tegur bang Nanda di sela sela lamunan ku.


Tiba hari nya untuk kami melakukan nya. Kami sudah datang di klinik lebih cepat dari waktu yang di tentukan.


Aku sudah bilang kepada mama jika hari ini aku tidak pulang dan akan menginap di rumah teman ku. Bukan Sharma bukan Purna. Aku takut saja jika ternyata mama menelpon mereka berdua. Sedangkan mereka berdua tidak tau apa apa.


Aku sudah tidak merasa gugup lagi, sekarang aku lebih merasa "Mati rasa" dengan semua nya.


Aku hanya bisa pasrahkan semua ini dengan yang di Atas.


Tapi yang terlihat sangat risau adalah Bang Nanda. Dari tadi dia bolak balik keluar klinik. Duduk, berdiri dan duduk lagi. Sangat tidak bisa tenang.


Berkali kali dia berkata pada ku untuk jangan takut. Tapi kurasa, dia yang sebenarnya takut.


Kurasa sudah 4 botol air mineral yang di minum nya semenjak kami sampai di klinik. Aku tidak yakin dia akan bisa menemani ku nanti. Karna dia akan sibuk bolak balik kamar kecil nanti nya.


"El tenang ya. Jangan takut. Ada abang." Dia berkata sok tegar lagi kepada ku. Benar kan? Dia begini lagi.


"El...." Dia memanggil ku lagi.


"El jangan marah ya abang ngomong begini."


Aku hanya mengangguk. Aku sudah tak ada tenaga untuk meluap kan emosi ku.


"Kalau El mau mundur, masih ada waktu untuk itu..."


Mendengar nya, Aku hanya memegang paha nya dan meyakin kan nya jika aku baik baik saja. Dan aku tak perlu mundur. Aku sudah sangat yakin.


Waktu nya tiba, Nama ku di panggil oleh seorang suster untuk masuk ke ruangan pemeriksaan.


Dengan sangat yakin aku bangkit dari duduk ku dan berjalan ke arah nya. Tapi aku tiba tiba terhenti, Aku sadar bang Nanda tak ada di sampingku.


Aku menoleh lagi ke belakang, dia terdiam kaku di tempat duduk nya memasang wajah bego. Aku tak pernah melihat wajah nya se aneh sekarang.


Sepertinya dia benar benar syok mendengar jika sekarang sudah giliran ku.


"Bang!" Aku menyadarkan nya. Dia tersentak dan bangkit dari duduk nya. Membawa seluruh bawaan kami masuk ke ruangan pemeriksaan.


Aku sudah terbaring di kursi USG. Dokter bilang harus di lihat dulu kondisi janin nya.


Dokter yang kudatangi ini adalah perempuan muda yang cantik. Dia juga sangat ramah, berbeda dengan dokter laki laki yang ku datangi sebelum nya. Yang hanya bisa mencibir ku.


Dia berbicara pun lemah lembut. Aku merasa tidak perlu khawatir lagi soal ini.


"Kita USG dulu ya. Kita lihat kondisi janin nya." Dia meletakan alat itu ke perut ku. Dan memutar mutar nya.


Kali ini aku bisa langsung melihat apa yang ada di dalam perut ku. Sudah ada di layar TV di depan ku.


Tapi.....


Hati ku tiba tiba merasakan perasaan yang aneh. Ketika aku melihat gambar di layar itu.

__ADS_1


Dan ketika dokter itu menjelas kan, "Ini tangan nya, Ini kaki dan kepala nya."


Lalu rasa itu muncul dengan hebat ketika dokter bertanya pada ku, apakah aku ingin melihat wajah bayi itu. Aku awal nya menolak, tapi ternyata dia tidak mendengarkan ku.


Dia merubah gambar yang hitam putih tadi menjadi gambar yang lebih berdimensi. Aku bisa liat lekukan tubuh mungil itu.


Dan saat dokter mengarah kan nya ke kepala, aku bisa melihat nya. Aku bisa melihat wajah nya.


Hati ku langsung seperti tertusuk belati. Sakit sekali rasa nya. Entah lah, kenapa aku bisa merasakan nya. Padahal sedari tadi aku sudah mati rasa.


Bang Nanda menggenggam tangan ku ketika melihat wajah nya. Aku menoleh ke arah nya.


Aku baru sadar, ternyata sedari tadi dia menangis. Sungguh, baru ini aku melihat dia menangis seperti sekarang.


Tak terasa air mata ku juga menetes dari pipi ku.


Aku kenapa?


Kenapa aku ikut bersedih?


Apa yang ku tangis kan?


Lalu....


Dokter bilang bahwa aku dan Nanda sudah bisa mendengar detak jantung nya.


Disini rasanya semua perasaan teguh ku runtuh bersamaan dengar air mata ku yang terjatuh dengan deras.


"Gak dok, gak perlu. Saya gak mau dengar." Aku menolak nya lagi, aku tak sanggup.


Detak jantung yang akan segera berhenti itu?


Tapi lagi lagi dokter itu tidak mendengarkan ku.


Samar samar aku bisa mendengar nya, Bisa tau ritme detak jantung nya.


Sontak aku melepaskan tangan ku yang sedari tadi di genggam Bang Nanda. Aku langsung menutup telingaku sambil berteriak dan menangis.


Aku tak sanggup, Sungguh aku tak sanggup.


******


Aku terdiam lagi.


Bang Nanda pun juga.


Kami berdua sedang duduk di halte.


Iya benar. Kami tidak jadi.


Aku memutuskan untuk keluar. Aku sudah tidak tahan lagi. Mendengar..... Melihat....


Yang sedari kemarin pikiran ku teguh untuk melakukan nya, mendadak runtuh ketika aku melihat dan mendengar detak jantung nya.

__ADS_1


Sama seperti dia, lelaki yang duduk di samping ku. Dia bisa membuat aku seketika luluh kepada nya.


Apakah karna anak ini keturunan nya?


Tapi.... Aku tak bisa. Harus apa aku sekarang?


"El harus gimana bang?" Tanya ku pada akhir nya. Suara ku kembali bergetar. Bang Nanda hanya terdiam.


"Gak bisa bang! Kita sudah disini! kita gak boleh mundur!" Aku berdiri dari duduk ku.


"ELSI!"


Bang Nanda berteriak padaku. Aku terkejut bukan main. Tidak pernah dia berteriak sekencang ini selama aku kenal dengan nya.


Aku terdiam mematung di hadapan nya.


"Itu.... Juga...." Dia menggantungkan kalimat nya. Dan mengusap air mata nya.


"Itu juga anak ku. Aku ada hak untuk dia." Dia melanjutkan nya lagi.


Kami berdua sama sama mematung.


Aku kena lagi. Aku luluh lagi.


Dia berdiri dan medekati ku.


"Kita jangan begini ya? Kita gak harus melakukan nya...."


Aku menangis sesegukan.


Ternyata benar, Aku tak sanggup. Ternyata benar, aku gak siap. Ternyata benar, aku tak tega melakukan nya....


Membuat... Aku merasa... Aku bukan seperti manusia....


Ternyata selama ini aku hanya sok terlihat kuat. Terlihat tak butuh siapa siapa. Menutupi ketakutan ku dengan kemarahan ku.


Makanya aku senang Purna ternyata cerita ke Nanda...


Makanya aku senang ketika Bang Nanda menghentikan ku melakukan nya...


Makanya aku senang ketika aku di tolak dokter untuk aborsi...


Makanya aku senang ternyata aku punya alasan untuk tidak jadi melakukan nya...


Karna aku sudah mendengar jantung nya. Melihat wajah nya.


Ternyata halus sekali cara dokter tersebut untuk merubah pikiran ku...


Ternyata memang aku tak mau dan tak sanggup melakukan nya...


Tapi entah kenapa aku senang... Rasa yang mengganjal selama ini seketika hilang sudah.


Bang Nanda memeluk ku yang sedang tertunduk menangis. Tidak ada lagi perlawanan. Tidak ada lagi omongan ketus ku kepada nya.

__ADS_1


Aku hanya menurut saja dan memeluk nya erat.


Aku sudah tak perduli lagi. Aku sudah pasrahkan semua nya yang akan terjadi di hidup ku setelah nya. Asal kan aku bisa bersama nya, dan anak kami....


__ADS_2