
ELSI
Ku lihat Bang Nanda asyik bertelponan dengan seseorang di kejauhan sana. Sedari tadi sampai di bandara, memang kami tidak langsung pergi.
Ku rasa dia sedang menelpon Om Leo, Keluarga nya yang kami akan datangi nanti.
Dia bilang Om Leo bersedia membantu kami selama kami di sini. Aku sedikit tenang mendengar nya. Tapi sedikit takut juga, jika sampai dia memberitahu keluarga bang Nanda kalau kami kabur kesini.
Karna kami berdua gak ada yang pergi dengan baik baik dari rumah.
Bang Nanda minggat, sedang kan aku di usir.
Aku menghabiskan teh botol ku yang sedari tadi ku bawa dari bandara tempat kami take off sampai tempat kami landing. Minuman ini belum juga habis.
Selama stres aku memang gak nafsu makan sama sekali. Pikiran ku hanya tidur, tidur, dan tidur.
Seluruh tubuh ku cepat lelah, berpikir sedikit saja lelah, bergerak sedikit saja lelah. Pokok nya sekarang apa apa aku selalu lelah.
Berkali kali bang Nanda mengomeli ku untuk makan yang banyak, dan aku harus ingat jika aku sekarang bukan lagi hidup sendiri. Aku sedang mengandung, dan kandungan ku butuh di kasih makan.
Turun dari pesawat saja dia sudah mengancam ku harus makan siang dan tidak ada penolakan seperti biasa nya.
Dia mengancam ku kami akan tidur di bawah jembatan saja jika aku masih tak mau makan. Dia masih bisa bercanda kok, tapi kali ini wajah nya serius.
Dia mendatangi ku sambil memasukan HP ya ke saku celana.
"Kita kerumah Om Leo dulu. Entar sampai disana Elsi istirahat aja, abang sama om mau pergi cari cari rumah kontrakan." Jelas nya.
"Elsi sendirian?"
"Iya. Kenapa?"
"Emang om gak punya keluarga?"
Dia terdiam. Dan tersenyum.
"Entar aja liat sendiri."
Dia membantuku berdiri dan mengambil alih semua barang barang kami. Kami berjalan menuju pintu keluar dan melihat banyak sekali orang orang yang sedang menunggu kerabat nya datang.
Masa begini saja bikin aku mewek sih? Aku merasa hampa, karna aku ingat jika aku dalam posisi seperti sekarang pasti aku sedang di sambut oleh keluarga dan teman teman ku.
__ADS_1
Sekarang aku hanya punya dia. Laki laki wangi yang sedang mengangkat koper dan tas kami yang banyak.
Laki laki yang akan bertanggung jawab atas hidup ku mulai sekarang, dan sampai selama nya.
Dia yang akan jadi ayah anak dalam kandungan ku ketika lahir nanti.
Rasa nya baru saja aku hanya bisa memandang dan mengagumi nya dari jauh. Tapi sekarang sudah menjadi ayah dari anak ku. Kenapa waktu dan garis hidup ini tidak bisa di tebak?
Kami berdua sama sama merelakan masa depan kami. Cita cita kami, terutama bang Nanda. Dia seharus nya tak seperti ini. Terlantar dan tidak jelas arah hidup nya kemana.
Tapi di saat seperti ini pun dia masih sempat sempat nya berjanji kepada ku, jika aku sudah melahirkan nanti, dia akan mendaftarkan ku ujian paket C dan akan menguliahkan ku. Dia akan menjamin hidup ku akan kembali seperti sedia kala. Lulus SMA, dan kuliah seperti anak anak seumur ku. Dia berkata soal Anak nanti dia yang urus. Tugas ku hanya melahirkan nya.
Tapi untuk sekarang aku tidak ada pikiran sampai kesana. Bahkan aku tak yakin setelah lulus ujian pun aku akan melanjut kan kuliah. Bagaimana aku tega meninggalkan anak ku yang masih kecil berdua ayah nya sedang kan ayah nya juga harus bekerja menafkahi kami. Ku rasa itu berat. Berat untuk batin ku.
Setelah turun dari Taksi online, kami sampai pada sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil.
Tipe tipe rumah minimalis dan cukup hanya untuk 1 keluarga kecil. Yang anggota nya hanya 3 orang.
Setelah memanggil beberapa kali tapi tak ada sautan dari dalam, bang Nanda mengambil HP nya dari saku celana.
"Bang." Tegur ku ketika ada seseorang di belakang kami baru datang memakai motor.
Aku memanggilnya karna orang itu datang dan mendekat kearah kami. Dan benar benar berhenti di belakang kami.
Oh... Ini yang nama nya Om Leo. Lelaki paruh baya dengan tubuh yang sedikit berisi. Perut nya saja buncit. Dia berkulit putih, mirip sekali dengan warna kulit bang Nanda.
Bisa ku tebak, seperti nya memang mereka keturunan kulit yang putih bersih.
Om Leo turun dan mematikan motor nya, dan menyambut memeluk bang Nanda.
"Astagaa Nandaaa, kamu tinggi sekali sekarang ya? Dulu perasaan om kamu masih di bawah ketek om. Sekarang om yang ada di bawah ketek kamu. Sudah lama Nan?"
"Gak om. Baru aja sampai, tadi juga baru aja mau telpon om."
"Iya om beli makanan ini buat kalian."
"Om kenalin, ini Elsi." Bang Nanda menarik ku dan merangkul ku. Aku menundukan kepala ku dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Tetapi bukan hanya menyambut tangan ku, om Leo langsung menarik ku dan memeluk ku erat. Aku terkejut.
"Selamat datang ya. Om bakal bantu kalian sepenuh nya. Elsi jangan khawatir ya." dia berkata sambil mengelus elus punggung ku.
__ADS_1
"Makasih banyak om. Maaf kami datang merepot kan om."
"Ih, siapa bilang repot? Om senang loh kalian mau datang kesini. Rumah nya cukup untuk kita. Om sendiri aja kok. Ayo kita masuk dulu. Ngobrol di dalam saja."
Aku dan bang Nanda mengangguk dan masuk kerumah mengikuti nya.
Sampai masuk rumah kami di persilahkan menaruh semua barang barang kami di kamar yang sudah ia siap kan.
Kamar yang bagus. Sangat tertata rapi. seperti ada seorang perempuan yang menatanya.
Padahal dia bilang tadi dia hanya tinggal sendiri dirumah ini. Tapi semenjak aku masuk kerumah mungil ini, aku hanya terkagum kagum dengan kerapian dan penataan benda benda di sana.
Banyak pot pot kecil dan pajangan pajangn lucu di dinding nya. Sangat estetik sekali. Aku bahkan tidak bisa menata rumah seindah ini jika aku nanti punya rumah sendiri.
"Makan dulu ya kita." Teriak om dari luar kamar.
Sebenar nya aku belum lapar lapar banget, tapi jika ingat ancaman dengan wajah datar nya bang Nanda, sepertinya tidak ada cara lain selain aku menuruti nya.
"Elsi duduk sini." om Leo menarik kursi meja makan dan mempersilahkan aku duduk.
Bukan hanya itu, Dia bahkan membuka kan aku bungkus makanan tidak lupa juga membuka bungkus sedotan dan menancapkan nya ke minuman kemasan ku.
Sedetail itu dia melayani ku, sampai sampai aku merasa tak enak di buat nya.
Tapi aku jadi ingat Bang Nanda, seperti nya laki laki di keluarga mereka memang full "act of service" seperti ini.
"Terima kasih ya om. maaf Elsi merepotkan." Aku minta maaf lagi kepada nya.
"Elsi makan yang banyak ya? Pokok nya kalau ada yang Elsi mau makan minta aja ke om. Om pasti beliin. Soal nya entar anak nya ileran kalau ngidam gak di penuhin. Hehehe..."
"Terima kasih banyak om. Terima kasih..." Jawab ku.
Aku baru tersadar bang Nanda sedari tadi tak ada bersuara. Aku menoleh pada nya, ternyata dia sedang memperhatikan ku.
Aku memegang tangan nya di bawah meja.
"Iya iya tau, El pasti makan kok." Bisik ku.
Aku tau sekali arti tatapan nya, dia ingin menagih janji ku harus makan siang ini. Dia mengangkat jempol nya memuji ku.
"Ayo ayo makan dulu. Selamat makan semua nyaaa..." Ucap bang Nanda sambil membuka bungkusan nasi nya.
__ADS_1
Selesai kami makan, aku langsung di suruh duduk di depan TV oleh Om Leo. Aku sangat di larang nya menyentuh semua sisa makanan tadi. Padahal aku ingin membersihkan nya dan mencuci piring nya.
Tapi gagal sia sia karna dia langsung menggiring ku duduk di depan TV dan tidak membiar kan aku berdiri. Dia bilang ibu hamil gak boleh capek capek bekerja. Biar dia dan Bang Nanda saja yang berberes.