
NANDA
Aku mengusap kepala nya dengan lembut, ketika kulihat ekspresi nya berubah saat tau butuh 10 juta lagi di klinik yang berbeda.
Aku tau dia merasa khawatir aku tidak punya uang sebanyak itu.
Aku mencoba meyakinkan semua nya baik baik saja.
Aku mengambil alih laptop nya yang sedari tadi dia pegang dan mencari cari tentang kualitas klinik yang akan kami datangi nanti.
Aku mencari komen komen orang, dan kontak yang bisa di hubungi di klinik tersebut.
Aku tak ingin tempat yang kami tuju ini ternyata gak bagus atau abal abal. Karna ini bersangkutan dengan nyawa seseorang.
Tak terasa waktu sudah berlalu lama, aku tersadar ternyata Elsi tertidur di samping ku.
Aku menatap wajah nya lama.
Hati ku sedih. Di umur dia yang muda, dia harus menanggung beban seperti ini. Apa lagi aku memikirkan kondisi nya saat nanti di lakukan nya aborsi.
Aku tak sanggup. Tapi aku tidak bisa menghindar. Aku harus kuat, lebih tepat nya terlihat kuat di depan nya. Aku tak ingin dia semakin tidak bersemangat hidup jika melihat aku bersedih juga.
Ku lihat jam di tangan ku. Sudah sore. Sebaik nya aku bersiap pulang.
Tapi aku enggan membangunkan nya.
Aku berjalan ke meja belajar Elsi dan mengambil selembar sticky note di sana.
Abang pulang ya El, maaf abang gak bangunin Elsi. Elsi tidur nyeyak sekali. Abang sudah bikin janji. Elsi gak perlu repot repot kontak mereka.
Aku menempelkan Sticky note itu di dalam lipatan laptop nya. Aku menyelimuti tubuh nya sebelum aku pergi meninggalkan nya.
******
Aku menaruh laptop, playstation, dan Ipad ku di ranjang Adil. Lengkap dengan kotak dan charger nya.
"Ini semua barang yang gue bisa kasih ke elo."
Mendengar perkataan ku, Adil hanya bisa menggeleng geleng kepala.
"Nan.... Nan.... Lo bego banget sih."
Aku hanya terduduk di lantai kamar nya. Jika disuruh pilih, kamu akan minta bantuan kesiapa pertama kali jika kamu dapat masalah, aku akan minta bantuan ke Adil.
Satu satu nya yang bisa ku percaya, dan tidak akan ngomong kesana kemari.
Di telpon tadi aku sudah menjelaskan semua nya ke dia, Awal cerita sampai dengan hari ini.
Dia sangat terkejut mendengar cerita ku. Apa lagi aku datang tidak cuma cuma, tujuan ku agar dia bisa memberi ku uang dengan aku mengadai barang barang ini.
"Gue tau elo gak butuh barang ini semua. Tapi cuma ini yang gue punya Dil. Sisa nya tinggal motor. Gue gak mungkin gadai itu. itu motor Nurul yang dia titip kan dirumah."
Jelas ku sambil terbaring di lantai.
"Gue bingung ya Nan. Elo itu pintar di segala hal, tapi kenapa soal begini elo bego banget sih nyet." Dia mulai mengomeli ku.
"Elo gak pake ******?" Tanya Adil. Aku hanya menggeleng lemas.
__ADS_1
"Bisa bisa nya elo tidurin anak orang gak pake ******. Kaya nya soal beginian, Jono yang bego juga tau Nan."
Aku hanya terdiam mendengarkan nya.
"Elo tau kan kalo elo tidur sama cewek terus hamil, yang keluar itu anak manusia? Bukan mesin cuci?"
"Tauuuuuu." Aku menjawab pasrah, mau gimana lagi? Aku memang salah.
"Kalo aja gue tau lo gak prepare malam itu, mungkin gue bakal sediain sekardus ****** buat elo. Biar gak kejadian kaya begini. Apes bener lagi, baru sekali juga, langsung jadi. Tokcer banget elo Nan."
"Elo mau bantuin gue apa gak ni?" Tanya ku kesal. Kesal melihat dia mengejek ejek ku.
"Soal bantu itu gampang, Mau sekarang gue transfer juga gak masalah. Cuma gue masih syok aja bisa bisa nya elo begini."
"Mau gimana lagi... Gue udah gak tau harus berbuat apa."
"Elsi bersikeras banget ya Nan mau gugurin?"
Aku mengangguk, "Banget. Padahal kalau dia pengen gue nikahin, gue siap banget. Gue malah gak siap nambah dosa baru."
"Berani juga tu anak..."
"Kaya nya dia takut banget sama mama nya."
"Ya takut juga masa depan nya ancur kalau harus punya anak di umur sekarang." Timpal Adil.
"Cek rekening elo." Suruh Adil kepadaku. Aku bangkit dari tidur ku dan mengambil HP ku di saku jaket.
"Makasih banyak Dil..." Kata ku terharu. Padahal aku tak berharap banyak, aku mencoba peruntungan saja, mau kah dia meminjam kan uang kepada ku. Jika tidak, ya aku akan mencari cara lain.
"Jangan lah! biar disini aja sampai gue bisa balikin semua duit elo. Walaupun gue tau sih, elo sudah punya semua nya bahkan lebih bagus dari ini. Tapi terima aja sebagai jaminan gue Dil..."
"Emang lo gak butuh laptop?"
"Gak papa, masih bisa pergi kewarnet."
"Kapan rencana nya Nan?"
"Sebenarnya baru gue mau kontak klinik nya. Gue belum berani ngubungin karna belum ada uang di tangan."
"Ya udah hubungin sana. Kalau masih kurang, kabarin aja gue lagi"
"Terima kasih banyak Dil. Gue gak espek lo bakal langsung mau kasih gue, Insya Allah ini aja cukup Dil."
"Ya udah, next, jangan bego lagi ya. Bawa ****** kemana mana." Pesan nya. Aku hanya tersenyum kecut.
Sampai rumah aku langsung menelpon Elsi. Sedari tadi dia chatting aku, aku belum sempat membalas nya.
"Kok gak balas Wa ku?"Tanya nya ketika pertama kali mengangkat telpon.
"Maaf Elsi. Abang tadi lagi sibuk.... Abang sudah bikin janji sama klinik nya. Mereka bisa akhir minggu ini."
"Emang abang sudah dapat uang nya?"
"Sudah El..."
"Kok bisa?"
__ADS_1
"Ya bisa El..."
Dia hening mendengar jawaban ku.
"Gak mencuri uang orang kan bang?" Dia langsung menuduh ku. Aku tertawa.
"Ya enggak lah. Ada lah pokok nya El..."
"Dapat dari mana?"
"El... Kan Elsi yang bilang kalo tugas nya abang cuma carikan dana nya. Sekarang kan sudah dapat dana nya. Arti nya udah beres kan? Elsi gak perlu tau abang dapat nya dari mana...."
Dia mendengus kesal.
"Kita pergi hari minggu ya. Abang jemput."
"Gak usah bang, Entar ketemu disana aja."
"Loh kenapa?"
"Gak papa. Pulang aja entar abang antarin."
"Ya kalo itu pasti lah. Masa iya El abang tinggal pulang sendiri?"
"Pokok nya kita ketemuan di sana aja."
Aku hanya bisa meng-iya kan permintaannya. Memang dia agak sulit di bantah.
Ingin saja aku bilang pada nya, jika ingin berubah pikiran, ini belum terlambat. Tapi aku sadar, jika aku berkata pada nya seperti itu, akan hanya membuat mengamuk lagi. Jadi aku hanya bisa mengurungkan nya.
Karna jujur saja, aku belum siap. Aku gak mau ini terjadi. Tapi aku tidak bisa menolak nya. Syukur saja sekarang dia mau di temani pergi, tidak seperti kemarin kemarin.
"El sudah makan? Mau abang antarin makanan?"
"Belum bang, tadi cuma minum susu."
"Mau makan apa? Abang beliin ya?"
"Enggak, gak usah bang. Dirumah mama masak kok, cuma aku yang belum mau makan. Belum kepengen."
"Ya udah jangan kemalaman ya makan nya, biar bisa istirahat cepat."
"Iya bang..."
"Mau di temenin lagi tidur nya?"
"Mau..." Dia menggantung kalimat nya.
"Bang..." Panggil nya.
"Ya?"
"Udah dulu ya, aku di panggil mama keluar. Entar kalo udah siap siap bobo aku kabarin."
"Siap tuan putri." Jawabku. Dia menutup telpon nya.
Semoga.... Semoga ada keajaiban nanti... Batin ku, ketika memikirkan apa yang akan terjadi akhir minggu ini.
__ADS_1