
NANDA
Turun dari panggung aku Mengambil segelas lagi minuman. Total 3 gelas yang sudah ku teguk. Aman, badan ku masih bisa mengontrol nya. Aku masih tau batas mabuk ku sampai mana.
Kepala ku mulai penat, sedari tadi aku merasa kepanasan padahal di dalam AC.
Aku butuh udara segar.
Ku lihat ada sekotak rokok di atas meja, kemungkinan punya Dinar. AKu paham benar rokok apa yang selalu dia isap. Ku ambil dan segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Aku berjalan gontai di parkiran, ada angin sepoy sepoy menerpa wajah ku. Merubah bentuk rambut ku yang sudah tersisir rapi.
Aku membetul kan nya.
Kenapa aku lebih senang di luar sini? padahal jelas jelas gak ada yang bisa di lihat disini.
Cuma ada mobil mobil tersusun rapi. Tapi entah kenapa aku lebih suka.
Biar saja mereka mencari ku, biar saja Dinar bingung kenapa rokok nya hilang. Aku mau santai sebentar disini.
Aku merogoh kantong celana ku, loh?
Aku merogoh lagi saku blazer ku, kenapa cuma ada Handphone ku. Kemana rokok tadi?
Samar samar aku mendengar suara langkah kaki mendekati ku.
__ADS_1
"Permisi, ini rokok nya jatuh." Kata seseorang di belakang ku. Oh ternyata jatuh. Pantas saja...
"Bang Nanda!!!?" Teriak gadis ini ketika melihat aku menoleh ke arah nya.
Teriakan nya membuat aku terkejut, dia terkejut, aku apa lagi. Spontan aku langsung berpikir, apa ada yang salah dengan penampilan ku?
Kenapa dia melihat ku seperti orang kesetanan? Apa aku seburuk itu?
Aku jadi salah tingkah sendiri.
"Maaf bang! Saya bukan mau pulang kok?! Beneran! Saya nunggu Sharma datang baru berani masuk! Suwer bang!" Ocehan nya lebih membuat aku terkejut dari pada dia teriak tadi.
Kenapa dia ?
Sama persis seperti saat dia memberi minuman kepada ku waktu saat itu.
Iya, dia gadis aneh yang memberikan ku minum waktu itu. Aneh tapi lucu.
Kali ini dia lebih aneh lagi ketika bertemu dengan ku malam ini.
Aku menghentikan langkah nya dengan menghadang nya. Dia terkejut. Lagi.
"Mau kemana?" Tanya ku. dia menundukan wajah nya.
"Gak kemana mana..." Kata nya pelan. Kecil sekali suara nya sampai nyaris tak terdengar.
__ADS_1
"Jadi dari tadi nunggu Sharma? Makanya gak mau masuk? Kemana Sharma nya?" Tanya ku bertubi tubi.
"Eee.......Gak tau." Jawab nya sambil masih menundukan wajah nya. Aku menunduk mencari dimana wajah nya sambil menatap mata nya.
"Gimana?"
"Eh, maksud nya itu, saya.... Pengen.. tapi malu. Eh! Bukan! Saya... Gak tau deh!" Katanya terbata bata. Semakin gak karuan dan malu.
Dia kembali lagi menutup mulut nya. Sadar lagi dan lagi kalau dia bicara melantur. Aku tertawa kecil melihat nya.
Aku memasukan Kotak rokok tadi ke saku celana ku.
"Sekarang mau kemana dong kalo gak jadi masuk?" Tanya ku lagi. Dia memberanikan dirinya menatap ku. Ternyata benar. Dia Manis.
"Emm....." Sepetinya dia semakin bingung menjawab pertanyaan ku.
"Yaudah... Karna sudah disini, kenapa gak masuk aja? Kan sayang udah sampe tapi balik lagi. Udah biarin aja Sharma entar nyusul kedalam." Ucap ku sambil tersenyum.
"Lagian didalam kan rame tuh, Entar pasti ketemu sama anak anak yang lain. Yuk?" Ajak ku lagi. Ku pikir kalopun sampai di dalam sana dia tidak kenal siapapun, aku akan menemani nya sampai selesai.
Dia masih berpikir keras. Tertunduk lagi dan tetap diam. Aku menunggu nya.
Dia maju selangkah mendekati ku.
"Bo..boleh deh..." katanya dengan ragu. Aku tersenyum sambil menuntun dia mempersihlahkan jalan mengikuti ku.
__ADS_1