
ELSI
Pagi pagi di sekolah, Bang Nanda datang ke kelas ku dengan membawa sekotak susu coklat.
Jujur saja aku kesenangan melihat nya, tapi berusaha ku tahan agar terlihat biasa saja.
Aku masih berbunga bunga mengingat kemarin.
"Sorry El, datang pagi pagi. Gimana tugas nya?" Dia berkata sambil duduk di depan ku.
"Oh iya ini susu buat sarapan. Abang yakin sih El sudah sarapan, tapi gak papa ini untuk Elsi."
Aku tersenyum dengan canggung. Iya canggung sekali karna ini pertama kali nya bang Nanda mendatangi ku di kelas.
Ya dulu juga pernah sih, tapi kan pada saat itu aku nya gak ada. Aku tau saja semua mata anak anak di kelas sempat tertuju padaku pas Bang Nanda datang. Tapi sehabis itu mereka biasa aja.
"Makasih bang. Tugas nya udah beres kok tadi malam. Tumben pagi pagi ke sini bang?" Aku menyambut susu itu dari tangan nya dan langsung meminum nya sampai habis. Jika gugup aku memang seketika bisa jadi rakus. Ingat kejadian di kantin kemarin kemarin?
"Iya... Cuma mau bilang seharian ini abang gak di sekolah. Ada kegiatan jurnalis di luar."
Mendengar itu pipi ku memanas,
Kenapa dia harus lapor pada ku?
Apa aku pacar nya?
Dan kenapa harus repot repot kesini?
Bukan nya bisa cuma lewat WA?
Dan kenapa aku senang sekali dia begini kepadaku?
Aku gak bisa menjawab nya. Aku hanya mengangguk sambil menggigit bibir. Salting sekali.
"Udah? Gitu doang?" Dia bertanya kepada ku. Sepertinya respon ku tidak seperti yang dia harap kan.
"Kirain bakal sedih gak ada abang..."
"Bukan.. Bukan gitu... El pasti merasa sepi bang. Gak ada yang tau tau muncul di hadapan El kaya biasa nya." Dia tertawa mendengar ku.
"Abang kemana emang nya? Bukan nya abang sudah gak boleh ikut ikut kegiatan ya?" Aku bertanya lagi.
"Yang gak boleh itu kalo sampai gak bisa masuk berhari hari. Contoh nya kaya berangkat ke Ausie Seperti Purna dan Sharma. Kalo cuma dalam kota dan cuma ijin sehari ya gak papa. Tapi abang gak tau sih ini akan seharian apa gak, soal nya bisa aja siang udah balik lagi kesini."
"Oh gitu. Ya udah gak papa lagi bang. Semangat ya!"
"Gak semangat sih, pengen nya istirahat dan ngobrol bareng sama El nanti siang. Eh tapi malah gak bisa."
Bel berbunyi terdengar di seluruh kelas.
__ADS_1
"Ya udah abang balik ya. Entar kita lanjut di WA aja. Kalau abang balik cepat entar kita ketemu ya." Dia berkata sambil berdiri.
"Iya bang. Makasih ya minuman nya."
Aku melambaikan tangan ku dan dia juga. Dia pergi dengan senyuman manis di bibir nya.
Sepanjang jam perlajaran aku gak karuan lagi. Kenapa yang ada di bayangan ku hanya wajah Bang Nanda?
Apakah kali ini aku benar benar jatuh cinta pada nya?
Benar benar hilang kah perasaan aneh waktu itu?
Dalam waktu kurang dalam seminggu, perasaan ku runtuh dengan kebaikan nya.
Aku menggengam erat gelang yang dia beri tadi malam, semenjak dia memberi ku tadi malam, tak pernah ku lepas kan dari tangan ku lagi.
Aku teringat lagi ajakan dia untuk menjadi pacar ku.
Betul kah? Tulus kah?
Aku menarik nafas panjang. Sepertinya aku akan memberi dia jawaban besok.
Atau hari ini jika kami sempat bertemu.
******
"Boleh duduk sini girl?"
Loh, Kak Jhon?
Aku melihat lihat lihat sekitar, seperti nya dia sendirian. Gak ada teman teman nya yang lain.
"Bo... Boleh kak..." Kata ku gugup.
Dia meperhartikan wajah ku dalam, aku makin gugup di buat nya. Apa aku cabut aja ya? Tapi sopan gak sih? Lagian aku belum selesai makan.
"Elo temen Nanda bukan sih? Waktu pesta malam itu?" Dia bertanya pada ku. Sambil masih memperhatikan ku.
"Hm... Iya kak."
"Oh elo adek kelas."
Kenapa dia baru tau? Oh ya kan Bang Nanda gak cerita. Aku berpesan untuk jangan cerita apa apa ke orang lain tentang kami. Apa lagi soal malam itu.
Aku hanya mengangguk dan meneguk air mineral ku.
"Nanda lagi kegiatan tuh." Jawab nya cuek sambil menyantap gorengan yang dia bawa. Aku masih berdiam saja. Hanya merespon dengan senyuman canggung.
"Gimana dia?" Dia lanjut bertanya lagi.
__ADS_1
Aku menghentikan suapan ku. Dengan sendok yang masih menggantung dan menoleh ke arah nya.
Melihat wajah ku bingung, kak Jhon melanjutkan pertanyaan nya lagi.
"Gimana? Hebat gak?"
Aku mengerutkan dahi ku.
Kali ini aku menaruh sendok ku kembali ke piring.
"Maksud nya apa ya kak?"
Dia menyunggingkan senyum nya.
"Hebat gak permainan nya? Malam itu malam pertama nya tau gak. Entah dia udah cerita ke elo apa belum. Gue juga kaget sih bisa bisa nya dia tidur sama elo malam itu."
Seketika seperti ada granat yang meledak di kepala ku. Hati ku seketika runtuh mendengar nya. Ku turun kan tangan ku dari meja.
"Jadi sekarang elo status nya apa sama dia? Pacaran? FWB? Atau cuma One night stand malam itu?"
Tangan ku bergetar hebat. Kali ini aku hanya bisa tertunduk terdiam. Otak ku masih mencerna apa yang sudah ku dengar dari orang ini.
Sebisa mungkin aku menahan air mata ku untuk tidak jatuh.
Kenapa? Kenapa begini?
"Kalau cuma One night stand, bisa dong kapan kapan sama gue..." Dia berkata dengan enteng dan menyungging kan senyum menggoda ku.
Mendengar nya, kali ini air mata ku benar benar jatuh. Aku sudah tak bisa menahan nya lagi. Hati ku hancur, otak ku benar benar beku. Kepala ku pusing seketika.
Yang bisa ku lakukan hanya berdiri dan berlari meninggal kan nya. Sayup sayup aku mendengar dia memanggil manggil nama ku.
Aku mengabaikan nya, Aku sudah gak tahan lagi. Aku gak tahan lagi mendengar kata kata nya.
Aku betul betul syok sehebat hebat nya. lebih hebat rasanya dari pada malam itu.
Malam yang sudah mulai ku lupakan, dan di ungkit lagi dengan orang itu yang membuat aku menjadi jijik dengan diri ku sendiri. Membuat aku terlihat murah sekali.
Kenapa bisa dia tau?
Bang Nanda.......
Seharusnya...
Benar saja...
Kenapa aku bisa percaya padanya...
Sampai kelas aku bergegas mengemas barang ku dan pergi ke ruang guru.
__ADS_1
Aku mencari wali kelas ku dan beralasan aku sakit. Dia menawarkan aku untuk istirahat saja di UKS, tapi aku menolak. Aku gak tahan, aku gak mau bertemu siapa siapa di sekolah ini, aku malu.
Setelah mendapat surat ijin pulang aku berjalan ke gerbang dan segera meninggalkan sekolah itu berlari sejauh jauh nya. Dengan air mata yang membasahi seluruh wajah ku.