
NANDA
Pagi itu aku mendatangi Elsi di kelas nya.
"El bisa bicara sebentar?" Kata ku ketika dia menghampiri ku di depan pintu.
Dia mengangguk saja dan kami pergi ke belakang sekolah.
"Ini El..." Aku mengeluarkan sebuah botol dari saku celana ku.
"Apa ini?"
"Vitamin buat El."
"Vitamin ibu hamil?" Aku mengangguk.
Iya, aku memang membelikan nya vitamin untuk ibu hamil. Karna yang dari ku baca baca, ibu hamil gak boleh minum obat sembarangan. Sedang kan dia terlihat lemas dan pucat sekarang. Aku tidak bisa berdiam diri saja.
"Gak mau" Tolak nya. Dan menyerahkan obat itu ke tangan ku.
"Biar Elsi sehat." Kata ku lagi.
"Aku sehat kok. Gak perlu minum minum yang begituan. Dari pada abang beli hal hal yang gak penting seperti itu, lebih baik abang belikan aku korset. Biar perut ini gak ketahuan orang. Aku merasa, semenjak aku tau aku hamil, perut ini memang lebih besar dari biasa nya. Awal nya aku pikir karna aku banyak makan akhir akhir ini, Tapi ternyata bukan."
Aku hanya terdiam mendengar penjelasan nya.
"Inti nya gak usah buang buang uang untuk hal yang gak penting." Dia berkata sambil berlalu dari hadapan ku.
"El!" Aku menyusul nya dan memberikan obat itu ke tangan nya.
"Ambil aja, terserah Elsi mau buang atau mau di apain. Abang beliin korset nya sepulang sekolah."
Dia mengangguk dan pergi meninggalkan ku.
******
Baru saja aku keluar dari pintu toko, Elsi menelpon ku.
"Iya El, abang baru beres beliin yang El minta tadi. Mau di antar sekarang?"
"Kaya nya gak kepake deh." Jawab nya di seberang sana.
"Loh kenapa?"
"Aku udah dapat tempat nya bang."
Rasa sakit di dada ku timbul lagi setelah mendengar nya. Aku menghembuskan nafas ku. Dia sudah dapat tempat. Untuk aborsi.
Bukan aku gugup karna tidak punya uang, Bukan. Aku punya tabungan yang kusisihkan dari uang jajan ku dan uang beasiswa yang dulu pernah ku dapatkan.
Aku gugup karna ini adalah aborsi. Bukan tindakan yang mudah dan sangat beresiko. Dan pastinya bukan tindakan yang benar.
Kalau bisa memaksa Elsi saja, Aku sangat tidak setuju dengan ini. Karna aku sudah melakukan dosa, harus di tambah dosa lagi yang lebih besar.
Tapi Elsi teguh dengan pendirian nya. Dia tetap mau membuang anak ini. Aku tak bisa berbuat banyak. Sekeras apapun aku mencoba menghentikan nya, Dia lebih keras kepada ku.
"Bang?" Dia menegurku karna aku telah lama terdiam.
"Iya El..."
"Abang kerumah bawa uang nya."
"Berapa biaya nya El?"
"Dari yang aku cari tau, mungkin sekitar 20 juta."
Aku mengingat lagi uang yang ada di rekening ku. Seperti nya jika memang segitu, masih cukup.
"Ya sudah abang kesana sekarang." Kata ku dan dia mengakhiri telpon nya.
Aku masuk kerumah nya setelah dia membuka kan aku pintu. Aku menyerahkan korset yang tadi dia minta. Dia menyambut nya dengan wajah datar. Tanpa tersenyum sama sekali.
"Ngapain duduk di situ?" Tegur nya ketika aku menduduki sofa ruang tamu nya. Aku memasang wajah bingung.
__ADS_1
"Ayo ke kamar ku aja." Dia pergi meninggalkan ku sendiri. Aku terdiam. Ini pertama kali nya aku benar benar masuk kerumah nya. Bahkan ke kemar nya.
"El, Gak enak di lihat orang." Kata ku ketika aku berjalan mengikuti nya.
"Gak ada siapa siapa." Dia menjawab ku acuh.
Dia membuka pintu kamar nya dan aku terdiam di depan pintu.
"Cepetan masuk. Sudah lah, gak kenapa kenapa. Mama kerja, Elmi sekolah."
"Justru karna gak ada siapa siapa Elsi."
"Kan kita gak ngapa ngapain? Memang abang mau ngapain? Baru sekali ngapa ngapain aja, hidup ku jadi hancur begini." Elsi bertanya balik kepadaku, membuat aku menjadi panik.
Gak ada pilihan lain, aku mau tidak mau masuk ke kamar nya.
Aku menaruh tas ku di lantai dan duduk di kursi belajar nya.
"Ada uang nya?" Dia bertanya kepada ku.
"Tempat nya dimana El?"
"Abang gak perlu tau."
"Loh kenapa? Kan abang nemenin?"
"Siapa yang minta di temenin?"
Aku terdiam.
"Gak usah tau kapan dan dimana aku mau melakukan nya. Sudah ku bilang, tugas abang cuma sediakan biaya nya saja."
"Dan jangan cerita ke siapapun, termasuk Purna dan Sharma. Mereka pun aku gak kasih tau. Aku gak mau terlalu banyak drama. Jadi please, jangan melakukan apapun, selain apa yang ku minta. Jangan menambah beban ku." Dia melanjutkan kalimat nya lagi.
Aku lagi lagi hanya tertunduk dan terdiam. Hati nya keras sekali.
Aku mengeluarkan dompet ku dari saku celana, Dan menyerahkan kartu ATM ku pada nya.
"Bawa ini El. Elsi gak mungkin bawa duit yang banyak kemana mana. Pakai ini."
Dia hanya mengangguk dan menyimpan kartu itu di saku baju nya.
"Kalau El ada butuh apapun, jangan ragu untuk telpon abang ya."
Dia mengangguk.
"Misal nya pun El berubah pikiran untuk minta abang temenin, Kapan pun Elsi telpon, abang pasti datang."
Dia mengangguk lagi.
"El mau makan apa?" Tanya ku.
"Udah makan. Ya udah abang pulang aja. Aku mau istirahat."
Aku beranjak dari duduk ku dan keluar dari kamar nya.
"Hubungin abang kalau ada apa apa ya?" Kata ku terkahir ketika sudah sampai di depan pagar nya.
"Iya." Dia menjawab singkat.
Sepanjang perjalanan pulang, hati ku berubah menjadi tidak karuan lagi. Aku takut jika ini menimbulkan masalah yang lebih besar lagi.
Andai saja dia mau memberi tahu kapan dia akan melakukan nya, walaupun aku tidak bisa menghentikan nya, minimal aku bisa menemani, kalau kalau terjadi sesuatu padanya.
Tapi Elsi keras pada pendirian nya. Wanita yang kucintai ternyata memang sekeras itu. Aku tak bisa melakukan banyak hal.
Yang ku lakukan hanya berdoa saja semoga dia merubah pikiran nya.
"Kenapa belum tidur?" Kata ku saat kami bertelponan di malam hari. Semenjak tau dia hamil, hubungan kami kembali intens, walaupun dia selalu bicara ketus kepada ku.
"Belum ngantuk."
"Kalau ada tugas, biar nanti abang aja yang ngerjain. Elsi istirahat aja."
__ADS_1
"Gak ada tugas kok."
"Iya siapa tau besok besok ada tugas."
"Iya."
"El?"
"Ya?"
"Yakin gak mau abang temenin?" Aku masih berusaha membujuk nya. Aku tidak perduli dia akan mengomeli ku habis ini, aku akan terus membujuk nya.
"Yakin bang."
"Gimana kalau abang datang begitu udah selesai aja? Abang jemput Elsi."
"Gak usah macam macam."
Aku menarik nafas panjang.
"Oke oke... Pokok nya kabarin abang ya kalau ada apa apa."
"Iya."
"El.... Abang sayang sama kamu..." Kata ku lagi. Dia tidak menjawab. Yang ku dengar hanya hembusan nafas nya.
"Abang minta maaf kemarin abang bikin Elsi marah. Sampai kita gak saling menyapa dalam waktu yang cukup lama. Abang nyesal, apa lagi kalau tau ternyata El lagi hamil."
Dia masih terdiam saja mendengar ku bicara. Sayup sayup aku mendengar isakan nya. Sepertinya dia menangis.
"Kejadian kemarin itu abang salah. Tapi abang sama sekali gak bermaksud El..."
"Ya udah gak usah di bahas. Sudah berlalu juga."
"Maafin abang ya?"
"Iya. Aku juga minta maaf karna salah paham."
"Elsi udah ngantuk?"
Seperti nya aku harus mengakhiri telpon ini, agar dia bisa istirahat. Karna ku lihat jam di layar HP ku sudah menunjukan pukul 10 malam.
"Udah. Sedikit." Jawab nya.
"Ya udah Elsi tidur ya. Sampai ketemu besok."
"Bang...." Dia memanggil ku lagi.
"Ya?"
"Boleh temenin aku tidur?"
"Mau video call?" Tanya ku.
"Hm...... Boleh."
Aku segera mengganti panggilan menjadi panggilan video. Dia mengangkat nya. Kulihat wajah nya dari kegelapan kamar.
Benar saja, mata nya sembab. Seperti nya dia memang menangis tadi.
"Ya udah siap siap tidur. HP nya di sandarin aja."
"Abang ngoceh aja sampai aku tertidur."
"Gitu?"
"Iya. Biar aku cepat ngantuk nya."
Aku hanya mengangguk dan menuruti apa kata nya. Aku berbicara tanpa henti, bercerita tentang apapun yang bisa aku ceritakan pada nya.
Awal awal dia masih bisa merespon ku. Tapi 30 menit setelah nya, sudah tidak ada suara lagi dari nya. Seperti nya dia sudah terlelap.
Aku membiar kan lagi sampai 10 menit. Sampai ku pastikan memang tidak ada lagi tanda tanda dia bangun, aku mematikan telpon nya.
__ADS_1
"Good night Elsi...." Ucap ku sebelum mengakhiri nya.