Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
SUDAH TAKDIR


__ADS_3

ELSI


Aku terbangun dengan kepala yang sakit sekali. Karna sayup sayup aku mendengar suara pintu kamar ku di ketuk. Bersamaan dengan bunyi nya HP ku. Ku lihat layar, bang Nanda menelpon ku.


Semalaman aku hanya berada di kamar penginapan ini. Begitu sampai dan bang Nanda pulang, aku langsung tertidur dan baru terbangun saat ini. Aku sangat lelah dan butuh mengisi energi ku dengan tidur yang panjang.


Aku adalah tipe orang jika merasa sangat stres, aku akan banyak tertidur. Dan tidak merasa lapar sama sekali. Sehingga tadi malam pun aku memang tidak terbangun karna kelaparan.


Aku berjalan gontai ke arah pintu.


Kenapa dia datang sepagi ini?


Aku membuka kan pintu. Ku lihat dia datang dengan pakaian biasa dan membawa 2 buah tas ransel besar. Bukan dengan seragam sekolah.


Aku terdiam di depan pintu, dia masuk saja melewati ku yang terheran heran.


"Bang?"


Dia tidak menghiraukan ku. Dia menaruh semua barang barang itu di atas ranjang dan duduk di sebelah nya.


"Bang?!" Tegur ku lagi. Aku sungguh butuh penjelasan atas semua yang ku lihat ini.


Dia mengangkat wajah nya yang sedari tadi tertunduk.


"Kenapa ini?!" Aku bertanya lagi. Sambil menunjuk nunjuk barang barang nya. Dia hanya menjawab ku dengan anggukan. Membuat aku semakin tak mengerti.


Tak sabar, aku segera menghampiri nya dan berlutut di depan nya. Aku mengguncang guncang kan bahu nya sambil bertanya apa yang sebenar nya telah terjadi. Kenapa dia seperti orang yang habis minggat dari rumah.


Tapi ternyata benar saja...


"Abang kabur dari rumah El..." Katanya lirih. Dia berusaha menahan air mata nya.


Aku termundur dan terduduk lemas dengan kaki yang bersimpuh di hadapan nya.


"Kenapa bisa?" Aku bertanya tak percaya.


"Maafkan abang El...." Dia menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.


"Abang! Kenapa bisa?!" Aku melepas kan telapak tangan nya.


"Abang laki laki pengecut El..."


"Maksud nya apa sih bang?!"


"Abang gak sanggup El, mengaku di depan Ayah ibu dengan apa yang sudah terjadi. Abang gak sanggup... Gak sanggup melihat mereka tersakiti..."


"Lalu abang kabur dari rumah tanpa mereka tau?"


Dia mengangguk.


"Waktu abang pergi mereka ada di mana?"


"Mereka berdua lagi pergi ke pasar... Abang cuma tinggalkan surat pamit ke mereka yang abang tulis semalaman... Maafkan abang Elsi... Abang belum bisa bawa Elsi ke orang tua abang...." Akhirnya dia menangis sesegukan.


Otomatis air mata ku juga tumpah. Aku langsung memeluk nya dan kami menangis bersamaan.


"Maafkan abang Elsi... Abang pengecut, abang bukan laki laki yang baik..." Dia berkata di tengah isakan tangis nya.


Aku melepaskan pelukan ku dan memegang kedua pipi nya dengan tangan ku. Ku usap air mata nya dengan ujung jari ku. Aku menatap nya dalam.


"Yang seharus nya minta maaf itu El bang... Karna Elsi, abang jadi ikut kehilangan keluarga abang..."


Aku melanjutkan kalimat ku,


"Elsi janji, Elsi bakal bawa kita semua balik keseperti semula. Kita akan balik ke keluarga kita masing masing. Terutama Abang..." Aku berkata sambil menyandarkan dahi ku ke dahi nya. Kami masih sama sama menangis.


"Maafkan Elsi ya bang... Terima kasih abang sudah bisa selalu sama Elsi sampai sekarang."


"Sampai kapan pun Abang akan selalu sama Elsi...."


Dia menjawab ku dan memeluk ku erat.


"Love you bang..." Kata ku pada akhir nya. Ucapan cinta pertama kali ku untuk nya. Yang selama ini hanya ku simpan di dalam hati ku.


"Aku akan ikut kemana pun abang membawa ku..."

__ADS_1


******


Bang Nanda melepas kan sim card nya dengan yang baru. Tidak ada lagi yang tau nomer baru nya yang sekarang selain aku.


Ternyata seniat itu dia untuk kabur dari kehidupan nya. Aku mencoba untuk bilang pada nya kembali lah kerumah, tapi dia tidak mendengar kan ku.


Dia bilang ini sudah terlanjur terjadi. Di surat itu dia sudah menjelas kan apa yang sebenar nya sudah terjadi kepada orang tua nya. Dia menceritakan nya dari awal sampai akhir. Dan dia banyak banyak minta maaf harus pergi dengan cara begini, dan akan kembali lagi jika waktu nya sudah pas. Untuk sekarang dia belum sanggup menghadapi nya.


Dia juga berpesan kepada orang tua nya untuk tidak mencari nya sementara waktu, dan dia berjanji pasti akan kembali. Apapun resiko yang akan dia terima, dia akan kembali. Dengan ku. Membawa ku, juga anak nya nanti.


Aku melihat kondisi nya sekarang, berbeda dengan dia kemarin. Kemarin masih terlihat segar dan bersemangat. Dia terlihat lesu sekarang, dan tatapan nya sering kosong.


Aku paham, ini terjadi karna dia baru saja kehilangan keluarga nya. Kehidupan nya.


Baru ku sadar juga, Kami berdua. Kami berdua yang sama sama kelihangan kehidupan kami yang dulu. Dan kami harus sama sama ikhlas untuk melepas kan nya.


Dia juga ternyata sudah menyusun rencana untuk kedepan nya. Dia akan membawa ku pergi jauh dari sini. Ketempat yang tidak akan ada yang tau jika kami berada di sana. Ketempat yang jauh dari sini.


Bahkan dia bilang dia sudah membeli tiket pesawat untuk kami. Penerbangan kami besok pagi.


Maka dari itu, hari ini dia mengajak ku untuk menyelesai kan apa yang harus kami selesai kan selama kami masih berada di sini.


Dia bilang aku harus pamit ke Purna dan Sharma. Awal nya aku menolak, tapi dia bilang jangan bikin penyesalan karna pergi tanpa pamit ke mereka. Orang orang terdekat ku. Karna belum tau kapan kami akan kembali lagi, bertemu lagi.


Aku akan pamit ke mereka, tapi aku tidak ingin mereka tau jika aku akan pergi jauh. Aku tak mau dan tak sanggup. Rupa nya ini juga yang di rasakan bang Nanda ketika dirumah nya.


Kami sepakat untuk tidak cerita ke siapapun kemana kami akan pergi. Kami benar benar akan membuka lembaran baru untuk kami.


Kenapa dia membawa ku pergi secepat yang dia bisa? karna dia tak ingin akhir nya kami tak bisa melepas kan orang orang yang kami sayangi.


Yang bisa ku lakukan hanya menurut saja dengan semua rencana nya. Aku sudah menyerahkan seluruh hidup ku kepada nya. Aku percaya kepada nya. Sangat percaya.


Malam nya kami keluar penginapan untuk mengantar ku pamit ke Sharma dan Purna.


Pertama tama dia mengantar ku ke rumah Purna. Dan aku menyuruh dia pergi dan menjemput ku ketika aku sudah selesai. Dia juga berkata dia akan menyelesaikan semua urusan nya malam ini. Jadi kami berpisah dirumah Purna.


"Udah sembuh lo?" Kata Purna menyambut ku di depan pintu. Memang, aku mengaku hari ini aku tidak masuk sekolah karna aku tidak enak badan. Dia sama sekali gak tau bahwa aku sudah di usir dari rumah.


"Panggil Sharma kesini dong." Ajak ku.


"Oh pas banget kalo begitu."


"Pas kenapa?"


"Ya pas aja gue mau ngumpul sama Elo berdua."


Aku berusaha menutup rasa sedih ku karna tau aku akan pergi meninggalkan mereka, dan tak tau kapan lagi akan bertemu.


Semalaman kami hanya mengobrol ngalor ngidul seperti tidak ada terjadi sesuatu di antara kami. Aku hanya ingin menikmati kebersamaan kami yang sebentar lagi akan sirna.


Berat sekali rasa nya harus begini, tapi aku tak mungkin bicara yang sebenar nya kepada mereka, karna jika mereka tau aku akan pergi, mereka tidak akan membiarkan nya. Aku sudah tau sifat nya.


Abang sudah selesai El. Elsi gimana? Kalau emang masih mau disana gak papa, abang tunggu El aja baru balik ke pinginapan.


Bang Nanda mengirim pesan WA ke pada ku.


Jujur saja aku masih ingin di sini bersama mereka. Tapi ini sudah masuk larut malam.


Ku lihat juga Sharma sudah tanda tanda ingin pulang karna mengantuk. Mereka berjanji ingin berkumpul lagi sepulang sekolah.


Aku hanya "iya iya" saja. Karna aku tau, ini tak mungkin terjadi, aku tak akan bertemu mereka lagi setelah ini.


Aku penasaran apa respon mereka setelah aku tak akan muncul lagi di hadapan nya.


Pasti mereka berdua akan heboh mencari ku sampai mendatangi mama. Dan mama pasti akan cerita semua nya.


Setelah menyuruh Bang Nanda menjemput ku, aku berpamitan kepada Sharma. Karna dia sudah bersiap pulang kerumah nya.


Aku mendatangi nya yang lagi bersiap siap memakai jaket nya.


Aku memeluk nya erat. Sangat erat. Sampai dia sepertinya paham ada yang tidak beres dengan ini.


Aku berusaha sebisa mungkin memasang wajah biasa saja, dan menahan semua air mata ku yang ingin tumpah.


Dia melepas kan pelukan ku yang sangat erat. Dan bertanya dengan wajah kebingungan.

__ADS_1


"Kenapa lo El? Mau gue mati ya? Meluk nya keras amat."


Aku hanya tersenyum sambil memegang wajah nya. Aku akan kangen segila gila nya kepada orang ini. Orang yang bawel ini. Aku tak akan lagi mendengar celotehan nya. Dan mendengar omelan nya jika aku bertindak bodoh dan ceroboh.


Dia menepis lagi tangan ku.


"Kenapa sih lo?" Sepertinya dia mulai sadar. Aku segera berakting normal.


"Gak papa lah, gak boleh gue peluk?"


"Ya boleh aja... Cuma gak kaya biasanya. Kaya gak ketemu aja besok."


"Ya kan gue kangeeen seharian tadi gak ketemu." Aku bermanja manja dengan nya sambil merangkul nya.


Purna keluar pintu rumah nya menghampiri kami.


"Elo pulang gue antar El?"


"Enggak. Gak usah, Ada Bang Nanda jemput kok."


"Sumpah?" Dia bertanya tak percaya. Aku mengangguk yakin.


"Iya beneran..."


"Jadi kapan elo mau ngomong sama mama El?" Sharma bertanya padaku.


"Secepat nya. Doain gue ya?"


Aku memeluk nya lagi. Untuk yang terakhir kali.


"Gue sama Empur bakal support apapun keputusan lo sama Nanda. Apapun kesulitan elo, kami pasti bantu."


Aku merasakan ada yang membasahi di ujung mata ku. Sudah tak bisa ku tahan lagi. Aku segera menghapus nya. Aku tak ingin mereka sadar kalau aku sedang menangis.


"Udah elo balik sana. Udah malam nih!" Aku mendorong nya keluar pagar. Aku tak sanggup, jangan sampai dia berlama lama disini membuat ku menjadi nangis sejadi jadi nya.


"Besok yak! Kita ngopi di tempat biasa. Bye tayaaaang tayaaang kuuuuu."


Sharma pergi meninggal kan ku berdua dengan Purna. Aku tetap menatap nya sampai punggung nya menghilang dari pandangan ku.


Aku menitikan air mata ku lagi.


Sadar Purna masih ada di samping ku, aku menghapus nya segera.


Entah lah, kenapa kami sama sama termenung melihat kepergian Sharma.


Padahal yang sebentar lagi akan berpisah kan hanya aku. Tapi entah kenapa Purna juga terdiam melihat ku terdiam.


Aku menarik nafas panjang.


Purna membalik kan badan nya ingin pergi masuk kembali kedalam rumah, Tetapi aku menghentikan nya.


Dia terkejut aku tiba tiba memegang tangan nya.


Aku menarik tangan nya dan memeluk nya erat, sama seperti yang ku lakukan dengan Sharma tadi.


Aku yakin sebentar lagi dia pasti akan berontak. Dia pasti terheran heran kenapa aku seperti ini.


Tapi aku salah. Dia malah membalas pelukanku. Memeluk ku dengan erat juga.


Tanpa berbicara apapun. Tanpa bertanya aku kenapa. Tanpa melakukan apa apa selain hanya memeluk ku.


Lama kami berpelukan sampai saat dia membuka suara.


"Kalau elo mau nangis, nangis aja sepuasnya."


Aku hanya terdiam. Dan membenamkan wajah ku di dada nya. Sudah tak bisa ku tahan lagi.


Aku menangis sejadi jadi nya. Dia terus memeluk ku dan mengusap lembut kepala ku.


"Gue disini El... Gue dan Sharma gak akan kemana mana. Gue akan selalu berada di samping elo..."


Memang... Memang kalian akan terus bersama ku, tetapi kali ini aku yang menghilang. Aku yang akan pergi.


Aku masih terus menangis. Aku tak sanggup berkata kata. Yang ku pikirkan hanya aku sangat terpukul harus berpisah dengan mereka.

__ADS_1


Tuhan... Tolong malam ini jangan lekas berlalu...


__ADS_2