Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
BARU TAU


__ADS_3

ELSI


Aku duduk di balik jendela ruang tamu ku. Menyeruput susu hangat yang tadi ku bikin. Aku terpikir, tak terasa sudah kurang lebih 1 bulan aku tinggal di sini. Hanya berdua dengan suami ku.


Sebenarnya aku tidak asing dengan ke adaan sepi saat aku berada dirumah, karna waktu aku tinggal dengan mama dulu pun aku sering di tinggal sendiri.


Kami serumah jarang menghabiskan waktu bersama, biasanya setelah makan kami hanya pergi ke kamar melanjutkan kegiatan kami masing masing.


Aku dan Elmi belajar, dan mama menyelesaikan tugas tugas mengajar nya. Waktu weekend pun kami juga jarang bersama, karna jika mama lagi sibuk menjadi dosen pembimbing, dia bisa menerima anak anak didik nya untuk bimbingan dirumah.


Entah lah, mama memang tipe orang yang giat bekerja, karna di hari libur pun dia masih mengurusi soal pekerjaan ketimbang menghabiskan waktu dengan kami anak anak nya.


Aku paham kenapa mama seperti itu, dia harus giat mencari uang karna dia harus memastikan aku dan Elmi hidup dengan nyaman dan sejahtera. Dia tak pernah meminta uang untuk hidup ku dan Elmi dengan papa, jika papa memberi, ya itu karna memang papa yang ingin, bukan mama yang meminta.


Selama kami tinggal di sana, mama jarang sekali berhubungan dengan papa via telepon, semenjak berpisah, hubungan mereka memang kurang baik. Mama lebih tepat nya, yang agak menutup diri dengan papa.


Tapi ia tak pernah melarang kami anak anak nya untuk bertemu papa, dia hanya menutup diri untuk diri nya sendiri saja. Aku sudah tidak aneh, karna memang mama sekeras itu hati nya.


Karna aku juga tak mengerti apa yang sudah ia rasakan setelah kepergian papa, seberapa dalam luka di hati nya, yang membuat ia menjadi seperti ini.


Ku tatap layar HP ku, sebenarnya aku bisa saja membuat akun sosmed baru, aku ingin melihat apa kabar mereka mereka yang ku tinggalkan dengan melihat isi sosmed mereka.


Tapi aku selalu mengurungkan niat ku, Bagaimana jika aku malah ingin kembali lagi setelah melihat mereka? Bagaimana jika aku luluh dan ingin hidup bersama mereka lagi? Sedangkan aku baru saja menata hidup baru di sini.


Tapi syukur nya selalu ada papa yang menemani hari hari ku. Kami tidak pernah absen sehari pun untuk video call. Sesibuk sibuk nya papa, minimal dia ada bertanya akan kabar ku.


Apa lagi papa tau aku selalu di tinggal abang pergi kerja seharian, papa pasti menelpon untuk menemani ku, mengobrol berjam jam. Mendengarkan seluruh cerita ku disini.


Aku jadi merasa baik baik saja selama ada papa mendukung ku. Aku ingin segera melahirkan dan akan mendatangi nya kesana. Aku kangen sekali. Aku ingin menangis sejadi nya dalam pelukan nya.


Coba saja mama bisa memperlakukan ku seperti papa memperlakukan ku, tapi aku sadar, betul apa yang di katakan abang, kita tak bisa mengatur hidup ini seperti apa yang kita mau. Tidak semua nya berjalan mulus seperti apa yang kita duga. Tugas kita hanya berlapang dada menerima semua nya.


Baru sebulan aku sudah rindu dengan kehidupan ku yang dulu. Aku rindu sekolah, aku rindu Purna dan Sharma. Aku rindu tempat tinggal ku, aku rindu semua nya.


Entah sampai kapan aku bisa menahan semua rasa rindu ku ini, maka dari itu juga aku memutuskan untuk tidak mencoba mencari cari kabar mereka. Aku tak ingin semakin rindu.


Apa lagi aku melihat abang sekarang fokus dengan kehidupan baru kami, aku rasa aku harus mengimbangi nya. Aku tak boleh terus terusan menunjukan kegalauan ku di depan nya. Aku tak ingin semangat nya turun. Karna bukan hanya aku yang kehilangan kehidupan kami yang dulu, ia pun sama.


Jika ku lihat wajah nya sepulang ia bekerja, melihat peluh nya, aku tak sanggup jika harus berkeluh kesah dengan kegalauan hati ku. Yang ku lakukan hanya mendengar semua carita nya hari demi hari, tentang dia di tempat kerja, apa saja yang dia lakukan. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik.


Aku banyak belajar kehidupan rumah tangga dengan bu Rasmi. Katanya, istri yang baik itu adalah istri yang menjadi pendengar yang baik, tanpa ada rasa menghakimi. Apa lagi jika suami pulang kerja dan bercerita ada masalah di kerjaan nya, tugas kita hanya mendengarkan dan memberi semangat, karna sejati nya mereka hanya butuh di dengar. Itu lah yang ku terapkan selama sebulan ini.


Selama abang kerja, aku dan ia hanya bisa bertanya kabar lewat chatting, kami jarang bertelponan. Aku paham, karna dia kerja nya di jalan. menjadi kurir membawa kendaraan. Agak susah jika kami harus bertelponan, akan mengganggu dia bekerja.


Paling paling dia akan menelpon ku jika istirahat siang, itupun jika aku sedang tidak tidur, jika aku sedang tidur ya dia tidak akan menelpon ku.

__ADS_1


notif WA ku berbunyi memecahkan lamunan ku. Ada pesan baru dari abang.


Sudah sarapan El?


Lagi minum susu nih.


Makan ya, sudah ada di dapur abang siapin.


Iya bang, kalau gak mual entar Elsi makan.


Sejak kejadian aku muntah malam itu, aku jadi sering mual sekarang, syukur saja aku masih bisa minum susu hamil, karna kata bu Rasmi bahkan ada yang sampai tidak bisa minum atau makan apapun.


Aku bertanya kenapa tiba tiba saja aku bisa mual seperti ini, padahal waktu awal awal tidak begini, dia bilang ada mitos, jika kita hamil dan sudah menikah, baru ada muncul hal hal seperti itu. Bahkan ada yang sebelum sah menikah perut nya seperti tidak kelihatan, tapi ketika menikah perut nya kelihatan membesar. "Karna Sudah di akui ayah nya" Itu mitos yang bu Rasmi beri tau kepada ku.


Sekarang aku benar benar tidak bisa mencium bau parfume abang yang dulu itu sangat ku suka. Membayangkan nya saja aku menjadi pusing, apa kabar aku mencium nya.


Semenjak itu dia juga sudah tak pernah memakai parfume didepan ku. Dia tak ingin melihat ku tersiksa.


Begitu juga makan, aku selalu bersemangat ketika menyantap satu makanan, tetapi di sendokan keberapa, aku bisa saja memuntahkan habis semua yang ku telan tadi.


Yang paling aman ku makan hanya buah melon dan biskuit. Itu saja yang selama ini aman tentram masuk ke lambungku, tanpa aku merasa mual. Maka dari itu abang selalu stok di dapur. Jika sudah tak ada nasi yang bisa masuk, paling tidak aku bisa memakan dua itu. Begini rupanya rasanya hamil.


******


Siapa itu? Kenapa dia parkir menutup pintu rumah ku.


Baru saja aku ingin mengambil HP memberi tahu abang, ternyata abang sendiri yang turun dari dalam mobil itu. Aku terkejut bukan main.


"Bang?" Tanya ku ketika aku membuka pintu.


"Assalamualaikum..." Katanya sambil membawa ku masuk kedalam rumah.


"Mobil siapa bang?" Aku melanjutkan pertanyaan ku.


"Walaikumsalam?"


Oh iya, sangking penasaran nya aku sampai tidak menjawab salam nya.


"Walaikumsalam... Mobil siapa bang?"


"Sampai lupa balas salam nih sangking kepo nya." Ejek nya pada ku.


"Iya lah, El pikir tadi orang lain parkir sembarangan di depan rumah kita."


"Mobil laundry El. Gak mungkin punya abang." Ujar nya sambil melepaskan jaket dan sepatu nya.

__ADS_1


"Kok boleh di bawa pulang?" Tanya ku heran.


"Dibolehin bang Kiki. Kasian katanya abang jalan kaki mulu pergi ke sana."


Tunggu? Sepertinya aku salah dengar.


"Hah?" Aku memasang wajah kebingungan.


"Kenapa sayang?"


"Jalan kaki?"


Abang mengangguk.


"Abang jalan kaki turun kerja?" Tanya ku lagi meyakinkan.


"Iya? Kenapa?"


"Bukan nya selama ini naik ojol?"


"Hah? Abang gak pernah ngomong gitu."


"Jadi selama ini jalan kaki?!"


"Iya. Kenapa sih?"


"El selama ini pikir abang naik ojek tau abang."


"Ngapain naik ojek? Tempat nya dekat kok."


Aku datang duduk di samping nya dan mengusap rambut nya.


"Abang kenapa jalan kaki sih, kasian, kan jauh." Dia tertawa melihat ku panik.


"Gak jauh Elsiiii... Dekat kok. Abang pikir selama ini El tau."


"Gak tau! Makanya Elsi kaget. Selama ini El pikir pulang pergi abang naik ojek. Atau minimal angkot lah."


"Gak lah, kalau naik ojek udah pasti abang di jemput di depan rumah dong. Selama ini kan Elsi gak pernah liat ada ojek jemput abang. Tapi tenang, sekarang abang pulang pergi naik mobil antaran kok. Udah jangan sedih gitu dong." Dia berkata sambil mencubit pipi ku.


Tetap saja aku tidak percaya jika selama ini dia pulang pergi berjalan kaki. pantas saja setiap datang dia pasti berpeluh. Aku tak tau saja ternyata dia begitu. Aku menjadi kasian lagi kepada nya.


Lebih miris nya lagi, aku sebagai istri nya malah gak tau. Padahal sudah sebulan ini kami tinggal bersama. Elsi kamu payah sekali.


Memang tidak mudah menjadi istri yang benar, aku harus banyak banyak beajar di usia ku yang sangat muda ini. Jangan sampai hal hal remeh seperti tadi saja aku tidak tau.

__ADS_1


__ADS_2