Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
BENCANA DI MULAI


__ADS_3

ELSI


Aku terduduk lemas.


Kaki ku rasa nya sudah mati rasa. Aku terduduk di dingin nya lantai kamar mandi ku sendiri.


Dengan 8 tespek yang terjatuh dari tangan ku.


Otak ku membeku. Aku tidak bisa berpikir apa apa lagi. Apa yang bisa ku lakukan untuk membuktikan ini semua salah?


Aku sudah membeli 8 tespek baru, setelah aku mencoba yang pertama tadi. Dan sial nya, hasil nya tetap sama.


2 garis yang muncul itu tidak salah, bukan kesalahan produk. Tespek yang lain pun juga menunjukan garis yang sama.


Bahkan aku tak perlu menunggu waktu yang lama untuk hasil nya. Semua nya mengeluarkan dua garis dalam hitungan menit.


Apa ini?


Apa yang terjadi?


Hamil kah aku?


Benar kah?


Air mata ku keluar dari ujung mata ku. Aku meringkuk memeluk kaki ku sendiri. Aku merasa dingin dan ketakutan.


Ku ambil HP ku yang ku taruh di atas wastafel. Aku harus menghubungi Sharma! Ini semua pasti salah!


Tetapi ketika berbunyi nada panggil pertama kali, aku buru buru mematikan nya. Aku kembali takut dan kebingungan.


Gak! Belum saat nya aku memberi tahu siapa saja. Ini bisa saja salah Elsi! Ini pasti salah!


Aku beranjak dari duduk ku dan segera ke atas kasur dan membuka laptop ku yang tadi ku tinggal.


Aku mencoba mencari cari di internet, apakah bisa alat tespek itu salah. terlebih lagi di semua tespek yang aku coba.


Jawaban nya tidak seperti yang aku harap kan. Ada yang mengatakan jika sudah di coba di beberapa tespek hasil nya masih sama, kemungkinan itu memang hasil nya.


Tetapi ada juga 1 komentar yang mengatakan bahwa lebih akurat jika di periksakan ke dokter spesialis kandungan.


Aku mengacak ngacak rambut ku.


Yaaaa Tuhaaaan! Cobaan apa lagi ini?!!!! Tidak kah aku harus pulih terlebih dahulu dari masalah masalah yang sudah lewat?


Aku menangis sendu sambil menutup wajah ku dengan tangan, aku tak ingin mama atau Elmi atau siapapun itu mendengar nya.


Jika memang benar aku hamil, artinya anak ini adalah anak......


Aku tak sanggup memikirkan nya lebih jauh. Sungguh aku tak sanggup.

__ADS_1


Mengingat semua hubungan dingin yang terjadi antara aku dan bang Nanda.


Gak Elsi! Kamu gak boleh begini!


Aku harus memastikan ini benar benar salah! Harus!


Aku kembali lagi ke layar laptop ku dan mencari tempat dokter kandungan yang sekira nya aman untuk ku datangi.


Iya! Aku harus memastikan nya sendiri ke dokter. Bisa saja kan di kasus ku semua tespek itu salah? Bisa saja.... Apa yang tidak mungkin di dunia ini?


Aku menemukan klinik yang lumayan jauh dari sini dan yang sekira nya aku tak akan bertemu siapapun disana.


Urusan ijin, aku bisa alasan kalau aku ada tugas yang harus kukerjakan di sana. Mama pasti tidak akan banyak bertanya jika ini menyangkut urusan sekolah ku.


Pulang sekolah besok nya aku mampir di sebuah Pom bensin sebelum aku meneruskan perjalanan yang lumayan jauh.


Aku mengganti seluruh baju sekolah ku agar tidak ada yang tau bahwa aku masih anak sekolah.


Sesampai nya di klinik, kaki ku tak berhenti henti nya untuk bergetar. Seluruh ujung jari jari ku dingin. Aku gugup luar biasa.


Sesekali aku merapikan topi dan masker yang sudah ku gunakan. Aku tak mau bertemu atau di kenal siapapun di sini. Bisa fatal urusan nya.


Untung nya klinik ini lumayan sepi. Dan ada jam praktek sore nya. Karna di klinik lain biasa nya hanya ada di malam hari.


Nama ku tiba tiba terdengar dari speaker. Sudah saat nya aku masuk ke ruangan dokter.


Cukup lama aku berdiam diri di tempat duduk ku. Aku ragu untuk masuk ke dalam. Nyali ku tiba tiba saja menciut dengan sendiri nya.


Aku berdiri dan menarik nafas panjang. Dan berjalan dengan yakin memasuki ruangan nya.


Ini perasaan ku saja, atau ruangan ini sangat dingin. Luar biasa dingin. Aku sampai melingkarkan tangan ku untuk memeluk tubuh ku sendiri.


Di depan ku ada dua orang, satu sedang berdiri, dan satu nya laki laki paruh baya sedang duduk memakai jas putih.


Aku hanya diam terpaku di pintu.


"Ayo sini. Silahkan berbaring dan lepas dulu masker dan topi nya ya." Ucap dokter itu dan perawat wanita itu membantu ku untuk baring di atas ranjang pemeriksaan.


Tak henti henti nya aku menarik nafas panjang untuk membuang semua rasa gugup ku yang sangat menyiksa ini.


"Adik Elsi liya ya? Umur nya 16 tahun ya?" Dia berkata sambil menatap layar laptop nya. Seperti nya semua data yang ku serahkan ketika mendaftar kemarin ada di sana.


Aku hanya mengangguk tanpa berbicara satu kata pun.


"Permisi sebentar ya." Suster tadi mengangkat baju ku dan menyelipkan selembar tisu di celana ku. Dia juga menumpahkan cairan seperti gel di atas perut bawah ku. Dingin sekali rasanya.


"Kapan terakhir haid nya dek?" Dokter itu bertanya kepada ku.


"Em... Saya gak ingat dok." Aku menjawab nya dengan ragu. Karna aku memang tidak ingat.

__ADS_1


"Waduh, emang gak di catat?"


Aku menggeleng pelan. "Gak pernah dok..."


"Selama ini haid nya lancar gak? Apa sering telat seperti sekarang ini?"


"Gak pernah telat dok. Baru kali ini. Biasa lancar lancar saja gak ada masalah."


"Saya nanya to the point saja ya? Adek kapan terakhir berhubungan suami istri?"


Aku terperanjak mendengar pertanyaan nya. Aku tak menyangka jika akan di tanya pertanyaan seperti ini. Aku harus jawab apa? Harus jujur kah?


"Jawab jujur ya. Gak papa. Sama saya harus jawab jujur." Dia berkata seakan bisa membaca pikiran ku yang hendak berbohong.


Aku mencoba mengingat lagi kapan aku tidur sama bang Nanda di malam itu. Aku memutar mutar bola mata ku.


"Seperti nya...... 4 bulan yang lalu.... Gitu dok...." Jawab ku sangat pelan dan lirih. Bahkan hampir tidak terdengar.


"Oke. Permisi ya saya USG dulu." Dia menaruh alat USG itu di perut ku. Di putar putar nya ke kanan dan kiri, atas dan bawah. Sampai di sini jantung ku sudah sangat tidak karuan.


Dia serius sekali menatap layar USG nya. Sambil terus memutar mutar tuas itu di perut ku.


"Mau tau gak ini?"


Aku menggigit ujung kuku ku.


"Tapi saya rasa kamu juga sudah tau. Makanya kamu kesini untuk memastikan kan?" Dia bertanya lagi. Aku hanya terdiam menunggu penjelasan nya.


"Adek... Adek lagi hamil. Umur janin nya sudah 17 minggu. Yang arti nya kurang lebih sudah 4 bulan."


Aku terdiam. Bibir ku bergetar dan aku memegang ujung jari ku yang dingin.


Apa ini?


"Mau lihat? Ini dedek bayi, nya sudah sempurna bentuk tubuh nya. Itu kaki dan tangan nya."


Dia menunjukan layar yang sedari tadi di lihat nya di layar kecil berpindah ke layar tv yang besar di depan ku.


Hati ku seketika runtuh, Melihat layar hitam putih itu. Dan melihat bayangan putih itu yang dia sebut sebagai bayi ku.


Aku pusing dan keringat dingin. Aku sampai tidak bisa berkata apapun.


Sampai aku selesai dan keluar dari klinik tadi pun aku masih tak mengerti apa yang sudah terjadi.


Pikiran ku sangat kosong. Aku tidak tau harus berbuat apa lagi.


Mau membantah apa lagi kamu sekarang Elsi?


Tespek itu tidak pernah salah.

__ADS_1


Yang salah itu kamu yang menolak menerima kenyataan jika kamu sedang mengandung.


MENGANDUNG ANAK DESNANDA.


__ADS_2