
PURNA
"Bang nasi goreng satu, mie kuah satu yang bang." Aku memesan makan malam untuk aku berdua ibu dirumah.
Sebenar nya sore begini sih belum waktu nya kami berdua lapar. Tapi karna ibu kangen sama nasi goreng langganan kami ini, aku inisiatif untuk pergi sebelum magrib.
Karna jika kamu datang telat sedikit saja, kamu akan menunggu berjam jam. Memang selaris itu. Karna rasa nya yang enak dan harga nya yang terjangkau.
Porsi abang nya juga porsi "kuli". Sangat banyak pokok nya. Jika beli sebungkus sebenar nya bisa di pakai makan untuk dua orang. Cuma karna selera aku dan ibu berbeda, Ibu suka mie kuah, dan aku suka nasi goreng, jadi mau gak mau kami membeli nya masing masing.
Biasa nya nasi ini akan ku bagi menjadi dua, buat sarapan ke esokan hari nya.
"Lama nya ndak keliatan Empur, Aku pikir kamu sudah pindah rumah." Ucap abang Adi terkejut melihat ku datang. Iya, rasanya sudah lama sekali aku tak kesini.
Jika pada umum nya abang abang yang jual nasi goreng biasa nya orang jawa, berbeda sama dia. Dia asli Padang, tapi entah kenapa "Salah server" jualan nasi goreng.
"Iya bang akhir akhir ini ibu rajin masak. Jadi jarang beli di luar. Cuma hari ini sepertinya semangat masak nya kurang. Dan katanya kangen makan disini."
"Ibu sehat Pur?"
"Alhamdulillah sehat bang. Udah umur berapa si Mayang bang?"
Mayang anak semata wayang nya Bang adi. Seingat terakhir aku kesini, seperti nya Mayang masih umur 8 bulan.
"Udah setahun 4 bulan Pur. Gede udah. Tapi ini ndak ikut kesini. Sama mama nya dirumah. Lagi aktif soal nya. Susah di jaga."
"Wah lama juga ya bang saya gak ada kesini."
"Lah iya, makanya aku pikir kamu pindah Pur."
"Hehehe... Gak lah bang, Mau pindah kemana juga saya, rumah saya kan cuma satu hehehe."
"Iya siapa tau kamu cari rumah yang besar lagi kan..."
"Capek bersihin nya bang. Berdua doang."
"Loh Mbak yang dulu kerja udah gak lagi?"
"Udah lama gak bang. Mau nikah dia, jadi pulang kampung ikut suami nya."
"Oalaaah makanya ku bilang lama gak liat dia juga. Dulu kan dia yang sering disuruh beli kesini."
Bang Adi memberikan sekantong plastik pesanan ku. Benar kan? jika kamu datang pada saat dia baru buka, Pasti bakal cepat selesai nya.
Setelah berpamit dengan nya aku segera pulang kerumah. Aku tak ingin senja senja di jalan.
Sampai nya di teras aku baru membuka HP ku, ada pesan dari ibu rupanya. Katanya ada Elsi dirumah dan aku di suruh membeli satu porsi tambahan.
Benar saja, ku lihat ada sepatu Elsi di depan pintu.
Ada apa ini? Tumben sore sore kesini.
Aku masuk rumah, ku lihat Elsi lagi bermain dengan HP nya.
"El, Tumben lo." Tegur ku.
"Sorry Pur gue dadakan kesini. Elo beli nasi goreng andalan ya?" Tanya nya. Ibu pasti sudah cerita aku tadi kemana.
"Iya nih, Ibu lagi kepengen. Tapi tadi gue telat baca pesan ibu kalo elo datang, Jadi gue gak pesen buat elo."
__ADS_1
"Ih santai, gue kesini bukan minta makan kaya biasa nya kok hehehe..."
Aku meperhatikan wajah nya? Aneh sekali. Dia bisa tertawa tawa tapi wajah nya berkata lain. Dia pun memakai kaca mata hari ini.
"Sakit mata lo?" Tanya ku melihat matanya sedikit bengkak.
"Enggak. Mendingan lo bawa ke dapur dulu makanan nya. Gue tunggu disini."
"Udah ikut aja ke kamar langsung." Ucap ku.
"Sepupu elo yang dulu itu masih kerja di pegadaian ya Empur?" Tanya nya ketika kami sudah sampai di kamar ku.
"Si Dian? Iya kayanya masih sih. Kenapa lo?"
"Gue.... Butuh bantuan dia Pur. Gue mau ini...." Dia mengeluarkan kotak besar dari tas ransel nya.
"Gue mau gadai laptop gue."
Aku kaget, Kenapa lagi ini?
"Hah? Buat apaan?"
"Gue... Lagi butung uang Pur."
"Iya gue tau, Tapi buat apaan Elsiiiii?"
Dia hanya terdiam tidak menjawab ku.
"Jangan bilang lo mau bayar hutang?"
"Gak Pur..."
"Gak mungkin lah..." Jawab nya.
"Terus buat apaan?"
"Gue lagi butuh aja pokok nya."
"Buat apaan?"
"Adalah buat sesuatu..."
"Buat apa?" Nada ku sekarang berubah.
Dia masih terus memainkan jari jemari nya.
"El...." Panggil ku lagi.
"Gue gak tau harus mulai dari mana...." Jawab nya. Aku mengerut kan dahi ku. Aku tak mengerti.
Dia mengeluarkan sesuatu lagi dari tas nya. Sebungkus plastik hitam. Dia memberikan nya kepada ku.
Ketika aku ingin menyambut nya dia kembali menarik nya lagi.
"Tapi..... Gue... Elo janji ya bakal bantuin gue? Dan jangan berbuat apapun selain apa yang gue suruh?"
"Udah cepetan apaan?!"Aku mulai tak sabar.
"Janji dulu?"
__ADS_1
"Cepetaaaan..."
"Janji dulu Pur..."
"Iya iya! Gue janji."
Aku membuka plastik itu. Aku bingung melihat isi nya. Lama sekali aku mencerna apa yang ku lihat sekarang.
"El?" Aku betanya sambil mengangkat Satu kertas foto. Foto yang tak biasa. Bukan seperti foto foto pada umum nya.
Elsi tertunduk sambil mulai terisak.
Aku terdiam lagi.
"Apa maksud nya ini?" Aku bertanya pada nya.
Bukan, bukan karna aku tidak mengerti. Tapi aku harus mendengar pengakuan langsung dari mulut nya.
"El!" Tak sadar aku sedikit berteriak. Dia masih terus menangis. Jujur saja aku mulai panik.
Khawatir ibu diluar akan mendengar nya, aku mencoba tenang kan diri.
Aku berdiri dari duduk ku dan menghampiri nya.
"El.... Please..." Aku memohon dia untuk menjelaskan nya kepada ku. Dia hanya mengangguk di dalam tangisan nya.
"Sejak kapan El?"
"Gue... Gue juga... Baru tau..."
Ya Tuhan... Cobaan apa lagi ini. Kaki ku melemas...
"Gue... Gue gak bisa membantah lagi.... Gue udah kedokter Pur..." Dia berkata di balik isakan nya. Sontak aku segera memeluk nya.
"Nanda?" Tanya ku lagi.
Dia menggeleng.
"Gue... Gue gak mau dia tau..." Aku melepaskan pelukan ku.
"Mana bisa begitu."
"Gue gak mau ini jadi besar Pur... Gue mau selesai kan sendiri."
"Gimana cara lo nyelesai kan nya Elsi?"
"Bantu gue buat gadai ini laptop. Gue... Mau segera.... Gugurin... Gue gak mau ini semakin besar..."
Aku hanya terdiam seperti kehilangan kesadaran. Aku harus apa sekarang? Ini gak semudah yang ada di pikiran nya.
Yang bisa ku lakukan hanya beranjak pergi mengambil HP ku di atas meja.
"Gue panggil Sharma dulu kesini. Elo sama dia dulu."
"Elo mau ke mana Pur?"
"Gue mau pergi sebentar. Elo tunggu dia."
Kata ku sambil keluar dari kamar.
__ADS_1