Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
BERITA MENGEJUTKAN MALAM ITU


__ADS_3

NANDA


Aku baru saja sehabis Shalat dan bersiap untuk turun kebawah. Hendak makan malam bersama keluarga ku.


Ibu ku hari ini berpesan jika dia akan bikin ikan bakar, dan aku di larang untuk beli makanan diluar atau pesan online.


Lumayan lama kami menghabiskan waktu bersama. Berbicara tentang kepergian kak Nurul yang baru saja menikah dan ikut suami nya untuk tinggal di luar kota.


Terjadilah aku adalah anak satu satu nya dirumah ini. Sebenar nya Nurul sudah jarang balik kerumah, karna dia kerja di luar kota. Mungkin sebulan hanya dua kali pulang. Itu juga jika ada hari libur yang lumayan panjang.


Dan di kota itu lah dia bertemu dengan suami nya. Kami baru saja mengadakan pesta pernikahan yang sederhana saja di sini. Nurul dan suami nya sepakat untuk tidak bermegah megahan, walaupun kalau itu urusan dana, sebenar nya bisa bisa saja.


Tapi mereka lebih memilih untuk syukuran kecil kecilan saja sehabis akad, dan dana nya di simpan untuk kehidupan baru nya nanti.


Maka dari itu setelah menikah, mereka sudah bisa beli rumah sendiri.


Seperti yang sudah ku bilang, kami memang terlahir dari keluarga sederhana saja.


Aku kembali kekamar ku setelah 1 jam lebih kami, Aku, Ayah dan ibu, berbincang bincang sehabis makan tadi.


Aku merebah kan diri di kasur dan hendak menyalakan TV di kamar ku. Tapi ternyata ada suara getar dari HP ku.


Rupanya sedari tadi HP ini ku Silent.


Aku mengambil nya. Aku tertegun.


Purna menelpon ku.


Untuk apa? Tumben sekali?


Tanpa pikir panjang aku langsung mengangkat nya.


"Halo Pur?"


"Halo Nan. Sorry gue malam malam ganggu."


"Gak papa santai Pur. Ada apa nih?"


"Lo ada waktu gak malam ini? Gue mau ngomongin sesuatu?"


Aku terdiam.


Kenapa? Ada apakah malam malam begini, untuk pertama kali nya dia mengajak ku bertemu?


Soal apakah?


"Em... Gak ada sih. Mau ketemu dimana?"


"Dimana aja yang lo bisa. Gue bakal nyamperin elo."


"Hem... Gini deh, elo yang tentuin tempat. Chat aja gue, gue siap siap sekarang. Entar gue kesana. Sekarang kan ya?"


"Iya sekarang. Oke deh, entar gue Whatsapp lo ya. Bye." Dia menutup telpon nya.


Ada apa ini? Seperti nya serius sekali? kenapa tiba tiba malam begini dia mengajak bertemu? Padahal bisa saja kan besok bertemu di sekolah?


Tapi aku tak ingin membuang waktu, aku segera bersiap siap dan pergi dari rumah.


Aku berjalan setengah berlari ke tempat yang di tuju Purna. Ketika sampai, aku melihat nya sudah duduk di luar Cafe tempat kami janjian dan sedang menghembuskan sebatang rokok.


"Sorry sorry. Udah lama ya?" Tanya ku sambil menarik, dan duduk di kursi yang berada di depan nya.


Nafas ku terengah engah.


"Lo mau minum apa Nan? Biar gue pesen kedalam."


"Gak usah, Gue masih kenyang sih baru aja makan tadi. Entar kalo gue minum yang manis manis malah jadi begah."


Dia kembali duduk lagi ke kursi nya mendengar aku tak ingin pesan apa apa.


"Kenapa nih? Tumben lo ajak gue ketemu?" Aku langsung saja bertanya padanya. Karna jujur saja aku penasaran sekali.


"Hm...." Dia bergumam sambil mematikan rokok nya.


"Gue.... Gue mau cerita soal Elsi Nan..." Dia melanjutkan kalimat nya.


Sebenar nya sudah ku duga dia akan membahas Elsi. Karna kami kenal juga karna Elsi.


Tapi kenapa Elsi?


"Gimana gimana? Kabar nya gimana? Dia sehat?"


"Dia... Sehat Nan... Tapi mungkin mental nya yang lagi gak sehat."


"Maksud nya?" Aku kebingungan.


"Gue to the point aja ya... Ini...."


Dia berkata sambil menyerahkan selembar kertas kepada ku di atas meja. Aku menyambut nya dan mengerutkan dahi ku kebingungan.


Lalu aku sadar yang sedang ku pegang itu adalah foto USG seseorang. Kalo aku tidak salah.


Aku menatap Purna meminta jawaban, Jujur saja aku bingung. Purna membalas tatapan ku dan mengambil nafas panjang.


"Itu punya Elsi."


Aku terpaku dengan jawaban nya. Punya Elsi? Hasil USG?


"Elsi hamil. Anak elo." Dia berkata lagi.


Yang seketika menjadi sambaran petir di telinga dan kepala ku. Lagi lagi aku hanya terdiam membeku. Menatap lagi kertas itu yang ada di tangan ku.


"Kalo elo gak percaya, silahka baca keterangan di samping gambar itu. Ada nama Elsi."

__ADS_1


Aku melihat nya. Ada nama Elsi dan usia nya. Yang jelas jelas ini pasti punya dia.


"Se.... Sekarang Elsi dimana?" Aku bertanya padanya. Suara ku sudah tidak karuan karna hati dan pikiran ku sangat kacau.


"Dia... Ada dirumah gue. Gue juga baru tau tadi sore. Dia datangin gue buat nemenin dia gadai laptop nya. Waktu gue tanya buat apa, awal nya dia gak mau mengaku. Setelah gue paksa baru gue tau ternyata dia hamil. Gue sama kacau nya kaya elo Nan, waktu pertama kali dengar berita ini. Bahkan sampai sekarang..."


Aku masih membeku mendengar penjelasan nya.


"Dan sebenar nya dia gak mau elo tau. Dia larang gue buat cerita ke elo. Tapi gak bisa. Ini salah menurut gue. Bagaimana pun elo harus tau dan elo harus tanggung jawab."


"Gue... Masih gak percaya Pur. Gue nge-blank. Jujur gue Syok banget."


"Gue juga merasakan hal yang sama. Semua yang dengar berita ini pasti syok."


"Gue bakal datangin dia sekarang." Ucap ku.


"Sepertinya bukan ide bagus. Menurut gue, besok aja lo ketemu sama dia. Kalau malam ini situasi nya gak kondusif."


Purna berdiri dari duduk nya.


"Gue cuma mau kasih tau itu ke elo. Gue harap elo jadi laki laki yang gentle. Gue mau balik duluan."


Dia pergi meninggal kan ku yang masih terbengong. Pikiran ku sungguh kosong saat ini.


"Dan satu lagi...." Purna menoleh lagi kebelakang.


"Kalo pun elo ternyata pengecut dan lari dari masalah ini, Gue yang bakal tanggung jawab buat datangin orang tua Elsi."


Dia berkata untuk terakhir kali nya dan pergi meninggal kan ku. Di tangan ku, aku masih menggenggam erat kertas hitam putih itu.


******


Aku berjalan seperti kehilangan arah. Aku tak mengerti lagi harus apa sekarang. Apa yang harus ku perbuat?


Aku masih memegang kertas itu di balik saku jaket ku. Berkali kali aku menatap layar HP ku. Ingin sekali aku bertemu dengan nya malam ini.


Tapi aku selalu ingat apa yang sudah di sampaikan Purna tadi. Jika malam ini waktu nya tidak tepat. Dan aku harus menunggu sampai besok.


Dan benar saja, Semalaman ini aku tidak memejamkan mata ku sedetik pun. Pikiran ku terus berjalan dan mata ku segar. Aku tidak merasa mengantuk sama sekali.


Yang ada di otak ku hanya Elsi, Elsi, dan Elsi. Dan...... Kenapa ini bisa terjadi?


Bodoh rasanya jika aku bertanya kenapa ini bisa terjadi.


Ya sangat bisa lah. Kamu sudah tidur dengan nya Nanda. Kamu jangan tolol.


Aku memukul kepala ku sendiri. Bodoh sekali. Kenapa kamu jago di segala bidang, tapi bodoh sekali untuk urusan begini Nanda?


Aku teringat lagi, jika pertemuan ku dengan nya nanti adalah pertemuan pertama kami setelah dia marah besar padaku di kantin pada waktu itu.


Masih mau kah dia bertemu dengan ku?


Apa respon nya nanti jika dia melihat ku, dan tau aku mengetahui berita ini?


Aku mengambil lagi kertas yang di berikan Purna tadi malam. Aku menatap nya lagi.


17 weeks.


Itu yang tertulis di ujung kertas ini. Sudah 17 minggu. Umur bayi itu.


Yang ternyata, ini anak ku.


Aku sudah punya anak....


Aku merebah kan diri lagi sambil mengacak ngacak rambut ku. Aku frustasi sekali rasanya.


Bangkit Nanda! Kamu tidak bisa terus terusan galau seperti ini. Tunjukan kamu laki laki yang bertanggung jawab. Temui Elsi hari ini, apapun reaksi dia, hadapi saja.


"Dia gak masuk." Purna berkata pada ku ketika aku mendatangi kelas nya.


"Elo coba aja kerumah nya. Hubungin dia." Lanjut nya lagi.


"Tadi malam dia gimana?"


"Dia masih gak tau kalau tadi malam gue datangin elo Nan."


"Tapi gue di blokir sama dia." Aku teringat jika semenjak kejadian itu aku gak pernah bisa menghubungi nya lagi.


"Entar gue coba hubungin dia pakai nomor baru aja. Thanks Pur." Aku ijin pamit dari hadapan nya.


Tapi gak bisa! Aku gak tahan harus menunggu pulang sekolah. Aku harus segera bertemu dia. Aku akan ijin hari ini.


Sampai dirumah nya pun aku hanya terdiam dari kejauhan. Marah kah dia jika aku tiba tiba datang seperti ini.


Aku sudah siap menghubungi nya dengan nomor baru yang sudah ku beli tadi.


Kurasa sudah 1 jam aku hanya menatap rumah nya dari jauh. Aku galau sekali ingin kesana langsung atau aku harus menelpon nya terlebih dahulu.


Tapi seperti nya aku harus menelpon nya. Aku berjalan mendekati rumah nya. Ku lihat keadaan rumah yang sepi. Pasti dia sekarang hanya berdua dengan adik nya saja.


Aku bersiap siap untuk menghubungi nya. Memberi tahu bahwa aku ada di depan rumah.


Tetapi aku melihat pintu terbuka. Seseorang keluar dengan sekantong plastik besar di tangan nya.


Orang itu Elsi. Aku diam terpaku melihat nya berjalan menuju pagar.


Dan dia melihat ku. Dia menghentikan langkah nya. Kami sama sama terdiam dalam keheningan. Tak berbuat apapun, tak berbicara apapun.


Dalam keheningan yang lumayan lama, aku mencoba berbicara.


"El... Apa kabar?"


Elsi tetap terdiam. Dia mulai salah tingkah dan berjalan ke luar pagar. Dia membuang sampah yang sedari tadi dia bawa.

__ADS_1


Lalu dia berbalik arah kepada ku. Berjalan mendekati ku.


"Ngapain ke sini Bang?" Dia bertanya padaku. Wajah nya sendu. Dan pucat. Tidak segar seperti biasa nya.


"Itu..... Abang mau... bicara sama El... Jika El berkenan...."


Dia merapikan rambut nya yang sedari tadi tertiup angin.


"Mau bicara apa?" Dia berbicara lagi tanpa menatap ku. Baru aku hendak membuka mulut ku, dia segera memotong ku.


"El rasa udah gak ada yang perlu di bicarakan bang. Mending sekarang abang pulang."


Dia pergi meninggal kan ku dan masuk ke dalam pagar nya.


"El!" Panggil ku lagi. Dia tetap berjalan membelakangi ku. Aku mencoba memanggil sekali lagi, dia tetap tidak menghiraukan ku.


"El! Abang sudah tau semua nya!" Aku berteriak lagi. Dia sontak menghentikan langkah nya.


Perlahan dia membalik kan tubuh nya kepadaku.


Aku mengeluarkan Kertas tadi malam dari saku celana ku. Dan menunjukan itu kepadanya.


Wajah nya berubah kaget. Matanya mulai berkaca kaca. Aku memasukan lagi kertas itu ke saku ku.


"Please El... Ayo kita bicara... Kita jangan seperti ini." Rasanya hampir tumpah juga air mata ku. Aku merasa bersalah sekali pada nya. Melihat keadaan nya sekarang membuat hati ku sangat sakit.


Tapi aku berusaha sekuat mungkin di depan El. Aku gak mau dia berpikir aku tidak bisa di andalkan.


"Tunggu sebentar." Ucap nya sambil pergi meninggalkan ku kedalam rumah.


Kami sedang duduk di bangku taman di dekat rumah nya. Lagi lagi lama kami terpaku terdiam antara satu dengan yang lain.


Aku harus memulai pembicaraan ini.


"Sejak kapan El tau?" Aku mencoba membuka omongan.


Pandangan nya hanya kosong menatap kedepan.


"Baru aja..." Dia menjawab singkat.


"Kenapa El gak kasih tau abang?"


"Buat apa?" Dia masih sangat dingin pada ku.


"Bagaimana pun kan abang harus tau El...."


"Gak harus."


Aku menarik nafas panjang.


"El...." Aku duduk mengadap pada nya.


"Abang bakal tanggung jawab..." Dia hanya diam mendengar perkataan ku. Sambil terus menatap kosong kedepan.


"Tapi El gak minta." Jawab nya lagi.


"Tapi abang harus El."


"Kapan abang bisa ngomong sama mama?" Lanjut ku lagi.


Dia menoleh ke arah ku. Raut wajah nya berubah seketika. Seperti orang yang menahan emosi.


"Buat apa datangin mama?" Nada bicara nya pun meninggi.


Salah kah aku?


"Ya buat tanggung jawab El."


"Dalam bentuk apa? Nikahin El? Abang pikir semudah itu? Gak mikir masa depan ku? Rusak karna ini semua?!" Dia membentak ku dan menangis sesegukan.


"Jangan pernah bertingkah macam macam ya. Jangan pernah berpikir itu akan terjadi." Lanjut nya lagi. Aku terdiam seribu bahasa. Jujur aku syok dengan respon nya.


"Tapi El... Ijin kan abang bertanggung jawab dengan semua nya. El jangan tanggung beban sendiri begini."


Dia diam lagi, berpikir dengan waktu yang lama.


Dia mengusap air mata nya.


"Siap kan uang." Dia berkata pada ku.


"Gimana?" Aku bertanya tidak mengerti.


"Siapin uang, El bakal cari tempat nya."


"Tempat apa El?" Aku masing bingung.


"Jangan pura pura bodoh deh. Kamu mau anak ini lahir bang? Gak kan?"


Aku terkejut. Baru ku sadar yang di maksud Elsi ini adalah uang untuk aborsi. Kaki ku melemas lagi membayangkan nya.


"El.... Gak mesti begini..."


"Terus mau bagaimana?"


"Abang gak mau ada apa apa sama El. Resiko nya besar El."


"Ini tubuh ku. Ini urusan ku. Hak ku untuk melahirkan atau tidak bang." Dia berkata sambil berdiri dari duduk nya.


"Tugas abang hanya cari uang sebanyak yang di perlukan nanti. Urusan tempat biar aku yang urus."


"El...." Aku memohon kepada nya. Tapi sepertinya dia mendengar kan ku.


"Katanya mau tanggung jawab?" Dia bertanya lagi pada ku. Aku hanya tertunduk tidak bisa melawan apa apa lagi.

__ADS_1


"Siap kan semua nya ketika El minta. Sekarang El mau pulang."


Dia pergi meninggalkan ku sendiri di taman. Yang ku pikir setelah bertemu dengan nya, aku mendapat setidak nya pencerahan, tapi ternyata hanya membuat aku semakin sakit.


__ADS_2