
NANDA
Elsi datang dari balik dapur membawakan aku segelas air dingin. Aku baru saja selesai mandi setelah beres beres rumah. Om Leo sudah pulang dari tadi. Dia menyuruh kami untuk segera beristirahat.
Dia memang tau tubuh ku remuk sekali. Bagaimana tidak remuk, aku sama sekali tidak ada istirahat secara tenang. Tidur pulas pun aku lupa kapan itu terjadi terakhir kali.
Seperti nya semenjak aku tau Elsi hamil, tidur ku tak lagi nyaman. Wajar saja, karna hidup ku benar benar berubah.
Tapi aku senang, satu lagi PR ku selesai. Aku akhirnya pindah dirumah sendiri. Walaupun begitu memaksa nya om Leo menyuruh ku tinggal saja bersama nya, aku dan Elsi sangat tidak ingin merepot kan lebih lama lagi. Rumah ini saja sudah dia bayarkan sewa nya selama 6 bulan kedepan.
Karna begitu sibuk nya aku menata kembali hidup baru ku, aku sampai tak ada waktu untuk bersedih. Sejenak aku baru ingat dengan orang rumah. Orang rumah yang sudah ku tinggalkan.
Apa yang sedang mereka perbuat sekarang?
Ingin rasa nya aku menghubungi mereka, tapi hati ku masih tak sanggup. Mental ku masih tak sanggup untuk menghadapi respon mereka.
Karna tidak semua respon akan baik baik saja seperti pertama kali aku mengaku ke papa nya Elsi.
Padahal di hari itu aku sudah menyiapkan mental ku untuk di caci maki nya. Aku sudah pasrah dengan apa yang sudah terjadi nanti nya. Pikiran ku hanya satu, aku hanya ingin restu nya untuk menikahi putri nya.
Tapi ternyata aku salah, yang ku pikir aku akan di marahi habis habisan, di caci maki, ternyata itu semua salah.
Papa ternyata sudah menunggu ku untuk menghubungi nya. Aku dan Elsi. Beliau sudah menunggu kami berdua untuk menghubungi nya.
Ratusan permohonan maaf ku lontarkan saat itu. Beliau dengan sabar dan hati yang lapang memaafkan ku. Dia bilang yang kami lakukan tidak 100% salah kami berdua.
Beliau berkata apa yang sudah terjadi biarkan lah terjadi. Dia tetap merangkul dan membimbing kami.
Aku sangat terkejut dengan respon nya. Jauh dari pada ekspetasi ku. Bahkan aku tak tau apakah orang tua ku melakukan hal yang sama ketika suatu saat aku mendatangi mereka kelak.
"Minum dulu bang." Elsi menyerahkan gelas yang di bawa nya tadi kepadaku. Aku menyambut nya dengan senang.
"Terima kasih ya." Kata ku sambil meneguk habis semua air nya.
"Setelah ini, yang abang lakukan adalah mencari kerja. Kemungkinan besok besok Elsi lebih banyak sendiri di rumah. Gak papa kan?"
"Gak perlu buru buru abang. Kalau masih lelah, istirahat lah dulu. Tabungan kan masih ada."
"Gak papa El, abang malah gak tenang kalau berdiam diri aja dirumah. Nanti abang malah lalai."
Elsi mengambil gelas itu dari tangan ku, dan duduk di samping ku.
"Emang abang udah tau mau ngelamar kemana? Kalau dengan posisi abang sekarang, kerjaan apa sih yang bisa abang dapetin?" Tanya nya.
"Yang jelas kerjaan yang gak pake ijazah. Entah lah entar dapat kerja apa, abang sudah bilang om Leo, apa aja abang bakal kerjakan. Ibarat nya nih, jadi kuli bangunan pun abang jabanin. Pokok nya apa aja lah, karna abang tau, susah mencari kerjaan apa lagi dengan kondisi abang yang sekarang."
"Abang gak papa? Abang bisa?"
"Bisa sih pasti bisa asal kita mau belajar El. Jangan remehin abang dong. Hehehe..."
"Gak remehin abang, El yakin kok abang orang nya cepat belajar. Cuma kasian aja abang nya."
"Kenapa kasian? Itu kan kewajiban abang cari nafkah buat kita berdua. Bertiga deh." Ucap ku sambil memegang perut nya. Sekarang terlihat lebih buncit dari biasa nya.
"Oh iya, El kapan mau periksa kandungan?" Tawar ku padanya. Mengingat kami belum sama sekali mengecek kandungan Elsi.
"Hmm... Entar aja deh, abang selesai kan urusan abang aja dulu. Santai aja bang. Take your time."
"Kalau gitu entar abang cariin vitamin sama susu ya buat El. Elsi bisa minum susu kan?"
"Bisa aja sih. Vitamin gak usah lah, kan ada vitamin yang abang kasih."
Aku terheran dengan perkataan nya. Vitamin? Aku yang kasih?
"Vitamin apa?"
"Yang abang kasih."
"Hah? Kapan?"
"Nah lupa dia. Kan abang ada kasih El dulu vitamin hamil waktu kita masih di sekolah."
Aku terdiam mencoba mengingat nya lagi.
__ADS_1
"Oh yang itu. Loh bukan nya Elsi udah buang? Kan waktu itu El gak mau minum."
"Emang waktu itu El gak mau minum, tapi kan bukan berarti El buang bang. Masih El simpan kok. El udah minum itu dari kemarin kemarin."
"Oh begitu. Syukur lah."
Aku tak sangka juga ternyata dia masih mau mendengar ku.
"Tapi apa yang El rasain sekarang? Ada mual mual gak? Kaya orang hamil pada umum nya. Abang mau nanya ini dari kemarin kemarin kelupaan terus."
"Gak ada, Alhamdulillah aman aja bang. Elsi gak ngerasain apa apa selain cepat lelah aja."
"Oh bagus lah, ya maka nya Elsi gak usah capek capek. Istirahat aja pokok nya ya. Urusan rumah biar abang yang kerjain."
"Jangan lah, sama sama kita kerjain nya bang. Sudah tugas Elsi kok sebagai istri. Ceileh, istri gak tu sebutan nya. Hihihi." Dia terkikik geli sendiri. Aku tertawa juga melihat nya.
"Ya ampun iya ya, udah jadi suami istri aja kita berdua. Perasaan baru aja kenal."
"Abang yang baru kenal Elsi. Kalo El sudah lama kenal abang."
"Ah masa?" Tanya ku tak percaya.
"Lah iya, Hm mungkin Elsi gak pernah cerita jujur ke abang."
"Apaan?"
"Tapi janji jangan Ge er ya?"
"Iya iya. Kenapa sih?"
"Jadi.... El itu... Ah males ah entar abang besar kepala."
"Ih apaan sih belum juga cerita."
"Iya tapi janji dulu ah!"
"Iya iya abang janji, apaan?"
"Jadi El itu udah lama naksir abang."
"Jadi El itu naksir abang udah lama banget. Awal mula nya waktu Elsi salah naik ojol. Yang ternyata itu ojol nya abang."
"Sebentar sebentar..." Kata ku sambil mencoba mengingat ingat.
"Oh iya! Abang ingat! Oh iya itu Elsi ya yang dulu salah naik ojol. Terus habis itu Elsi bawa helm ojol nya pergi." Dia mengangguk sambil tersenyum kecut.
"Naksir gara gara sudah ngerebut ojek nya abang?"
"Gak lah! Itu malu banget loh. Sumpah deh. Ya pokok nya gara gara abang wangi."
"Hah?" Tanya ku heran.
"Ya abang tu sadar gak sih abang tu kaya orang ketumpahan parfume. Dari jarak 1 meter aja sudah bisa cium wangi nya abang."
"Perasaan abang gak make parfume banyak banyak amat."
"Gak mungkin. Pasti banyak kalau wangi nya itu semerbak kaya begitu. Coba, gimana cara abang pake parfume biasa nya selama ini?"
"Hm... Gimana ya? Kaya biasa aja lah, pake sebelum mandi. Di badan. Terus habis pake baju, baju nya di semprot lagi. Terus biasa nya kalo baru sampe sekolah abang semprot semprot lagi dikit, sama kalo mau pulang sekolah abang semprot juga. Kaya orang biasa lah gak ada yang beda."
Mendengar penjelas ku wajah Elsi berubah menjadi datar.
"Oiya pantes." Kata nya singkat.
"Loh bukan nya semua orang begitu?"
"Ya semua orang yang kaya abang lah, tapi gak orang biasa kaya aku."
"Loh emang Elsi gimana pake parfume nya? Gak begitu?"
"Gak, Elsi cuma pake sebelum berangkat sekolah."
"Ya mungkin parfume El yang mahal kali, Kalau abang kan gak El, parfume abang cuma parfume minimarket biasa. Kalau gak sering sering di semprot, ya hilang ke bakar matahari."
__ADS_1
"Ih gak begitu ya. Ya inti nya pantes aja abang wangi, bener kan kata El, ketumpahan parfume."
"Tapi ini lagi gak pake nih. Karna dirumah doang."
"Masih wangi kok, wangi sabun mandi nya."
"Jadi naksir gara gara wangi?"
"Ya bukan cuma karna itu."
"Karna apa lagi? Kasih tau dong abang kepo?" Kata ku sambil memasang wajah menggoda nya.
"Ah males! Mulai kan kepedean."
"Loh enggak, abang cuma pengen tau aja. Waktu itu kan El juga tiba tiba muncul tu di hadapan nya abang, waktu abang main basket. Tiba tiba ngasih air minum. Eh tapi sumpah ya abang liat Elsi pertama kali itu bingung banget, kenapa ni anak, tiba tiba datang, gak ngomong apa apa, muka nya jutek habis, terus kasih air minum. Sampai abang pikir, aku ada buat salah apa ya? Apa aku mau di racun."
"Bisa bisa nya?! Orang kasih air minum kok malah mikir mau diracun?" Ucap nya sewot mendengar pengakuan ku.
"Ya habis kalau El jadi abang terus liat ekspresi Elsi pasti bakal bertanya tanya seperti abang juga."
"Emang jutek banget ya?"
"Iya El, kaya orang sewot. Sampai abang pikir abang ada bikin salah apa ini."
"Elsi itu emang serandom itu bang, jujur habis melakukan nya Elsi baru sadar dan maki maki diri sendiri. Kenapa bisa se impulsif itu. Serandom itu. Sama hal nya waktu kejadian malam pertama kita itu."
"Maksud nya?"
"Iya waktu Elsi cium abang pertama kali."
Wajah ku memanas ketika dia mengingat kan ku kejadian malam itu. Dia sontak menutup mulut nya lagi.
"Nah kan begitu lagi." Dia terlihat salah tingkah.
"Tapi ya mungkin kalau bukan karna Elsi begitu, kita gak akan sampai seperti sekarang ini." Dia melanjutkan kalimat nya.
"Gak lah. Kan salah abang juga kenapa gayung bersambut."
"Kenapa di sambut?"
"Ya karna mau."
"Kenapa mau? Kan baru kenal?"
"Ya gak tau Elsi, emang abang bisa kontrol perasaan abang?"
"Arti nya waktu itu abang udah suka sama El?"
"Udah. Dari waktu El kasih botol beracun kaya nya abang sudah suka." Kata ku sambil tersenyum.
"Beneran minta di racun kaya nya."
"Eh?!"
"Ya makanyaaa...."
"Hehehe, maaf maaf, suka aja jahilin kamu."
"Giliran di jahilin balik jiper." Kata nya sambil menyandarkan tubuh nya ke dada ku. Sontak aku terkejut.
"Nah kan jiper." Dia mengejek ku lagi.
"Gak ah biasa aja." Aku mencoba mengontrol detak jantung ku. Entah kenapa setelah menikah sentuhan sentuhan ini membuat ku, iya, jiper.
"Kalau begini?" Dia berkata sambil memeluk ku erat. Aku terdiam tidak menjawab. Mencoba untuk tidak terpancing. Melihat ku sok cool, dia kembali menjahili ku.
"Kalau begini?" Dia mendekat kan wajah nya kepada ku.
"Gak." Jawab ku singkat.
"Begini?" Dia mendekat kan lagi wajah nya. Lebih dekat dari yang tadi. Bahkan hidung kami sudah bersentuhan. Aku mulai keringat dingin.
"Jiper?" Tanya nya lagi. Aku menjauhkan wajah ku. Dia tertawa puas. Melepaskan pelukan nya dan berdiri meninggal kan ku.
__ADS_1
"Ada lagi suami takut di sentuh sama istri nya..." Kata nya mengejek sambil keluar dari kamar.
Jika tau saja apa yang aku rasakan selama ini selama aku tinggal bersama nya. Betapa susah nya aku mengontrol pikiran sehat ku.