
ELSI
Pagi ini begitu cerah. Berbeda dengan hari hari sebelum nya yang kelabu. Aku lupa kapan matahari bersinar cerah di pagi hari, karna selama sebulan penuh ini hari hari ku hanya turun hujan.
Kalau pun matahari muncul, itu pun tak lama di selimuti awan gelap lagi.
Empat bulan berlalu semenjak kejadian besar di kantin itu. Aku dan Bang Nanda sudah tak pernah bertegur sapa lagi.
Sebulan setelah kejadian, bang Nanda masih sering menatap ku dari kejauhan. Aku bisa menyadari nya.
Tapi dia gak berani mendatangi ku. Karna jika aku melihat nya, aku pasti akan berusaha lari menghindari nya sejauh mungkin.
Tapi akhir akhir ini. Dia bahkan sudah tak perduli dengan ku. Bahkan jika kami berdekatan, dia mengalihkan pandangan nya dari ku. Aku pun tak perlu repot repot untuk menghindari nya lagi.
Keadaan benar benar kembali seperti jaman dahulu ketika aku dan dia tidak saling mengenal.
Tapi bukan salah nya, aku yang meminta ini semua terjadi. Aku yang ingin kami untuk tidak saling mengenal. Melupakan apa yang sudah terjadi.
Seperti saat ini, di depan kelas dia berdiri sedang mengumumkan sesuatu. Sikap nya biasa saja. Tak ada senyum yang biasa nya ku lihat. Senyum manis nya itu.
Ketika dia berjalan membagikan sesuatu ke arah meja aku, yang aku bisa lakukan hanya terdiam canggung.
Dia menaruh kertas itu ke atas meja ku tanpa melihat ku sama sekali, dan berlalu begitu saja dari hadapan ku.
Dia sudah tak berusaha untuk mendekati ku, membahas soal kemarin, atau memanggil nama ku sedikit pun. Dia benar benar melakukan apa yang aku minta.
Semenjak ku blokir kontak nya dari HP ku, gak ada lagi pesan dari nya masuk walaupun dengan nomer yang baru.
Yah... Seperti nya dia sudah tak perlu berusaha mencari ku.
Saat upacara pagi tadi pun entah kenapa kami di baris yang sama walaupun berseberangan. Aku bisa melihat jelas wajah nya.
Dia melihat ku, tapi tak mengeluarkan ekspresi apapun. Tidak tersenyum, tidak membuang muka, hanya datar saja.
__ADS_1
Dimana pun ada kesempatan kami bertemu, dia selalu begitu. Ya mungkin karna aku duluan yang melakukan nya.
Aku rasa dia sudah cukup lelah untuk berusaha memperbaiki keadaan. Yang berakhir dengan aku malah makin marah dengan nya.
Tapi tidak bisa ku pungkiri. Ada sesuatu rasa di dalam hati kecil ku, yang merasa sedih dengan apa yang terjadi dengan kami. Melihat perubahan sikap bang Nanda kepadaku.
Sesekali aku teringat perbandingan sikap nya sebelum dan sesudah kejadian itu. Sangat berubah drastis.
Ya aku mau apa lagi? Aku yang ingin kan. Memang lebih baik aku sudah tak mengenal nya lagi. Tak mau tau apa apa lagi tentang nya.
Sehari hari ku hanya di sibuk kan dengan tugas sekolah yang menumpuk karna sebentar lagi ujian semester.
Dan juga di sibukan, atau lebih tepat nya menyibuk kan diri dengan bermain bersama Purna dan Sharma.
Kami jadi sering jalan bersama. Seperti nya setiap weekend kami keluar bareng. Semenjak kejadian itu.
Mereka juga mengerti aku membutuhkan hiburan dari mereka. Agar aku tak ingat ingat lagi dengan nya.
Di hari minggu ini pun kami janjian untuk menonton film di bioskop. Film horror kesukaan Sharma, dan kebencian Purna.
Purna memang suka mengalah jika urusan nya untuk kami berdua.
Aku menghentikan tegukan ku ketika kami sedang minum di salah satu kedai boba di Mall.
"Gue mau ngomong sesuatu..." Sharma tiba tiba berbicara serius kepada ku. Aku menoleh ke Purna, dia hanya menaikan bahu nya.
"Apaan? Serius amat." Jawab ku santai sambil terus mengunyah boba di mulut ku.
"Emang serius..." Dia menjawab ku. Aku menaruh gelas boba ku. Melipat tangan ku rapi di atas meja bergaya seakan siap mendengar kan guru di kelas.
"Sebenar nya ini sudah lumayan lama sih. Gue nunggu emang buat cerita ini ke elo. Nunggu keadaan nya yang pas."
Aku terus menyimak nya. Sepertinya beneran serius.
__ADS_1
"Waktu itu bang Nanda ada datangin gue El..."
Aku terdiam sejenak.
"Lalu?" Tanya ku.
"Ya dia ngomong sama gue. Menjelaskan apa yang sebenar nya sudah terjadi. Karna dia udah gak tau lagi mau menjelas kan ini ke elo gimana. Sedangkan elo sudah gak mau berurusan lagi dengan dia."
Aku masih mendengar sambil mengerut kan alis ku.
"Setelah gue mendengar cerita dari sisi bang Nanda. Ya kalo menurut gue, dia gak salah salah banget. Ini menurut gue ya El..."
"Emang dia cerita apaan?"
"Awal kami ketemu itu, dia minta gue jelaskan soal kejadian hari itu. Kenapa elo bisa tiba tiba marah sama dia. Gue jelasin lah dengan penjelasan elo yang sudah lo kasih tau waktu itu. Lalu dia cerita juga dari sisi nya, karna kejadian itu, dia sampe berantem sama kak Jono. Dia sama kak Jono sama sama babak belur. Pantesan gak lama dari hari di kantin itu, gue sempat liat dia di sekolah keluyuran pake masker. Gue juga lihat ada lebam di pelipis nya, awal nya gue pikir dia habis kecelakaan, tapi ternyata itu karna dia habis berantem dengan kak Jono."
Sharma melanjutkan cerita nya lagi,
"Kak Jono sudah mengaku dengan apa yang sudah dia lakukan ke elo. Makanya waktu itu mereka berantem hebat. Terus dia bilang juga sama gue, soal kenapa Jono bisa tau, itu bukan karna dia yang cerita El... Temen temen nya hanya berspekulasi. Karna di malam pesta itu. Elo sama bang Nanda kan emang terakhir terlihat dengan mereka kan sebelum pergi kekamar karna elo ketumpahan minuman. Dan setelah itu kan elo gak ada balik balik lagi kan sampe subuh, setelah acara selesai waktu itu mereka ada nyamperin kalian ke kamar, tapi ternyata kamar masih kekunci dan Nanda gak bisa di hubungin. Ya mereka sebagai temen ya udah paham paham aja, elo sama Nanda ngapain. Jadi nya mereka pergi. Salah nya bang Nanda dia cuma diam saja waktu temen temen nya heboh bahas dia sama elo di grub. Gak membantah dan gak jua meng iya kan. Dia juga menyesal El kenapa waktu itu dia gak membantah omongan temen temen nya. Yang membuat elo jadi salah paham dan marah kedia. Sedikit pun dia gak pernah cerita apa apa soal elo sama dia dengan siapapun. Jadi kalo menurut gue dia juga gak salah salah banget. Itu menurut gue loh ya El... Gimana menurut lo Pur?" Sharma meminta pendapat Empur.
"Ya kalau kejadian nya seperti itu. Bener kata Sharma, ini cuma salah paham." Purna menjawab.
Aku masih terdiam berpikir. Hati ku seketika galau.
"Gue ngomong ini ke elo bukan untuk supaya elo balik sama bang Nanda ya. Enggak sama sekali. Bang Nanda pun bilang yang sama dengan gue. Dia bilang kalo dia menjelaskan semua nya ke gue bukan untuk supaya elo jadi memaafkan nya. Dia cuma mau meluruskan bahwa cerita asli nya itu seperti ini. Bukan yang seperti elo sangka kan." Dia melanjutkan kalimat nya lagi.
Lagi lagi aku hanya terdiam tanpa merespon apa apa. Aku bingung.
Tapi di lubuk hati ku paling terdalam ada timbul rasa lega dan kasian dalam bersamaan.
Lega karna ternyata ceritanya gak seperti yang aku bayangkan. Dan sedikit ada rasa kasian mengingat perlakuan ku kepada bang Nanda. Karna waktu itu aku benar benar mempermalukan nya di depan semua orang.
"Ya udah gak usah di pikirin. Udah berlalu juga. Yuk kita ke bioskop."
__ADS_1
Kata ku menarik Sharma dan Purna dari tempat duduk nya.