
NANDA
Alarm HP ku berbunyi membangunkan ku dari tidur ku. Aku melirik kelayar HP ku, Masih bisa 10 menit lagi aku leyeh leyeh sambil mengumpulkan semua nyawa ku.
Untung saja hari ini tak perlu belanja ke pasar, karna masih ada rawon yang di beri bu Rasmi kemarin. Jadi aku tak perlu masak subuh ini.
Aku merenggangkan badanku agar suhu tubuh ku berubah. Aku melihat ke arah Elsi, dia masih tertidur pulas. Rasa ku, tadi malam kami tidur lumayan cepat dari biasanya.
Aku benar benar tak ingat lagi semalam itu setelah aku selesai makan, aku berbaring sebentar dan tertidur. Aku tak ingat jam berapa aku tidur, yang jelas lebih cepat dari biasa nya.
Aku memainkan HP ku sambil berbaring, tak terasa membuka ini itu sudah hampir 10 menit. Pas sekali dengan adzan berkumandang dari mesjid terdekat.
Dengar perlahan aku bangkit dari tidur ku, aku tak ingin membangunkan Elsi. Aku bergegas mengambil handuk dan berjalan kekamar mandi.
Tetapi sebelum masuk kamar mandi, aku mampir sebentar di kaca dapur untuk berkaca. Merapikan sedikit rambut ku yang berantakan dan melihat keadaan wajah ku yang sembab habis bangun tidur.
Tetapi aku tersadar akan sesuatu, aku memegang bibir ku.
Apa ini? Kenapa ada merah merah di bibir ku?
Aku berpikir sejenak, sepertinya ini tidak asing.
Aku masuk lagi kedalam kamar dan menuju meja rias Elsi. Mataku mencari cari benda di sekitar situ, ah dapat!
Ini bukan sih? Ini kan pelembab bibir nya Elsi. Aku mencocok kan warna nya dengan noda yang menempel di bibir ku.
Iya bener, kayanya ini punya Elsi.
Hah? Sejak kapan aku memakai nya?
Perasaan kemarin habis aku mandi, shalat, lalu makan dan tidur.
Masa Elsi yang pakein sih? Tapi untuk apa?
Aku sontak menutup mulut ku seketika. Aku tersadar sesuatu. Aku segera pergi meninggalkan kamar dan kembali ke kaca dapur.
Tapi masa iya?
MASA IYA BEKAS LIPSTIK INI KARNA DIA MENCIUM KU?
Aku mendekatkan wajahku sekali lagi ke kaca, benar, ini benar benar lipstik Elsi.
Logika nya, jika memang dia hanya iseng memakaikanku pelembab bibir nya, tapi kenapa cuma sebagian bibir ku saja? itu pun cemong cemong sampai ke luar bibir?
Sepertinya benar, dia benar benar mencium ku. Tapi kapan? Aku sama sekali tidak sadar. Berarti di saat aku tertidur pulas.
"Bang."
__ADS_1
Seketika aku terperanjak kaget mendengar suara nya yang tiba tiba muncul dari dalam kamar.
"Kenapa bang?!" Dia malah bertanya aku kenapa.
"Jangan dadakan gitu dong..." Kata ku sambil mengelus dada ku.
"Lah jadi El harus gimana dong? El kan gak teriak teriak manggil abang."
"Minimal pura pura batuk kek, jadi abang tau El sudah bangun."
"Abang ngapain sih? Kok belum mandi?"
"Ini baru mau mandi."
"Bentar, El mau pipis dulu." Kata nya sambil mendorong ku dan berlalu begitu saja.
Astagaaa... Tak bisa ku utarakan lagi bagaimana perasaan kaget ku tadi. Dia tiba tiba muncul dengan rambut yang berantakan dan tergerai ke depan. Rasa jatuh jantung ku ke lantai.
Pas pas juga dia datang ketika aku sedang memikirkan soal noda di bibir ku ini.
Dia keluar kamar mandi dengan tergopoh gopoh, tapi kali ini rambut nya sudah tak seberantakan tadi.
"El..." Panggil ku menghentikan langkah nya.
"Anu... Abang mau tanya."
"Ini... Tadi malam..." Aku menggantung kalimat ku. Aku harus bertanya apa ya?
Dia terdiam saja menatap ku, dengan serius menunggu pertanyaan ku.
"Kenapa tadi malam?"
"Hm... Gak jadi deh." Kata ku sambil mengusap bibir ku. Membuang noda merah itu.
Aku buru buru membalikan badan ku ingin masuk kedalam kamar mandi. Tetapi ia menarik tangan ku.
"Kenapa?" Tanya nya dengan wajah datar. Aku seketika menjadi merinding. Memang di dunia ini, kita tidak bisa membuat perempuan penasaran. Jika tidak ingin melihat ia mengamuk.
"Itu... Hm..."
Dia tiba tiba mendekatkan wajah nya ke wajah ku, dan mengusap bibir ku dengan lembut.
"Iya, tadi malam Elsi cium bibir abang." Dia menjawab dengan wajah yang masih datar. Menjawab pertanyaan yang bahkan aku tidak lontar kan. Dia sungguh bisa membaca pikiran ku.
Seketika aku menjadi panik.
"Kenapa? Abang gak suka ya?" Tanya nya yang kali ini dengan ekspresi sedih yang di buat buat.
__ADS_1
"Gak! Abang gak ada bilang gitu!"
"Jadi suka?" Dia merubah lagi wajah nya menjadi menggoda ku. Sungguh wanita tiba tiba saja bisa berubah menjadi bunglon.
"Oh... Itu..." Kata ku terbata bata, aku bingung menjawab nya.
Dia mendekat kan badan nya kepada ku, dan melingkarkan tangan nya di leher ku. tubuh nya yang mungil menjadi berjinjit untuk menatap mata ku.
Dia mendorong kepala ku untuk mendekati bibir nya. Dia mengecup ku dalam waktu yang lama.
Tubuh ku seketika menjadi kaku. Sekaku batu. Tidak bergerak sama sekali bahkan tidak bernafas. Aku benar benar menahan nafas ku sangking syok nya.
Dia melepaskan ciuman nya setelah sekian lama. Aku masih membeku di buat nya.
"Jangan di hilangin lagi ya bekas lipgloss nya." Kata nya sambil membelai lembut pipi ku. Dan tidak lupa tersenyum sangat jahil. Dia pergi menjauhi ku.
Seketika aku menarik tubuh nya kembali ke dekapan ku. Aku mencium nya kembali. Dengan sangat keras. Bibir kami beradu di depan kamar mandi.
Tubuh ku dan tubuh nya sama sama mulai memanas. Di subuh yang dingin ini.
Aku melingkarkan jari jari ku di sela sela rambut nya. Sambil tetap berciuman.
Aku mengangkat tubuh nya ke dalam gendongan ku. Dengan bibir yang masih menyatu, aku membawa nya ke ranjang kamar.
Kami menghempaskan tubuh kami ke atas ranjang, kali ini aku sambil membuka baju ku, dan aku kembali mencium nya, tak ku biarkan dia bernafas tenang sedikit pun.
Satu tangan ku menahan kedua tangan nya di atas kepala, dan satu tangan ku lagi mencoba membuka satu persatu kancing baju nya. Sudah terbuka, aku segera menurunkan ciuman ku ke leher, belakang telinga, dan dada nya, persis yang kulakukan pada saat malam itu.
"Bang..." Samar samar aku mendengar sesuatu.
"ABANG?!!" Teriak nya.
Seketika lamunan ku hilang entah kemana.
Aku masih berdiri kaku di depan nya.
"Abang kenapa? Gak jadi mandi?" Tanya nya dengan wajah bingung.
"Oh iya! Iya abang mau mandi!" Kata ku sambil menepuk nepuk pipi ku.
"Ya udah mandi sana. Kenapa ngelamun?"
Aku segera masuk kedalam kamar mandi meninggalkan ia yang terbingung bingung akan sikap ku.
Jelas! Jelas saja tadi hanya terjadi di khayalan ku! Jika aku tidak bisa mengontrol ini semua, apa yang ada di lamunan ku tadi pasti sudah benar benar terjadi.
Kenapa? Kenapa subuh subuh begini ia tiba tiba mencium ku? Kenapa? Aku hampir saja lepas kontrol.
__ADS_1