Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
DAY 4


__ADS_3

ELSI


Aku mengucek ngucek mata ku sambil turun dari tempat tidur.


Jam berapa sekarang?


Aku mengantuk sekali.


Karna tadi malam aku memang hanya tidur beberapa jam saja.


Karna apa?


Seketika aku menutup wajahku dengan tangan. Aku kembali gugup jika harus ingat sepulang sekolah ini aku ada janji jalan jalan sama bang Nanda.


Hati ku yang kemarin kemarin sekeras batu akhirnya luluh juga karna sikap dia yang manis. Bukan manis yang di buat buat ya, dia memang berbuat baik kepadaku.


Ku pikir apa salah nya juga aku sekali saja jalan dengan nya? hitung hitung membalas semua kejadian sial yang dia alami kemarin.


Kemarin waktu di jalan dia mengantar ku pulang, Iya, untuk pertama kali nya aku mau di antar nya pulang kerumah lagi setelah kejadian malam itu. Dia berkata bahwa setelah sekolah kami pulang dulu kerumah masing masing dan dia akan menjemput ku dirumah.


Aku menolak nya, aku gak enak terlalu bergantung kepadanya. Sehingga aku menawarkan untuk bertemu di tempat saja.


Dia meminta ku datang ke sebuah mall yang lumayan besar dan sekaligus ada tempat bermain di dalam nya. Entah lah dia ingin mencari apa, dia tidak memberitahu ku kemarin.


Makanya tadi malam aku sibuk di kamar dengan setumpuk baju ku yang ku punya. Aku bingung harus memakai baju yang mana jika bertemu nya besok.


Aku ingin terlihat manis, tapi tak ingin terlihat terlalu "berdandan" untuk nya.


Ribet? iya emang ribet.


Lalu seharian di sekolah pun aku gak terlalu bertemu dengan bang Nanda. Sepertinya dia lagi sibuk dengan segudang kegiatan nya. Yang aku sendiri gak tau itu apa.


Kita ketemu sepulang sekolah ya.


Pesan WA nya masuk ketika kami berada berseberangan di tengah lapangan. Yang bisa ku lakukan hanya tersenyum simpul setelah membacanya. Dia juga tersenyum melihat ku.


Pulang sekolah aku pun juga tak bertemu dia. Ku lihat dia masih di dalam kelas. Seperti nya ada bimbingan tambahan di kelas nya pada saat itu.


Di hati ku timbul sedikit kekhawatiran akan batal acara hari ini, takut dia pulang kesorean.


Tapi aku mengabaikan nya saja dan bersiap siap dirumah.


Tepat pukul 15.00 aku mengorder ojek online ku. terakhir dia bilang dia sudah otw 10 menit yang lalu.


Aku tanya kenapa terlalu cepat, dia bilang biar dia saja yang menunggu ku disana terlebih dahulu.


Aku memutuskan untuk memakai dress santai berwarna biru muda dengan motif bunga Chamomile. Aku juga memakai sepatu warna putih dan tas yang berwarna senada.


Aku menguncir rambut ku dan menyemat kan pita di ujung nya.


Aku gak perlu bertanya apakah aku cantik hari ini apa tidak, karna Elmi tadi yang entah kenapa hari ini pulang cepat dari sekolah nya, berkata,


"Tumben." dengan wajah yang datar waktu kami berpapasan diruang tamu.


Yang bisa di artikan hari ini aku cantik, karna biasanya dia tidak akan merespon apapun dan seakan tidak pernah melihat ku sangking cuek nya.


Tak lupa juga aku "menumpahkan" Parfume ke baju ku, agar aku tak tersaingi wangi nya oleh bang Nanda. Aku juga ingin wangi seperti dia.


"Iya hati hati yaa..." Kata mama di seberang sana ketika aku ijin untuk jalan sore ini. Tapi salah sih sebenarnya, aku ijin nya ketika aku sudah sampai di tempat.


Aku menelpon bang Nanda yang katanya sudah otw dari tadi. Baru 2 kali nada sambung dia sudah mengangkat nya. Seperti nya dia sudah menunggu ku.


"Sudah sampai El?"


"Sudah bang. Abang dimana?" Tanya ku. Tapi sepertinya aku gak perlu mencari dia jauh jauh. Karna dihidung ku sudah mencium wangi yang sangat familiar.


Aku membalik kan tubuh ku, benar saja dia ada di belakang ku. Aku segera menutup telpon dan mendatangi nya.


"Bang..." Sapa ku ketika dia masih membelakangi ku. Dia terkejut aku bisa langsung menemukan nya. Sejenak dia terdiam melihat ku. Penampilan ku.


"Ke, kenapa bang? Aneh ya?" Tanya ku salah tingkah. Aku membenar kan rambut ku yang ku pikir berantakan.


"Gak! Enggak kok!" Dia menjawab terbata bata.


"Terus kenapa ngeliat nya gitu?"


"Elsi cantik."


Mendengar nya wajah ku langsung memanas. Aku menepuk nepuk pelan pipi ku.


"Hmm... Abang juga ganteng hari ini." Balas ku. Aku gak tau harus berkata apa lagi untuk memecah kecanggungan ini.


"Loh bukan nya dari kemarin kemarin?" Dia berkata sambil merapikan rambut nya. Jelas sekali dia hanya menggoda ku.


"Iss apaan sih bang." Aku mencubit kecil tangan nya. Dia tertawa melihat ku yang sudah berhasil di jahili nya.


"Ya udah El mau kemana?"


"Loh kok tanya El? Kan katanya abang mau cari sesuatu?"


Mendengar pertanyaan ku dia menepuk jidat nya seperti orang yang lupa akan sesuatu.


"Eh iyaa bener, kan abang yang minta di temenin ya?"


Aku memicing kan mata ku ke arah nya.


"Hmmm... Abang bote lagi yaa???"


"Gak kok beneran abang gak bohong."


"Ya udah terus mau cari apaan? Awas kalo bote ya!"


"Beneran El, Abang emang minta temenin cari sesuatu...." Dia menggantungkan kalimat nya.


"Mau cari tempat yang enak nongkrong sama El." Dia meneruskan nya lagi sambil tertawa memamerkan senyum nya yang manis itu.

__ADS_1


"Kan bener kan, sudah bisa El tebak abang cuma pengen jalan jalan."


"El gak suka ya?" Tanya nya lesu.


"Ya seharus nya jujur aja mau ajak El nge-date. gitu..."


"Yes! Jadi sekarang kita nge-date nih?"


Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan nya.


"Yes! Berarti bentar lagi kita pacaran dong..." Dia mengibas ngibaskan tangan nya kegirangan. Aku tak tahan lagi dengan sikap nya dan mencubit nya lagi.


"Abaaang apaaaan siiihhhhhh!"


******


"Ayo masuk..." Bang Nanda mempersilahkan ku masuk di mobil nya.


Kami menghabiskan waktu 4 jam untuk bersenang senang.


Iya aku senang sekali. Entah kenapa aku suka jalan dengan nya. Padahal kemarin kemarin bertemu dengan nya saja aku mual.


Sekarang rasa itu hilang begitu saja entah kemana. Secepat itukah rasa ku kembali lagi seperti dulu? Aku memang sudah merasa kemarin itu hanya efek dari aku Syok saja.


Aku langsung duduk di samping kursi kemudi. Seketika aku teringat kejadian itu. Wangi mobil ini. Membuat ku teringat lagi kejadian malam itu.


Ingat betapa canggung dan hening nya subuh itu. Dan hari hari setelah nya yang membuat perasaan ku tak nyaman.


Tapi entah lah, aku berada disini sekarang aura nya sudah beda. Walaupun masih teringat kejadian itu, tapi perasaan aneh itu tak lagi muncul.


"Masih mau jalan lagi?" Tanya bang Nanda sambil memasang seat belt.


"Hmm tapi mau kemana ya? Jalan jalan sudah, makan juga sudah. Ngemil es krim juga sudah." Aku mencoba mengingat ingat apa saja yang sudah kami lakukan tadi.


Tapi tiba tiba aku teringat sesuatu.


"Astaga!" Jerit ku.


"Kenapa kenapa?!" Bang Nanda ikutan panik.


"Gak bisa bang, El baru ingat ada tugas buat besok." Aku berkata lesu.


"Matematika lagi..." Lanjut ku.


"Ya ampun abang pikir El ada kelupaan barang atau sesuatu..."


"Oh jadi El mau langsung pulang aja karna mau ngerjain tugas?"


Aku mengangguk pasrah. Jujur saja aku masih ingin jalan jalan.


"Mau abang bantuin bikin tugas nya?"


"Jangan bang! kasian abang capek."


"Loh gak papa, abang lumayan jago kok, adek kelas yang lain sering tanya tanya dengan abang."


"Iya beneran. Makanya di sangka abang banyak yang naksir, padahal kan cewek cewek itu minta abang bantuin ngerjain tugas nya."


"Ah itu mereka akal akalan doang biar bisa dekat sama abang." Kata ku jutek.


"Kok abang mau sih?" Sambungku lagi.


"Kan abang di bayar. Hehehehe...."


"Hah!? Sumpah?"


Dia mengangguk yakin.


"Abang di bayar buat ngerjain atau bantu mereka bikin tugas. Ada tarif nya loh." Dia berkata dengan bangga.


"Wah berarti misal malam ini El minta bantu, El bayar dong."


"Gak gak... Khusus El gratis. Seumur hidup."


"Ih bisa gitu? Kenapa El beda sendiri?"


"Iya karna emang beda. Hehehe..."


Mobil kami berjalan meninggalkan kawasan Mall.


"El..." Panggil bang Nanda, kali ini nada nya lebih serius dari obrolan yang sudah sudah.


"Ya?"


"El jangan marah ya abang ngomong ini."


Aku mengangguk dan menunggu kalimat nya.


"Tawaran abang masih sama El...."


"Abang.... Mau jadi pacar El..."


"Gak sekarang pun gak papa. Sebulan lagi, Setahun lagi, Atau saat kita lulus nanti. Gak papa. Abang bakal tunggu Elsi..."


Aku terdiam menyimak kata kata nya. Aku di tembak lagi kah? Dada ku mulai berdebar.


"Atau mau nunggu kita sudah kerja nanti gak papa. Ijinkan abang untuk selalu dekat dengan Elsi..." Lanjut nya lagi.


"Bang..."


Bang Nanda menoleh ke arah ku.


"Kenapa? Kenapa orang itu Elsi?"


Dia terdiam mendengar pertanyaan ku. Dia berpikir sambil menyetir. Sejenak di antara kami timbul keheningan.

__ADS_1


"Kenapa ya? Hmm.... Gak ngerti."


Aku mengerut kan dahi mendengar jawaban nya. Aku gak puas.


"Emang kalau suka mesti ada alasan nya ya?" Lanjut nya lagi.


"Abang kalo di tanya kenapa harus Elsi, ya jujur aja bang gak punya alasan. Ya karna itu Elsi. Udah." Dia kembali menjelas kan.


Kami terdiam lagi. Jika di pikir pikir, bener juga. Jika aku di tanya alasan sesungguh nya kenapa aku bisa jatuh cinta dengan nya, aku juga bingung mau jawab apa.


Karna tampan? Yang lain juga tampan.


Karna pintar? Purna juga pintar. Tapi bukan laki laki di mataku.


Karna berkarisma?


Karna baik dan rajin menabung?


Aku juga ternyata gak bisa menjawab. Jika di paksa kemungkinan karna wangi. Tapi masa karna itu?


Bang Nanda memarkirkan mobil nya tepat di depan pagar rumah ku. Dia melepas kan seat belt nya dan membantu ku juga.


"Ada mama dirumah kan?"


"Sepertinya ada bang."


"Abang sudah boleh pamit ke mama gak?"


Aku ingat, Pertama kali dia mengantar ku kemarin dia sama sekali gak ku bolehkan turun dan mobil.


"Bo...boleh..."


Kami turun bersama sama. Aku mengetuk pintu rumah dengan ragu ragu. Entah kenapa aku gugup. Padahal aku tau mama gak bakal kenapa kenapa.


Pintu terbuka, tapi ternyata Elmi yang membuka nya.


"Adek nya El bang. Elmi."


Tapi emang dasar si Elmi, dia buka pintu dan melengos pergi meninggalkan kami berdua di depan pintu. Aku memanggil nya lagi.


"Mama mana?" tanya ku.


"MAAAA, ADA ELSI SAMA TEMEN NYAAA!"


Uhhhhh dasar Elmi gilak! Dia malah teriak!


"Sorry ya bang, dia emang gitu." Bang Nanda hanya tertawa.


Mama keluar dari dapur kami, membawa centongan nasi di tangan nya.


"Oh masuk dulu. Bawa masuk El." Mama menyambut ramah kami berdua.


"Mau pamit ma." Aku memberi isyarat ke mama.


"Iya tante, Saya mau langsung pamit saja."


"Makan dulu mau? Sudah makan belum kalian?"


"Udah tante sudah. Terima kasih banyak. Oh iya saya Nanda tante. Teman nya Elsi."


Bang Nanda menyorongkan tangan nya dan di sambut oleh mama.


"Maaf ya tante pulang nya agak malam."


"Oh gak papa, Kan Elsi juga sudah laporan tadi. Beneran nih gak mau makan dulu?"


"Makasih banyak tante. Mungkin di lain waktu."


Setelah pamit, aku mengantar bang Nanda kembali ke mobil nya.


"Sekarang abang tau deh El cantik dapat dari mana." Celetuk nya.


"Mulai deh bang..."


"Beneran. Elmi aja ganteng. Pasti idola cewek cewek tuh di sekolah nya."


"Ah siapa yang mau sama orang super cuek." Aku menjawab asal.


"Oh ya, sebentar."


Bang Nanda meninggalkan ku dan masuk ke mobil nya. Tak lama dia keluar lagi menghampiri ku.


"Boleh pinjam tangan kanan nya?"


Aku mengangkat tangan ku ke arah nya. Dia melingkar kan sebuah gelak manik manik lucu. berwarna biru muda dan ada bunga Chamomile di tengah nya. Persis baju ku hari ini.


"Tadi sewaktu El ke toilet, Abang iseng main capit. Abang liat ada gelang yang cocok sama baju El hari ini."


"Wah hebat abang bisa dapet."


Jujur saja aku takjub, karna kan main capit gak semudah itu.


"Setelah 10 kali percobaan." Katanya santai. Aku melotot.


"Sumpah???"


"Sumpah. Soal nya abang nekat harus dapat yang ini. Hehehe..."


"Ya ampun abang... Makasih ya... Cantik banget gelang nya. El suka."


"Cantik kan? kaya Elsi."


"Kan kan...."


"Hehehe.. Ya sudah abang pamit ya. Sampai ketemu besok." Dia mengelus kepala ku dan berjalan memasuki mobil.

__ADS_1


Sepanjang malam, yang ku lakukan hanya menatap gelang itu dengan hati yang penuh dengan bunga Chamomile.


__ADS_2