
NANDA
Apa yang kalian lakukan jika menjadi aku?
Sudah berbulan bulan kalian hidup satu atap, satu rumah dan satu ranjang dengan pasangan mu? Yang sudah menjadi istri mu sendiri.
Bagaimana kalian menahan diri kalian di saat pasangan mu tidur tepat di samping mu? di ranjang yang sama? Bahkan di bawah selimut yang sama?
Selama ini yang bisa ku lakukan hanya mengalihkan pikiran ku kelain lain, agar tidak mudah timbul pikiran untuk macam macam.
Padahal dia istri mu? Kamu bahkan sah sah saja melakukan apapun yang ingin kamu lakukan.
Tapi.... Aku tidak bisa. Walaupun aku ingin, tapi aku tak bisa. Entah lah... Rasa nya masih canggung.
Seperti sekarang ini, Elsi sedang memutar mutar badan nya di depan cermin lemari di kamar kami. Aku yang duduk di tepi ranjang, diam diam memperhatikan nya.
Kalau aku punya pikiran busuk dan tidak ingat dia sedang hamil, pasti sudah ku tarik tubuh nya ke atas ranjang. Melihat ia terlihat menggoda sekali memakai baju tidur yang kami beli beberapa hari lalu di mall. Bahan nya tipis hingga bisa terlihat lekukan tubuh mungil nya.
Walaupun Elsi sedang mengandung, tetapi badan kecil nya tidak terlalu menampakan jika dia sedang hamil. Sekilas seperti gadis pada umum nya.
Baru ini aku melihat ia memakai baju yang menurut ku sedikit terbuka, karna biasa nya dia hanya memakai kaos dan celana panjang selama ia dirumah.
Tapi kali ini ia memang memintaku untuk membelikan baju tidur yang tipis dan terbuka saja. Karna jujur, dia kesulitan tidur jika memakai baju yang tebal. Kebiasaan dia tidur di AC membuat nya gerah tidur di kamar yang hanya menggunakan kipas angin seperti sekarang ini.
Terjadi lah dia berdiri di depan ku memutar mutar tubuh nya sambil berkaca dengan baju baru yang terbuka itu.
Pandangan ku dari tadi hanya bolak balik antara diri nya dan layar TV.
"Cantik gak bang?" Dia memecah lamunan ku.
"Bagus bagus." Jawab ku dengan terburu buru sambil membenarkan celana ku.
"Ditanya cantik apa gak, malah jawab nya bagus." Dia mengomel sambil memanyunkan bibir merah nya. Ya Tuhan...
"Oh iya cantik! Pasti cantik lah..." Aku menjawab nya dengan gugup sambil membuang pandangan ku ke layar TV lagi. Aku tak ingin menatap wajah manis nya lama lama. Jujur, saat dia memakai baju rumah ini, pertahan ku hampir hancur melihat nya.
"Abang lagi mikirin apa sih? Kaya gak konsen gitu?" Dia berjalan mendekati ku. Aku semakin gugup tapi tetap berusaha setenang mungkin.
Tapi ternyata dia bukan hanya mendekati ku, dia bahkan duduk di atas pangkuan ku dan melingkarkan tangan nya di pundak ku. Sudah tak tau lagi bagaimana wajah ku merespon gerakan nya.
"Gak... Gak mikirin apa apa kok." Aku mencoba tenang kan diri. Kenapa dia bertingkah seperti ini di saat aku sedang goyah?
"Habis dari tadi diem aja. Di tanya jawab nya gak nyambung."
Posisi kami sangat berdekatan sehingga aku bisa mencium wangi sabun yang tadi ia pakai waktu mandi. Perasaan ku semakin tak karuan. Bahkan mungkin Elsi bisa mendengar debaran jantung ku dari jarak sedekat ini.
Melihat aku hanya berdiam saja, Dia mendekat kan lagi wajah nya ke arah wajah ku. Meminta jawaban atas pertanyaan nya tadi.
Tak bisa! Bisa gawat jika begini.
Aku memutuskan melepaskan rangkulan nya, dan bergerak menjauhi nya. Dia tambah keheranan dengan sikap ku.
"Idih kenapa? Gak mau dekat dekat El ya?"
"Bukan... Bukan begitu Elsi..." Aku mencoba menjelaskan tapi bungung harus mulai nya bagaimana.
"Terus kenapa?" Dia berkata sambil duduk lagi di pangkuan ku. Ya Tuhan cobaan ini...
"Kenapa emang kalau Elsi mau peluk abang? Gak boleh? Kan Elsi sudah mandi."
__ADS_1
Aku menarik nafas panjang dan membuang nya perlahan. Istriku ini....
"Ya karna udah mandi itu, mau entar mandi lagi?"
Dia terlihat berpikir mendengar pertanyaan ku. Tapi tiba tiba ia tersadar dengan apa yang ku maksud.
Bukan nya menjauhi ku, dia malah makin melingkarkan tangan nya dengan erat ke leher ku.
"Kenapa? Abang pengen ya?" Tanya nya dengan wajah sangat menggoda. Usil dan menggoda.
"Hush! Sembarangan!!" Ucap ku sambil melepaskan lagi pelukan nya.
"Ih kenapa sih? Kalau pengen ya bilang aja. Entar El yang dosa kalau gak kasih."
"Kamu sembarang deh!" Aku melepaskan pelukan nya dan kali ini aku benar benar berdiri untuk menghindari nya. Ku dengar dia terkekeh melihat kegugupan ku.
"Aneh, kok takut sama istri sendiri." Ucap nya masih sambil tertawa.
"Bukan takut lah..." Kata ku lirih.
"Ya udah kalau gak takut ayo sekarang." Dia menarik ku lagi ke atas ranjang, aku berdiri lagi dengan sangat panik. Berhasil lagi dia mengerjai ku.
"Sana bikinin abang kopi. Cepetan!" Begini saja cara ku mengalihkan godaan nya.
Dia berdiri sambil tertawa dan meninggal kan ku pergi kedapur. Setelah dia keluar kamar aku terduduk lemas di atas ranjang. Lega sudah berhasil keluar dengan situasi seperti ini.
"Bang..." Tegur nya ketika kami sedang menikmati secangkir kopi hangat di meja makan.
"Ya?"
"Yang di katakan kak Jhon kemarin bener?"
"Iya..."
"Dia bilang apa emang?"
"Katanya waktu itu, abang baru pertama kali tidur sama cewek ya itu sama Elsi."
"Hm... Bener. Kenapa tiba tiba nanya itu?"
"Gak sih penasaran aja bener apa gak."
"Terus kalau El?" Tanya ku balik. Kenapa dia terkejut? Padahal dia yang memulai pembahasan ini.
"Ya baru sama abang lah."
"Oh...."
"Kenapa kaya gak percaya gitu?"
"Percaya lah... kan abang liat."
"Liat apa?"
"Liat itu, abang sempat takut waktu itu. Takut El sakit. Hampir aja gagal. Tapi sorry, sakit gak sih waktu itu? Abang panik banget waktu itu, sampai abang alasin pakai celana abang kan. Takut kena sprei."
"Sakit sih, tapi gak lama."
"Gitu?"
__ADS_1
"Iya..."
"Abang panik banget soal nya waktu itu, apa lagi habis itu kan Elsi langsung diam sambil nangis. Abang sampai bingung mau ngapain. Merasa bersalah banget."
"Elsi nangis bukan karna sakit kok."
"Terus karna apa?"
"Karna syok aja sih kita tiba tiba begitu."
Aku mengangguk paham. Sebenar nya ini juga yang aku rasakan waktu itu.
"Makanya sempat El menjauh dari abang kan? Elsi masih syok dan El gak mau abang kesan nya kaya bertanggung jawab gitu dengan apa yang kita lakukan. Sebenar nya El itu mau aja langsung jadi pacar abang, tapi karna malam itu, El merasa kita pacaran karna abang merasa bersalah. itu yang El gak mau."
"Padahal gak begitu loh. Jujur ya dalam hati abang malam itu, sebelum kita macam macam, abang niat nya besok mau ngajak El pacaran."
"Gitu?"
"Iya..." Aku mengangguk yakin.
"Tapi abang beneran baru sama Elsi doang?"
"Kan, dia nya yang gak percaya..." Aku menjawab nya lesu sambil menyenderkan tubuh ku kebelakang.
"Gini ya El, kalau abang sudah pernah, gak mungkin abang bisa sampai bikin Elsi hamil." Aku melanjutkan kalimat ku.
"Ya terserah El sih mau percaya apa gak." Ucap ku pada akhirnya.
"Cie ngambek. Percaya Elsi bang. Percayaaa..." Dia berkata sambil mendekati ku.
"Apa lagi nih? Mulai lagi?" Aku bersiap menjauhi nya, sepertinya dia mulai menggoda ku lagi.
Terlambat dia bisa membaca pikiran ku, secepat kilat ia langsung duduk lagi di pangkuan ku sambil memeluk ku erat.
"Nyesal gak bang?" Tanya nya sambil memeluk ku.
"Nyesal kenapa?"
"Udah nikah sama El?"
"Seharusnya abang yang tanya itu ke El, nyesel gak? Abang gak bisa melamar Elsi baik baik ke orang tua El. Abang gak bisa bikin pesta pernikahan yang El idam idam kan. Abang belum bisa kenalkan Elsi ke orang tua abang. Dan sekarang, abang belum bisa memenuhi kebutuhan Elsi dengan sempurna. El nyesel gak?"
Dia tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala nya saja. Aku menarik tubuh nya dan menatap wajah nya.
"Beneran gak nyesal? Seumur hidup akan bertemu abang sampai kita tua nanti?"
Dia mengangguk dengan yakin. Aku tersenyum lebar.
"Terima kasih ya sayang..." Kata ku sambil mengusap kepala nya dengan lembut.
Tetapi dia tiba tiba memonyongkan bibir nya, meminta untuk di cium. Random sekali istri ku ini...
Aku menggeleng geleng kepala saja melihat kelakuan nya. Aku mencium nya, tetapi di kening saja.
"Kok disitu sih?" Tanya nya kesal.
"Kan terserah abang mau cium dimana?"
"Ya sudah El aja yang cium abang."
__ADS_1
Mendengar kalimat nya, aku langsung berusaha menghindari ciuman nya. Berakhir kami saling berkejar kejaran sambil tertawa mengelilingi meja dapur.