
NANDA
Aku berlari sekencang kencang nya di parkiran rumah sakit. Aku tak memikirkan apa apa lagi selain bagaimana kondisi Elsi sekarang.
Kesadaran ku nyaris hilang ketika bu Rasmi menelpon ku di saat aku di jalan lagi ada antaran laundry.
Bu Rasmi mengatakan Elsi tiba tiba jatuh pingsan dan mereka membawanya ke rumah sakit terdekat.
Aku sebenarnya sudah berfirasat, karna dua minggu belakangan ini, Elsi mabuk berat. Dia sampai tidak ingin makan apapun. Yang bisa masuk di perut nya benar benar hanya air putih dan sepotong biskuit.
Setiap aku turun kerja di pagi hari aku benar benar galau dan tidak bisa pergi dengan tenang. Karna melihat kondisi dia sekarang ini membuat ku menjadi takut meninggalkan dia lama lama dirumah sendirian.
Tetapi ternyata ketakutan ku menjadi kenyataan.
Aku segera masuk ke ruang UGD dengan tergesa gesa dan masih berlari. Aku mencari cari dimana Elsi terbaring.
"Nanda!" Panggil seseorang di belakang ku.
Aku menoleh, ternyata bu Rasmi sadar akan kedatangan ku. Tanpa pikir panjang aku segera mendatangi nya.
Sedih nya hati ku ketika melihat Elsi terbaring lemah tidak berdaya.
"Belum sadar penuh Nan..." Ucap bu Rasmi ketika aku memanggil manggil nama nya tapi tak ada respon dari Elsi.
"Gimana tadi kejadian nya bu?"
"Kan Nanda tadi pesanin ibu untuk cek cek Elsi kesebelah toh? Waktu ibu antar sarapan buat Elsi, Dia masih baik baik aja. Cuma ya itu, lemas kaya biasa nya. Tak tawarin mau teh anget apa gak, dia bilang gak mau. Tapi tetap ibu bikinkan saja. Nah pas ibu bikinin di dapur kalian, Ibu kaget ada suara jatuh di dalam kamar. Pas ibu samperin ke kamar, Elsi sudah terbaring di lantai. Ya udah gak pakai pikir panjang ibu panggil suami Yasmin buat anterin ke sini."
Aku hanya terdiam sambil mengusap usap kepala Elsi. Ingin menangis rasanya.
"Terus apa kata dokter bu?" Tanya ku lirih.
"Jadi Elsi ini mabuk hamil, tapi karna sudah dua minggu gak makan, badan nya sudah ndak kuat, makanya jatuh pingsan. Tadi dokter nyaranin buat dirawat dulu dirumah sakit untuk beberapa hari. Coba kamu datang dulu ke meja jaga, tanya benar benar apa yang harus kita lakukan. Tadi ibu ndak berani kasih keputusan, ibu bilang tunggu suami nya saja."
Aku menurut saja, dan segera bangkit dari jongkok ku mendatangi meja para dokter dan perawat sedang berjaga.
Benar saja, mereka menyarankan agar Elsi rawat inap untuk beberapa hari agar dia bisa pulih. Setidak nya jika tidak bisa makan dan minum, ada cairan dari infus yang bisa masuk di tubuh nya.
Apapun yang terbaik untuk Elsi, aku akan menurut saja.
"Elsi..." Tegur ku ketika melihat Elsi bergerak dari tidur nya. Kami sudah berada di ruangan rawat inap.
"Bang..." Panggil nya lirih. Aku menggenggam tangan nya.
"Gimana perasaan nya sayang? Apa yang sakit? Elsi minum dulu ya?"
"Gak mau bang... Kita dirumah sakit bang?"
"Iya sayang... Tadi El pingsan, jadi di bawa kesini."
"El bener bener gak sadar bang..."
"Yaudah gak papa, Elsi minum dulu ya. Ini abang siapin air hangat."
"Elsi takut muntah bang..."
__ADS_1
"Di coba aja dulu, kalau muntah juga gak papa kok. Yang penting El minum dulu ya?"
Ia mengangguk dan aku segera menyuapi nya dengan botol minum yang sudah ku isi dengan air hangat. Baru saja seteguk ia sudah menjauhkan botol itu dari mulut nya.
"Gak papa, seteguk pun gak papa El. Yang penting ada yang masuk."
"Dari kapan kita disini bang?"
Aku melihat ke arah jam dinding,
"Kaya nya dari jam 9 tadi deh. ini sudah jam 2, berarti sudah 5 jam kita di sini." Jelas ku.
"Elsi mau makan sayang?" Tanya ku lagi.
Dia menggeleng lemas.
"Makan dikit yuk? Mau makan apa? Apa aja pasti abang beliin. Tadi sama suster udah di kasih obat anti mual kok."
"Gak tau mau makan apa. Gak selera bang."
"Mau roti? Atau ini? Ada makanan dari rumah sakit?" Aku menunjukan nampan yang berisi makanan kepada nya.
Melihat nya saja sudah membuat nya mual. Aku segera menaruh kembali nampan tersebut ke atas meja.
"Roti aja bang. Sama teh anget. Tapi yang manis ya."
"Oke, abang bikinin teh dulu ya."
Aku kembali ke ruangan membawa secangkir teh hangat. Aku menyuapi nya sepotong kecil roti ke mulut nya. Dalam hati ku, aku juga takut jika ini di muntahkan nya lagi.
Dia menggeleng. Alhamdulillah...
Aku menyuapi nya lagi, dan menyuruh nya sambil meminum teh hangat yang ku bikin tadi.
Tanpa di sangka sangka, satu bungkus roti yang ku beli tadi habis. Rasa nya ingin berteriak sangking senang nya.
Karna jujur saja, ini makan terbanyak Elsi selama dua minggu terakhir ini.
Biasa nya akan berakhir muntah di suapan ke dua. Bahkan suapan pertama.
"Gimana sayang? Enakan?" Dia mengangguk. Aku tersenyum melihat nya.
"Gimana kerjaan abang kalau Elsi dirawat disini?"
"Ngapain mikirin itu sih sayang, abang pasti ijin lah, mereka semua paham kok istri lagi sakit."
"Elsi takut aja abang kenapa kenapa di kantor kalau ijin nya lama."
"Udah, gak usah mikirin itu, Elsi sekarang istirahat ya. Selama disini tugas Elsi cuma istirahat dan makan yang banyak. Sambil pulihin kondisi seperti semula."
******
Total nya 1 minggu kami berada di rumah sakit. Akhirnya kami di bolehkan pulang oleh dokter. Ya walaupun Elsi masih ada mual mual, tapi setidak nya sudah tidak parah lagi seperti kemarin kemarin. Ia sudah bisa makan nasi sekarang.
Sedih sekali rasanya melihat dia yang lebih kurusan dan lemah karna mabuk hamil ini. Kalau bisa saja di tukar, aku saja yang mengalami nya. Dia jangan.
__ADS_1
"Elsi tunggu sini ya. Abang urus administrasi dulu."
Aku pergi ke ruangan admin untuk membayar semua biaya pengobatan kami selama seminggu ini.
"Pakai asuransi pak?" Tanya petugasnya kepada ku.
"Gak mas, saya yang umum saja."
Aku baru ingat, aku tidak punya asuransi atau BPJS untuk mengcover biaya sakit kami.
"Ini pak total nya." Petugas itu menyerahkan aku sebuah kertas invoice pembayaran.
Seperti ada yang menghantam di hati ku melihat jumlah nominal yang tertera di sana.
Kepala ku mulai menghitung cukup tidak uang di rekening kami. Karna jika di hitung kasar, kok sepertinya pas pas sekali.
"Mau cash apa debit pak?" Tanya petugas itu lagi melihat ku terdiam memandang kertas invoice.
"Sebentar ya mas." Aku memberi nya isyarat untuk menunggu ku sebentar, aku segera membuka HP ku dan membuka aplikasi Mbanking ku. Aku harus mengecek saldo dulu sebelum aku menggesek kartu nya. Takut jika ternyata kurang.
Tapi aku ternyata masih bisa bernafas sedikit lega, masih cukup ternyata. Walaupun untuk bulan ini, uang kami hanya tinggal 600 ribu untuk bertahan hidup.
Tapi aku tak mau menjadikan nya beban, yang terpenting adalah kesembuhan Elsi dan membayar semua biaya perawatan nya, soal rezeki, bisa di pikirkan nanti.
Selesai membayar dan menyelesaikan semua urusan nya kami pergi meninggalkan rumah sakit.
Di dalam perjalanan Elsi bertanya pada ku,
"Berapa tadi biaya semua nya bang?"
"Ya?" Tanya ku lagi. Aku kaget ia tiba tiba bertanya tentang itu.
"Biaya tadi bang? Rumah sakit?"
"Oh... Gak besar kok..."
"Iya, berapa?"
"Cuma 3 jutaan kok El..."
Jelas sekali aku berbohong. Padahal biaya nya lebih dari itu. Tapi aku tak ingin ia tau. Tak ingin dia terbebani.
"Serius? Mana bukti pembayaran nya?"
Aku aku pura pura meraba saku ku.
"Nah, kayanya abang buang deh di sana tadi." Padahal kertas itu masih ada di saku jaket ku.
"Ih kok di buang sih?"
"Gak sengaja sayang..." Kata ku sambil menyubit kecil pipi nya.
"Tapi syukur lah kalau cuma segitu. Kasian abang kalau harus bayar mahal mahal. Nanti kita gak ada uang pegangan."
Benar saja kan? Keputusan ku untuk berbohong tepat sekali. Aku tak ingin dia jadi kepikiran soal keuangan kami. Cukup saja dia mengalami perubahan fisik yang drastis selama hamil ini, dia tak perlu lagi stress memikirkan kondisi keuangan kami. Cukup menjadi tugas ku saja.
__ADS_1
Karna, mau bagaimana pun, dia jadi begini semua nya karna diriku.