
ELSI
Pagi itu Grup WA kami ramai sekali.
Sharma : Tenang sayaaang, entar gue bawaain oleh oleh yang banyak yaaa... Empur jugaa... Jangan sedih yaa sementara sendiri dulu 😘
Elsi : Sediihhhh, bakal sepi banget pasti gak ada kalian. Gue gak semangat sekolah.
Empur : Kalau gak di paksa aja sama ni anak gue gak ikut El.
Sharma : Enak aja maksa, emang elo nya yang kepengen kan. Gak pernah kan lo ke luar negeri.
Empur : Elo juga gak pernah, makanya heboh kan. Barang lo aja seabrek abrek.
Elsi : Kenapa jadi kalian yg ribut sih? Heran ni orang dua. Gue sumpahin lo berdua jodoh. Amin...
Empur : Udah gue ajakin nikah dia nya yang gak mau.
Sharma : Apaan sih mpurrr, Najis tau gaak.
Empur : Tuh kan El, Dia yang gak mau kan? kalo gue sih mau mau aja. wkwkkwkw...
Elsi : Ah udah lo berdua, brisik. Bentar lagi gue mau berangkat nih. Telpon gue pas senggang ya. Bye. Love you.
Tutup ku ketika mama sudah mengajak ku pergi.
Aku mengambil tas dan teriak ke Elmi bahwa kami hendak berangkat.
Selama ini Elmi sekolah nya masuk siang hari. Jadi begitu aku pulang, dia yang pergi.
Elmi turun dari lantai dua dengan wajah yang masih mengantuk.
"Elmi, sarapan di meja ya. Langsung sarapan, jangan lanjut tidur lagi. Awas kamu gak dengerin mama." Perintah mama sambil dia masuk ke mobil.
Elmi hanya mengangguk acuh.
"Dengar gak?" Lanjut mama lagi.
"Iyaaaaaaaaaaaaa dengaaar." Jawab nya kesal.
Kebiasaan Elmi memang manusia paling malas sarapan. Bangun tidur kerjaan nya cuma main game. Sampe waktunya dia pergi sekolah.
Karna gak ada siapa siapa dirumah saat pagi, jadi gak ada yang bisa mengontrol.
"El pulang mau dijemput?" Tawar mama kepada ku saat di perjananan.
"Eh tumben ma? Pulang cepat hari ini?"
Biasa nya mama selalu pulang menjelang sore. Makanya aku selalu pulang sendiri. Walaupun datang nya di antar.
"Sepertinya mama sih pulang cepat. Nanti mama telpon El ya kalo emang jam pulang kita barengan. Kalo mama pun duluan nanti mama tunggu El." Jelas nya.
"Oke deh..." Jawab ku.
Mama memarkirkan mobil nya di depan gerbang sekolah ku.
Oke, Aku kembali keringat dingin. mengingat aku sekarang sendiri dan bisa ketemu bang Nanda lagi.
Ku tepiskan rasa gugup ku dengan hal yang baik baik.
Setelah bersalaman aku turun dan bergegas menuju ke kelas.
Elsi... kamu jangan mikirin dia ya, entar dia muncul lagi di hadapan mu seperti kemarin kemarin.
Aku berjalan sambil terus melihat kedepan. Kalaupun ada suara suara yang memanggil nama ku, aku pura pura gak akan mendengar.
Semoga hari ini dia gak turun. Doaku dalam hati. Aku terus melangkah cepat. Setengah berlari.
Oke Elsi, we did it! Sebentar lagi masuk kelas.
Yey! Behasil.....
__ADS_1
Tidak, ternyata tidak...
Aku mematung melihat Bang Nanda ternyata berada di sana. Di kelas ku, di depan papan tulis. Tangan nya memegang setumpuk kertas.
Dia menoleh kearah ku yang berdiri diam di depan pintu.
"Silahkan masuk." Kata nya sambil tersenyum. As always...
Berasa dia yang punya kelas, batin ku.
Aku berjalan pelan dan memasang wajah super cuek yang aku bisa.
Aku duduk di kursi ku. Kulihat teman teman ku juga duduk dikursi nya masing masing.
Sepertinya dia ingin memberitahu sesuatu.
"Pagi temen temen semua." Sapa nya, dan di balas dengan seisi kelas. Terkecuali aku.
Duhhhh ketemuuu lagiiii kannn. Kenapaaa sihhhhh....
"Maaf menganggu waktu nya sebentar. Saya singkat aja ya, Saya mau bagiin pamflet dari klub jurnalis sekolah. Jika ada teman teman yang berminat belajar apa aja sih yang di lakukan jika gabung di ekstrakulikuler ini, boleh sekira nya nanti mampir di hari minggu. Semua waktu dan tempat nya di jelaskan di Pamflet ini. Yuk bagiin..." Katanya sambil mengisyarat kan teman nya untuk membagikan pamflet.
Mereka berjalan berpencar. Aku melihat dia mengambil jalur lorong di tempat duduk ku. Bisa ku tebak pasti dia ke arah sini.
Aku merogoh saku ku panik, dan mengeluarkan buku notes yang biasa ku bawa. Ini ku gunakan sebagai mengalihkan agar aku "terlihat sibuk".
Aku menundukan wajah ku sambil menulis asal asal di kertas. Entah lah aku hanya tak ingin terlihat memperhatikan nya.
Belum lagi dia sampai ke meja ku, aku sudah bisa mencium wangi tubuh nya. Wangi khas nya.
Orang ini ketumpahan parfume kali ya?
Aku jadi teringat pertama kali aku tertarik pada nya.
Percaya atau tidak, aku pertama kali jatuh hati itu karna wangi nya.
Waktu itu...
Diparkiran sekolah yang luas ini aku mencium wangi bunga yang lembut. Wangi sekali. Badan ku terputar putar berkeliling mencari arah wangi tersebut.
Tapi tidak bertemu siapa siapa. Hanya ada beberapa anak di dekat ku, tetapi saat ku dekati mereka, ternyata bukan dari mereka.
Lalu tak lama dari itu ku lihat ada driver datang tepat di depan ku. Dengan percaya diri nya aku langsung duduk dan naik di kursi bonceng nya. Kupikir ini ojol pesanan ku. Lalu memintanya memberikan helm nya kepadaku.
"Neng yang nama nya Nanda?" Kata ojol itu sambil memberikan ku helm nya.
Hah?
"Siapa pak?" Tanya ku lagi. Memastikan aku salah mendengar.
Belum lagi bapak itu menjawab, sayup sayup aku mendengar suara orang berteriak memanggil.
Wangi itu datang lagi dan semakin semerbak. Aku menoleh.
Orang itu terdiam hadapan ku dan pak ojol. Aku juga.
Aku terdiam lebih seperti tersihir oleh nya.
"Pak Mamat ya?" Tanya nya ke driver ojol yang ku naiki.
"Iya a..." jawab nya.
Aku masih terpana melihat nya. Dia sadar dan melihat ke arah ku.
"Maaf, Neng. Kaya nya neng salah naik driver deh neng." Putus pak ojol membuyarkan lamunan ku.
Bang Nanda terdiam begitu juga aku. Ojol pun juga.
"Neng..." tegurnya lagi. Aku tersadar.
"Eh iya pak maaf!" Kata ku sambil turun dengan panik dari motor nya.
__ADS_1
"Maaf maaf..." Kata ku kepada bang Nanda saat itu.
Aku mengecek lagi HP ku. Ku cek Plat motor bapak ojol, ternyata benar. Aku salah naik. Ya Tuhaaan...
"Ojol nya belum datang?" tanya bang Nanda di sela sela malu ku.
Aku mengecek HP ku lagi.
"Belum kayanya." Ujar ku lemas.
"Ya udah bentar ya pak, tunggu dulu." Dia berkata ke ojol nya.
"Entar kalo ojol kamu belum datang pakai punya saya aja. Entar saya order yang lain." Tawarnya kepada ku.
Aku langsung menggeleng geleng kan kepala ku merasa tidak enak.
"Gak gak jangan. Silahkan aja duluan. Kayanya bentar lagi sampai deh." Kata ku panik. Aku pamit dan segera meninggalkan mereka.
Sumpah deh aku malu banget.
"Sebentar!" Teriak Bang Nanda ke arah aku. Langkah ku terhenti. Dia berjalan menyusul ku.
"Itu... maaf, helm nya..." Katanya sambil menujuk kepala ku.
Astaga iya!
Aku panik dan segera membuka helm. Tapi kenapaaaa? kenapa malah tersangkut?
Aku menarik narik Tali helm nya tetap saja gak mau terbuka.
Memang panik membuat orang menjadi bodoh.
"Sorry..." Katanya sambil mengisyarat kan dia ingin membantu ku melepaskan nya. Aku hanya bisa terdiam malu.
Dia mendekatkan tubuh nya ke arah ku dan memegang kepala ku.
Ya Tuhan... Kenapa dia wangi sekali...
Dari dekat aku bisa melihat wajah nya yang mulus dan kemerahan terkena sinar matahari. Dia bukan cuma wangi tapi juga.......
Dengan mudah nya dia melepaskan pengait helm yang ku pakai. Perlahan dia melepas helm itu dari kepala ku.
"Ma... maaf yaa.." Kata ku terbata bata. Aku gugup sekali.
"Gak papa. Ya udah aku duluan ya?" Kata nya sambil tersenyum ramah. Memamerkan semua gigi putih rapi nya.
Ya Tuhaaan.... Aku sudah tak bisa berkata kata.
Kira kira dari situlah awal nya aku jatuh hati.
Kembali di suasana kelas yang saat ini.
Aku sudah hapal wangi ini. Bisa ku tebak dia sudah berada di dekat ku. Tapi aku tetap tak berani mengalihkan pandangan ku dari buku.
Deg.. Deg.. Deg..
Suara jantung ku sudah gak karuan.
"Pagi." Sapa nya. Aku menoleh. Dia sudah ada di samping ku.
Sudah, hentikan senyuman itu.
"Sendirian ya selama seminggu. Sayang sekali ya, coba kalau bisa Elsi ikut juga." Ujarnya prihatin. Yang terdengar di telinga malah sebalik nya. Sepertinya dia malah senang.
"Iya..." Jawab ku singkat. Aku masih menatap buku dan coretan gak jelas ku.
Dia menaruh pamflet di dekat tangan ku. Aku mendongak ke arah nya.
"Kalau bosen sendiri WA aja abang ya, nanti kita makan bareng." Katanya sambil tersenyum jahil. Dan belalu begitu saja dari hadapan ku.
Aku menghembuskan nafas lega ketika dia keluar dari pintu kelas ku. Dan lagi lagi sambil tersenyum kepada ku.
__ADS_1