
NANDA
Gimana El?
Aku suka aja bang. Kalau harga perbulan nya oke, boleh aja.
Kalau El mau kos kosan, bisa juga entar abang cariin. Siapa tau menurut Elsi rumah bangsalan ini terlalu besar untuk kita berdua.
Abang gak usah repot ya, Elsi serahkan semua nya ke abang. Aku ikut aja bang, kalau abang bilang ini bagus. ayo kita tinggal di sana. Kalau Elsi kebanyakan cerewet entar urusan kita gak bakal selesai selesai. Pokok nya Elsi ngikut keputusan abang.
Oke baiklah. Abang selesai kan urusan nya dulu ya. Elsi istirahat ya. Tidur aja...
Aku mengunci layar HP ku setelah membalas pesan WA nya.
Aku tadi memang sedang mengirim foto foto calon rumah yang akan kami tempati. Rumah bangsalan yang tidak terlalu besar. Bahkan bisa di bilang kecil. Hanya mempunyai 1 kamar, 1 ruang tamu, dapur dan kamar mandi.
Lokasi nya tidak terlalu jauh dari rumah Om Leo. Hanya berbeda 1 gang dari rumah nya.
Sebenar nya sebelum aku menemukan ini, aku sudah datang ke beberapa rumah dan kos kosan. Ada kos kosan yang lumayan bagus, ada kamar mandi di dalam dan dapur kecil nya. Tetapi harga nya lebih mahal dari rumah bangsalan ini.
Ada juga rumah yang murah, tetapi daerah nya sering banjir, ada juga yang bagus sekali rumah nya, rumah yang baru di bangun, tetapi lokasi kiri kanan nya belum ada tetangga. Karna sepi sekali aku tidak berani untuk menempati nya.
Mengingat Elsi akan sering sendirian dirumah ketika aku sedang bekerja nanti. Aku mengurungkan niat untuk menyewa nya.
Sampai lah aku di rumah sekarang ini, Rumah nya gak baru baru amat, tetapi aku suka suasana nya. Banyak tetangga, dekat dengan warung kelontong dan ada warung makan juga.
Tempat nya juga bersih, dengan tanaman yang tertata rapi, seperti nya warga sini memang orang nya sadar kebersihan. Kebetulan yang punya bangsalan ini juga kenalan Om Leo.
Aku sedang berbincang bincang dengan ibu Rasmi yang tinggal tepat di sebelah rumah kami. Beliau bukan pemilik nya tapi beliau sudah seperti tangan kanan yang mengurusi semua nya tentang rumah ini. Jadi ibu Rasmi ini yang mengurus semua pembayaran penyewa penyewa yang lain.
"Disini jangan risau dek, Air gak pernah mati, listrik juga gak pernah padam. Kalau pun padam mungkin setahun bisa di hitung jari. Itu juga kalau ada gangguan massal aja dek. Tetangga disini juga baik baik dek, soal nya kami sudah bertetangga lama. Makanya yang tinggal di bangsalan ini biasanya pada betah, Kalau mereka pindah, biasa nya itu karna mereka sudah bisa punya rumah sendiri. Ini rumah yang bakal Adek tempati itu orang nya pindah setelah tinggal 4 tahun di sini."
"Wah lama juga ya bu."
"Iya dek. Betah pokok nya saya jamin. Itu yang sebelah sebelah, sudah bertahun tahun tinggal disini."
Om Leo masuk ke rumah mendatangi aku dan bu Rasmi yang sedang berbincang bincang, sedari tadi dia memang di luar rumah sedang menelpon orang yang punya rumah ini.
__ADS_1
"Jadi untuk awal saya langsung bayar berapa bulan ini bu?"
ibu Rasmi hanya tersenyum dan melirik ke Om Leo. Aku terbingung.
"Udah, kita pamit dulu, belanja keperluan rumah mu kan?" Om Leo berkata pada ku.
"Iya udah gak papa. Tinggal aja, urusan itu gampang aja."
"Jangan bu, Entar ada yang ambil rumah nya."
"Gak, udah di booking itu sama mas Leo langsung ke pemilik nya."
Om Leo mengangguk dan mengelus pundak ku.
"Iya, udah tenang aja. Ayo kita pamit dulu." Ajak nya. Aku pun dengar ragu ragu berdiri. Aku menurut saja karna aku juga tidak mengerti bagaimana cara nya menyewa rumah. Ini memang pengalaman pertama ku.
Karna waktu masih ada, kami bergegas pergi ke toko yang menjual alat alat rumah tangga. Om Leo berkata gak perlu mengisi banyak barang dirumah, apa lagi dirumah itu sudah ada lemari dan kasur nya. Ya bukan barang yang baru baru banget, tapi masih layak pakai.
Barang itu memang di tinggal oleh pemilik nya, dan memang di sumbangkan untuk penyewa yang baru.
Karna kami tadi lihat kondisi barang nya masih bagus, kami putuskan untuk memakai yang ada saja, dan tidak membeli yang baru.
Yang benar saja?! Aku merasa sangat tak enak hati. Pantas saja tadi dia diam diam dan saling tersenyum dengan bu Rasmi. Ternyata mereka berdua sudah tau.
"Jangan lah om. Nanda gak enak."
"Udah gak papa. Om sendiri gini, kenapa kamu gak enak."
"Jangan om. Nanti Nanda bayar ke om ya. Gak boleh om. Nanda gak boleh ngerepotin om."
"Kalau kamu balikin om gak mau bantu bantu kamu lagi. Anggap aja itu hadiah pernikahan om buat kalian." Dia berkata sambil mengelus punggung ku.
"Tapi Nanda....."
"Udah gak papa. Sekarang kamu fokus aja dulu ke calon mu. Setelah ini kan kamu berencana menikah kan? Itu yang harus kita pikirkan dulu."
Aku terdiam dan hanya mengangguk pasrah.
__ADS_1
******
"Sumpah bang?"
Aku hanya mengangguk kepada nya. Aku sudah cerita semua nya ke Elsi soal om Leo yang membayar uang sewa kami selama 6 bulan kedepan, ketika aku sudah sampai dirumah sehabis pulang dari mencari rumah dan membeli barang barang tadi.
"Dia memaksa El, abang gak bisa dan gak enak menolak."
"Ya sudah bang. Alhamdulillah ya bang. Kita banyak banyak bersyukur sudah di pertemukan dengan orang baik."
"Semoga kita betah tinggal di sana ya bang." Lanjut nya lagi.
"Iya El. Semoga kedepan nya lancar juga ya semua urusan kita."
"El..." Panggil ku lagi. Aku berdiri dan menghampiri nya di atas kasur.
Aku merogoh saku celana ku. Dan aku meminta nya mengulurkan tangan nya.
Dia terdiam kebingungan, dan menyambut tangan ku.
Aku menyemat kan cincin kecil itu ke jari nya yang mungil. Dia terkejut.
"Bang?!"
"Elsi..." Aku menarik nafas ku panjang.
"Maaf ya... Dengan semua yang sudah terjadi."
Aku melanjut kan kalimat ku.
"Elsi nikah sama abang ya? Maaf abang gak bisa bikin pesta pernikahan layak nya orang lain. Maaf abang cuma bisa kasih cincin seperti ini. Maaf jika kita harus menikah dengan cara seperti ini. Tanpa keluarga, tanpa orang orang terdekat kita. Maaf kan abang jika kita harus berjodoh dengan cara seperti ini."
Dia terdiam menatap ku dan menitik kan air mata nya. Aku mengusap pipi nya dengan lembut.
"Maaf kan abang dengan segala ketidak sempurnaan abang ya Elsi."
Dia mengangguk dan memeluk ku erat. Dan menangis sejadi nya di bahu ku.
__ADS_1
"Abang janji, dengan seluruh kemampuan abang, dan buat Elsi hidup bahagia. Dan abang janji bakal mengembalikan hidup Elsi seperti dulu."