Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
MAKAN SENJA


__ADS_3

NANDA


Aku duduk termenung di kursi belakang mushola. Aku baru saja selesai makan dan shalat.


Tadi ketika aku menelpon Elsi, seperti nya dia sedang video call dengan papa. Rasa bersalah menyelimuti ku beberapa hari ini.


Aku merasa tidak banyak waktu untuk istri ku sendiri. Karna kau terlalu sibuk bekerja. Bahkan dari awal tinggal disini sampai sekarang aku belum ada membawa nya sekedar berjalan jalan mengelilingi kota.


Jangan kah pergi jalan jalan, janji ku untuk pergi membawa nya periksa kandungan saja belum ku penuhi sampai sekarang.


Aku juga sadar jika pulang kerja aku lebih sering kelelahan berakhir dengan aku tertidur duluan. Intensitas aku mengobrol dengan Elsi pun berkurang. Aku sadar akan hal itu.


Maka dari itu, aku membulat kan hati akhir minggu ini aku akan pergi membawanya periksa kandungan dan sekalian membawanya jalan jalan.


Aku tau sekali akan sumpek rasanya jika kamu sebulan penuh hanya berada di dalam rumah seperti yang dia lakukan sekarang.


"Aku cariin dimana, sekali nya kamu disini Nan." Ucap Cici memecahkan lamunan ku. Aku menyambutnya dengan senyuman dan mempersilahkan ia duduk di samping ku.


"Nih..." Dia memberikan aku segelas kopi kekinian. Hampir setiap hari ada saja yang di beri nya kepadaku, untuk hari ini adalah kopi.


"Makasih loh Ci. Kasian kamu beliin buat aku terus."


"Santai lah, Beliin anak anak sekalian kok."


Aku tau. Aku tau ia berbohong. Aku sudah beberapa kali mengecek, jika aku di beri sesuatu dari cici, itu benar benar hanya aku. Dimas dan Anto tidak.


Bukan aku ke pede an, tapi kan kita bisa menilai jika seseorang itu tertarik kepada kita apa tidak, contoh nya adalah seperti ini. Perlakuan spesial.


Aku juga sering di pancing nya untuk jalan, atau sekedar cari makan siang bersama. Tapi aku tidak bisa melakukan nya. Aku terlalu sibuk dengan kerjaan ku.


"Iya tetap gak enak sih kalau kamu jajanin aku terus. Aku gak bisa balas nya."


"Bisa lah, kenapa gak bisa? Hehehe..."


Ya kan? Dia tetap berusaha. Aku sudah salah ngomong. Aku terdiam saja sambil tertawa canggung.


Tapi Cici juga tak pernah memaksa ku, jika aku sudah melakukan "penolakan halus", ya dia juga tak memaksa. Dia tetap menghargai aku.


Aku memarkirkan mobil antaran persis di depan pintu laundry. Kerjaan ku baru saja selesai. Aku turun dan mobil dan merenggangkan seluruh badan ku.


Capek sekali rasanya seharian di jalan, bertarung dengan kemacetan jalan, dan gang gang sempit yang ku lewati untuk mengantar atau menjemput cucian.


Dimas datang menghampiri ku dan bertanya apa ada cucian kotor di dalam mobil.


"Ada, lumayan banyak tuh." Kata ku sambil membuka bagasi mobil.


Kami berdua bolak balik mengambil kantong plastik yang berisi cucian kotor pelanggan.


"Banyak bener Nan, pantesan kamu seharian di jalan." Ujar Anto ketika kami sudah selesai mengangkat kantong kantong itu ke ruangan laundry.

__ADS_1


"Iya hari ini lumayan banyak mas. Gak kaya biasa nya. Mana tadi macet banget ada pengerjaan jalan di perempatan situ. Di tambah ini jam pulang kerja kan? Jadi macet banget. Ini juga, sepertinya aku gak bawa mobil pulang. Mending naik ojek atau gak jalan kaki aja lah kalau ngeliat macet nya kaya begitu."


"Oiya bener, Kemarin customer ngeluh katanya hampir 2 jam kejebak disana. Gak tau itu sampai kapan baru selesai. Heran juga pemerintah suka bikin kerjaan, padahal jalanan nya gak kenapa kenapa, tapi rajin ngebongkar." Anto menimpali keluh kesah ku.


"Yo wes siap siap pulang sana. Pulang duluan gak papa wes, ada aku sama Dimas kok."


Aku berjalan ke meja depan, ku lihat Cici belum juga pulang, padahal laundry sudah tutup dari 15 menit tadi.


"Belum pulang Ci?" Kata aku mengagetkan nya.


"Belum, males ah macet di simpangan, mending aku tunggu agak reda aja. Biar kata naik motor juga males kena macet disana."


"Iya sama, kayanya aku gak pulang naik mobil ini. Kalau gak naik ojol, aku jalan kaki aja lah kaya biasa, lebih cepat sampai kaya nya."


Aku duduk menghempaskan badan ku di sofa. Remuk sekali rasanya. Aku melepaskan sepatu ku dan meluruskan kaki ku di atas sofa. Ku putuskan untuk beristirahat dulu beberapa saat sebelum aku pulang.


Ku lihat Cici sibuk dengan game di HP nya. Wajah nya terlihat serius sekali. Tetapi kenapa tiba tiba aku terpikir sesuatu ya?


Ku lihat jam di tangan ku. Ku lihat juga jalanan yang sedang padat merayap. Seperti nya ini waktu yang pas.


"Ci..." Panggil ku. Dia menyahut ku tanpa menoleh dari layar HP nya.


"Lapar gak?" Tanya ku kepada nya.


"Cari makan yuk? Aku yang teraktir." Aku melanjutkan kalimat ku lagi sebelum dia menjawab pertanyaan ku yang sebelum nya.


Sontak dia meletakan HP nya di atas meja, tak percaya akan tawaran ku. Padahal sedari tadi dia tidak teralihkan dari pandangan nya.


"Sekarang?"


"Iya sekarang. Kenapa? Kamu gak bisa ya?"


"BUKAN! BUKAN GITU! AKU BISA LAH! BISA BANGET!" Dia berteriak penuh dengan semangat. Aku sampai terkejut melihat respon nya. Melihat ku kaget, seperti nya dia sadar.


"Sorry sorry. Kaget ya?"


"Hehehe... Gak papa. Jadi mau gak?"


"Mau! Dimana?"


"Kalau liat keadaan jalanan seperti ini, baik nya kita di dekat dekat sini aja. Sebelah sebelah sini ada rumah makan kan?"


"Ada sih... Boleh aja. Naik motor ku?"


"Gak deh kayanya, entar kita malah kejebak macet. Jalan kaki aja mau? Dulu kamu pernah ngajakin aku makan dekat sini, gimana kalau di sana aja?"


"Boleh boleh, dekat aja kok, Bentar yaa aku siap siap dulu."


Bentar nya cewek, jangan pernah kamu percaya. Tidak ada yang nama nya sebentar jika mereka lagi berdandan.

__ADS_1


Aku yang tadi sudah menunggu nya di luar sempat masuk lagi menyandarkan tubuh ku di sofa. Sampai akhirnya dia datang menghampiri ku.


"Sorry lama ya?" Tanya nya. Dia sudah wangi dan baju nya sudah di ganti. Jangan tanya bagaimana cara nya dia bisa berganti baju padahal lagi di kantor. Wajah nya pun sudag segar seperti dia turun kerja di pagi hari. Karna itu lah aku menunggu dia lama.


"Gak juga kok, sempat tidur aja aku nya." Kata ku mengejek nya. Dia misuh misuh memajukan bibir kecil nya.


Kami berdua jalan di pinggir jalan dengan langit yang sudah mulai senja. Sepanjang jalan kami isi dengan mengobrol dan tertawa satu sama lain. Cici memang tipe orang yang enak di ajak berbicara. Dia selalu bisa menyambung seluruh cerita ku kepada nya. Mungkin karna umur nya yang lebih dewasa dari pada aku, wajah dan tubuh nya saja yang seperti anak kecil. Bahkan jika di sandingan dengan Elsi, mereka terlihat seumuran.


Kami sampai di rumah makan yang tak jauh dari tempat laundry kami. Begitu duduk kami langsung memesan makanan kami masing masing.


Omongan kami tak henti hentinya bahkan sampai makanan kami datang. Kami langsung menyantap nya masih dengan obrolan seru. Sedikit demi sedikit aku tau tentang diri nya. Dia menceritakan semua nya tanpa harus ku tanya. Aku mendengarkan nya dengan sangat baik.


Dia menyeruput habis es kopi nya. Tapi mungkin sangking bersemangat nya, dia sampai tersedak.


"Pelan pelan Ci." Aku menghampiri nya dan mengambil tisu dari atas meja. Ku tepuk pelan punggung nya sambil melihat dia batuk batuk.


Aku berjalan dan mengambil botol mineral dari meja kasir, dan membuka kan nya, memberikan nya kepada Cici.


Setelah lebih tenang Cici meminum nya sampai habis.


"Gimana? Enakan?" Tanya ku kepada nya.


"Gak papa kok. Sorry ya."


"Aman, pelan pelan ya lain kali." Aku mengusap bahu nya dan kembali ke tempat duduk ku. Aku mengangkat tangan ku memanggil yang punya warung. Aku mengisyarat kan kepada nya jika aku ingin memesan lagi.


"Ya mas?" Ibu itu datang dengan nota di tangan nya.


"Mau pesan nasi goreng ikan asin lagi satu ya bu. Di bungkus aja." Ibu itu mengangguk dan pergi meninggalkan kami.


"Buat orang rumah Nan?" Tanya Cici kepada ku.


"Iya Ci..."


"Kok satu aja? Emang cukup?"


"Cukup kok, kan cuma ada istri dirumah."


Tiba tiba saja wajah Cici yang tadi semuringah, diam kaku menatap ku. Aku terdiam juga menatap nya.


"Siapa?"


"Apa nya siapa?"


"Buat siapa?"


"Oh... Nasi goreng nya? Buat istri."


"Istri?"

__ADS_1


"Iya."


"Udah nikah kamu Nan?" Tanya nya dengan wajah yang sangat sangat tidak percaya.


__ADS_2