
ELSI
Tanpa berpikir panjang aku segera memeluk nya. Memeluk nya erat. Sangat erat. Aku menangis bahagia di pelukan nya. Ketika dia memasangkan cicin itu di jari ku, dan mengajak ku untuk menikah.
Aku sudah tak bisa melakukan apapun lagi selain menangis bahagia.
Dalam kamar yang gelap ini, kami berpelukan dalam waktu yang lama.
Aku tidak perduli dengan penikahan ku yang tak akan seperti orang pada umum nya. Aku tidak akan perduli dengan tinggal dirumah yang sempit dan jauh dari keluarga ku. Yang aku mau hanya dia. Laki laki yang sedang berada di pelukan ku sekarang.
Aku tak ingin kehilangan dia sampai kapan pun.
Bagaimana cara orang tua nya mendidik dia menjadi laki laki baik yang bertanggung jawab dan berhati lembut seperti ini?
Disaat banyak kesempatan dan pilihan untuk meninggalkan ku seorang diri untuk melalui ini semua?
Dia tetap berada di samping ku, untuk ku. Merelakan semua kehidupan sempurna nya untuk ku.
Selama aku kenal dengan nya, aku tak pernah di buat nya sakit hati. Aku tak pernah di kecewakan nya. Bahkan dia selalu datang disaat aku membutuhkan nya. Bahkan aku yang selalu menyakiti hati nya dengan sifat kekanak kanakan ku.
Padahal umur kami tidak terlalu jauh, tetapi dia sangat sabar dan dewasa menghadapi ku. Prilaku buruk ku.
Aku melepas kan pelukan ku perlahan. Dan memegang wajah nya dengan kedua tangan ku.
"Terima kasih abang..." Itu saja yang bisa ku ucapkan dari bibir ku.
"Mau ya nikah sama abang?" Tanya nya lagi sambil tersenyum. Aku menatap wajah nya lama.
"Iya bang..." Aku bekata sambil mengangguk yakin. Aku memang sangat yakin kepada nya.
Dan kami berpelukan lagi.
******
__ADS_1
Tiba lah di hari aku akan menikah. Aku sudah bangun dari subuh, karna aku harus berdandan untuk pernikahan ku.
Padahal aku sudah bersikeras bilang ke bang Nanda untuk tidak usah di dandani. Yang biasa saja. Karna yang penting adalah akad nya.
Tapi dia tidak mau. Katanya momen ini tidak bisa di ulang. Dia tetap memanggil perias untuk ku, lengkap dengan baju putih yang sudah mereka siap kan untuk akad ku.
Sedari pagi aku sudah tak melihat batang hidung bang Nanda. Karna aku hanya dikamar, sedangkan dia sedang mengurus urusan di luar. Dan belum ada masuk masuk lagi ke kamar.
Kata perias ku, aku sengaja tidak di pertemukan dengan bang Nanda sampai saat sudah akad nanti. Aku hanya tertawa mendengar nya. Harus begitu kah ketika menikah?
Semua yang ada di hari ini sudah tau jika kami menikah karna "kecelakaan". Bahkan perias ku berkata aura ku keluar sekali. Karna dia berkata, jika memang ada ibu hamil yang kecantikan nya lebih keluar saat hamil. Dia bilang wajah ku bersinar, aku tak mengerti, padahal tidak ada lampu di bola mata ku.
Penghulu datang sebentar lagi, aku pun sudah selesai di dandani. Aku berkaca sekali lagi melihat wajah ku. Melihat seluruh tubuh ku di pantulan cermin.
Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri. Istri sah nya Desnanda. Entah kenapa aku masih tidak percaya.
Secepat itu takdir hidup berubah, baru saja aku masih berada di sekolah, tertawa tawa dengan Sharma dan Purna. Sekarang, detik ini, aku dengan baju penikahan ku, mempersiap kan diri untuk menjadi seorang istri. Di saat teman teman sebaya ku masih asyik bermain dengan anak anak lain nya.
Aku memegang perut ku, aku juga sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Bisa kah aku menjadi istri dan ibu yang baik nanti nya?
"Cantik, penghulu nya sudah datang." Ucap kakak perias ku. Ketika dia mengintip dari balik pintu.
Sontak ujung jari jemari ku menjadi dingin. Aku menjadi gugup sekali. Aku harus bagaimana?
Apa yang di rasakan bang Nanda sekarang? Pasti dia lebih gugup dari pada aku. Karna dia yang harus ijab kabul. Bagaimana jika dia salah salah saat mengucap kan nya? Padahal dia sudah berlatih berhari hari sebelum hari ini.
"Saya keluar nya kapan kak?" Tanya ku.
"Seperti nya nanti, saat calon suami mu sudah ijab kabul. Tadi saya di pesanin mas Leo begitu."
Aku makin gugup mendengar nya. Padahal aku tahu, di luar sana tidak banyak orang. Tapi entah kenapa aku merasa tidak karuan.
Aku mendengar suara penghulu mulai berbicara. Sangking gugup nya aku sudah tidak mendengar apa saja yang ia biacarakan.
__ADS_1
Aku hanya duduk sambil memainkan kuku ku. Tapi satu yang ku tau pasti, ketika aku mendengar penghulu menyebutkan nama ku, yang arti nya sebentar lagi bang Nanda akan mengucakan ijab kabul.
Ketika aku mendengar bang Nanda bersuara, aku menutup rapat rapat mata dan telinga ku, entah kenapa aku takut mendengar nya. Aku takut sekali dia salah, walaupun aku tau jika pun salah akan bisa di ulang.
Tetapi aku tetap saja takut dan gugup. Sampai samar samar aku mendengar orang orang berkata "Barakallah" secara bersamaan, disitu lah hati ku seketika lega.
Aku menarik nafas kencang, tak terasa air mata ku keluar dari sudut mata.
"Ayo siap siap keluar." Ucap kakak perias sambil menghampiri ku. Dia terkejut melihat ku menangis, dan segera mengambil tisu di atas meja. Membantu ku mengusap air mata ku agak riasan ku tidak luntur.
"Aku gimana kak?" Tanya ku sambil bertanya soal penampilan ku.
"Cantik! Pokok nya cantik! Suami mu pasti akan terkejut!" Ucap nya sambil merapikan bunga melati yang tersemat di kepala ku.
"Ayuk keluar, sudah di tunggu." Dia membopoh ku berjalan keluar kamar. Aku melangkah keluar menuju pintu kamar.
Ketika ia menyingkap tirai kamar, aku baru bisa melihat ternyata lumayan banyak tamu yang hadir di pernikahan kami. Pernikahan sederhana kami.
Aku tertegun melihat ke arah bang Nanda yang sedang berhadapan dengan penghulu dan Om Leo berada di samping nya. Dia juga melihat ke arah ku.
Hati ku berdebar kencang, dia gagah sekali pagi ini. Duduk rapi memakai setelan jas serba putih. Rambut nya tersisir kebelakang dengan sangat rapi. Tidak ada poni poni yang biasa menutupi dahi nya yang indah. Sama seperti melihat nya ketika saat malam pesta ulang tahun nya.
Aku di tuntun maju dan duduk berada tepat di samping nya. Mata ku tak bisa lepas dari nya. Sampai saat aku duduk di samping nya pun aku masih menatap nya. Dia yang sedang tersenyum manis ke orang orang di dekat nya.
Waktu nya tukar cincin pun aku masih dengan tatapan ku kepada nya. Aku melihat peluh nya menetes dari pelipis nya nya. Aku menyeka nya dengan jari ku. Pasti dia gugup sekali sampai berkeringat seperti ini.
Dia melihat ku dan tersenyum sangat manis. Aku berdebar lagi, apa lagi ketika dia melingkarkan cincin itu di jari manis ku. Dan aku pun memasangkan juga di jari nya.
Aku menangis ketika aku menundukan wajah ku di tangan nya, dia mengelus kepala ku lembut ketika aku bersalim kepada nya.
Dan ketika penghulu menyuruh ia mencium ku, sebagai seorang istri nya yang sah. Dia mendekat kan kepala nya ke kening ku, dan mengecup nya lembut. Air mata ku tak henti henti nya tumpah.
Resmi sudah, aku sekarang adalah seorang istri. Istri dari laki laki yang sekarang sangat ku cintai, bahkan aku mencintai nya dari saat sebelum dia mencintai ku. Bahkan mengenal ku.
__ADS_1