Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
PERSIAPAN PERNIKAHAN


__ADS_3

ELSI


"Nambah lagi gak?" Harry memecah lamunan ku. Aku yang sedari tadi memandang keluar jedela segera mengalihkan padangan ku kepada nya.


"Gak gak... Udah kenyang." Tolak ku sambil menyeka bibir ku dengan tisu.


Kami memang sedang menghabiskan waktu bersama setelah kami fitting baju pernikahan kami.


Iya, baju pernikahan.


"Apa gak kecepatan pesan baju nya sekarang El? Masih 8 bulan lagi loh?"


"Gak papa lah, kan kita request, jadi jauh jauh bulan lebih baik. kalau ada yang gak kita suka kan kita bisa rubah lagi."


Harry mengangguk saja mendengar penjelasan ku. Dia melihat jam di tangan nya. Dan mengalihkan lagi pandangan nya kepadaku.


"Purna jadi kesini?"


Aku mengangguk, "Jadi, kayanya bakal sama Sharma juga."


"Loh bukan nya Sharma ada kelas?"


"Ada, cuma entah kenapa tadi dia bilang di grub dia bisa ikut. Balik lah Har, kasian kamu kalo telat. Tau aja kan jalanan super macet?"


"Gak papa kamu sendirian?"


"Gak papa, paling sebentar lagi Purna sampe kok. Udah pergi ajaaa." Kata ku sambil berdiri dan membantu membawakan tas nya.


Kami memang mencuri curi waktu untuk fitting baju pernikahan dan sekalian makan siang bersama di sela sela waktu kerja kami yang padat.


Walaupun pernikahan kami masih 8 bulan lagi, tetapi aku tetap saja mau cicil cicil persiapan nya dari sekarang. Seperti hari ini, sudah selesai 1 PR kami untuk urusan baju pernikahan. Untuk sisanya, perlahan lahan kami akan mengerjakan nya.


Lebih tepat nya aku sih, Karna aku tau Harry sibuk sekali di kantor nya, dan lagi pula dia menyerahkan semua urusan pernikahan kepada ku dan Mama untuk menangani nya. Dia hanya sediakan semua biaya nya saja.


Syukur nya dia bisa di ajak kerja sama dengan baik, dia tidak banyak protes dengan pilihan ku, apapun itu.


Dia bilang dia tak ingin merepotkan ku, jadi aku di suruh memilih nya sendiri, dia mengikut saja. Dia percaya akan pilihan ku.

__ADS_1


Jadi yang banyak terjun di persiapan pernikahan ku hanya aku dan mama.


Selepas kepergian Harry aku kembali masuk ke dalam dan segera mengambil HP ku.


Aku menepon mba Silvi, atasan ku di kantor. Kepala Marketing ku.


Aku memang sudah bilang padanya jika aku akan terlambat untuk kembali kekantor. Tapi aku ingin memastikan nya sekali lagi lewat telpon.


Kerjaan ku memang sudah ku selesaikan semua nya sebelum aku keluar tadi, karna aku pikir aku akan lumayan lama pergi keluar kantor.


"Terima kasih ya mba, mba mau nitip apa? Saya lagi di The Plate?" Tanya ku kepadanya sebelum ia mengakhiri telpon.


"Hm.. Apa ya? Aku sudah makan sih sebenar nya. Entar titip kopi dekat kantor aja El."


"Baik lah mba, kaya biasa kan? See you..."


Ucap ku sebelum menutup telpon.


Tepat saat aku menutup telpon Purna dan Sharma datang menghampiri ku.


Aku segera memeluk mereka berdua. Jujur saja aku kangen sekali, karna mereka cukup lama meninggal kan ku sendiri untuk pergi honey moon.


Tak menyangka kan? Aku pun sama, bahkan mereka pun sama. Tidak menyangka akan berjodoh satu sama lain.


Mereka yang kerjaan nya hanya berkelahi saja di sekolah. Memang benar, yang terlihat tidak akur itu lah yang bisa bisa menjadi jodoh kita.


Setelah lulus kuliah, karir Purna bisa di bilang bagus. Dia berhasil menjadi General manajer di sebuah perusaan yang cukup ternama. Dia di percaya walaupun umur nya masih lumayan muda ketimbang pegawai pegawai senior disana.


Di tambah dulu nya ia magang di perusahaan tersebut, maka dari itu dia sudah punya pengalaman yang lumayan di tempat kerja nya sekarang ini.


Sedangkan Sharma, Dia lebih memilih meneruskan usaha orang tua nya sambil membuka Sanggar menari kecil kecilan. Ya pas saja, itu memang keahlian dia mulai dulu.


Sebenarnya lamaran Sharma sudah lama sekali, mungkin sudah berlangsung 3 tahun. Tapi mereka memang sepakat untuk menikah dengan biaya sendiri, maka dari itu mereka menabung selama 3 tahun. Mereka tidak ingin membebani orang orang sekitar mereka.


Acara mereka pun kecil kecilan saja, hanya mengundang beberapa kerabat dekat saja. Itu juga di laksanakan hanya di sebuah restoran yang tidak terlalu besar. Pokok nya sederhana saja.


Sebenar nya ingin saja aku membuat acara sederhana seperti mereka berdua, tetapi Harry bilang buat lah acara seperti yang aku impikan. Dan di dukung oleh mama, jadi aku hanya menurut nurut saja.

__ADS_1


Untuk sekarang, aku memang lebih terbiasa menurut nurut saja dengan omongan orang sekitar.


"Lo belum booking gedung?" Tanya Sharma di sela sela santapan kami.


"Kata Harry gak usah, soal nya kan gedung nya punya keluarga nya. Ibarat mau nikah nya besok juga pasti bisa."


"Hati hati, entar malah ketumpuk sama tanggal orang." Purna menimpali.


Aku jadi ingat kejadian itu, acara mereka berdua sedikit lagi menjadi kacau karna ketumpuk sama tanggal orang nikahan juga.


Aku tak mengerti bagaimana pasti nya, kok bisa ada bookingan di tanggal yang sama, tapi dari penjelasan Sharma kemarin, itu karna ada yang coba coba mengambil tempat "dari orang dalam". Untung saja, entah kenapa orang itu memakai jasa rias pengantin yang sama, jadi tukang rias Sharma yang mengabari nya jika ada yang mau masuk di tanggal yang sama dan gedung yang sama.


Jika saja perias tersebut tidak mengabari nya, entah jadi apa acara Sharma dan Purna.


Jadi karna pengalaman mereka lah mereka jadi sering mengingat kan ku untuk jangan ceroboh, karna bisa saja hal hal seperti itu terjadi.


Selesai kami bercengkrama bersama, kami perpisah lagi karna di tunggu kerjaan di kantor masing masing.


Kadang aku masih kangen masa masa SMA dulu, kami bisa berkumpul dengan leluasa tanpa harus mengingat waktu.


Sekarang, untuk bertemu sekedar makan siang pun rasanya berat, karna kesibukan kami masing masing.


Di waktu malam pun jarang, karna masing masing dari kami sudah lelah akan kegiatan kami di siang hari. Apa lagi Purna, si "raja" nya lembur.


Aku kembali ke kantor sambil menenteng sebuah tas berisi oleh oleh Sharma dan Purna dari pulau Dewata.


Karna tempat ku makan tadi tidak terlalu jauh dari kantor ku, ku putuskan untuk berjalan kaki saja, kebetulan mba Silvi meminta ku untuk membeli kopi di salah satu cafe dekat kantor.


Lagi asik menikmati udara siang hari yang kebetulan hari ini tidak terik, tidak juga mendung, aku tiba tiba terdiam di depan pintu gerbang.


Pintu gerbang sekolah ku dulu. Tempat ku bermain, berjuta juta kenangan berada di sana. Walaupun aku tak sampai lulus di sana, tetapi kenangan itu masih melekat di benak ku.


Tiba tiba aku teringat hal besar di sekolah ini.


Aku teringat semua kenangan nya...


Orang itu...

__ADS_1


Dimana kah sekarang dia berada?


__ADS_2