
ELSI
Begooooooo.... Bego sekali elo Elsiiii..
Aku mengacak ngacak rambut ku sendiri ketika aku sudah sampai di kamar.
Selama perjanan pulang dari cafe tadi aku bener bener kacau.
Kenapa elo nambah masalah baru sih Eeeell????
Seharusnya pertemuan tadi itu tujuan nya untuk menyelesaikan masalah. Bukan untuk berbuat tega ke dia.
Aku masih ingat sekali wajah nya ketika ku tolak mentah mentah ajakan dia untuk memacariku.
Aku jawab dengan nada yang sangat ketus dan dingin.
Seketika meninggalkan cafe tadi aku menjadi kasihan padanya.
Tapi jika aku balik kesana lagi aku terlihat seperti orang bodoh.
Entah apa yang ada di pikiran ku, semakin dia ingin mendekati ku, semakin aku enggan.
Bukan, bukan karna aku membenci nya. Aku loh yang suka dia duluan. Bahkan kemarin saat melihat nya di cafe pertama kali, aku sempat mematung. Lelaki ini memang gagah sekali. Aku gak bisa memungkiri nya.
Tapi karna dia terlalu baik dan sempurna saat itulah bisikan itu muncul. Bisikan yang membuat aku gak percaya dia baik.
Yang ada di pikiran ku hanyalah jika nanti kami pacaran, itu bukan karna dia mencintai ku, itu karna dia kasian. Dan hanya merasa butuh "tanggung jawab".
Itu yang aku gak mau. Aku gak mau punya hubungan karna "sesuatu"
Aku terlalu takut di permainkan, di khianati...
Yang membuat aku jadi dingin sekali di depan nya. Padahal aku gak boleh begitu.
Aku menghempas kan badan ku di ranjang. Ku tatap layar HP ku. Entah kenapa aku menunggu nya berbunyi. Aku berharap Bang Nanda menghubungi ku.
Bagaimanaaa aku ke sekolah besok?
Aku menutup muka ku dengan bantal. Terpikir kami akan bertemu lagi di sekolah. Aku tak sanggup.
Seharusnya dengan pertemuan tadi sudah tak ada kecanggungan di antara kami, sehingga kami bisa dengan santai bertemu di sekolah. Seperti sedia kala.
Tapi apa yang ku perbuat malah memperunyam keadaan.
Marah kah dia?
Kesal kah dia padaku?
Sakit kah hati nya atas perlakuan ku tadi?
Atau dia tertawa lepas karna aku berhasil menolak nya? Jadi dia tak perlu bertanggung jawab.
ELSI STOP NEGATIF THINKING MU!
******
Rasa nya ingin pindah sekolah saja. Sumpah.
Aku gak bisa tidur semalaman. Kulihat jam di layar HP ku. Masih subuh.
Aku menarik selimut ku lagi. Aku gak mengantuk sama sekali. Yang kupikirkan hanya nanti pagi.
Aku berdoa agar gak ketemu dan berpapasan dengan nya di sekolah.
Aku akan menghindari tempat dimana dia sering muncul. Syukurnya kelas kami lumayan jauh. Karna dia kakak kelas ku.
Aku gak sanggup melihat nya lagi setelah apa yang ku lakukan kemarin.
Aku harus menghadapi nya. Karna aku yang minta padanya agar biasa saja seperti saat tidak kenal.
Aku mengambil HP, mencari kontak Empur.
Empur... ELo bisa jemput gue? Hari ini elo sama Sharma gak?
__ADS_1
Aku mengirim WA ke Purna.
Aku lelah jika harus berangkat sendiri. Agar aku tidak terlalu gugup ada baik nya aku berangkat dengan nya.
HP ku berbunyi.
Sama Sharma sih, tapi entar bisa mampir jemput lo sekalian.
Balas nya.
Aku mengerut kan dahi. Maksud nya apa? Gue gonceng 3 gitu? Mereka kan selalu pakai motor berdua.
Sharma oke katanya. Hari ini dia bawa mobil. Elo kenapa gak ngomong di grub aja sih?
Balas nya lagi.
Oh pake mobil Sharma... Gue bingung soal nya pas lo bilang mampir jemput gue.
Pasti lo pikir gue sama Sharma jemput lo naik motor kan?
Hehehe iyaa...
Ya udah entar pake motor kita gonceng 3. Elo di depan ya, karna badan lo paling kecil. Tenang motor gue muat kok.
Awas ya lo, gue jitak lo kalo ketemu!
Tutup ku, dan aku segera mandi.
******
"Tumben El elo minta di jemput? Biasa lo bareng mama..." Tanya Sharma sambil menyetir.
"Emm.. Mama mau buru buru dan gak sejalur dengan sekolah Shar. makanya takut gak sempat."
Gimana? Aku sudah jago bohong kan?
"Tapi tumben juga lo bisa bawa mobil. Gak di pake?" Balas ku.
"Kan ada mobil angkutan El..." Jawab Purna santai.
"Tapi untung ya lo WA gue subuh tadi. Jadi kita bisa prepare waktu. Kalo lo baru WA nya pagi, pasti kita sekarang udah telat." Sambung Purna lagi.
Iya, Memang rumah ku dan rumah mereka berdua jarak nya lumayan jauh. Ujung ke ujung. Sedangkan sekolah kami berada di tengah tengah nya.
Jadi saat mereka pergi menjemput ku tadi mereka melewati sekolah terlebih dahulu.
Maka dari itu aku dan mereka jarang berangkat sama sama. Aku selalu di antar mama atau tidak naik ojek online.
Karna Kampus mama pasti melewati sekolah ku.
Ketika mobil Sharma memasuki kawasan sekolah. Aku kembali keringat dingin.
Dalam hati ku berdoa semoga aku selisih terus sama Bang Nanda sampai selama nya.
Aku mengawasi keadaan sekitar, aku melihat jam di tangan ku. Sepertinya kalau sepagi ini bang Nanda dan teman teman nya belum datang.
Ini saat yang tepat untuk ku segera masuk ke kelas.
Aku turun dari mobil dan disusul Purna dan Sharma.
Aku gugup setengah mati tapi aku harus akting di depan mereka berdua senormal mungkin. Mau gila rasanya.
Sepertinya Purna yang mencium "ketidak normal-an" ku.
"Elo kenapa El? Nyari siapa?" Katanya sambil kami berjalan menuju kelas.
"Eh? Gak... Gak kenapa kenapa kok."
"Habis lo liat ke atas mulu." Katanya menunjuk gedung lantai dua.
Iya, itu tempat dimana kelas bang Nanda berada.
"Gue baru sadar aja Empur, ternyata sekolah kita gede ya... hihihi..."
__ADS_1
Bodoh Elsi bodoh...
Purna hanya mengerinyitkan dahi nya dan membuang padangan nya dari ku. Jelas dia sedang ke "aneh"-an dengan sikap ku.
Aman seperti nya, sekolah masih sepi, kelas Bang Nanda pun sepi. Bahkan Mobil Kak Adil dan teman teman nya belum terlihat di parkiran tadi.
Aku bisa masuk kelas dengan tenang.
Aku berjalan santai sambil melihat ke bawah, Baru ku sadar sedari tadi tali sepatu ku ternyata terbuka.
Aku menunduk memperbaiki nya.
"Kalian duluan aja." Ucap ku ke mereka tanpa melihat. Aku mengikat tali sepatu ku.
Sampai aku sadar ada kaki yang mendekati ku.
"Sudah gue bilang duluan ajaa... Kenapa nungguin gue siii..."
Aku membeku seketika.
Sepasang kaki yang kulihat di depan ku itu ternyata bang Nanda.
Dia tersenyum berdiri di depan ku. Wangi sekali. Aku hapal sekali wangi tubuh nya.
Sial...
Umpat ku dalam hati.
"Bisa bicara sebentar?" Kata nya sambil tersenyum. Manis sekali. Kaki ku nyaris meleyot.
Kenapa? kenapa dia sesantai ini menemui ku? Padahal kemarin aku sudah menyakiti nya?
Dan ini? Di depan teman teman ku? AKU BARU SADAR DENGAN MEREKA!
Aku menoleh, mereka melihat ku dari jauh. Matilah aku...
Ternyata mereka belum pergi.
"El..." Panggil nya lagi, melihat aku sibuk sendiri.
"Kenapa lagi bang?" Kata ku sambil menunduk. Aku malu setengah mati.
"Kan kata nya akting normal. Kalo kamu begini teman teman mu bisa curiga loh."
Aku terdiam. Aku menatap nya. Tajam. Dia tertawa.
Aku melihat lagi ke arah Purna dan Sharma. Mereka masih memperhatikan ku.
Aku menarik nafas panjang mencoba rileks...
"Abang minta maaf ya soal kemarin. Pasti El kaget." Lanjut nya lagi.
"Iya gak papa di maafkan. Terus?" balas ku sambil gelisah.
Gak perlu repot repot nyamperin bang kalo cuma mau ngomong inii....
"Terima kasih sudah maafin. El jangan marah ya?"
Katanya sambil tersenyum. Lagi. Dan manis.
"Iyaa iyaa. Udah ya, gak enak di lihat temen temen."
"Emang kita ngapain?" Balasnya.
"Gak ngapa ngapain tapii malesss ajaa. Udah ya, Bye." Kata ku sambil berlalu.
Dia mengejar ku lagi.
"Apa lagiiii?" Tanya ku kesal.
"Cuma mau bilang tawaran nya masih sama dengan kemarin." Dia tersenyum lebih lebar. Menunjukan semua gigi putih nya.
Kalau gak sadar aja sudah ku peluk dia di tengah lapangan ini. Tapi itu terjadi kalau aku sudah gila.
__ADS_1
Aku pergi meninggalkan nya dan lari sekencang kencang nya menemui Purna dan Sharma.