Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
DAY 3 (PART2)


__ADS_3

NANDA


"Ketua kelas ambil buku yang sudah ibu siap kan di perpus ya." Kata guru Bahasa Indonesia kami begitu kami memasuki pelajaran terakhir.


Karna orang yang di suruh itu jelas jelas aku, aku segera berdiri dan maju ke depan kelas. Iya, aku ketua kelas nya.


"Loh Nanda kenapa?" Tanya ibu Sarah, yang tak lain tak bukan bertanya soal seragam ku.


"Oh ini bu tadi kena genangan air. Mari bu." Kata ku pamit buru buru keluar kelas. Aku gak mau lama lama di bahas soal seragam ku yang jorok ini.


Sampai di perpus aku segera berjalan menuju penjaga nya.


"Mas, buku nya bu Sarah dimana ya?"


"Di belakang sana dek." Kata nya sambil menunjuk arah pojokan. Aku segera berjalan kesana.


Di tengah tengah perjalanan aku menghentikan langkah ku.


"Loh kita ketemu lagi El."


Iya benar, Elsi lagi di perpus.


Kenapa kami selalu bertemu ya? Apa cuma karna kami 1 sekolah, atau kami memang jodoh?


"Abang ngapain?"


"Abang di suruh Ibu Sarah ngambil buku buat kelas. El ngapain?"


"Oooh. Elsi gak ada guru bang. Pak rahmat absen. Jadi anak anak di suruh ngerjain tugas aja. Cuma mereka banyak yang ke perpus buat cari bahan nya."


Aku mengangguk ngangguk. Ah pengen rasanya ngobrol lama tapi aku teringat ada Bu Sarah lagi menunggu ku datang membawa pesanan nya.


"Ya udah abang duluan ya, gak enak sudah di tunggu." Ku lihat dia tesenyum dan mengangguk melihat ku pergi.


Senyuman yang sudah lama aku tak melihat nya.


Aku menuju meja dimana tempat buku buku itu di tumpuk, Wah banyak juga. Kenapa aku tadi gak panggil Septyan ya?


Aku menumpuk semua buku itu di tangan ku dan pergi berjalan menuju pintu. Aku melewati tempat Elsi berdiri tadi.


"El abang du......."


Aku menghentikan kalimat ku, Elsi sedang berdiri di atas buku buku yang sudah di tumpuk nya. Dia sedang berusaha mengambil buku yang rak nya paling atas.


Spontan aku menaruh tumpukan buku yang ada di tangan ku dan mencoba membantu nya.


"Sebentar, sebentar" Kata ku. Dia turun dari tumpukan buku yang di injak nya.


"Mau yang mana?" kata ku sambil menunjuk rak paling atas.


"Itu yang merah."


"Yang ini?"


"Bukan, yang itu."


"Ini?"


"Bukan bukan, samping nya?"


Aku menunjuk samping nya, Perlu di ketahui, buku yang dia tunjuk semua nya merah.


"Bukan, yang ini loh." Katanya sambil mencoba memberi ku pentunjuk dengan jari nya.


Aku menurunkan tangan ku. Membalikan tubuh ku kearah nya.


"Sorry ya... Sorry sorry..." Ucap ku sambil mendekati nya.


Dengan sangat mudah aku mengangkat tubuh nya yang mungil dan mengarahkan nya ke atas.


Dia berteriak kaget.


"Sssttt... Ayo ambil sendiri."


Dia buru buru meraih buku yang di maksud dan meminta ku segera menurun kan nya.


"Sudah? Ada lagi gak?" Tanya ku memastikan ketika aku menurunkan tubuh nya.


Dia terlihat sangat salah tingkah. Kali ini sangat terlihat.


Aku tersenyum geli.


"Udah udah. Cuma El kaget..." Kata nya sambil menarik nafas.


"Maaf ya, dari pada kita gak selesai selesai soal buku, jadi lebih baik El ambil sendiri aja."


"Ma.. Makasih bang." Jawab nya sambil tertunduk.


"Sama sama. Udah nih?" Tanya ku lagi.

__ADS_1


"Soal nya tangga berjalan nya mau pergi nih." Lanjut ku lagi.


"Udah udah bang, beneran. Buruan gih entar Bu Sarah marah."


Astaga iya! Kenapa aku lupa aku di tunggu di kelas!


******


"Sabar ya Nan, sekali sekali lah elo gantiin gue." Tepuk Jono di belakang ku dan berjalan meninggal kan ku sendiri.


Anak anak lain sebagian besar sudah pulang.


HP ku berbunyi. Ibu Sulis.


"Ayo mulai bersihin Toilet. Ibu yakin kamu gak akan lupa." Kata nya di seberang sana.


"Iya bu, ini menuju lokasi."


Dia menutup telpon nya.


Aku menghembuskan nafas panjang.


Aaaah... Malas sekali rasanya...


Aku berjalan gontai ke luar kelas. Kulihat keadaan luar sudah lumayan sepi. Aku sengaja memang menunggu mereka pulang semua. Biar kerjaan ku gak di ganggu aja.


Aku pengen cepat selesai dan pulang. Dan tidur pasti nya.


Aku masuk Toilet ternyata sudah ada Bu Sulis yang menunggu ku.


Hm... Begini kata Jono gak di cek? Aku bahkan di telpon tadi.


Bisa mampus kalo aku tadi menuruti omongan nya yang menyuruh ku pulang saja.


"Ini sudah ibu siap kan ya." Ujar nya sambil menyerah kan perlengkapan berberes.


"Siap bu!" Aku mengangkat tangan ku memberi hormat. Dia tertawa dan pergi meninggalkan ku sendirian disana.


Aku mulai dari mana ya?


Ah toilet cewek aja. Ku putuskan toilet cowok terakhir saja. Karna pasti akan memakan waktu yang banyak.


Ku pastikan gak ada yang berada di dalam. Saat aku masuk aku tetap bertanya apakah ada orang di dalam.


Tapi tidak ada yang merespon, oh berarti aman.


Baru setengah kerja, aku sudah merasa gerah sekali. Duh seragam ini kotor dan lengket sekali. Padahal sudah ku bersihkan tadi pagi.


Aku kembali ke dalam dan membuka baju seragam ku. Yang tersisa hanya baju dalaman ku saja.


Ahh lega sekali. Seharus nya dari tadi aku begini.


Aku merenggangkan tubuh ku dan bersiap bekerja lagi. Ketika aku mundur selangkah dan bersiap membalik kan badan ku, aku berteriak seperti bertemu hantu.


"ASTAGFIRULLAH!!!"


Elsi berdiri di belakang ku. Rupa nya aku mundur tadi terinjak kaki nya.


Gak pernah rasanya jantung ku mau runtuh seperti ini.


Dia pun gak kalah terkejut nya, kami tadi sama sama berteriak. Konyol sekali.


Aku tertunduk dan mengelus elus dada ku sendiri.


"Abang kenapa disiniiii??? Elsi kagettt bangettt."


"Lah seharus nya yang kaget itu abang, El ngapain tiba tiba berdiri di belakang abang?"


"Elsi tadi udah di depan gerbang tapi kebelet mau pipis. Jadi balik lagi kedalam. Terus bingung liat kok ada abang di dalam. Tapi ragu juga itu abang apa bukan, makanya El mau nyamperin, eh abang teriak duluan."


"Ya abang kaget karna liat El."


"El kaget juga dengar teriakan abang." Jawab nya lagi.


"Kok belum pulang jam segini?"


"Iya tadi agak telat karna ngejain tugas di perpus tadi bang. Loh abang disini jangan jangan......" Dia menggantung kalimat nya sambil berpikir.


"Nah kan bener! Abang kena hukum!" Teriak nya lagi.


"Ssttt jangan berisik entar di kira apa apa."


"Kan abang bohong! katanya gak di hukum?!" Sepertinya dia tidak menghiraukan perkataan ku yang menyuruh nya untuk tidak berteriak.


"Baru aja kok disuruh nya...." Kata ku salah tingkah.


"Ah bote banget! gak percaya..."


"Iya udah iya maaf ya... Ya udah El pulang sana entar di cariin orang rumah."

__ADS_1


Aku mendorong nya paksa ke luar toilet.


"Gak." Dia berdiri mematung di depan pintu. Aku menoleh kebingungan.


"El gak mau pulang." Katanya lagi. Aku masih terdiam memegang gagang pel ku.


"El bantuin abang."


"Loh jangan!" Aku menolak keras.


Dia gak menghiraukan ku, dia melepas tas dan jaket nya menaruh ke atas watafel.


"Eh jangan jangan! El pulang aja."


Lagi lagi dia tak mendengarkan ku malah mengambil pel di tangan ku. Aku mengambil nya balik dari tangan nya.


"Pulang ya? Yayayaa? Pleaseeee..." Aku memohon pada nya. Dia mendorong ku dan merampas lagi pel di tangan ku.


Seperti tidak ada aku disana, dia memulai membersihkan WC.


"Mau nontonin aja?" Tegur nya melihat ku terdiam. Aku menghembuskan nafas pasrah. Teguh juga pendirian nya.


Kerjaan yang tadi ku pikir akan lama, ternyata hanya memakan waktu gak sampai 1 jam.


Aku sedikit bersyukur juga dengan ada nya Elsi membantu ku. Walaupun aku gak enak, kan aku yang di hukum.


Sepanjang kami kerja tadi aku sudah memaksa nya pulang lagi, tapi dia malah mengancam ku. Aku hanya bisa pasrah lagi dan lagi.


"El makasih yaa..." Kata ku saat kami sama sama berjalan ke depan gerbang.


"El yang terima kasih bang. El pasti bakal kesal kalau malah tau abang di hukum dan El gak bisa bantuin."


"Seharian ini kan abang bantuin El. Sampe bikin baju abang kotor, abang telat masuk sekolah dan malah kena hukum. Bantuin El di perpus tadi. Itu juga gak cukup buat nebus apa yang abang lakukan hari ini."


"Kan El tadi udah kasih abang makanan?" Ucap ku sambil melirik nya.


"Gak cukup bang..."


"Cukup El... Abang ikhlas kok bantuin El." Aku menenangkan nya.


"Kalau abang ada perlu sesuatu, kasih tau aja El. Sebisa mungkin El bantuin."


Aku tersenyum mendengar tawaran nya.


Eh sebentar, sebentar.


Aku terpikirkan sesuatu.


"Em... Sebenar nya ada sih yang abang perlu di bantu sama El."


Dia menoleh penasaran kepadaku.


"Apaan bang???"


"Tapi kalo El gak bisa gak papa sih..."


"Ih apaan dulu?! Belum ngomong juga."


"Em.... Gak jadi deh." Aku sengaja menjahili nya. Benar saja, dia terpancing.


"Cepetan abang! bilang ajaa..."


"Beneran nih?" Aku bertanya meyakinkan.


"Iyaa beneraaaannn..." Jawab nya kesal.


"Em... Abang minta tolong...."


Dia masih menunggu kalimat ku.


"Minta tolong temani abang jalan jalan."


"Hah?" Wajahnya kebingungan. Aku mengangguk.


"Temenin jalan. Besok. Pulang sekolah."


"Kemana?"


"Abang mau cari sesuatu." Jawab ku.


"Jadi mau gak?" Aku bertanya lagi.


Dia menggigit bibir nya sambil berpikir.


"Hmm.... Boleh deh."


Aku lumayan terkejut, ternyata dia mau. Padahal aku tadi gak berharap banyak.


"Sip kalo begitu. Besok ya?"

__ADS_1


Dia mengangguk.


Aku tersenyum puas. Kemajuan lagi, batin ku.


__ADS_2