Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
TAK BUTUH WAKTU LAMA


__ADS_3

NANDA


Tak henti henti nya aku berucap syukur untuk hari ini.


Setidak nya aku berhasil untuk tidak membuat dan menambah dosa lagi. Elsi luluh dengan sendiri nya.


Ketika kami berdua sama sama mendengar suara detak jantung bayi kami, dan melihat wajah mungil nya.


Aku yang sedari awal melihat layar hitam putih itu tak henti hentinya mengeluarkan air mata. Aku menjadi lelaki tercengeng untuk pertama kali nya hari ini.


Aku bertanya kepada Elsi apakah dia ingin di antar pulang, Aku harus cepat membawa nya pergi dari sini. Sebelum dia merubah pikiran nya lagi.


Tapi ketika aku melihat tatapan dia di halte tadi, aku rasa dia sudah benar benar berubah. Dia benar benar sadar.


Sepanjang perjalanan dia hanya menggengam erat tangan ku. Perasaan ku bahagia sekali.


Walaupun masalah ini tak berhenti di sini, setidak nya sudah bisa membuat aku sedikit bernafas lega.


Urusan apa yang akan kami lakukan kedepan nya, biar saja nanti kami pikirkan bersama sama.


Aku juga tidak memaksa Elsi untuk membahas nya, Membuat pikiran nya tenang dulu adalah yang utama pada saat ini.


Elsi menyuruh driver taksi online untuk menurun kan kami di taman dekat rumah nya. Kami memang sepakat hari ini tidak pergi dengan motor.


Dia tak ingin langsung di depan rumah nya. Karna kan dia sudah ijin tidur di rumah teman hari ini, jika tidak jadi dan mama nya melihat aku pergi bersama nya akan menjadi pertanyaan dan kecurigaan untuk mama nya.


"Udah abang gak usah antar El sampai rumah."


"Gak papa nih?"


Aku merasa tak enak meninggalkan nya sendiri.


"Gak papa lah. Lagian sudah dekat gini."


"Ya sudah. Abang tunggu Elsi sampai El bener bener masuk kerumah." Kata ku.


Rumah nya dan taman ini memang tidak terlalu jauh. Hanya 1 jalan lurus saja. Aku bahkan bisa melihat pagar rumah nya dari tempat aku berdiri sekarang.


"El pamit ya bang..."


Aku melambaikan tangan ku.


"Terima kasih ya El. Sudah berubah pikiran."


Dia hanya mengangguk dan tersenyum kepada ku. Senyum pertama nya semenjak kejadian ini. Yang sangat tulus.


Ketika sudah tak kulihat lagi punggung nya, aku berbalik arah pergi meninggal kan taman.


Aku berencana memesan ojek online setelah keluar dari kompleks Elsi saja.


Aku masih mau bersantai sejenak menghirup udara hari ini.


Dada ku terasa lebih lega dari sebelum nya. Aku tak ingin memikirkan apapun dulu untuk hari ini.


Aku hanya perlu bersyukur saja untuk kejadian hari ini.


"Mas, maaf ya saya telat." Kata ojek online yang ku pesan saat kami baru saja berjalan.


"Gak papa Pak. Saya gak buru buru kok."


Aku tak perduli dia mau telat atau mau gimana, inti nya hari ini hati ku sedang bagus.


Aku menikmati angin sore yang berhembus. Nikmat sekali rasanya. Lama sekali aku tidak seperti ini.


Aku ingin segera sampai kerumah dan langsung menepon Elsi. Aku tak sabar mendengar kabar nya. Padahal kami baru saja berpisah.


Ketika baru saja kami sampai di depan rumah ku, Telpon ku berbunyi.


Seperti nya ada telepati antara aku dengan Elsi. Baru saja aku memikirkan nya. Ingin menelpon nya.


"Ya El? Abang baru sampai rumah."


Aku mengangkat nya sambil bersusah susah mengambil dompet ku bersiap membayar ojek.


"Jemput El bang. Di depan komplek."

__ADS_1


Aku terkejut. Kenapa tiba tiba dia minta ku menjemput nya lagi.


Sudah kangen lagi kah dia kepada ku?


"Kita mau kemana El?"


"Jemput aja." Dia menutup telpon nya.


Aku terbingung bingung. Kenapa lagi ini?


Setelah membayar ojek aku bergegas kedalam kamar dan mengambil kunci motor beserta helm ku.


"Kemana lagi?" Tegur ibu kepada ku, setelah melihat aku baru saja datang da bersiap siap pergi lagi.


"Nanda ada urusan mendadak bu. Ijin ya?" Aku mengulurkan tangan ku kepada nya. Bersiap untuk bersaliman.


"Jangan pacar pacaran Nanda. Sudah mau lulus. Jangan bikin kelakuan macam macam ya. Jangan bikin malu keluarga."


Aku terdiam saat mendengar nasihat ibu. Hati ku seketika berubah tidak nyaman. Tumben sekali ibu berkata begini.


"Iya bu... Nanda pamit sebentar ya." Aku berjalan keluar pintu.


"Ingat, jangan macam macam." Ibu berpesan lagi.


Aku hanya mengangguk dan pamit meninggal kan nya.


Kenapa ibu tiba tiba seperti ini?


Seakan tau aku sedang punya masalah besar.


Tapi aku mencoba mengabaikan nya karna aku ingin fokus dengan Elsi yang tiba tiba meminta ku menjemput nya. Padahal ini sudah sore sekali.


Aku melajukan motor ku menembus macet nya jalanan. Berharap secepat nya bisa sampai di tempat.


Ternyata....


Aku memang tidak di ijinkan untuk tenang hari ini.


Satu masalah selesai, timbul lagi masalah baru.


Wajah nya sudah tidak karuan. Air mata nya tak berhenti henti mengalir.


"Elsi di usir." Dia berkata di sela tangis nya. Aku masing mematung.


"Mama sudah tau semua...." Dia meneruskan kalimat nya lagi.


"Ayo kita datangin mama." Kata ku sambil menarik tangan nya. Dia melepaskan tangan ku.


"Jangan!"


Aku menoleh kepada nya.


"Kita pergi dulu dari sini. Kalau abang kesana, bakal tambah buat masalah lebih besar."


"Ini sudah besar Elsi! Kamu udah di usir!"


Aku menarik tangan nya lagi.


"ABANG!!!" Dia melepaskan tangan nya lagi.


"Abang liat aku kan?! Sekeras apa aku?! Begitu juga mama!!! Gak akan ada yang bisa merubah keputusan nya! Siapapun itu!"


Aku mengacak ngacak rambut ku. Aku sangat depresi...


"Kenapa bisa ketahuan El?" Aku bertanya kepada nya.


"Bawa Elsi pergi dari sini, El bakal jelasin semua nya." Titah nya kepada ku.


******


Kami duduk berhadapan di sebuah cafe di tengah kota.


Minuman kami dingin dengan sendiri nya karna tidak tersentuh sama sekali.


Aku terdiam begitu juga dengan nya.

__ADS_1


Kami sama sama hanya menundukan kepala berkutat dengan pikiran kami masing masing.


Rasanya baru saja ingin bernafas sedikit lega, tapi harus menghadapi cobaan yang lain lagi.


"Jadi....." Elsi memecah keheningan di antara kami.


"Jadi aku dapat pesan dari Elmi setelah aku masuk ke dalam pagar rumah bang. Isi pesan nya cuma bilang aku jangan pulang dulu mama marah besar."


Dia menghela nafas panjang, dan aku masih menunggu penjelasan nya.


"Tapi sudah terlambat. Aku kan posisi nya sudah sampai rumah. Dan mama pasti dengar aku membuka pagar. Aku masuk ke rumah, dan melihat di ruang tengah koper ku sudah ada di sana. Mama terduduk di depan TV. Begitu melihat ku masuk, Dia berdiri dan melemparkan semua tespek itu ke wajah ku bang... Aku beru tersadar ternyata aku meninggalkan bukti itu di kamar ku. Aku lupa bawa itu di tas ku. Biasa itu ku bawa kemana mana karna takut jika terjadi hal seperti ini. Dan benar saja, akhirnya ketahuan..."


"Terus mama bilang apa?"


"Aku udah gak dengar dia ngomong apa lagi, yang masuk di telinga ku cuma dia gak mau lihat aku lagi sampai kapan pun. dan mendorong ku keluar dari rumah lalu mengunci pintu... Aku sudah gak ada tenaga untuk berontak, menangis pun aku sudah gak ada tenaga bang.... Maka nya El cuma bisa telpon abang."


Aku Mendekat kan kursi ku kepada nya dan memegang tangan nya. Sedari tadi otak ku tak berhenti berpikir, apa yang harus ku lakukan setelah ini, dan akan membawa nya kemana setelah ini.


Aku bahkan belum bicara masalah ini ke ibu.


Pergi nya Elsi dari rumah, arti nya mulai detik ini aku yang bertanggung jawab atas hidup nya, menggantikan orang tua nya dirumah.


"Apa kita gak coba pulang kerumah lagi El? Bersama dengan abang? Abang bakal bilang ke mama abang bakal tanggung jawab."


"Mama gak perduli itu bang. Mama gak perduli ada apa enggak yang mau bertanggung jawab. Dia hanya kecewa kenapa semua ini terjadi, sedangkan mama kasih kepercayaan penuh kepada ku bang. Mama itu keras, sangat keras. Lebih keras dari pada aku. Dia saja bisa mengusir pergi tanpa memaafkan pasangan hidup nya, apa lagi aku bang. Kalau keputusan nya sudah bulat, gak akan bisa di ganggu gugat. Apapun itu."


"Tapi Elsi gak mungkin di usir beneran dong? Abang rasa itu adalah efek dari mama marah."


"Di usir ya di usir bang. Kenapa ada cerita balik lagi kerumah. Gak ada. Apa lagi yang mengusir adalah seorang mama."


"Terus kita mau bagaimana sekarang?" Tanya ku pada akhirnya.


"Gak tau bang... Elsi juga buntu."


"Kita kerumah Sharma atau Purna aja ya dulu?"


"Gak. Gak mau. Elsi gak mau melibatkan mereka berdua."


"Gini aja, Gimana kalau malam ini Elsi tidur dulu di penginapan. Sambil kita pikir kan apa lagi yang kita lakukan setelah ini."


Dia hanya mengangguk pasrah dengan saran ku. Aku meminta nya menghabiskan minuman dan pergi dari sana.


Setelah mencarikan penginapan untuk Elsi, Aku segera pulang kerumah.


Sepanjang jalan tadi, aku meyakinkan diri ku untuk berkata jujur kepada orang tua ku malam ini juga. Biar Elsi tidak terlantar seperti sekarang.


Aku masuk kerumah dengan perasaan tak karuan. Rasanya seperti ingin pergi ke medan perang. Yang bersiap untuk hidup dan mati .


Apa yang harus ku bicarakan kepada mereka?


Apa pembukaan nya?


Apa reaksi mereka setelah mendengar nya? Sama kah dengan orang tua Elsi? Atau mereka memaafkan ku?


Aku tertegun di depan pintu, Ibu sedang mengaji di ruang tamu. Ini memang biasa beliau lakukan jika sudah selesai shalat Isya.


Tapi entah kenapa hari ini, mendengar nya mengaji membuat ku ingin menitik kan air mata. Aku ingin segera memeluk dan bersujud di kaki nya. Menangis dan meminta perlindungan dari nya atas semua masalah ku sekarang ini.


Sebelum aku benar benar melakukan nya, aku segera melangkahkan kaki ku ke kamar. Aku menghempaskan tubuh ku ke atas kasur.


Aku tak bisa, aku tak kuat mengakui dosa ku kepada mereka...


Tapi aku harus bagaimana? Aku tak bisa berdiam diri seperti ini saja, sedangkan Elsi butuh untuk di nikahi.


Kenapa juga ibu tadi dengan tidak biasa nya menasehati ku. Seakan bisa membaca jika anak nya sedang ada masalah besar.


Bisa kah mereka memaafkan ku?


Bisa kah mereka menerima kedatangan Elsi di hidup mereka?


Aku sudah tak tau berapa lama aku termenung di kamar ini. Mencari keyakinan diri ku untuk berbicara semua nya kepada mereka.


Padahal di jalan tadi keputusan ku sudah sangat bulat, tapi luluh begitu saja ketika melihat ibu. Aku tak sanggup melukai hati nya...


Aku mengambil nafas pajang, dan bangkit dari tidur ku. Aku harus menghadapi nya. Malam ini. Tidak besok tidak nanti. Harus malam ini.

__ADS_1


__ADS_2