
NANDA
Ku lihat Elsi masih menekuk wajah nya karna sepagian ini dia ngambek kepada ku. Dia marah karna aku tidak membangunkan nya saat aku membuat bekal dan sarapan untuk kami berdua.
Ya aku tak mungkin membangunkan ia dari tidur nya yang sangat nyenyak, hanya untuk membuat kan aku sarapan. Selain aku lebih mahir memasak dari pada dia, malam tadi kan dia habis muntah muntah karna mencium ku, ya aku menjadi tidak tega saja menganggu tidur nya.
"Udah dong jangan ngambek, gak papa sayang. Kan sudah abang bilang, tugas abang yang masak dirumah ini. Jadi jangan merasa gak enak gitu." Ucap ku sambil mengusap kepala nya dengan lembut.
"Tapi kan El mau bantuin abang juga."
"Cuma panasin makanan sayang, gak repot kok."
"Ya pokok nya Elsi mau bantuin!" Dia menyilangkan tangan di dada nya.
"Iya iya, Gini aja, itu ada bekas bekas panci yang belum sempat abang cuci. Elsi cucian itu aja ya?"
Dia menoleh ke arah wastafel cuci piring.
"Satu doang itu?"
"Iya abang minta tolong ya El..."
Dia mengangguk terpaksa. Aku mengulurkan tangan ku untuk bersaliman, karna ku lihat jam di tangan ku, sudah waktu nya aku untuk berangkat.
"Jaga rumah ya, kalau ada apa apa langsung telpon abang. Pintu jangan lupa di kunci ya kalau El keluar rumah." Pesan ku kepada nya sebelum aku pergi.
"Doain abang lancar ya hari ini El."
******
Aku sampai di tempat kerja ku 10 menit dari waktu yang sudah di tentukan. Pencucian mobil nya belum buka, tapi laundry nya sudah. Karna ku lihat pintu sudah terbuka dan ada beberapa orang di dalam nya. Aku memutuskan untuk kesana saja.
Om Leo meminta maaf kepada ku tadi pagi karna tidak bisa menemaniku pagi ini. Dia bilang datang saja perkenalkan diri dan bilang kalau aku keponakan om Leo.
Aku lebih senang jika dia tidak menemani ku, jujur saja aku merasa tidak enak jika terus menerus di bantu nya. Sudah lebih dari cukup apa yang sudah dia lakukan untuk ku dan Elsi selama ini.
Aku mengetuk pintu sebelum aku masuk, dua orang yang tadi berada di sana langsung melihat ke arah ku.
"Assalamualaikum. Saya Nanda yang mau kerja di sini."
"Oh Keluarga nya mas Leo ya?" Seorang lelaki paruh baya mendekati dan menyambut ku.
"Saya Dimas dan ini Anto." Ucap nya sambil menunjuk teman nya yang satu lagi. Kami bertiga bersalaman.
"Kemarin sudah di pesananin kok anak anak sini kalau ada orang baru. Duduk dulu." Kata nya sambil menyuruh ku duduk di sofa ruang tunggu.
"Tapi maaf, saya kemarin disuruh datang aja, belum tau tugas saya apa di sini."
"Oh iya ndak papa, nanti sama bos aja itu urusan nya. Kalau kami berdua yang pegang laundry di sini. Anak anak yang pegang pencucian belum pada datang. Karna kalau pencucian memang agak siang buka nya."
"Saya pikir tadi saya bakal sendirian di sini, ternyata mas mas nya sudah pada datang duluan."
"Oiya kami pasti duluan, kami soal nya yang jaga tempat ini. Kami tidur di sini. Makanya kami yang buka pagar duluan."
__ADS_1
Oh begitu. Pantas saja, aku pikir aku orang pertama yang datang kecepetan. Ternyata mereka berdua tinggal di sini.
"Bos biasa nya datang setengah jam lagi. Tapi saya rasa bakal datang lebih cepat karna kan ada pegawai baru." Lanjut nya lagi.
"Jadi mas dimas sama mas Anto berdua aja di bagian laundry?"
"Bagian cuci iya kami berdua aja. Tapi di kasir ada cewek satu, nama nya Suci. Belum datang orang nya. Lah itu mobil nya bos." Ucap mas Anto sambil menunjuk ke arah depan. Ku lihat sebuah mobil fortuner berwarna hitam masuk ke parkiran.
Turun seorang lelaki dari dalam mobil, penampilan nya sangat rapi. Jika di lihat, ku rasa dia berumur 30-40an. Dia berteriak menyebut nyebut nama Dimas. Dimas menghampiri nya keluar.
Sepertinya mas Dimas berkata jika ada aku di dalam, bos yang aku belum tau namanya ini mengisyarat kan Dimas untuk masuk lagi.
"Nanda, di suruh bos keruangan nya." Ucap mas Dimas dari balik pintu. Tanpa banyak pikir aku langsung bangkit dari duduk ku dan mengikuti nya.
Aku di antar kan di sebuah ruangan tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil di belakang mushola. Seperti nya ini memang ruangan bos , terlihat dari meja dan kursi nya.
Dia mempersilah kan aku masuk dan duduk di sofa kecil yang ada diruangan itu.
"Nanda ya?" Tanya nya kepada ku.
"Iya Pak. Saya keponakan om Leo." Aku menyambut tangan nya, kami bersalaman.
"Panggil abang aja, saya gak tua tua banget kok. Nama saya Kiki. Bang Kiki." Kata nya sambil tertawa kecil. Aku hanya mengangguk angguk saja.
"Tadi saya mau masukin kamu sama anak anak pencucian, tapi saya baru ingat laundry juga lagi butuh orang. Kamu bisa nyetir mobil Nan?"
"Insya Allah bisa bang."
"Iya saya juga udah dengar sebenar nya dari Leo kalau kamu bisa bawa kendaraan. Jadi laundry kami kan ada layanan antar jemput, cuma supir yang biasa antar antar kemarin resign, jadi kasian kadang Anto kerjaan nya ngerangkap, ya di laundryan, ya jadi kurir juga. Kalau memang kamu bisa bawa mobil, saya masukin kamu aja jadi kurir ya. Tapi kalau lagi gak ada antaran kamu bisa bantu bantu di laundry atau di pencucian."
"Lalu untuk jam masuk nya, Laundry itu sebenar nya sudah buka jam 7 pagi. Tapi biasa nya itu tugas anak anak yang tinggal di sini. Kamu ikut jam masuk nya Suci aja, jam setengah 8. "
"Jam 7 saya juga gak papa bang. Siapa tau bisa bantu bantu Mas Dimas Dan Mas Anto."
"Ya pokok nya di atur aja senyaman nya kamu lah ya, inti nya jam setengah 8 itu jam paten nya. Kalau kamu ada kendala terus gak bisa turun tepat waktu, jangan ragu untuk kabarin saya. Jam pulang mu pun sama seperti Suci ya, jam 5 kalian sudah boleh pulang. Laundry nya tetap buka sampai malam, tapi yang pegang Dimas sama Anto. Soal nya bayaran mereka juga berbeda dengan kalian yang pulang sore. Oh iya, Baju entar di kasih sama Suci ya, ada seragam kaos nya nanti."
"Siap bang."
"Ada lagi yang perlu di tanyakan?"
"Seperti nya cukup bang."
"Oke deh, saya duluan ya, sorry buru buru, soal nya mau antar anak sekolah, tadi curi curi waktu aja mampir sebentar buat briefing kamu. Kalau ada yang di tanya boleh tanya Suci atau langsung Whatsapp saya. Kemarin nomer nya sudah di kasih Leo kan?"
"Sudah bang, sudah saya simpan."
"Baiklah, langsung datangin Suci ya minta kaos seragam. Seperti nya dia sudah datang itu."
Aku dan Bang Kiki berpisah di parkiran. Ternyata di dalam mobil nya ada dua anak perempuan kembar yang sedang menunggu nya. Anak nya masih kecil, kalau aku tidak salah lihat seperti nya anak nya menggunakan seragam TK.
Aku masuk lagi ke tempat laundryan, hendak mencari yang nama nya Suci.
"Udah Nan? Jadi tugas dari bos apa?" Tegur mas Dimas ketika aku masuk ruangan.
__ADS_1
"Disuruh bang Kiki jadi kurir mas. "
Mendengar nya, sontak mas Dimas memanggil mas Anto, mereka berdua terlihat kegirangan.
"Alhamdulillah aku jadi tenang kalau ada yang gantiin aku. Pusing ee Nan, mana jaga cucian mana jadi kurir. Kasian Dimas sama Suci kadang keteteran kalau aku tinggal."
Aku hanya tertawa saja melihat mereka berdua. Syukur lah kehadiran ku di sini sudah di harap harap kan oleh mereka. Karna jujur saja aku gugup jika tidak di terima di lingkungan kerja.
"Mas, Mba Suci udah datang? Saya tadi di suruh minta seragam sama bang Kiki."
"Oh udah, itu di depan. CIIIII, CICIII, SINI KEDALAM!" Teriak mas Anto.
Ku dengar ada sahutan seorang perempuan dari jauh sana. Dia datang membawa segelas kopi di tangan nya. Ku pikir dia sudah berumur, ternyata masih muda, bahkan dari penampilan nya seperti nya seumur dengan ku. Tapi ku pikir lagi tidak mungkin, aku kan hitungan nya masih anak sekolah.
"Masyaallah!" Pekik nya ketika masuk dalam ruangan. Aku terkejut melihat nya terkejut.
"Mulaaaaiii mulaaaiiiiiii." Tegur mas Dimas kepada nya.
"Jangan kaget ya Nan, emang gitu dia kalau liat yang ganteng ganteng." Lanjut nya lagi. Aku terdiam dengan wajah cengo ku.
"Ih apaan sih?!" Dia berkata sambil memukul tubuh mas Dimas.
"Loh iya kan? Kamu liat yang ganteng Masyaallah, liat aku sama anto, Astagfirullah. Kaya liat demit."
"Sembarangan loh ini." Dia mengeles dengan salting.
"Ituloh kenalan dulu, Nanda pegawai baru. senang kan kamu bisa cuci mata." Ucap mas Anto dari kejauhan.
Aku segera mendekati nya dan mengulurkan tangan ku.
"Nanda mba."
"Is di panggil mba loh aku."
"Dia emang gak mau di panggil mba mba Nan, sok muda dia. Panggil Cici aja." Mas Dimas datang menyenggol ku.
"Baik. Cici." Kata ku sambil kami bersalaman.
"Tadi saya di suruh minta seragam sama bang Kiki." Lanjut ku lagi. Cici melepaskan tangan nya dan pergi dari hadapan ku.
"Bentar ya aku ambilin."
Aku memakai seragam yang di kasih tadi dan masuk lagi kedalam ruangan. Aku menghampiri Cici dan meminta kunci mobil. Kata mas Anto tadi aku lebih baik memanaskan mesin nya dulu.
"Pantes banget di badan mu Nan. Padahal cuma kaos." Ucap Cici ketika aku berada di depan nya.
"Yo pantas lah orang nya putih tinggi, Waktu aku pakai kamu gak ada muji muji aku Ci." Mas Dimas yang datang entah dari mana langsung mencibir nya. Aku tertawa. Seperti nya suasana di sini memang asik.
"Cemburu aja. Kenapa sih? Suka kah sama aku?" Cici membalas candaan nya.
"Kamu ku tawarin jadi bojo kedua ku gak mau. Yo wes."
"Sembarangan! Males banget! Ini Nan kunci nya." Cici menyerahkan kunci itu kepada ku. Aku tersenyum sambil berterima kasih.
__ADS_1
"Waduh jangan senyum, Cici gak kuat." Kata nya menggoda ku lagi.
"Orang gila, jangan di dengerin Nan, kerja aja." Mas Dimas membela ku. Aku berlalu sambil tertawa meninggal kan mereka yang asik ejek mengejek.