Antara Aku, Kau Dan Mereka

Antara Aku, Kau Dan Mereka
DAY 3


__ADS_3

NANDA


Lumayan lah, hari ini ada kemajuan walaupun sedikit. Setidaknya dia sudah mau jalan bersama ku. walaupun hanya dari kantin sampai ke kelas.


Walaupun kemarin aku belum berhasil mengajak nya pulang bersama, tapi lumayan lah. Next time aku coba ajak lagi.


Aku terkekeh sendiri saat mengingat ekspresi dia saat pulang sekolah kemarin. Dia panik saat aku ingin mendatangi mama nya yang di dalam mobil.


Padahal aku bilang aku hanya mau bertegur sapa, dia nya takut dan panik setengah mati. Dan langsung berlari masuk ke mobil dan pergi.


Sebelum pergi tapi dia sempat mencubit bahu ku karna muak melihat ku menjahili nya.


Aku memarkirkan motor ku di parkiran samping sekolah. Melepaskan helm dan segera turun dari motor.


Aku melihat jam tangan ku, Astaga bentar lagi pagar mau di tutup.


Aku berlari lari kecil ke gerbang sekolah. Tumben Nanda kamu turun lumayan telat hari ini. Gak kaya biasanya.


Entahlah aku tadi bangun terlalu lambat. Sampai ibu harus meneriaki ku berkali kali baru aku bangun. Padahal aku biasa nya bangun sendiri.


Ku lihat pak Teguh, Satpam sekolah kami, sudah bersiap siap menutup pintu pagar.


Pak teguh emang terkenal disiplin dan ketat soal jam masuk sekolah. Tak lewat sedetik pun dia menutup gerbang sekolah. Dan gak akan membuka nya dengan alasan apapun. Apa lagi jika jam upacara.


Dia dan Ibu sulis adalah duet maut di sekolah ini. Jika pak Teguh tugas nya menutup pagar, bu Sulis tugas nya menyatat anak anak yang terlambat dan


menentukan hukuman apa yang nanti kami terima.


Aku berjalan santai ketika memasuki gerbang sekolah. Sampai pandangan ku teralihkan oleh sesuatu.


Eh itu Elsi.


Dia baru turun dari ojol dan berjalan terburu buru. Sampai kaki nya menginjak tali sepatu nya yg lepas.


Tentu saja dia jatuh, dan menghepaskan seluruh badan dan tas nya ke tanah.


Aku terkejut bukan main.


Langkah ku yang tadi sudah memasuki kawasan sekolah, ku urungkan dan aku segera menyusul dimana Elsi jatuh.


"El! Gak papa?" Tanya ku panik.


Dia bangkit dan terkejut melihat ku. Aku membantu nya berdiri dan memunguti barang barang nya yang jatuh.


"Loh bang, belum masuk?" tanya nya di sela sela kami memunguti buku buku nya yang berserakan.


"Tadi mau masuk tapi liat El jatuh. Jelas abang langsung kesini lah."


Wajah nya tertunduk. Aku tau dia pasti malu ketika tau ada yang lihat dia jatuh sendiri.


"Ayuk buruan. Entar lagi pagar di tutup sama Pak Teguh." Kata ku sambil berusaha membawa barang barang nya.


"Sebentar." Dia menundukan badan nya dan mengikat tali sepatu penyebab dia jatuh tadi.


Ternyata dari jauh ada mobil yang sedang melaju. Entah kenapa insting ku gak baik.


Aku melihat genangan air yang berada tepat di depan Elsi yang lagi mengikat sepatu nya.


Saat ku lihat gak ada tanda tanda mobil itu akan mengurangi kecepatan nya, spontan aku langsung berdiri di depan Elsi.


CPRAATTTTT!!!


Elsi berteriak ketika semua itu terjadi.


Rambut ku basah terkena genangan air. Basah sampai mentes dari ujung rambut ku.


Bukan hanya rambut, Baju dan celana ku habis terkena air lumpur.


Tak ku tau lagi ekspresi Elsi melihat ku basah kuyup. Melihat seragam ku yang tadi putih berubah menjadi hitam dan kotor.


Aku melihat ke arah gerbang, Ya Tuhan, sudah tertutup. Gak ku hiraukan kondisi ku yang basah kuyup.


Elsi menyadari arah pandangan ku, dia berteriak lagi.


"Astaga kita terlambat bang!" Katanya sambil berlari ke arah gerbang. Aku berlari menahan nya. Aku menggeleng.


"Ke, kenapa?" Tanya nya kebingungan.


"Oh iya! Baju abang!" Pekik nya lagi.


"Bukan itu!"


Aku menarik tangan nya pergi menjauh dari gerbang sekolah dan berjalan ke samping sekolah.


"Gak usah masuk lewat sana." Kata ku.


"Jadi lewat mana?" Dia menutup mulut nya lagi melihat keadaan seragam ku yang mirip orang kecebur di kali.


"Ada tempat masuk rahasia di belakang sekolah. Tapi harus cepat karna biasa pak Teguh patroli sampai kesana." jelas ku sambil menarik tangan nya lagi.


Begitu sampai dia kebingungan melihat gak ada sama sekali pintu, yang ada cuma tembok yang tinggi.

__ADS_1


"Bisa tolong pegang sebentar?" Kata ku sambil menyorongkan seluruh tas ku dan tas nya yang ku bawa sedari tadi.


Dia mengangguk dan meraih nya dari tangan ku. Aku berjalan menuju semak semak dekat dinding.


Tangan ku meraih raih sesuatu di balik semak semak. Ah! ketemu!


Aku mengangkat tangga itu dan menyenderkan nya ke tembok. Ini adalah cara anak anak jika terlambat. Adil dan yang lain lain. Paling sering si Jono.


"Ayo naik duluan." Kata ku sambil mengambil alih tas tas di tangan Elsi.


"Entar tas nya abang yang bawa." Jelas ku lagi. Dia menganguk mendengar ku.


Elsi menuruti ku tanpa bertanya. Sampai nya dia di puncak aku mendengar suara yang sangat ku kenal. Suara pak Teguh sedang melihat ke arah kami dari kejauhan.


"Bang!" teriak nya panik dan menghentikan langkah nya.


"El buruan naik terus turun. Ada kursi disana langsung turun!" Kata ku ikutan panik juga.


Gawat kalau sampai Pak Teguh memergoki kami.


"Terus abang gimana?!"


"Udah gak ada waktu cepetan! Tas nya bakal abang lempar!"


Aku melempar tas nya ketika dia sudah berhasil naik.


"Buruan turun entar ketahuan!" Tegas ku lagi. Dia segera bersembunyi di balik tembok.


Aku melihat Pak teguh datang mendekat dengan pentungan andalan nya. Untuk menggertak anak anak yang terlambat seperti kami.


Aku memastikan lagi Elsi sudah tak terlihat.


Tapi begitu sampai dan melihat ku dalam ke adaan kotor gak karuan, dia kebingungan.


"Loh Nan? Kamu rupanya."


"Hehehe iya pak..." Kata ku salah tingkah.


"Kok bisa terlambat Nan? Biasa gak begini?"


"Iya pak maaf saya kesiangan tadi."


"Terus itu apa?" Ucap nya sambil menunjuk ke seragam ku yang lusuh.


"Oh ini, tadi keciprat di jalan pak."


Pak Teguh menggeleng geleng mendengar penjelasan ku.


Yang penting Elsi sudah berhasil masuk, batin ku.


******


"Buset Nan!" Pekik Septyan melihat ku masuk ke kelas dengan tampilan habis seperti kecebur got.


Ya memang sudah seperti kecebur kok, berasa di guyur 1 ember air got.


Aku duduk ke kursi ku dan satu kelas melihat ke arah ku semua.


"Nape lo?" Kata Jono sambil duduk di dekat ku.


"Gara gara keciprat genangan di pinggir jalan." Jawab ku singkat.


Baru pagi loh, aku sudah berasa lelah sekali.


Apa lagi siang sepulang sekolah ini aku dapat hukuman membersihkan seluruh toilet.


Dan sial nya lagi di saat untuk pertama kali nya aku terlambat, gak ada 1 orang pun yang terlambat juga.


Yang arti nya aku harus mengerjakan hukuman itu sendirian.


"Terus lo di suruh apaan? Paling juga bersihin...."


"Toilet...." Putus ku seketika. Jono yang juara bertahan terlambat masuk aja hari ini gak dapat hukuman itu.


"Gak usah di bersihin, Bu Sulis juga gak ngecek." Jawab nya cuek.


"Emang gue kaya elo?" Balas ku sinis.


"Tapi ya kalo mau di hitung hitung, kayanya OB sekolah ini makan gajih buta, karna kan biasa nya hampir tiap hari elo yang bersihin Jon." Ejek Septyan.


"Tapi tumben ni elo gak terlambat..."


"Ya kan udah di wakilkan Nanda hahaha..." Jono berlalu sambil menertawai ku. Aku hanya menggeleng gelengkan kepala.


Lagi habis tenaga ku untuk meladeni nya.


"Sep, entar istirahat gue titip pop mie aja ya bawain ke kelas. Gue lagi males ke kantin dengan baju kotor begini."


Septyan mengancung kan jempol nya.


"Entar gue suruh Jono nganter."

__ADS_1


******


"Nan ada yang cari." Ula berteriak kepada ku dari depan pintu di sela sela suapan pop mie ku.


Aku memalingkan wajah ku ke arah nya, mengisyaratkan nya untuk suruh orang itu masuk saja.


Aku kembali menyuap ketika orang itu datang menghampiri ku.


"Bang..."


"Eh Elsi, abang pikir siapa." Aku terkejut melihat nya datang. Sumpah aku gak pernah berpikir dia mau mendatangi ku.


"Duduk dulu, sorry abang sambil makan ya."


Dia duduk di samping ku.


"Udah makan?" tanya ku lagi. Karna waktu istirahat belum berlalu lama tapi dia sudah disini aja, seperti nya dia belum makan.


"Bentar lagi. Abang gak kekantin gara gara baju abang ya?" Wajah nya penuh prihatin. Dia bisa menebak ku.


"Gak papa, bentar lagi jam pulang. Santai aja."


"Nanti Elsi laundry kan baju abang."


"Ngapain? Bisa di cuci dirumah El..."


"Seharusnya kan Elsi yang kena cipratan, seharus nya juga El yang terlambat." Katanya penuh penyesalan.


"Maaf ya bang..."


"Udah ah santai aja. Yang penting El gak kena hukum."


"Emang abang gak di hukum?" Tanya nya penasaran.


"Em.... Gak."


"Loh kok bisa?"


"Abang kan siswa teladan. Sekali bikin kesalahan ya gak papa lah."


Sudah jelas aku berbohong.


Aku cuma gak pengen dia tambah merasa bersalah. Merasa bersalah itu gak enak.


"Nih bang..." Katanya sambil menyorongkan bungkusan putih yang sedari tadi di tangan nya.


"Apaan nih?" Tanya ku menyabut nya.


"Tadi El pesan online makanan buat abang."


Aku membuka bungkusan itu, Rice bowl dengan segelas kopi kekinian. Aku terkejut.


"Wah makasih loh El..."


"Tapi El kaya nya terlambat, abang sudah makan." Jawab nya sedih. Aku tertawa.


"Loh gak papa, pop mie ini cuma ada di ujung lambung abang aja. Pasti masih laper lagi. Habis ini abang langsung makan ini."


"Makasih banyak loh El jadi repot kamu nya." Lanjut ku lagi.


Aku senang sekali di perhatikan seperti ini. Ya walaupun aku tau itu semata mata karna dia merasa bersalah saja.


"Gak repot kok bang. El merasa gak enak soal nya buat abang jadi kena masalah..."


Kan bener, dia merasa bersalah.


"Gak papa gak papa. Gimana kalo nasi nya kita makan sama sama?" Tawar ku sambil menyingkirkan gelas pop mie yang sudah habis ku santap.


"Jangan jangan! Itu buat abang aja, El ada beli kok bang. Ada di kelas."


"Loh kenapa gak di bawa kesini? Kan kita bisa makan bareng?"


Dia menggeleng.


"Gak gak... El malu."


"Ih malu, emang kenapa bisa malu..."


"Bang El pamit ke kelas ya, Abang makan ya. Sekali lagi El minta maaf bang." Ucapnya sambil berdiri.


"Eh eh mau kemana, jangan buru buru."


"Gak papa, biar abang lebih fokus makan nya. El juga balik ke kelas biar cepat bisa makan."


"Loh abang fokus malah kalo ada El." Kataku setengah menggoda nya.


"Iss abang... Ya udah El pamit ya bang. Makasih banyak sudah bantu El hari ini." Dia berjalan menjauh dari meja ku.


"Abang antar?"


"Jangan lah, silahkan lanjut makan. Bye." Ujar nya sambil membalikan tubuh nya dan berjalan keluar kelas.

__ADS_1


Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah nya. Biar saja tubuh ku kena lumpur, biar saja tubuh ku basah, yang penting aku bisa begini bersama nya.


__ADS_2