
PURNA
Aaahhh... Akhirnya mendarat dengan selamat di atas kasur ku sendiri.
Memang benar, sebagus bagus nya negara orang, lebih bagus negara sendiri. Banyak ke "tidak" cocokan ku disana. Walaupun dari segi apapun disana lebih unggul, tapi aku tetap mencintai negara ku.
Yang paling merinding dan bikin rindu sama tanah air, ketika lagu kebangsaan kita di kumandangkan disana. Seketika itu juga rasanya ingin pulang ke ibu pertiwi.
Kurang lebih seminggu aku disana membuat aku juga rindu makan makanan disini.
Aku rindu dengan bakso yang mangkok nya cuma di bilas sama air sebaskom, aku rindu dengan es batu yang pakai air langsung dari keran, aku rindu dengan gorengan yang minyak nya di campur dengan pelastik.
Pokok nya seminggu disana aku malah merindukan hal hal random di negara ku sendiri.
Bahkan di hari pertama dan kedua, aku meriang meriang. Gak cocok sama cuaca dan udara disana. Berakhir dengan di katain "Kampung" oleh Sharma. Karna melihat ku sakit sakitan.
******
Hari ini aku berangkat sekolah sendirian. Tanpa menjemput Sharma terlebih dahulu.
Katanya dia masih "Jet lag", jadi gak bisa naik motor bersama ku.
Memang sompret, gaya bener itu anak. Ngatain aku kampungan waktu aku disana, tapi dia mabuk perjalanan nya lebih lama.
Begitu aku masuk ke kelas aku melihat Elsi dan Sharma sudah asik mengobrol. Terlihat pasti Sharma lagi heboh bercerita tentang diri nya selama disana.
"Empuuuurrrr" Kata Elsi menyambut ku sambil memeluk manja. Aku memeluk nya juga. Jujur aku kangen dan kasian sama dia yang sudah di tinggal sendirian berhari hari.
"Gue kangen banget sama kalian berdua..." Dia juga merangkul kan tangan nya kepada Sharma. Kami bertiga berpelukan. Jangan aneh, Teman teman sekelas kami sudah biasa melihat kami begini.
"Ngapain aja lo selama gue tinggal? Jangan jangan gak makan seminggu nih karna gak ada yang nemenin." Ejek ku.
Dia hanya tersenyum kecut dan tak berkomentar apa apa. Jujur saja selama disana kami jarang berkontak, karna jadwal kami di sana sangat full. Jadi sering selisih dengan waktu nya Elsi.
"Oleh oleh lo entar dirumah gue aja ya. Gue sama Empur beliin lo macem macem pokok nya. Sepulang sekoalh kita ngumpul dirumah gue pokok nya!" Tegas Sharma.
"Makasih yaaa..." Dia memeluk kami sekali lagi. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh. Apa dia sakit ya? Terlihat lebih lesu.
"Ada kejadian apa aja nih selama kami disana?" Aku bertanya memancing nya. Dia menggeleng yakin.
"Gak ada. Aman aja. Anak anak juga aman."
__ADS_1
"Jadwal piket?" Tanya ku lagi.
"Dih Empur, gak usah ribet deh. Baru juga nyampe udah ribet sama urusan gak penting." Omel Sharma kepadaku.
"Gak empurr. Tenang, yang piket aman. Gue pantau kok." Elsi menimpali.
Aku melihat keadaan sekitar. Ya gak terlalu kotor juga sih. Tapi gak sebersih pada saat aku ada.
Entah kenapa selama jam pelajaran aku melihat ada yang aneh dari Elsi. Tapi sepertinya Sharma tidak menyadari nya.
Aku hendak bertanya kepada nya apa kah semua baik baik saja, tapi ku urungkan. Hati ku masih ragu. Tapi dia terlihat seperti orang sakit. Bahkan aku bisa menilai wajah nya sedikit pucat.
Ku abaikan pikiran ku, Aku yakin jika memang ada sesuatu terjadi, Elsi pasti akan cerita kepada kami berdua. Seperti biasa nya. Dia gak pernah merahasiakan apapun itu dengan kami.
Kulihat sepertinya Sharma santai santai saja, berarti memang hanya perasaan ku saja.
Tapi...
Semua terbantah pada siang itu.
Pada saat jam istirahat kami.
Ku lihat Sharma terkejut bukan main sambil menutup mulut nya.
Di depan ku. Elsi berdiri di tengah Nanda dan teman teman nya. Berhadapan dengan nya, dan menumpahkan seluruh isi air mineral ke kepala Nanda yang di beli nya saat kami datang ke kantin tadi.
Gak cukup sampai disana, dia mengambil lagi minuman yang berada di meja dan menyiramkan nya ke wajah Nanda dan membanting gelas nya ke lantai.
Nanda sama kaget nya dengan kami, bahkan 1 kantin sama kaget nya dengan kami. Suasana yang tadi ramai tiba tiba hening seketika.
Ketika Nanda berusaha membuka mulut nya untuk berbicara yang aku tak tau itu apa, tiba tiba Elsi menampar nya dengan keras.
"Jangan.... Jangan pernah lagi, Elo dekat dekat dengan gue. Sebut sebut nama gue, Laki laki bajingan."
Setidak nya itu yang bisa ku dengar ketika Elsi habis menampar wajah nya.
Elsi berlalu begitu saja, meninggalkan 1 kantin yang terkaget dengan apa yang dia lakukan.
Sharma masih diam mematung. Menyadari Elsi pergi aku segera berlari mengejar nya.
"El!" Aku menarik tangan nya ketika menyusul nya. Dia menepis tangan ku dengan kasar. Aku terkejut. Tidak seperti Elsi yang ku kenal.
__ADS_1
"El... Bisa cerita ada apa ini?" Aku mencoba berbicara lagi.
"Gue mau sendiri dulu." Katanya dingin dan pergi meninggal kan ku.
Sharma datang dengan ngos ngosan dan mengejar Elsi. Aku menarik tangan nya menghentikan nya.
"Jangan dulu. Biarin aja."
Sharma berhenti dan menatap ku cemas. Ya sama aku juga cemas dan bingung dengan apa yang ku lihat.
Perasaan baru tadi pagi dia menyambut ku sambil memeluk ku. Tapi aku sudah menduga nya bahwa ada sesuatu yang salah dengan Elsi. Karna dia lebih pendiam hari ini. Ternyata kecurigaan ku dari tadi benar.
"Dia kenapa Empurrrr? Gue kaget bangeeet. Gue gak pernah liat Elsi sekasar itu. Semarah ituuu..." Air mata Sharma mengalir dari pipi nya. Dia pasti Syok sahabat nya tiba tiba bisa berubah.
Aku menggandeng nya dan menuntun nya kembali ke kelas. Tidak merespon apapun pertanyaan Sharma tadi. Karna aku juga bingung apa yang sudah terjadi.
******
Sepanjang jam pelajaran Elsi hanya diam sambil menunduk. Kami sekelas pun juga hening, tak seperti biasa nya.
Sepertinya gosip Elsi menampar Nanda sudah tersebar ke 1 sekolah. Apa lagi kejadian itu terjadi di kantin, yang hampir semua orang bisa melihat nya.
Sepanjang itu juga tak ada yang berani menegur Elsi. Bahkan kami berdua. Sharma yang duduk di samping nya pun benar benar salah tingkah.
Aku saja yang selalu mengingat kan nya untuk jangan berbicara apapun dulu. Sampai semua nya tenang.
Purr, gimana? Kita tetap tawarin kerumah gue gak pulang sekolah?
Sharma mengirimkan pesan WA kepada ku. Memang tadi kami sudah mengatur sehabis pulang sekolah kami akan berkumpul di rumah Sharma. Sekalian memberi Elsi oleh oleh yang kami bawa.
Tapi kami jadi bingung karna kejadian tadi siang. Mau bertanya pun masih sungkan. Elsi gak berkata sepatah kata pun setelah masuk kelas.
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku dan Sharma masih sama. Diam dalam kebingungan.
Tapi kami tidak ngapai ngapain sampai akhirnya 1 kelas sudah pergi meninggal kan kami bertiga.
Elsi menunduk saja sedari tadi. Aku dan Sharma saling pandang tanpa berbicara apapun. Tanpa melakukan apapun.
Tiba tiba Elsi mengangkat kepala nya dan mengusap air mata nya. Rupa nya dia menangis sedari tadi.
"Ayo kita kerumah Sharma..." Katanya lirih.
__ADS_1
Aku dan Sharma mengangguk dan segera mengemas ngemas barang barang kami. Dan masih sama, tanpa berbicara apapun.