
ELSI
Benar saja, semua yang ku makan tadi, mulai dari sarapan dan sampai bakmi kesukaan ku, aku muntahkan semua.
Selama hidup, baru kali ini aku muntah yang sangat "besar". Bahkan jika aku diare pun, aku tidak sampai segini nya.
Sudah tak tau lagi aku bagaimana panik nya abang melihat ku memuntahkan seluruh isi perut ku di kamar mandi.
Jika saja aku tadi tidak segera lari ke kamar mandi, aku tak tau lagi akan jadi apa ranjang kami berdua. Pasti saja aku muntah di sana.
"Sebentar ya abang ambi tisu." Kata nya sambil keluar kamar mandi pergi meninggal kan ku.
Dia datang lagi dengan membawa satu bungkus tisu dan langsung mengusap kan nya di bibir ku.
Merasa aku sudah lebih baik, aku keluar kamar mandi dengan di bopong oleh nya. Dia menyuruh ku duduk di meja makan.
"Abang bikin air hangat dulu ya." Ujar nya sambil menyalakan kompor.
"Mau minum air biasa dulu?" Tawar nya pada ku. Aku menggeleng. Aku takut muntah lagi.
"Bakmi nya gak enak ya?" Tanya nya dengan wajah khawatir. Sedari aku muntah tadi wajah nya memang tidak berubah.
"Bukan bang." Jawab ku lesu.
"Atau makanan bu Rasmi?"
"Kayanya bukan juga."
"Terus kenapa ya? Kaya nya memang El ada salah makan." Dia masih terus berpikir apa penyebab nya aku muntah malam ini.
"Kaya nya karna bau nya abang." Jawab ku memecah lamunan nya.
"Hah?" Wajah nya berubah.
"Iya, karna abang."
Dia panik dan mencium seluruh baju dan ketiak nya.
"Abang kan baru mandi El?"
"Ya justru karna itu, kan abang tadi pake parfume. Aku juga tadi mikir, apa penyebab aku muntah bang. Setelah ku ingat ingat, aku mulai mual saat kita pelukan tadi. Kan wangi nya abang tercium dengan jelas tuh." Jelas ku.
"Masa sih?" Tanya nya tak percaya.
"Coba sini deh, El mau buktiin." Aku menyuruh nya mendekati ku.
Ku tarik kerah baju nya dan mengendus wangi nya.
Benar saja, aku mulai mual lagi.
__ADS_1
"Bener. Gara gara ini." Aku mendorong nya menjauh sambil menutup mulut ku.
"Ya ampun, abang minta maaf ya sayang. Abang gak tau kalo El mual cium nya."
"Baru ini kok, kemarin kemarin aman aja. Elsi juga bingung kenapa tiba tiba begini."
"Mau kemana?" Tanya ku lagi ketika melihat dia pergi meninggalkan ku di dapur sendiri.
"Bentar." Ujar nya, dan kembali lagi ke dapur membawa botol parfume milik nya.
"EH KENAPA DI BUANG?!" Aku berteriak melihat dengan enteng nya dia membuang botol itu ke dalam tong sampah.
"Kan Elsi gak suka?"
"Ya kan gak harus di buang?!"
"Terus mau di apain?"
"Ya jangan di buang lah, sayang banget masih penuh begitu. Pakai aja kalo abang lagi kerja. Kalau dirumah ya gak usah."
Dia mengangguk dengan wajah polos dan memungut parfume nya kembali. Air dari teko sudah berbunyi, dia mengambil nya segera dan menuangkan di dalam cangkir.
"Minum dulu ya, sudah abang tambahin air kok, jadi gak panas."
Aku menyambut gelas nya perlahan. Dan menyeruput air nya. Ah... Lega sekali rasa perut ku.
"Bentar ya, abang ganti baju aja. Biar Elsi gak mual lagi." Kata nya sambil berlalu dari hadapan ku.
"Iya bisa gitu ya? Abang juga kaget banget kenapa kamu tiba tiba muntah. Abang gak kepikiran apa apa selain karna Elsi salah makan."
"Tapi dulu El juga ingat, mama cerita waktu hamil Elmi benci banget yang namanya bakso. Padahal kalo gak hamil, bakso makanan kesukaan mama. Waktu hamil, mencium, bahkan mendengar ketok abang bakso aja sudah mual."
"Oh iya bener, abang pernah dengar juga itu. Kalau hamil bisa tiba tiba gak suka dengan kebiasaan kita sewaktu belum hamil."
"Bang, lanjutin tadi cerita nya. Abang dapat kerjaan apa?" Aku tiba tiba ingat sesuatu kejadian sebelum aku muntah tadi. Kan kami berdua tadi lagi happy mendengar abang dapat kerjaan.
"Oh iya itu...." Dia berkata sambil duduk di samping ku.
"Teman nya om Leo buka pencucian mobil sama usaha laundry. Terus abang di tawarin kerja di sana.
"Abang kerja apa?"
"Em... Gak tau."
"Lah kok nda nanya sama om?"
"Gak ingat nanya, soal nya abang sudah senang aja bisa dapat kerjaan. Gaji nya lumayan El, sebulan abang dapat 1,5 juta."
"Ada lagi orang kerja gak nanya dia disuruh ngapain di sana."
__ADS_1
"Ya paling jadi tukang cuci mobil nya. Atau tukang strika, kan ada laundry nya juga tuh."
Aku terdiam melihat nya. Entah kenapa aku sedih melihat nya semangat seperti ini. Tapi ternyata dia sadar akan kesedihan ku.
"Kenapa sayang?"
"Entah lah... Bukan nya El gak bersyukur abang dapat kerjaan, cuma El sedih aja membayangkan nya."
"Loh kenapa?"
"Ya kasian aja abang."
"Gak papa sayang, kenapa kasian? Itu kan sudah tugas abang."
"Abang itu pinter, abang itu anak berprestasi. Masa berakhir jadi tukang cuci mobil. Hidup seperti sekarang ini? Elsi sedih aja dan merasa bersalah."
Abang tersenyum manis sambil menggenggam tangan ku.
"Hidup itu gak bisa kita atur supaya mulus terus menerus. Pasti akan ada satu titik dimana kita berada di kesusahan. Gak ada yang sempurna El. Semua orang pasti punya cobaan hidup nya masing masing. Untuk kita, ya kita di takdirkan begini. Yang paling penting kita harus kuat, dan tinggalkan semua rasa bersalah dan menyesal yang bisa membuat kita gak maju maju. Abang dari awal kejadian sampai detik ini hanya bisa melapangkan dada dengan apa yang sudah terjadi. Abang udah gak mau mikir apa apa lagi selain membahagiakan kamu dan anak kita nanti. Itu aja El..."
Aku tersenyum dan memeluk nya. Tetapi abang tiba tiba melepaskan pelukan ku dengan panik.
"Kenapa?" Tanya ku kaget.
"Entar El mual lagi?"
"Lah kan abang sudah ganti baju?"
"Bentar deh." Dia berkata sambil bangkit dari duduk nya dan mengambil tisu basah di atas meja. Mengusap kan keseluruh leher dan dada nya.
"Takut masih keciuman wangi nya." Katanya sambil terkekeh. Aku jadi ikut terkekeh. Seperhatian itu.
Dia duduk lagi di samping ku.
"Coba cium lagi?" Ucap nya.
Aku mulai tersenyum jahil lagi. Aku menarik wajah nya dan mencium lagi pipi nya seperti tadi sore. Dia terkaget lagi dengan aksi ku.
"Bukan itu!"
"Ya terus apa? Katanya cium?"
"Maksud nya abang cek masih ada wangi nya apa gak?" Kata nya salah tingkah.
"Emang kenapa juga kalau cium di pipi? Gak boleh istri cium suami nya?"
"Ya gak papa. Tapi bahaya...."
"Ih bahaya kenapa? Aneh banget." Aku tertawa lagi.
__ADS_1
"Udah yuk bobo. Besok abang kerja pagi. Jam 7 udah harus ada di sana." Kata nya mengalihkan pembicaraan. Dia menjauhi ku dan bersiap siap untuk tidur. Aku masih terus menertawai nya.
Entah kenapa aku suka saja menjahili nya sekarang. Semakin dia panik, semakin aku suka.